
Aida memberanikan diri menatap netra sendu milik ning Zahra, dan kemudian menggenggam tangan putih itu dengan erat. "Mbak, Aida minta maaf.." sejenak Aida menghentikan ucapan nya, "Aida tak memiliki hati seluas mbak Zahra," Aida menggeleng-gelengkan kepala nya berkali-kali.
"Aida tak bisa menerima tawaran mbak Zahra, Aida takut.." Aida melirik gus Umar sekilas dan di saat yang bersamaan, gus Umar pun tengah menatap nya. Aida menelan saliva nya, mendadak jantung nya berdegup kencang, dada nya bergemuruh.. tatapan mata hazle itu, dirasakan Aida masih sama seperti dulu.
Kembali Aida menelan saliva nya, dan buru-buru membuang pandangan ke arah lain. "Dia sudah menjadi suami orang Da? Jangan berpikir terlalu jauh.. lagi pula, status mu saat ini juga belum jelas. Kamu di talak, tapi kamu belum memegang surat cerai kan?" Aida bermonolog dalam diam, sedangkan tangan nya masih menggenggam tangan ning Zahra.
"Huffff,," Aida membuang kasar nafas nya, "jika laki-laki di luar sana bilang, kalau janda lebih menggoda... Tapi kalau menurut ku yang benar adalah, suami orang bisa membuat ku gila," lanjut Aida, bergumam. Dan kemudian mengucap istighfar berulang-ulang, untuk membuang jauh pikiran nakal yang sempat singgah di benak nya.
"Takut kenapa dik? Takut akan menyakiti mbak?" Tebak ning Zahra, sambil mengeratkan genggaman tangan mereka berdua.
"Kan mbak yang minta dik? Bukan kamu yang sengaja masuk ke dalam rumah tangga kami kan? Dan mbak sudah mempersiapkan hati mbak beberapa bulan ini dik, jadi dik Aida enggak perlu khawatir. Mbak ikhlas dan mbak benar-benar ridho," Imbuh ning Zahra sungguh-sungguh.
Tapi Aida kembali menggeleng, "maaf mbak, Aida benar-benar enggak bisa," lirih Aida, hampir tak terdengar.
Namun karena jarak kedua nya begitu dekat, ning Zahra dapat mendengar dengan begitu jelas apa yang dikatakan oleh Aida. Dan hal itu membuat ning Zahra kecewa dan netra yang tadi nya terlihat sendu itu, kini telah berkaca-kaca.
Buru-buru ning Zahra menyusut air mata, sebelum luruh dan membasahi pipi putih nya. Dan kemudian berpamitan tanpa basa-basi lagi, hingga membuat Aida merasa bingung dan tak mengerti.
Begitu pula dengan gus Umar, yang seperti orang linglung,,, tatkala ning Zahra telah menyeret lengan kekar suami nya itu, untuk segera meninggalkan ruko yang ditempati Aida.
__ADS_1
"Dik, kami pamit.. assalamu'alaikum," ucap salam gus Umar sambil berlalu dengan perasaan tak menentu, karena ning Zahra terus menyeret lengan nya.
Meninggalkan Aida seorang diri, yang terbengong-bengong memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. "Apa kata-kata ku tadi ada yang menyakiti mbak Zahra ya? Apa keputusan ku tadi salah?" Gumam Aida seorang diri.
"Jujur,, nama nya memang sudah terpatri di hati ku, dan tak bisa terganti meski pernah ada laki-laki lain yang masuk dan aku coba untuk menggantikan nya.. namun gagal! Tapi, menghadirkan nya kembali dengan menjadi yang kedua.. itu jelas bukan keputusan yang tepat!"
"Dibutuhkan hati yang luas, keikhlasan dan kesabaran.. jika harus menjalani poligami. Sedangkan aku tak memiliki hati yang seluas samudera, keikhlasan yang setinggi gunung himalaya dan juga kesabaran yang tanpa batas," Aida mendesah pelan.
"Aku masih lah wanita yang egois, wanita yang tak ingin di duakan.. tak ingin berbagi suami dan kebahagiaan dengan orang lain!" Aida membuang kasar nafas nya berulang-ulang, "lagi pula, saat ini aku lebih nyaman sendiri." Pungkas nya, seraya mengusap perut nya yang sudah semakin besar.
@@@@@
Ryan tetap mencari namun kali ini dengan disertai kepasrahan dan do'a, berharap mendapat kan yang terbaik, untuk diri nya dan juga untuk Aida,, serta calon buah hati yang saat ini tumbuh dan berkembang di rahim istri kecil nya, meski dulu sempat tak diakui Ryan.
"Dengan berserah diri kepada Allah, segala urusan Insyaallah akan berjalan dengan baik. Kita akan menjalani kehidupan di jalan yang benar, tanpa ada nya keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Dengan kepasrahan total, kita akan menyadari bahwa sebaik-baiknya rencana kita, jauh lebih baik rencana yang Allah susun untuk kita." Tutur ustadz Arif kala itu.
Meski belum tertib, tapi Ryan sudah mulai melaksanakan ibadah sholat. Dengan bacaan Al-Qur'an yang masih terbata, dan gerakan sholat yang masih kaku.. namun Ryan, tak patah semangat. Ryan semakin rajin menimba ilmu agama pada ustadz muda itu, dan penyesalan Ryan kini semakin mendalam.
Terngiang kembali dengan jelas, celoteh Aida tatkala mengajak nya untuk sholat. Bukan hanya sekali dua kali, namun berkali-kali tapi Aida tak pernah lelah dan bosan untuk mengingatkan diri nya. Aida berhenti mengingatkan, ketika dia yang dengan tegas dan begitu sombong nya menolak ajakan Aida untuk sholat dan berkata agar Aida berhenti mengingatkan.
__ADS_1
Di bawah bimbingan ustadz yang meski usia nya jauh lebih muda, tak membuat Ryan merasa minder. Karena ustadz Arif pandai mengambil hati Ryan dan beliau juga tidak memposisikan diri sebagai seorang guru, tapi sama-sama belajar,, begitu kilah ustadz Arif, untuk membesarkan hati Ryan.
Bu Retno yang selalu mendampingi putra nya, juga ikut menimba banyak ilmu agama pada ustadz muda tersebut. Selain perihal ibadah mahdhoh, bu Retno juga banyak mendapat kan pelajaran mengenai ibadah ghoiru mahdhoh. *)
Tangis bu Retno pecah tatkala ustadz Arif menjelaskan bahwa menolong sesama dengan mengambil keuntungan yang sangat besar seperti yang selama ini di lakoni bu Retno, termasuk praktik riba.
"Dosa seorang rentenir atau yang memakan hasil riba, dosanya lebih buruk dibandingkan dosa seorang pezina," begitu tutur ustadz Arif yang bisa ditangkap dengan jelas oleh bu Retno, yang semakin tergugu. **)
Dalam hati, kini bu Retno telah bertekad.. tidak akan mengulang perbuatan nya kembali, dan berjanji akan membebaskan bunga pinjaman kepada orang-orang yang meminjam uang kepada nya. Dan bertekad, untuk meminta maaf kepada orang yang telah secara tidak langsung dia hisap darah nya...
"Karena sejati nya seorang rentenir itu, tak ubah nya seperti lintah yang tega menghisap darah saudara nya sendiri," tutur ustadz Arif, yang semakin meneguhkan niat bu Retno untuk berhenti menjadi penghisap darah.
bersambung,,,
*) Ada dua macam ibadah dalam ajaran Islam, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah merupakan ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah tidak berhubungan langsung dengan-Nya. Wallahua'lam
**) Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam:
"Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
__ADS_1