Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 115 : Merajut Indah nya Cinta


__ADS_3

Aida di dudukkan di samping gus Umar, yang semenjak Aida keluar dari ruang keluarga tadi... gus Umar terus menatap wajah sang istri yang baru saja dinikahi itu, dengan senyum nya yang mengembang lebar.


Aida masih terus menundukkan pandangan nya, belum berani menatap gus Umar, ataupun orang-orang yang berada di ruang tamu tersebut.


"Gus, pakaikan dulu cincin nya.. baru kemudian sungkem." Titah nyai Siti pada cucu nya.


"Nggih nek," nyai Robi'ah segera memberikan cincin pernikahan kepada putra nya untuk di sematkan di jari manis Aida.


"Dik, maaf.. kakak pegang tangan kamu ya," lirih gus Umar dengan sopan, dengan mendekat kan wajah nya.


Aida yang sedari tadi berdebar-debar, mengangguk dan memberanikan diri mendongakkan wajah nya. Dan debaran jantung Aida semakin memompa cepat, tatkala menyadari bahwa ternyata wajah kedua nya begitu dekat. Bahkan, hembusan nafas gus Umar terasa hangat menerpa pipi nya yang semakin merona merah.


Gus Umar tersenyum dan mulai memegang tangan Aida yang dingin dan gemetaran, "tangan kamu dingin dik, apa kamu sakit?" Tanya gus Umar lirih, dengan wajah khawatir.


Aida menggeleng, "Aida baik-baik saja kak, Aida,,, grogi," balas nya tak kalah lirih.


Gus Umar kembali tersenyum, "istri ku ternyata pemalu," ucap gus Umar, sambil menyematkan cincin indah ke jari manis Aida.


Aida kemudian mencium punggung tangan sang suami, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada suami sebagai kepala keluarga.


Gus Umar pun kemudian mencium kening istri nya, sebagai wujud kasih sayang nya kepada istri. Ciuman yang begitu dalam dan lama, hingga suara nyai Robi'ah mengakhiri sesi cium kening tersebut.


"Gus, sungkem dulu," yang di sambut senyuman oleh semua yang hadir di sana, sedangkan kedua mempelai tersenyum malu. Terlebih Aida, yang wajah nya semakin merona merah.


Gus Umar dan Aida pun kemudian sungkem pada kedua orang tua gus Umar, pada kyai sepuh dan nyai Siti, pada kedua orang tua almarhumah ning Zahra yang bagi gus Umar tetap di anggap sebagai orang tua nya, pada kyai Hasyim dan nyai, juga pada pak Dibyo dan bu Dibyo yang sudah di anggap Aida seperti orang tua nya sendiri.


Sepanjang sungkem dengan orang-orang yang mereka sayangi itu, Aida terus menitikkan air mata.. haru dan bahagia menjadi satu. Wajah ibu dan ayah nya terus melintas, membuat air mata Aida semakin deras mengalir.

__ADS_1


Usai menyalami para orang tua, gus Umar dan Aida kemudian mendapatkan ucapan selamat dari sanak saudara yang lain.. termasuk mbak Ning dan juga mantan suami Aida, Ryan.


Ryan menjabat erat tangan gus Umar dengan netra berkaca-kaca, "selamat ya gus, saya percaya gus Umar akan bisa membahagiakan dik Aida." Ucap nya dengan suara bergetar, dan kemudian memeluk gus Umar dengan erat.


"Makasih mas Ryan, InsyaAllah saya akan terus menjaga dan menyayangi dik Aida." Balas gus Umar seraya melerai pelukan.


Ryan hendak menyalami Aida, namun segera di urungkan dan langsung menangkup kedua tangan nya di dada. "Selamat ya dik, semoga kebahagiaan selalu menyertai langkah mu," do'a Ryan dengan tulus.


Aida tersenyum dan mengangguk, "makasih mas Ryan, do'a yang sama untuk mas Ryan.. dan semoga mas Ryan segera menyusul, menemukan pasangan hidup yang dapat membahagiakan mas Ryan," balas Aida mendo'akan seraya melirik mbak Ning, yang antri hendak menyalami nya.


"Aamiin,,," Ryan dan mbak Ning mengaminkan dengan kompak, kedua nya saling pandang sejenak dan kemudian sama-sama tersenyum.


Mbak Ning kemudian memeluk Aida dan menangis bahagia di pelukan adik angkat nya itu. Wanita muda dengan satu anak itu, sampai tak mampu berkata-kata... hanya do'a tulus dari hatinya untuk Aida, semoga putri orang yang telah memberikan kehidupan kepada nya itu senantiasa dalam keberkahan dan kebahagiaan.


