
Seminggu berlalu, gus Umar menanti hasil pemeriksaan sang istri dengan hati yang was-was. Berbeda dengan sang istri yang terlihat santai dan tak terlalu memusingkan apa yang dialami nya.. semua rasa sakit dan menstruasi yang berkepanjangan, ning Zahra anggap sebagai hal yang lumrah terjadi pada sebagian wanita.
Dan sore ini, gus Umar kembali ke klinik bersalin hanya berdua dengan ning Zahra, sebab Laila tak bisa ikut karena sedang pergi ke acara pernikahan teman nya sewaktu SMP dulu. Mereka akan mengambil hasil diagnosa dari serangkaian pemeriksaan yang telah di lakukan ning Zahra seminggu yang lalu.
Sepanjang perjalanan, suasana di kabin mobil itu sangat sepi. Karena gus Umar yang biasa nya mendominasi pembicaraan diantara mereka berdua.. saat ini sedang tak ingin mengatakan apapun, pikiran nya hanya tertuju pada bagaimana hasil pemeriksaan istri nya nanti.
Sedangkan ning Zahra yang pendiam dan memang tak banyak bicara, juga bingung ingin memulai percakapan dari mana? Hingga mobil gus Umar memasuki pelataran parkir klinik bersalin, kedua nya masih sama-sama membisu.
Setelah memarkir mobil nya, gus Umar segera turn dari mobil yang diikuti oleh sang istri dari sisi yang lain tanpa menunggu di bukakan pintu nya terlebih dahulu. Gus Umar kemudian menuntun sang istri memasuki klinik dan mengantri di depan ruang praktek dokter kandungan, yang seminggu lalu telah mereka kunjungi.
Lima menit berlalu, pun dalam diam.. padahal kedua nya duduk bersebelahan, hingga kemudian nama ning Zahra dipanggil oleh petugas. Ning Zahra segera beranjak, yang diikuti oleh gus Umar.
"Nyuwun sewu gus, jenengan mau kemana?" Ning Zahra mengernyitkan dahi, tatkala melihat gus Umar juga ikut berdiri.
"Ya mau ikut masuk ning, mau kemana lagi?"
"Ndak usah gus, Zahra bisa sendiri kok," tutur ning Zahra yang nampak gugup.
"Lho, aku ini suami mu ning. Aku harus tahu apa yang sebenar nya terjadi dengan kamu?" Gus Umar terlihat tidak suka dengan sikap ning Zahra, tapi pemuda kharismatik itu tetap berbicara dengan lembut seperti biasa nya.
Kembali terdengar suster memanggil nama ning Zahra, hingga akhir nya istri gus Umar itu membiarkan suami nya ikut masuk ke dalam ruangan dokter.. meski sejujur nya, ning Zahra merasa sangat malu membicarakan hal yang sangat pribadi di hadapan gus Umar, padahal mereka berdua sudah cukup lama menikah.
"Sore dok," sapa gus Umar dengan ramah.
"Selamat sore mas, mbak,,.." balas bu dokter dengan senyum khas nya yang ramah dan menawan. "Wah, diantar sama suami ya? Kebetulan sekali, karena mas nya memang harus tahu agar bisa memberikan support nya untuk istri," lanjut bu dokter yang membuat perasaan gus Umar semakin tak karuan.
Beberapa minggu terakhir, gus Umar memang mempelajari berbagai artikel yang berhubungan dengan keluhan sang istri, dan suami ning Zahra itu khawatir jika sang istri mengidap suatu penyakit yang sama seperti dalam salah satu artikel yang dibaca nya. Dan karena itulah, gus Umar memaksa ning Zahra, agar mau periksa ke dokter spesialis kandungan,, dan disini lah mereka berdua saat ini, menanti penjelasan dokter dengan hati berdebar.
__ADS_1
"Jadi, gimana hasil nya dok?" Tanya gus Umar nampak tidak sabar, berbeda dengan sang istri yang sama sekali tak berminat mengetahui hasil diagnosa kesehatan nya sendiri.
Bu dokter membuka map yang bertuliskan nama pasien ibu Zahra, yang sudah berada di hadapan nya. "Baik, mas dan mbak Zahra.. berdasarkan hasil serangkaian pemeriksaan yang mbak Zahra lakukan seminggu yang lalu,,,"
Dan gus Umar nampak mendengar kan dengan seksama penjelasan dokter yang panjang lebar, yang mengatakan bahwa hasil nya baik.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur gus Umar dengan perasaan bahagia yang tak dapat disembunyikan, terbukti dari aura wajah nya yang kini nampak berseri.
