
Ryan menatap ibu nya, dan kemudian menggeleng dengan pasti. "Tidak bu, aku sama sekali tak menyesal telah menceraikan dan mengusir pela*cur murahan itu!" Balas Ryan, dengan nada suara nya yang masih menyimpan amarah.
Kini Ryan tengah duduk terpekur di kamar utama milik nya yang kondisi nya sudah sangat semrawut, pakaian-pakaian mahal dan indah milik Aida yang sengaja tak dibawa oleh mantan istri nya itu telah berserak dimana-mana.
"Ibu tahu kan, aku di vonis dokter tidak bisa memiliki anak! Lantas, bagaimana bisa perempuan itu hamil?!" Geram Ryan, dengan rahang yang mengeras.
"Dia hamil dengan laki-laki lain bu! Dan berharap, aku mau mengakui anak nya sebagai anak ku?! Dengan berdalih dan mengatasnamakan kemurahan Tuhan, melalui obat-obatan herbal yang selama ini diberikan kepada ku?! Rencana murahan! Busuk!" Maki Ryan, dengan dada yang kian terasa sesak.
Sumpah serapah, cacian, makian, hinaan dan berbagai macam tuduhan kepada Aida.. yang bahkan saat ini orang nya sudah tidak ada di depan mata nya, rasa nya belum cukup membuat hati Ryan menjadi lega.
"Ibu pergilah ke rumah mbak Ira, biar ibu di antar sama sopir. Aku ingin sendiri bu," pinta Ryan, dengan dingin.
Bu Retno menggeleng, "tidak Ryan, ibu tidak akan meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini," tolak bu Retno, yang tidak tega meninggalkan putra nya yang sedang terpuruk seorang diri.
Bagaimana mungkin seorang ibu tega menjauh dari anak nya, di saat sang anak membutuh kan uluran tangan dan kasih sayang untuk merengkuh dan menguatkan nya kembali dari keterpurukan bukan?
Berkali-kali bu Retno menggeleng, tapi tatapan Ryan semakin tajam kearah ibu nya itu. "Mirna, panggil kan sopir untuk mengantar ibu!" Titah Ryan kepada Mirna, yang hilir mudik membersihkan pecahan vas dan gucci.
"Baik mas," balas Mirna dengan antusias, dalam otak asisten rumah tangga itu telah dipenuhi banyak rencana.
"Tidak nak, jangan suruh ibu untuk menginap di rumah mbak mu," bu Retno masih bersikukuh, ingin menemani sang putra. Tapi Ryan bergeming, dan tak menghiraukan permintaan sang ibu.
Hening sejenak menyapa ruangan tersebut, hingga suara sopir pribadi Ryan memecah keheningan. "Mari bu, saya antar ke rumah mbak Ira," ucap sopir tersebut dengan sopan.
__ADS_1
Bu Retno masih belum beranjak dari sisi sang putra, tangan nya masih mengelus punggung Ryan yang bergetar menahan amarah dengan penuh kasih.
"Pergilah bu, aku mohon,," lirih Ryan, "besok, jika kondisi rumah sudah rapi.. aku akan jemput ibu," janji Ryan, seraya menatap sang ibu.
Dengan berat hati bu Retno akhir nya menuruti keinginan Ryan, dan segera berlalu meninggalkan Ryan seorang diri di dalam kamar nya yang berantakan.
Sepeninggal ibu nya, Ryan pun bangkit. Melangkah keluar dengan tergesa, dan menyambar kontak mobil yang tergeletak di atas meja ruang keluarga.
"Mirna, kamu rapikan kamar tamu dan pindahkan semua pakaian ku di sana." Titah Ryan kepada Mirna yang masih sibuk beberes, "dan jangan lupa, bakar semua pakaian milik wanita murahan itu."
"Siap laksanakan mas," balas Mirna dengan tersenyum smirk, "tapi mas Ryan nanti pulang kan?" Tanya Mirna menyelidik, melihat Ryan memegang kunci mobil.
Seperti biasa, Ryan tak menanggapi pertanyaan nya dan langsung berlalu keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.
Ryan melaju kan mobil nya dengan kecepatan tinggi, langit di luar sana mulai gelap,,, segelap hati Ryan saat ini. Dan Ryan tahu pasti, ke mana tujuan nya sekarang.
