
Setelah dijelaskan oleh gus Umar duduk persoalan nya, Laila pun mengerti. Meski sebenarnya Laila juga sangat senang jika kakak nya bisa menikahi Aida, tapi Laila tidak setuju jika gus Umar berpoligami.
"Gini aja deh mbak, kak.. kondisi mbak Zahra kan masih lemah, dan belum boleh banyak bergerak. Biar Laila yang bawa Aida ke sini," usul Laila, seraya menatap kakak dan kakak ipar nya bergantian.
"Kalau Aida nya mau, mbak sih seneng banget dik," ucap ning Zahra, "ya kan gus?" Ning Zahra menatap suami nya.
Gus Umar menatap sang adik, dan sejenak kemudian berkata, "terserah gimana baik nya saja, tapi kalau dia nya enggak mau.. jangan di paksa." Pesan nya dengan sedikit enggan, karena sejujur nya gus Umar belum siap untuk bertemu dengan Aida saat ini. Apalagi mendengar cerita dari umi tentang kehidupan yang Aida jalani sekarang begitu menyentuh hati, gus Umar khawatir,,, sikap nya pada Aida akan melukai hati seseorang.
"Oke kak,, Laila ke ruangan Aida sekarang ya," pamit Laila dan segera berlalu meninggalkan ruang rawat kakak ipar nya yang berada di lantai yang berbeda dengan ruang rawat Aida.
Sementara di ruangan Aida, calon ibu muda yang tak juga dapat memejamkan mata sedari tadi.. kemudian memutuskan untuk mengambil air wudhu, dan hendak mengisi waktu nya dengan tadarus Al-Qur'an.
Aida berjalan perlahan menuju kamar mandi sambil membawa botol infus dan mengangkat nya setinggi kepala, meletakkan botol tersebut pada tempat yang tersedia di kamar mandi berukuran kecil tersebut dan kemudian segera berwudhu.
Usai berwudhu, Aida mengambil Al-Qur'an kecil kesayangan nya dan kemudian duduk di tepi ranjang pasien dengan sprei berwarna putih bersih itu. Aida kemudian mulai membaca Al-Qur'an dengan khusyuk.
Tapi baru satu lembar Aida tadarus, terdengar suara pintu kamar nya di buka dari luar.. dan nampak Laila masuk kembali ke ruang rawat nya tersebut dengan senyum yang lebar.
"Oh maaf, ustadzah Aida sedang mengaji rupa nya," canda Laila, sembari mendudukkan diri di tepi ranjang pasien di samping Aida.
Aida sempat melirik nya sekilas seraya tersenyum, dan kemudian melanjutkan tadarus nya hingga berhenti pas di akhir surat. "Shodaqallaahul'adziim,, maha benar lah Allah Yang Maha Agung," Aida kemudian menutup mushaf dan menyimpan kembali Al-Qur'an tersebut di atas nakas.
Aida menoleh kearah sahabat nya yang senyum-senyum sendiri sejak pertama kali masuk tadi, Aida mengernyitkan kening nya. "Kamu kenapa? Kok senyum-senyum gak jelas gitu?! Enggak lagi kesambet kan?" Aida menempelkan punggung tangan nya di kening Laila.
"Apaan sih?! Aku normal Da,,,,?!" Protes Laila sambil merengut.
"Ya kirain,, orang dari tadi aku lirik kamu nya senyum-senyum terus," balas Aida sambil geleng-geleng kepala tak mengerti.
__ADS_1
"Da,, mbak Zahra pengin ketemu sama kamu, kangen kata nya." Ucap Laila seraya menatap netra indah milik sahabat nya, "tadi nya mbak Zahra yang mau ke ruangan kamu, tapi aku larang.. karena kondisi nya masih lemah," lanjut Laila.
Aida mengernyit, masih belum bisa menebak kemana arah pembicaraan sahabat nya itu.
"Kalau kamu yang ke ruang rawat mbak Zahra, kamu mau enggak Da?" Tanya Laila hati-hati, karena takut menyinggung perasaan lembut sahabat terbaik nya.
Aida tersenyum, "kenapa musti sungkan gitu La? Biasa aja kali??" Aida kemudian terkekeh, yang di ikuti senyuman Laila yang mengembang.
