
"Oh ya mbak Ning, kenalkan.. beliau bu Dibyo, keluarga baik yang sudah menolong Aida," lanjut Aida memperkenalkan bu Dibyo pada mbak Ning, sebelum diri nya dan mbak Ning mulai bersiap.
Mbak Ning menyalami bu Dibyo dan tersenyum ramah, "terimakasih banyak ya bu, sudah bersedia membantu adik saya," ucap nya dengan penuh rasa syukur.
Bu Dibyo mengangguk, seraya mengusap punggung tangan mbak Ning dengan tulus.
"Ibu silahkan duduk, kami mau bersiap dahulu," pamit Aida, dan segera bergegas menuju kamar mbak Ning.
Mbak Ning kemudian segera membongkar isi almari nya yang tak seberapa banyak, dan memindahkan pakaian milik nya dan milik Tio ke dalam koper yang dibantu oleh Aida.
"Neng, apa kita enggak pamit sama pak Karyo dan mbok Nah?" Tanya mbak Ning, di sela-sela menata pakaian nya ke dalam koper.
"Aida sudah menyiapkan surat untuk pak Karyo dan mbok Nah mbak, nanti kita taruh saja di meja warung.. sekalian sama uang belanja untuk kulakan," ucap Aida dengan menghentikan aktifitas nya, Aida kemudian duduk dan mengambil surat yang telah dia tulis tadi bakda Isya' untuk pak Karyo.
"Asslamu'alaikum pak Karyo, mbok Nah. Ini Aida, maaf kalau semalam Aida dan mbak Ning tidak pamit sama pak Karyo dan mbok Nah. Mbak Ning, Aida ajak ke tempat Aida yang baru untuk sementara waktu."
"Tolong warung nya tetap di urus ya mbok, sayang kalau pelanggan nya pada kabur jika warung tutup lama. Lagi pula hasil nya bisa untuk membiayai adik-adik sekolah, monggo Aida serahkan semua pada mbok Nah untuk mengelola nya.. dan ini ada sedikit uang belanja, semoga bermanfaat."
Aida melipat kembali surat tersebut, dan me masukkan nya ke dalam amplop.
"Maksud neng Aida, uang belanja untuk besok kita serah kan pada mbok Nah?" Tanya mbak Ning, seraya menghentikan melipat pakaian dan menoleh kearah Aida.
__ADS_1
Aida mengangguk.
"Lumayan banyak lho neng, apa enggak sayang? Kan lumayan bisa untuk tambah-tambah modal kita nanti jika ingin buka warung, karena tabungan mbak Ning enggak banyak?!" Protes mbak Ning.
Aida menggeleng, "tinggal saja buat mbok Nah mbak, Aida Insyaallah sudah ada modal untuk kita buka usaha. Kasihan mbok Nah dan pak Karyo kalau warung tutup, anak nya masih kecil-kecil dan masih sekolah semua. Meski kita tidak sedang dalam kondisi berlebih, enggak ada salah nya kita tetap sedikit sisihkan yang kita punya untuk orang lain," Aida tersenyum, meyakinkan mbak Ning.
Mbak Ning mengangguk, "iya, neng Aida benar."
Dan setelah semua yang diperlukan masuk ke dalam koper termasuk surat-surat penting milik Aida yang dia titipkan pada mbak Ning kala itu, mbak Ning dan Aida mengajak bu Dibyo untuk keluar lewat pintu warung.. sekaligus untuk menyimpan amplop yang berisi surat dan uang di atas meja warung, untuk pak Karyo dan mbok Nah.
@@@@@
Sementara di belahan kota yang berbeda, tepat nya di kediaman Ryan.. Ira masih saja menyalahkan kecerobohan adik nya, yang percaya begitu saja pada cerita orang lain tanpa mencari tahu lebih jauh kebenaran nya.
Meski dari pagi, sudah berkali-kali Ryan dan bu Retno bergantian menelpon ke rumah,,, tapi Ryan tetap menurut juga, dan kembali menelpon sopir pribadi sang ibu di kampung.
