Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 88 : Tolong, Bujuk Dik Aida..


__ADS_3

"Untuk sementara, kami akan pindahkan mbak Aida ke ruang observasi intensif," imbuh dokter tersebut, bersamaan dengan brankar pasien yang membawa Aida yang di dorong oleh dua orang suster keluar dari ruang operasi, untuk di pindahkan sementara di ruang observasi intensif.


Instalasi rawat inap ROI atau ruang observasi intensif adalah fasilitas rawat inap yang disediakan khusus untuk pasien-pasien yang memerlukan perawatan, perhatian, dan penanganan khusus.Ā 


Dokter pun segera berlalu, begitupun dengan dua orang suster yang mendorong brankar pasien.


"Kalian, ikutlah ke bersama suster,, nanti abah nyusul," titah kyai Abdullah.


Nyai Robi'ah mengangguk, "baik bah," dan bersama putri nya, serta bu Dibyo.. nyai Abdullah segera mengikuti langkah suster, menuju ruang observasi intensif.


"Ryan,, ayo,," terdengar bu Retno berteriak mengajak putra nya, untuk segera mengikuti suster yang membawa Aida.


Sedangkan kyai Abdullah buru-buru menuju ruang NICU, untuk mengadzani putra nya Aida seperti yang diminta Aida tadi.. tatkala Aida belum keluar dari ruang perawatan untuk jalan-jalan, hingga terjadilah insiden Aida pingsan dan mengalami pendarahan karena pertemuan nya dengan Ryan dan juga bu Retno.


Hati kyai Abdullah mencelos, menyaksikan bayi mungil dengan kulit kebiruan akibat kekurangan oksigen itu. Bayi mungil yang di berada di dalam inkubator itu, tubuh nya di penuhi alat-alat medis yang menunjang kehidupan nya. *)


Ada selang makanan atau feeding tubes yang dimasukkan ke dalam perut bayi melalui mulut untuk menyalurkan ASI, dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh bayi nya Aida.


Ada pula selang tipis yang dimasukkan ke saluran napas bayi melalui hidung nya, yang dihubungkan dengan ventilator,,, yang berfungsi untuk membantu pernapasan bayi mungil itu.


Selang infus pun terpasang di tangan mungil, yang digunakan untuk membantu pemberian obat dan cairan yang diperlukan bayi.


Bayi mungil tersebut juga terhubung dengan monitor, yang berfungsi untuk menampilkan denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, suhu, dan kadar oksigen dalam tubuh bayi.


Kyai Abdullah berjongkok, untuk mensejajarkan tinggi nya dengan tubu bayi yang berada dalam tabung inkubator tersebut. Dan dengan terbata, kyai kharismatik itu mulai mengalunkan adzan di telinga kanan bayi nya Aida dan kemudian iqomah di telinga kiri nya.

__ADS_1


Usai adzan dan iqomah, kyai Abdullah sejenak terpaku di tempat nya. Ada rasa nyeri ya beliau rasakan di dada, melihat cucu sahabat nya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan seperti ini.


Kyai Abdullah kemudian mengangkat kedua tangan nya, memohon kepada Allah subhanahu wata'ala untuk kebaikan bayi mungil yang saat ini tengah berjuang.


Usai dengan do'a nya, dengan langkah berat.. kyai Abdullah meninggalkan ruang perawatan khusus tersebut, untuk segera kembali menemui istri dan putri nya.


Sesampainya di ruang tunggu ruangan observasi, kyai Abdullah melihat Ryan tengah duduk seorang diri tanpa sang ibu.. entah, kemana pergi nya bu Retno?


Kyai Abdullah terlihat mendekati Ryan, dan kemudian duduk di samping putra bungsu bu Retno itu. "Maaf mas, apakah anda mantan suami nak Aida?" Tanya kyai Abdullah, sesaat setelah mendudukkan diri di sana.


Ryan mendongak, menatap wajah yang penuh kharisma yang saat ini tengah tersenyum kepada nya. Ryan mengangguk, "bapak siapa nya dik Aida?" Tanya Ryan, yang juga penasaran dengan keberadaan kyai Abdullah dan keluarga nya.


"Saya Abdullah,,, sahabat almarhum orang tua nak Aida, dan kebetulan dulu nak Aida mondok di pesantren saya," balas kyai Abdullah memperkenalkan diri.