"Jadi, kamu mau?? Kamu enggak apa-apa ketemu sama mbak Zahra dan kak Umar?" Cecar Laila.
Aida mengangguk, "tadzah Zahra kan guru ngajiku La, emang udah seharusnya kan kalau beliau sakit dan aku menjenguk nya?" Balas Aida dengan pertanyaan.
"Ya, kamu benar," ucap Laila, "bentar, aku ambilkan kursi roda nya," Laila kemudian segera beranjak dan mengambilkan kursi roda yang tersedia di pintu depan ruang rawat Aida tersebut.
Sedetik kemudian, Laila telah kembali dengan membawa kursi roda. "Ayo naik," ajak Laila, seraya membantu membawakan botol infus dan memasang nya di tempat yang tersedia di kursi roda tersebut.
Setelah Aida duduk dengan nyaman, Laila bergegas mendorong kursi roda nya dan membawa Aida menuju ruang rawat kakak ipar nya.
Ning Zahra yang terbaring lemah di ranjang pasien memejamkan mata nya, meski sebenarnya istri dari gus Umar itu tak benar-benar tidur. Sedangkan gus Umar yang duduk di sofa, menyibukkan diri dengan ponsel nya.
Hingga suara pintu yang dibuka dari luar dan diiringi ucapan salam dari dua wanita cantik, memaksa gus Umar untuk menoleh kearah sumber suara.
"Assalamu'alaikum,,,"
"Wa'alaikumsalam,,," sejenak gus Umar tertegun menatap Aida yang duduk di kursi roda, jantung nya tiba-tiba berdetak dengan lebih cepat. Buru-buru gus Umar mengalihkan perhatian nya, dengan beranjak mendekati sang istri.
"Ning, bangun,, ada tamu," lirih gus Umar, seraya melirik wanita cantik yang duduk di kursi roda yang tadi sempat melemparkan senyum pada nya saat pertama kali bersitatap.
__ADS_1
"Dik," sapa gus Umar singkat seraya tersenyum.
Aida menoleh kearah gus Umar, membalas senyum nya sekilas seraya mengangguk sopan.
"Oh, dik Aida sudah datang,," sapa ning Zahra seraya tersenyum ramah dan kemudian menyalami Aida.
Aida menyambut uluran tangan ning Zahra dengan tersenyum hangat, dan kemudian mencium punggung tangan ustadzah nya itu dengan takdzim.
"Dik Aida apa kabar? Lama ya ndak main ke pesantren?" Tanya ning Zahra berbasa-basi.
"Alhamdulillah, kabar Aida baik dzah. Nggih dzah, maaf.. kemarin-kemarin Aida harus ikut suami tinggal di luar kota," balas Aida jujur dan apa ada nya, dengan senyum yang terus terkembang.
"Tadzah Zahra apa kabar?" Aida balik bertanya.
"Panggil mbak saja ya, seperti dik Laila memanggil ku," pinta ning Zahra dengan tatapan nya yang lembut.
Aida mengangguk, "dengan senang hati dzah.. emm, mbak Zahra," balas Aida dengan tersenyum senang.
Gus Umar langsung menepi, kembali duduk di sofa dan menyibukkan diri nya dengan ponsel kembali.. mencoba mengusir kecanggungan dan debaran jantung nya yang terus meningkat tajam.
Ekor mata nya dapat menangkap dengan jelas wajah Aida yang sedikit tirus, dibanding saat terakhir kali mereka bertemu. Tapi bibir wanita cantik itu terus menyunggingkan senyum, seolah-olah dia adalah wanita yang paling bahagia.
"Meski bibir mu terus tersenyum, tapi aku dapat menangkap dengan jelas kesedihan dari sorot mata mu dik." Bisik gue Umar dalam hati.
Laila pun kemudian mengikuti kakak nya, duduk di sofa dan memberikan kesempatan kepada kakak ipar dan sahabat nya untuk ngobrol lebih dekat.
"Kak, apa menurut kakak.. Aida mau di madu?" Bisik Laila di telinga sang kakak.
__ADS_1
Gus Umar melirik tajam sang adik, seraya menggelengkan kepala nya. "Stop, jangan bahas poligami lagi!" Bisik nya dengan penuh penekanan.
bersambung,,,