Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 90 : Terhempas Oleh Ombak di Lautan


__ADS_3

Karena waktu kunjungan untuk pasien sudah habis, Ryan memutuskan untuk mengantarkan ibu nya pulang terlebih dahulu. Karena sang ibu sudah mulai mengeluh, bahwa migrain nya kambuh.


Ya, Ryan dan ibu nya berada di rumah sakit karena memeriksakan kesehatan bu Retno. Dan tanpa di sengaja, usai menebus obat dan saat hendak pulang.. dari jauh, Ryan dan bu Retno melihat keberadaan Aida yang tengah duduk di taman di depan ruang perawatan nya bersama Laila.


Dari situlah tragedi yang menimpa Aida terjadi, hingga Aida dan bayi nya harus ditangani secara intensif guna pemulihan kesehatan nya.


Awalnya bu Retno menolak, karena ibu nya Ryan itu juga ingin bertemu dengan Aida.. dan meminta Aida, agar mau kembali pada putra nya. Tapi Ryan memaksa agar ibu nya pulang, karena Ryan tak ingin sang ibu kembali membuat ulah dan dapat membuat Aida kembali drop.


Bu Retno pun akhirnya nya nurut, karena kepala nya kembali merasakan pusing. Sebab, obat yang di resep kan oleh dokter belum sempat di konsumsi nya semenjak tadi.


Dengan kecepatan penuh, Ryan membawa sang ibu pulang ke rumah nya. Tak ada obrolan apa-apa antara ibu dan anak di sepanjang jalan tersebut, karena Ryan lebih memilih bungkam.. daripada berbicara, tapi hanya akan menyulut emosi nya karena sikap sang ibu yang tak mau melunak.


Bu Retno yang awal nya ingin ngobrol banyak hal, pun akhirnya terdiam karena Ryan sama sekali tak merespon nya. Pandangan putra nya terus fokus tertuju ke arah jalan raya yang ramai lancar, rahang kokoh itu mengeras seakan menahan amarah.


Bu Retno bukan nya tidak tahu apa yang menyebabkan putra nya semarah itu, namun bu Retno hanya ingin putra nya mendapatkan yang terbaik. Bu Retno menginginkan, Aida kembali pada putra nya beserta cucu yang akan melengkapi kebahagiaan Ryan.


Namun berbeda dengan Ryan, laki-laki matang itu tak ingin memaksakan kehendak nya karena Ryan sadar sepenuh nya bahwa dirinya lah yang bersalah atas semua yang menimpa Aida. Hingga Ryan tak berani berharap banyak, cukup mendapatkan maaf dari Aida dan melihat Aida serta putra nya bahagia.. Ryan pasti akan ikut merasakan kebahagiaan.


Setibanya di rumah, setelah memastikan sang ibu meminum obat nya dan kemudian tidur.. Ryan buru-buru kembali ke rumah sakit, untuk menemui Aida.


Waktu telah menunjukkan pukul enam belas tepat, saat Ryan tiba di depan ruang observasi intensif. Dan tepat di saat yang sama, ketika suster mendorong brankar pasien keluar dari ruangan tersebut yang diikuti oleh Laila dan juga kedua orang tua nya.


"Pak kyai, dik Aida mau di bawa kemana?" Tanya Ryan, dengan penuh kekhawatiran. Ryan tadi sempat melihat wajah Aida yang masih agak pucat, dan dengan mata yang terpejam.


"Nak Aida kondisi nya sudah stabil, dan akan dipindahkan ke ruang perawatan nya kembali," balas kyai Abdullah, seraya menepuk punggung kokoh Ryan.


"Mari kita sama-sama memberikan dukungan untuk nak Aida, agar kesehatan nya cepat pulih." Lanjut kyai Abdullah, dengan penuh harap.

__ADS_1


Ryan yang mengerti maksud pembicaraan kyai Abdullah, mengangguk, "nggih yai, Ryan hanya ingin minta maaf. Ryan tak akan membicarakan hal lain, yang bisa membuat dik Aida bersedih," ucap Ryan, dengan sungguh-sungguh.


Kyai Abdullah mengangguk-angguk, "terimakasih atas pengertian nya nak Ryan, nak Ryan tentu lebih tahu bagaimana keadaan psikologis nak Aida saat ini." Pungkas kyai Abdullah, karena kini mereka telah tiba di ruang perawatan Aida.


Setelah dua orang suster keluar dari ruangan kelas satu yang tak terlalu luas itu, kyai Abdullah pun mengajak istri serta putri nya untuk keluar dan memberikan kesempatan kepada Ryan dan Aida untuk berbicara.


"Nak Aida, kami tunggu di luar ya," pamit nyai Robi'ah, dengan senyum nya yang hangat dan menyejukkan hati.


Aida mengangguk, "nggih umi, makasih masih menemani Aida di sini," lirih Aida yang saat ini tiduran dengan setengah duduk dan bersandar di ranjang pasien, posisi duduk dengan kemiringan 45 derajat seperti ini akan memberi rasa nyaman selama pasca operasi. Selain mengurangi rasa perih pada jahitan, posisi tidur ini juga dapat menjaga jalan napas tetap terbuka.


"Jangan memikirkan yang berat-berat, kalau kamu tak suka katakan saja tak suka.. jangan pikirin perasaan orang lain, yang tak pernah memikirkan perasaan kamu," bisik Laila, sebelum beranjak meninggalkan ruang perawatan Aida.