Ryan mengangguk-angguk, "Oh, saya Ryan pak yai... orang tua kami bertetangga," balas Ryan, yang juga memperkenalkan diri nya.


"Memang nya, saya boleh masuk ke sana bu?" Tanya Ryan.


"Coba saja dulu, bilang sama perawat nya.. bahwa kamu harus mengadzani putra mu dulu," balas bu Retno.


Ryan hendak beranjak, namun kyai Abdullah buru-buru mencegah nya. "Maaf mas Ryan, memang yang sebaik nya mengadzani putra nya adalah ayah nya. Tapi, barusan saya telah mengadzani putra nak Aida, atas permintaan nak Aida sendiri tadi sebelum dia pingsan," terang kyai Abdullah.


"Anda siapa nya? Apa hak anda?" Ketus bu Retno, yang tidak terima cucu nya di adzani oleh orang asing.


"Kami sahabat almarhum kang Dahlan dan jeng Aini, dan nak Aida sudah seperti putri kami sendiri. Sayang nya, saat tragedi jeng Aini terjadi hingga nak Aida terpaksa harus menikah.. kami tidak sedang berada di tanah air dan nak Aida juga tidak menghubungi kami sama sekali, jadi kami tak tahu apa-apa jika ternyata nak Aida sudah menikah dan akhirnya di usir oleh suami nya sendiri." Balas nyai Robi'ah, yang ikut mendekat tatkala mendengar suara bu Retno yang meninggi.

__ADS_1


Ryan tertunduk dengan penuh penyesalan, sementara bu Retno melengos.


"Saya yang salah, saya yang telah menyebabkan dik Aida dan putra kami menjadi seperti ini," sesal Ryan, dan punggung kokoh itu kembali berguncang.


Kyai Abdullah menepuk pelan punggung kokoh itu, "semua sudah berlalu mas Ryan, tak ada guna nya juga,,, jika mas Ryan, terus larut dalam penyesalan dan kesedihan. Bertaubat dan mohon ampun lah sama Allah, dan meminta maaf pada nak Aida. Serta berjanjilah, untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi ke depan nya," nasehat kyai Abdullah.


Ryan mengangguk-angguk, "nggih yai, InsyaAllah.. Ryan akan memperbaiki diri," ucap Ryan sungguh-sungguh.


"Keluarga mbak Aida," terdengar suara suster dari ambang pintu.


Nyai Robi'ah dan bu Dibyo, serta bu Retno langsung mendekat. "Mbak Aida sudah sadar, tapi maaf,,, mbak Aida baru boleh di kunjungi oleh maksimal dua orang. Dan yang lain nanti, bisa bergantian. Tapi mbak Aida berpesan, tidak mau dikunjungi oleh orang yang bernama bu Retno dan mas Ryan," terang suster, tersebut yang membuat bu Retno meradang.


"Sus, saya ini mertua nya dan Ryan adalah suami nya. Suster jangan mengada-ada, saya bisa tuntut rumah sakit ini!" Teriak bu Retno.


Ryan langsung mendekati ibu nya, "bu, sudah bu. Kalau ibu terus-terusan seperti ini, Ryan tidak mau berbicara sama ibu lagi!" Ancam Ryan, yang membuat bu Retno langsung diam.


Nyai Robi'ah dan bu Dibyo kemudian masuk terlebih dahulu, sedangkan Ryan mengajak ibu nya untuk duduk.


Setelah bu Retno cukup tenang, Ryan kemudian mendekati kyai Abdullah yang saat ini sedang duduk bersama putri nya. "Maaf yai, boleh saya minta tolong?" Pinta Ryan dengan memohon.


Kyai Abdullah mengernyit, "apa mas?"


"Tolong, bujuk dik Aida.. agar saya diijinkan untuk menemui nya. Saya hanya ingin minta maaf yai, saya tak ingin menuntut apapun atas bayi kami,,, karena saya sadar, bahwa saya lah yang bersalah."


bersambung,,,

__ADS_1


*) Inkubator adalah tempat tidur kecil seperti boks bayi, bagian atas boks ini ditutupi pembatas berbahan plastik keras berwarna transparan. Alat ini berguna untuk melindungi bayi dari paparan kuman penyebab infeksi dan menjaga tubuhnya tetap hangat, dan suhu di dalam alat ini umumnya dapat diatur menyesuaikan kondisi bayi


__ADS_2