Aida juga kembali menangis, "makasih banyak ya mbak Ning, selama ini udah selalu ada untuk Aida. Aida do'akan, semoga mbak Ning cepet menyusul Aida." Kedua nya pun kemudian saling melerai pelukan dan tersenyum bahagia.


"Kakak ipar,,," serunya, dan langsung memeluk Aida dengan erat.


"Ish,, kenceng banget sih, kayak di hutan saja," protes Aida dengan membalas pelukan Laila dengan erat.


"Selamat ya kakak ipar ku yang baik, yang cantik, yang cerdas," ucap Laila seraya melerai pelukan.


"Selamat menikmati malam pertama yang indah bersama kakak ku yang kata kamu bagai pangeran yang tampan rupawan," bisik Laila, yang mengingatkan kata-kata Aida yang memuji kakak nya kala itu,,, hingga membuat Aida tersipu malu, pasal nya gus Umar mendengar kan bisik-bisik mereka berdua.


Gus Umar yang berada sangat dekat dengan Aida, berbisik,, "benarkah itu dik, benar kah menurut mu aku adalah pangeran yang tampan?" Gus Umar menatap sang istri dengan tatapan menggoda, Aida hanya bisa mengangguk malu.


Gus Umar tersenyum lebar, "makasih ya dik, kini pangeran tampan nya sudah menemukan sang putri yang cantik jelita," puji gus Umar dengan tulus, seraya menggenggam tangan Aida dan mencium nya sekilas. Membuat darah Aida berdesir hangat.

__ADS_1


"Ihh,, kakak ini, enggak sabaran banget sih. Masih banyak tamu kali kak," protes Laila, yang masih berada di hadapan Aida. Dan gus Umar hanya menanggapi nya dengan senyuman.


Laila kemudian memeluk kakak nya, "kak Umar harus janji sama Laila, bahwa kak Umar akan menjaga Aida dengan baik. Membahagiakan nya, dan membuat nya selalu tersenyum. Jika sampai Laila tau Aida nangis gara-gara kakak, Laila enggak mau jadi adik nya kak Umar lagi," ancam Laila seraya melerai pelukan nya.


"Duh, satpam nya galak juga ternyata," ucap gus Umar seraya menyentil pelan kening sang adik.


"Tenang saja dik, sahabat mu yang cantik ini sudah menjadi garwa ne kakak, belahan jiwa nya kakak. Yang artinya, kakak tidak bisa hidup tanpa istri kakak yang cantik ini.. kakak memiliki kewajiban untuk membahagiakan nya, dan memperlakukan nya dengan sebaik mungkin," balas gus Umar, seraya kembali mencium tangan Aida.


"Kak, malu ah.." protes Aida lirih di telinga gus Umar, membuat darah gus Umar berdesir.


"Tau nih kakak, udah ngebet banget kayak nya," olok Laila sambil ngeloyor pergi, menjauh dari pasangan yang sedang kasmaran tersebut dan untuk memberikan kesempatan kepada saudara nya yang lain yang masih ingin berbincang dengan gus Umar.


Satu dua orang yang belum menyalami gus Umar dan Aida bergantian mendekat, dan memberikan ucapan selamat serta mendoakan kedua mempelai.


Dan setelah semua keluarga besar nya memberikan ucapan selamat, gus Umar hendak beranjak.. namun di cegah oleh kyai Hasyim.


"Kita ngobrol dulu saja ya gus, setelah ini kan belum tentu kita bisa sering ngobrol seperti ini," pinta kyai Hasyim dengan memohon, karena kyai sepuh tersebut tahu betul bahwa antara gus Umar dan keluarga nya tak ada lagi ikatan yang kuat setelah cucu nya meninggal... sehingga kemungkinan untuk bisa ngobrol bareng seperti ini, pasti lah sangat langka.


Gus Umar hanya bisa pasrah dan tetap duduk di samping sang istri, sambil terus menggenggam tangan halus istri nya.


Malam semakin merangkak naik, namun para sanak saudara seperti nya masih betah berlama-lama untuk mengobrol.. hingga membuat gus Umar merasa gelisah, karena tak sabar ingin segera membawa sang istri pulang ke kediaman nya dan memulai untuk merajut indah nya cinta.


bersambung,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Sabar ya gus,, saudara-saudara nya masih kangen tuh pengen ngobrol sama pengantin baru 😊😊

__ADS_1


__ADS_2