"Tapi,,," bu dokter menghentikan ucapan nya, dan kening nya berkerut dalam seperti bimbang hendak menyampaikan sesuatu.
"Tapi kenapa dok?" Kejar gus Umar yang menjadi penasaran, sedangkan ning Zahra terlihat tenang-tenang saja.. apalagi setelah tahu, bahwa hasil pemeriksaan nya baik-baik saja.
"Minggu lalu mbak Zahra masih menstruasi, jadi saya tidak menyarankan nya untuk melakukan tes pap smear." Ucap bu dokter, dan dokter tersebut menyarankan untuk melakukan tes yang minggu lalu belum bisa di lakukan itu.
"Bagaimana mas, mbak?" Tanya bu dokter seraya menatap dua orang yang duduk dihadapan nya bergantian.
Akhirnya dengan enggan ning Zahra mengangguk.
"Berapa lama hasil nya bisa kami ketahui dok?" Tanya gus Umar, beralih menatap dokter wanita di depan nya.
"Satu sampai tiga minggu mas, hasil nya baru bisa diketahui," balas bu dokter.
"Apakah ada pemeriksaan yang lebih cepat dari pap smear itu dok?" Tanya gus Umar, yang sudah tidak sabar lagi menanti terlalu lama.. karena menanti seminggu saja sudah membuat kepala nya berdenyut, apalagi harus menunggu bahkan bisa sampai tiga minggu?
"Ada mas, kita bisa pakai IVA tes. Tapi berdasarkan hasil riset,, hasil pap smear dinilai lebih akurat daripada IVA tes. Tapi tidak mengapa jika mau pakai IVA tes, dan nanti jika hasil nya positif terdeteksi sesuatu,, kita bisa lakukan pemeriksaan lanjutan," balas bu dokter dengan gamblang. "Bagaimana mas, mbak?" Tanya dokter obgyn tersebut,, seraya menatap gus Umar dan istri nya yang lebih sering menunduk itu secara bergantian.
Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
__ADS_1
dilakukan dengan meneteskan asam asetat (asam cuka) pada permukaan mulut rahim. Teknik ini dinilai terjangkau, mudah, hanya memerlukan alat sederhana, dan hasilnya bisa langsung didapatkan.
Penelitian yang diterbitkan pada Journal of Mid-Life Health menunjukkan, IVA test lebih sensitif daripada pap smear. Penelitian ini menemukan, IVA test 89% lebih sensitif daripada pap smear, yang hanya sebesar 52 persen.Artinya IVA test mampu lebih cepat mendeteksi penyakit. Meski demikian, hasil pap smear dinilai lebih akurat daripada IVA test. Riset ini juga menunjukkan akurasi pap smear bisa mencapai 93% sementara IVA test hanya mencapai 87 persen.
"Lakukan saja yang menurut dokter terbaik, lebih cepat tahu hasil nya saya rasa itu lebih baik," balas gus Umar memutuskan secara sepihak, sedangkan ning Zahra hanya pasrah saja.
"Baik mbak Zahra, silahkan berbaring ke ranjang," titah bu dokter, dan seorang perawat kemudian membantu ning Zahra untuk berbaring di ranjang pasien. Setelah itu, perawat tersebut menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pemeriksaan.
Dokter membantu ning Zahra mengambil posisi yang benar, dan kemudian memasukkan alat bernama spekulum atau cocor bebek ke dalam va*gina. Alat ini berfungsi menahan mulut ****** terbuka, sehingga leher dan mulut rahim dapat terlihat.
Dokter terlihat mencelupkan gumpalan kapas bertangkai mirip cotton bud ke larutan asam asetat atau asam cuka kadar 3–5%. Gumpalan kapas yang telah dibasahi oleh asam asetat kemudian dioleskan perlahan ke permukaan jaringan serviks.
Setelah menunggu selama 1 menit untuk menilai reaksi yang muncul, bu dokter nampak mendesah pelan begitu melihat hasil nya.
"Ada apa dok?" Tanya gus Umar cemas, ketika melihat raut wajah dokter wanita tersebut.
"Terlihat perubahan warna pada area serviks yang telah dioleskan asam asetat." Gumam bu dokter, "dan itu artinya,,," dokter tersebut menjeda sejenak ucapan nya.
"Artinya apa dok?"
bersambung,,,
✍️✍️✍️✍️✍️
Mohon maaf, jika cerita yang ini lambat up nya 🙏
Palaku suka berdenyut kalo nulis kisah yang ini...
__ADS_1