Setelah memarkir mobil nya dengan sempurna di area parkir sebuah bar, Ryan segera turun dan memacu langkah nya dengan cepat masuk ke dalam bar tersebut.
Dua botol minuman dengan kadar alkohol tinggi langsung di pesan nya, dan Ryan kemudian duduk di sebuah sofa di sudut bar sambil menghidupkan pemantik api untuk menyulut rokok.
Satu batang, dua batang, bahkan hampir setengah bungkus rokok yang di bawa nya.. telah habis di hisap Ryan. Dua botol minuman yang di pesan nya pun kini hampir kosong, dan isi nya telah berpindah ke dalam perut Ryan yang kosong karena dari siang belum terisi makanan.
Kini kepala Ryan mulai terasa pusing, dan Ryan memutuskan untuk segera pulang ke rumah nya. Kerinduan nya kepada Aida tiba-tiba menyeruak, dan Ryan berharap,, ketika tiba di rumah nanti, sang istri membuka kan pintu dan menyambut nya dengan senyuman manis seperti biasa nya.
__ADS_1
@@@@@
Semalaman berada di dalam bis antar kota antar propinsi, tak membuat Aida bisa mengistirahatkan pikiran nya walau hanya sejenak. Raga nya memang tengah duduk manis di atas jok yang empuk dan bergoyang seiring goyangan bis yang melaju kencang di jalan raya beraspal, dan bagi sebagian orang yang tak sedang memiliki masalah maka akan dengan mudah terbuai dan terlelap karena seperti di ayun-ayun.
Tapi tidak dengan Aida, pikiran nya dipenuhi oleh berbagai macam hal. Yang memenuhi pikiran wanita muda yang tengah hamil itu, bukan tentang perpisahan nya dengan Ryan yang menyakitkan,,, namun mengenai hidup nya ke depan nanti. Bagaimana dan harus mulai dari mana, itu yang semalaman Aida pikirkan.
Hingga tanpa Aida sadari, bis AKAP yang ditumpangi nya telah memasuki terminal terakhir. Semua penumpang beranjak turun, tak terkecuali Aida.
Langit masih gelap, dan dari kejauhan sayup-sayup terdengar kumandang adzan. "Alhamdulillah,, sudah shubuh, pas sesuai perkiraan ku," lirih Aida, seraya berjalan menyusuri selasar terminal untuk mencari musholla.
Dari jauh, indera penglihatan nya menangkap papan penunjuk arah ke musholla,, dan Aida bergegas menuju ke sana.
Usai menjalankan ibadah sholat shubuh, Aida tak langsung beranjak. Dia buka Al-Qur'an kecil yang dulu di bawa nya dari rumah, Al-Qur'an pemberian umi nyai Robi'ah tatkala diri nya menyatakan keinginan nya untuk menghafalkan Al-Qur'an. Dan kini ingatan Aida tertuju pada ustadzah Zulaikhah.
"Astaghfirullah,, aku lupa, sampai enggak sempat pamit sama ustadzah.. padahal kemarin aku melewati depan rumah beliau? Aku harus kirim surat pada beliau, untuk mengucapkan rasa terimakasih ku. Bagaimana pun, beliau sudah sangat berjasa membantuku menyelesaikan hafalan Al-Qur'an." Gumam Aida dalam hati.
Ya, Aida telah menyelesaikan hafalan nya hingga tiga puluh juz penuh. Tadi nya Aida merencanakan, selama sebulan ke depan,, akan fokus untuk muroja'ah satu hari satu juz, dan di akhir bulan akan mengadakan khataman Al-Qur'an. Namun sekali lagi, manusia hanya bisa berencana.. dan Aida meyakini bahwa sebaik-baik rencana, adalah rencana Allah Ta'ala semata.
Aida mulai melantunkan ayat demi ayat dengan suara lirih, karena tak ingin mengganggu ketenangan orang lain yang datang dan pergi silih berganti untuk menunaikan ibadah sholat shubuh di musholla terminal tersebut.
Aida terlihat sangat menghayati bacaan nya, sampai-sampai Aida tak menyadari.. ada sepasang mata, yang sedari tadi memperhatikan nya dengan intens.
bersambung,,,
__ADS_1