
Aida tersadar ketika terdengar kumandang adzan dari masjid, pikiran yang penat, hati yang entah bagaimana rasa nya, serta fisik yang belum pulih benar pasca operasi dan pendarahan yang dialami.. membuat Aida pingsan dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Jam berapa sekarang mbak Ning?" Tanya Aida, tatkala mendapati mbak Ning yang berada di kamar Laila bersama nya.
"Jam tujuh neng, udah isya. Neng Aida makan bubur ayam dulu ya, dari siang perut neng Aida belum kemasukan apa-apa lagi. Biar bisa segera diminum obat nya," mbak Ning kemudian mengambil bubur ayam yang masih hangat, yang sudah disiapkan untuk Aida sedari tadi dalam wadah yang tertutup rapat.
"Aida mau ke kamar mandi dulu mbak," pinta Aida, dan mbak Ning kemudian membantu Aida untuk bangkit dan menuntun nya menuju kamar mandi yang berada di sudut kamar Laila.
Nyai Robi'ah sengaja menempatkan Aida di kamar Laila, agar Aida tidak merasa asing dan bisa nyaman berada di kediaman nya.. karena Aida sudah terbiasa menginap di kamar itu dulu waktu masih sekolah.
Dan Laila tentu dengan senang hati menyambut keinginan umi nya itu, bahkan Laila sangat antusias menyiapkan segala keperluan untuk sahabat nya itu.
Usai dari kamar mandi untuk bersih-bersih, sekaligus berganti pakaian dengan pakaian milik Laila yang sudah di persiapan untuk nya,, mbak Ning kemudian membantu Aida untuk kembali ke pembaringan.
Aida bersandar di heardboard dengan posisi setengah duduk, dan kemudian mulai memakan bubur ayam buatan nyai Robi'ah. Bubur ayam lengkap dengan rebusan telur ayam kampung, yang sangat baik untuk mempercepat penyembuhan luka bekas sayatan di perut nya.
"Mbak, apa bu Dibyo sudah pulang?" Tanya Aida, di sela-sela makan nya.
"Belum neng, rencana bu Dibyo pulang nanti bakda Isya' setelah tahlilan bapak-bapak. Mungkin sekarang lagi pada ikut jama'ah di masjid, karena tadi bakda maghrib ada tahlilan santri putri di aula dan ibu-ibu semua ikut tahlil termasuk ning Laila. Mbok Nah, bu Retno, mereka semua juga masih ada di sini dan ikut tahlilan tadi." Terang mbak Ning.
Aida mengangguk-angguk.
Sejenak keheningan menyapa kamar tersebut.
"Mbak Ning kalau mau ikut bu Dibyo pulang ke kota ndak apa-apa mbak, di sini kan Aida sudah banyak teman nya. Sayang, kalau warung tutup lama.. nanti pelanggan nya pada pindah," saran Aida setelah menghabiskan semangkuk bubur ayam yang lezat itu, memecah keheningan.
"Saran bu Dibyo juga gitu neng, tapi mbak Ning masih mau menemani neng Aida.. ya minimal tiga hari lah neng," ucap mbak Ning, yang belum rela jika harus berjauhan dengan Aida.
"Tadi umi nyai juga sudah mengijinkan, dan mbak Ning di suruh tidur di ruang tamu. Sekarang Tio dan Bunga lagi tidur di sana," lanjut mbak Ning menjelaskan.
"Oh,, ya udah, terserah mbak Ning aja gimana baik nya," balas Aida.
"Da,,, kamu sudah bangun?" Tanya Laila yang menerobos masuk begitu saja, tanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucap salam.
"Iya La, aku juga udah selesai makan. Tuh, udah habis bubur semangkuk," balas Aida seraya menunjuk mangkuk kosong yang diletakkan di atas nakas.
__ADS_1
"Good girl,, gitu dong, biar cepet sehat," ucap Laila seraya mendudukkan diri di tepi ranjang, berhadapan dengan Aida.
"Girl? I'm not a girl anymore, Laila?!" Protes Aida, yang di sambut tawa oleh Laila.
"Ih,, ketawa nya ngeledek gitu,,," Aida pura-pura cemberut.
"Jangan cemberut, nanti cepet tua," ucap Laila seraya mencubit dagu Aida, dan Aida pun tersenyum.
"Karena sudah ada ning Laila, mbak Ning permisi dulu ya,,," pamit mbak Ning, seraya mengambil mangkuk bekas makan Aida tadi.
"Iya mbak Ning, makasih ya udah nemani Aida," ucap Aida dengan tulus.
"Neng,,," mbak Ning menggeleng, tak setuju Aida mengatakan seperti itu. Karena bagi mbak Ning, Aida bukan lah orang lain.
Aida hanya tersenyum, dan mbak Ning pun segera berlalu meninggalkan kamar Laila dengan perasaan lega karena sudah melihat kembali senyuman di wajah adik angkat nya itu.
"Mau keluar enggak? Menemui orang-orang di ruang tamu?" Tanya Laila, sesaat setelah mbak Ning keluar.
"Boleh," balas Aida, "bentar, aku pakai hijab dulu," Aida segera mengenakan hijab simple yang panjang nya menutup bagian dada, hijab berbahan spandek yang adem dan nyaman di pakai.