Sedangkan bu Retno menghela nafas yang terasa berat, wanita tua itu merasa ikut bersalah atas kepergian Aida,,, karena diri nya tak bisa berbuat apa-apa, saat putra nya mengusir dan menjatuhkan talak pada menantu nya yang baik itu.
"Bagaimana?! Apa Aida pulang ke rumah nya?!" Cecar Ira, tatkala Ryan baru saja menutup panggilan nya.
Ryan menggeleng lemah, "sampai jam sembilan tadi, tidak ada tanda-tanda dia pulang ke rumah," balas Ryan dengan lesu.
__ADS_1
Sebenarnya Ryan tak menyesal telah mengusir Aida dan menceraikan wanita yang menurut Ryan telah mengkhianati nya itu hingga hamil. Namun sikap kakak sulung nya yang terus membela Aida sebelum melihat sendiri bukti perselingkuhan Aida itu lah yang membuat Ryan menuruti keinginan sang kakak, untuk mencari tahu keberadaan Aida saat ini.
Ira menggeleng-geleng kan kepala nya, "Ryan,, Ryan,, bahkan sekarang sudah jam sebelas malam, apa kamu enggak mikir jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada istri mu?! Dia wanita baik-baik Ryan, dia wanita yang lembut,,, meski baru beberapa kali mbak bertemu dengan nya tapi mbak sudah bisa menebak kepribadian nya?!"
Ira berdiri dan berjalan mondar-mandir.. seakan dia lah yang baru saja kehilangan seseorang yang paling di sayang dan paling berharga dalam hidup nya, sedangkan Ryan hanya duduk terdiam dan sibuk memainkan ponsel nya.
Bu Retno termenung, entah apa yang dipikirkan wanita tua itu.
"Ma, kita pulang apa menginap di sini lagi?" Tanya suami Ira, yang baru saja masuk ke ruang keluarga setelah menghabiskan sebatang rokok di teras rumah Ryan bersama sopir nya Ryan.
"Aku menginap lagi ya pa, papa pulang saja temani anak-anak." Pinta Ira pada sang suami, "Ryan kalau enggak di dampingi bahaya dia pa, apalagi si kunti masih saja ingin menjebak nya," Rutuk Ira seraya melirik ke arah dapur, dimana pintu rumah belakang tempat kamar Mirna dan sopir nya Ryan tinggal.
"Mbak Ira pulang aja, kasihan mas Bambang kalau pulang sendirian.. ajak ibu sekalian, biar ibu bisa istirahat dengan nyaman di rumah mbak." Saran Ryan, "jangan khawatirkan Ryan, Ryan enggak akan tergoda dengan barang murahan seperti itu," lanjut nya, mencoba meyakinkan sang kakak.
"Iya, kalau pas waras tidak tergoda dan bisa menghindar.. kalau kayak semalam?! Mabuk berat?! Bagaimana bisa kamu menghindar?! Jalan saja sempoyongan! Yang ada, malah nambah masalah! Bikin bunting pembantu!!" Ketus Ira, yang meyakini anak yang dikandung Aida adalah anak dari sang adik.
"Ck,," Ryan berdecak kesal setiap kali kakak nya itu membahas kehamilan, karena Ryan masih kekeuh dengan pemikiran nya bahwa diri nya tak bisa memiliki keturunan seperti yang divonis kan kepada diri nya oleh dua dokter obgyn terbaik di ibukota. Dan Ryan yang cara berpikir nya hanya memakai logika tanpa dibarengi dengan kepercayaan ada nya Tuhan, membenarkan secara mutlak apa yang di dengar nya tersebut.
"Sudah, sudah,, kalian malah ribut sendiri," bu Retno melerai kedua anak nya tersebut, "malam ini, ibu dan mbak mu akan tidur di sini. Dan besok, kamu ikut ibu pulang ke rumah kamu di ibukota propinsi. Proyek mu yang di sini, biar di handle sama mas Bambang," titah bu Retno, yang tak ingin di bantah oleh putra nya.
Ira dan suami nya mengangguk, menyetujui titah sang ibu. Sedangkan Ryan cemberut, tapi tak bisa membantah perintah ibu nya.
__ADS_1
bersambung,,,