Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 84 : Jatuh Pingsan


__ADS_3

Setelah dokter yang memeriksa Aida keluar, kyai Abdullah beserta sang istri masuk kedalam ruang perawatan Aida. "Assalamu'alaikum,,," ucap salam kedua orang tua gus Umar.


"Wa'alaikumsalam,,," balas Aida dan bu Dibyo bersamaan.


"Abah, umi, kok bisa ada di sini?" Tanya Aida, seraya menyalami kedua orang tua sahabat nya itu dengan takdzim.


"Iya nak, tadi kak Umar yang kasih kabar sama abah dan umi," balas nyai Robi'ah, seraya mengusap perut Aida dengan lembut.


"Maaf ya, kak Umar tidak bisa ikut menemani nak Aida di sini. Kak Umar khawatir, nak Aida merasa tidak nyaman jika ada kak Umar," lanjut nyai Robi'ah, yang saat ini sudah duduk di sisi Aida di ranjang pasien.


Aida mengangguk, "iya mi, Aida ngerti. Aida malah berterimakasih, kak Umar sampai repot-repot memanggil kan abah dan umi kemari." Balas Aida, "makasih ya mi, sudah mau menemani Aida," lanjut Aida seraya memeluk lengan umi nya Laila tersebut.


Nyai Robi'ah mengusap punggung Aida dengan penuh kasih, "andai status mu saat ini adalah anak menantu umi, betapa bahagianya umi nak," gumam nyai Robi'ah dalam hati, seraya mendo'akan kebaikan untuk Aida dan juga calon anak nya.


Bu Dibyo pun menyalami istri kyai Abdullah itu dengan sopan, "bu nyai, Alhamdulillah bisa ikut menemani di sini. Nak Aida pasti tambah tenang, karena ada bu nyai dan pak yai," ucap bu Dibyo dengan mata berbinar, beliau merasa sangat tenang karena ada orang-orang yang menyayangi Aida dengan tulus yang ikut menemani.


Nyai Robi'ah mengangguk, "iya bu Dibyo, makasih ya bu.. ibu sudah selalu ada untuk Aida," balas nyai Robi'ah dengan tulus.


"Sudah bukaan berapa tadi bu?" Tanya nyai Robi'ah.


"Enam umi," balas Aida, mewakili bu Dibyo.


Nyai Robi'ah mengangguk, "mudah-mudahan sebentar lagi," lirih nya penuh harap.


"Aamiin,," bu Dibyo dan Aida mengaminkan.


Bu Dibyo kemudian duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat kyai Abdullah, dan menyapa ayah dari gus Umar itu. Dan beliau berdua pun nampak terlibat perbincangan yang cukup serius.


Bu Dibyo dan kyai Abdullah ngobrol banyak hal.. tentu nya mengenai Aida. "Berarti proses persalinan nya nanti, normal ya bu?" Tanya kyai Abdullah memastikan, setelah bu Dibyo menceritakan penjelasan dokter yang menangani Aida tadi.


"Nggih yai, InsyaAllah normal. Karena posisi janin bagus dan kondisi nya sehat. Lagi pula sudah cukup umur, meski maju beberapa hari dari HPL," terang bu Dibyo.


Kyai Abdullah nampak mengangguk-angguk, "mudah-mudahan semua nya lancar, sehat dan selamat," do'a kyai Abdullah, yang di amini oleh bu Dibyo.


"Aamiin,,,"

__ADS_1


Sedangkan nyai Robi'ah dan Aida terlihat masih saling memeluk, sambil bercengkrama dengan hangat.


"Assalamu'alaikum,," suara Laila terdengar mengucapkan salam, dan langsung menghambur memeluk Aida dan juga umi nya.


"Wa'alaikumsalam,,," jawab semua nya yang ada di sana.


"Aida jahat,, kenapa enggak kasih kabar, kalau mau melahirkan?!" Protes Laila, masih dengan memeluk sahabat nya itu.


"Jangan kenceng-kenceng La, sakit tau!" Aida protes balik pada Laila, "lagian mana sempet coba, orang lagi kesakitan mainin ponsel?" Lanjut nya membela diri.


Laila melerai pelukan nya, "bukan mainin ponsel Aida,, tapi kasih kabar," balas Laila menegaskan.


"Iya, sama aja kan.. pegang ponsel?" Kekeuh Aida.


"Ning, tahu dari kak Umar ya.. kalau nak Aida di sini?" Tanya sang umi, melerai perdebatan kedua putri nya.