Aida menggeleng, "dokter bilang, harus sering dilatih untuk jalan," balas Aida, dan mereka berdua kemudian berjalan perlahan menuju ruang tamu dengan Laila menggandeng lengan Aida.
"Kok rasa nya, aku udah kayak nenek-nenek ya La, pakai di pegangin segala jalan nya," ucap Aida, mencoba bercanda.
"Kan emang calon nenek," balas Laila asal, "calon nenek nya anak-anak ku," lanjut Laila seraya tersenyum jahil.
Aida mengernyit kan kening nya, "emang nya, kamu sudah ada calon? Pacar atau di jodoh kan gitu?" Tanya Aida penasaran.
Laila menggeleng,, "belum Da, aku enggak mau dekat dan menyimpan perasaan sama cowok. Aku takut terluka, jika ternyata tiba-tiba aku atau cowok itu sudah di jodoh kan dengan orang lain," balas Laila dengan pandangan menerawang.
"Karena enggak mungkin kan, aku menolak keinginan orang tua... begitu pun dengan laki-laki yang sholeh, dia pun takkan mungkin menolak keinginan orang tua nya bukan? Karena jika kita menyakiti hati orang tua dengan menolak keinginan nya, itu sama saja kita durhaka pada orang tua kan?" Tanya Laila yang tak butuh jawaban.
"Kamu bukan sedang menyindir aku kan La?" Lirih Aida.
"Eh,," sontak Laila menutup mulut nya, "enggak Da, enggak sama sekali. Aku sedang membicarakan diriku sendiri, swear..." balas Laila, seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf V.
__ADS_1
"Aku tuh lagi nanya sama umi, apakah aku juga sudah di jodoh kan sama kayak kak Umar? Tapi umi malah senyum-senyum, dan nanya-nanya yang enggak jelas gitu," gerutu Laila.
Dan obrolan mereka pun terhenti, karena mereka sudah tiba di ruang tamu.
Bu Dibyo segera menyambut Aida dan membantu nya untuk duduk di sofa, "makasih bu," ucap Aida tulus.
Bu Dibyo hanya tersenyum dan kemudian ikut duduk di samping Aida, di sebelah kanan Aida duduk nyai Robi'ah yang terlihat sedang berbincang serius dengan bu Retno.
"Nah, monggo bu Retno sampaikan sendiri mumpung anak nya sudah ada di sini." Tutur nyai Robi'ah seraya menepuk punggung tangan Aida.
Aida menatap nyai Robi'ah, seraya mengernyit. Nyai Robi'ah hanya membalas nya dengan senyuman dan mengangguk.
"Nak Aida, ibu mau minta maaf sama nak Aida. Ibu,, sungguh-sungguh meminta maaf sama kamu nak," ucap bu Retno terbata, penyesalan bu Retno seperti nya benar-benar datang dari hati.
Aida menatap bu Retno dengan tersenyum, "Aida sudah memaafkan ibu," balas Aida dengan jelas.
"Makasih nak, makasih,, ibu tahu, kesalahan ibu dan anak ibu sangat besar terhadap nak Aida. Dan ibu bisa mengerti, jika nak Aida belum bisa memaafkan kami." Sejenak bu Retno menghentikan ucapan nya.
"Ibu benar-benar menyampaikan terimakasih karena keluasan hati nak Aida, yang mau memaafkan segala kesalahan kami. Tapi nak, boleh kah ibu juga meminta satu hal?" Tanya bu Retno hati-hati.
Aida mengerutkan kening nya, "apa itu bu?" Tanya Aida dengan perasaan was-was, Aida sungguh tak mau mendengar lagi jika bu Retno meminta hal yang tak bisa dia wujudkan.
"Tolong, nak Aida berikan kesempatan pada Ryan. Kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan nya di masa lalu, kesempatan untuk bisa membahagiakan nak Aida dan anak-anak kalian kelak," pinta bu Retno dengan netra berkaca-kaca.
"Ibu tahu, ibu ini sungguh wanita tua yang tak tahu diri. Ibu juga terima, jika setelah menyampaikan ini.. nak Aida jadi membenci ibu," bu Retno menyeka air mata nya yang mulai berjatuhan.
"Ibu hanya ingin melihat anak ibu menebus dosa dan semua kesalahan nya pada kamu nak,,, ibu ingin melihat nak Aida bahagia bersama anak ibu seperti dulu lagi," lanjut bu Retno dengan suara yang semakin terdengar tak jelas, karena disertai isak tangis.
"Tolong nak, tolong berikan anak ibu kesempatan.. sekali lagi," pinta bu Retno seraya kembali berlutut di kaki Aida, sama seperti ketika berada di lobby rumah sakit.
Nyai Robi'ah kembali menepuk-nepuk punggung tangan Aida, untuk memberikan ketenangan.
Sedangkan Aida terpaku di tempat nya, Aida merasa dilema kini.. di satu sisi, pintu hati nya masih tertutup rapat untuk laki-laki dewasa bernama Ryan. Dan di sisi yang lain, Aida tak tega melihat seorang ibu yang menangis bahkan sampai berlutut di kakinya untuk mengharapkan kesempatan kedua untuk Ryan dari Aida.
bersambung,,,
__ADS_1