Aida hanya tersenyum, mendengar nasehat yang sedikit menyesatkan itu.. "tapi, ada benar nya juga sih. Yang penting aku enggak menyakiti duluan," gumam Aida dalam hati, membenarkan perkataan sahabat nya.


"Menyerang balik untuk membela diri kan, memang diperbolehkan," lanjut nya, seraya mencoba untuk meneguhkan hati agar kuat mendengar apapun yang akan dikatakan oleh mantan suami nya nanti.


Setelah semua nya keluar, Ryan kemudian mendudukkan diri di kursi plastik yang berada tak jauh dari ranjang pasien.


"Maaf,,," suara Ryan yang terdengar tercekat di tenggorokan, mengurai keheningan di antara mereka berdua.


Aida masih fokus dengan hati nya, dan tatapan mata nya tertuju ke arah jarum infus yang tertancap di punggung tangan nya yang putih bersih.


Sedangkan Ryan, terus menatap wajah yang sangat putih di hadapan nya dengan hati yang teriris. Wajah itu, wajah yang masih sangat dikagumi nya hingga detik ini. Wajah yang tak pernah bosan di cumbui nya, wajah yang selalu dia lihat ketika Ryan pulang dari tempat nya bekerja dan langsung meluruhkan segala lelah yang ada kala memandang nya.


Kini, pemilik wajah itu seakan teramat jauh dari jangkauan nya... padahal saat ini, jarak kedua nya begitu dekat. Tapi Ryan, tak memiliki nyali untuk membelai pipi kemerahan milik Aida.


Ryan menarik nafas panjang, dan kemudian menghembus nya perlahan. Sangat berharap, segala beban yang menghimpit dada nya ikut menguap di udara dan hilang terbawa oleh angin.

__ADS_1


Tapi tentu saja itu tak terjadi, karena nyata nya.. dada Ryan kian terasa nyeri, tatkala mendapati Aida tak mau menatap ke arah nya barang sedetik saja.


"Dik, mas mau minta maaf... maaf, atas segala apa yang telah mas lakukan terhadap mu dan juga terhadap anak kita," lirih Ryan, dengan terbata.. dengan susah payah, Ryan akhirnya berhasil mengeluarkan unek-unek yang mengganjal di benak nya.


"Mas tahu, mas sudah sangat keterlaluan. Mas juga mengerti, jika dik Aida tak bisa memaafkan mas... mas tak bisa dan tak mau memaksa," lanjut Ryan, masih dengan menatap dalam wajah ayu di hadapan nya. Semakin lama dilihat, wajah itu semakin ayu dan membuat Ryan reflek ingin menyentuh nya.


Aida buru-buru menghindar, "maaf mas, kita bukan lagi mahrom. Berdekatan dan berlama-lama berdua seperti ini saja, sebenarnya tak boleh.. apalagi sampai menyentuh." Tegas Aida, memberikan batasan yang sangat jelas.


Ryan menunduk, pipi nya seperti tertampar raket nyamuk dengan voltase bertegangan tinggi.


"Aida sudah memaafkan mas Ryan,,, dan jika sudah tidak ada lagi yang akan mas Ryan sampaikan, silahkan mas Ryan bisa keluar. Pintu nya ada di sebelah sana," ucap Aida seraya menunjuk pintu yang sedikit terbuka, karena nyai Robi'ah sengaja tak menutup nya dengan rapat saat keluar dari ruang perawatan Aida tadi.


"Dik, maaf. Dan tentang anak kita..." ucapan Ryan menggantung di udara, karena Aida buru-buru memotong pembicaraan Ryan.


"Kalau mas Ryan mengakui bayi itu sebagai anak kandung mas Ryan, jangan khawatir.. nama mas Ryan akan Aida cantumkan di akte kelahirannya. Tapi jika tidak, cukup memakai nama Aida sebagai wali nya." Tegas Aida.


"Iya dik, mas mengakui nya. Dia anak mas, anak yang telah mas sia-siakan. Mas yang salah,, maaf,," ucap Ryan dengan penuh penyesalan, bulir bening menetes dari sudut netra nya yang tajam.


Punggung kokoh itu berguncang, karena Ryan tak kuasa menahan tangis nya. Ryan menangis dalam diam, tepat di hadapan Aida.


Aida bukan nya tak mengetahui hal tersebut, namun Aida tak mau melihat wajah Ryan yang kini telah banjir dengan air mata. Aida tak ingin kalah,,, cukup sudah penderitaan dan kesakitan yang Ryan dan ibunya berikan, Aida ingin bersikap egois kali ini dan memilih untuk memejamkan mata nya. Mengistirahatkan jiwa dan raga nya,


Hingga beberapa saat lama nya, ketika Aida membuka mata nya.. Ryan masih terlihat menangis.


Aida menarik nafas dalam-dalam, dan menghembus nya dengan kuat. "Dia anak mas Ryan, kapan pun mas Ryan ingin menemuinya.. silahkan." Ucap Aida, yang membuat Ryan mendongak menatap nya... dengan perasaan yang sangat lega.


Sejenak, kedua netra mereka bertemu... namun Aida langsung membuang pandangan nya ke arah lain.

__ADS_1


"Tapi di antara kita, sudah tidak ada lagi hubungan. Aida tunggu surat cerai dari mas Ryan, itu jika mas Ryan memiliki iktikad baik pada Aida," lanjut Aida, penuh penekanan. Yang membuat Ryan seolah terhempas oleh ombak di lautan, dan menabrak karang yang terjal.


bersambung,,,


__ADS_2