"Iya mi, Laila udah kayak kitiran tau gak mi dari pagi.." balas Laila, "tadi pagi kan dari ruko nya Aida, selepas sarapan di rumah sakit sini.. Laila langsung meluncur ke ruko lagi, begitu mbak Ning bilang kalau Aida mau melahirkan tapi mbak Ning enggak tahu di rumah sakit mana? Terus tadi kak Umar chat, kalau Aida ternyata di bawa ke rumah sakit sini.. Laila balik lagi ke sini kan?" Gerutu Laila.


"Salah sendiri, siapa suruh bolak-balik." Cibir Aida.


"Aw,,, sakiiitt," seru Aida, karena tepat di saat yang sama, kontraksi itu kembali datang. Jeda nya semakin rapat dan sakit nya semakin menjadi, hingga membuat Aida merintih.


"Tarik nafas nak, hembuskan perlahan... dan senantiasa lafadz kan istighfar," bisik nyai Robi'ah.


Dan Aida pun mempraktekkan tehnik pernafasan, yang sudah diajarkan bu bidan setiap kali Aida memeriksakan kehamilan nya.


Sedangkan Laila bingung, tak tahu harus bagaimana. Adik gus Umar itu menggigit bibir bawah nya, seolah ikut merasakan rasa sakit yang dialami sahabat nya itu. "Sakit banget ya Da?" Tanya Laila, sesaat setelah Aida agak tenang.


Aida mengangguk, "sedikit," lirih Aida.


"Masih kuat jalan-jalan tidak nak? Biar proses lahiran nya gangsar?" Nyai Robi'ah menatap manik bening milik Aida dengan penuh kasih sayang, perhatian nya kepada Aida seperti kepada putri nya sendiri.


"Masih mi, Aida akan jalan-jalan di teras sebentar," balas Aida, seraya beranjak.


"Aku temani ya Da?" Dan tanpa menunggu jawaban, Laila langsung menggandeng tangan Aida untuk keluar dari ruang perawatan.

__ADS_1


"La, kita ke taman depan itu ya?" Pinta Aida.


Laila menatap sahabat nya dengan tidak yakin, "kamu masih kuat?" Tanya Laila khawatir.


"Masih lah,, santai saja La, aku tahu pasti dengan kondisi tubuh ku." Balas Aida dengan penuh keyakinan.


Akhirnya Laila pun menuruti keinginan sahabat nya, "pelan-pelan aja jalan nya," Laila memperingatkan dengan penuh penekanan.


"Iya, iya,, bawel!"


Mereka berdua berjalan menuju taman, yang ada di depan ruang perawatan Aida. Aida kemudian duduk di bangku panjang, yang ada di bawah pohon yang rindang. Laila dengan setia menemani sahabatnya itu, sambil sesekali bercanda ria.


Dan ternyata, dari balkon ruang perawatan ning Zahra.. taman tersebut dapat terlihat dengan jelas.


Gus Umar yang baru saja selesai merokok,dan hendak kembali ke dalam ruang perawatan sang istri.. mengurungkan niat nya, tatkala pandangan nya menangkap bayangan Aida dan sang adik.


"Dik,,,," panggil gus Umar, bergumam.


Gus Umar terus mengawasi pergerakan Aida, yang sedang duduk di bangku taman yang tepat berada di bawah nya itu.


Semua tingkah Aida terekam dengan jelas oleh penglihatan nya dan masuk dengan bebas kedalam benak nya. Gus Umar dapat melihat, bagaimana berkali-kali Aida meringis menahan sakit, kala kontraksi itu datang.. dan putra kyai Abdullah itu pun ikut meringis, seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Aida.


Manyaksikan hal itu berkali-kali, membuat gus Umar tak tahan untuk tidak menelpon sang adik. Dan dengan buru-buru gus Umar mengambil ponsel nya, hendak menghubungi sang adik agar membawa Aida kembali masuk ke dalam ruang perawatan nya.


Belum sempat gus Umar menelpon sang adik, kakak dari Laila itu menyaksikan seorang pria dewasa dan wanita paruh baya menghampiri Aida.


Entah apa yang mereka bicarakan, karena beberapa saat kemudian.. Aida menjerit, darah mengalir deras dari pangkal paha nya dan sedetik kemudian Aida jatuh pingsan.


bersambung,,,


Maaf yah, bahagia belum saat nya menyambangi Aida šŸ™šŸ™


Sad or happy ending? Nantikan terus yah... 😊😊


Love you all, jaga kesehatan selalu šŸ¤—šŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2