
Waktu terus berlalu, matahari dan rembulan datang dan pergi silih berganti. Usaha warung makan sederhana milik Aida semakin hari terlihat semakin ramai, pengunjung akan nampak memadati warung berukuran empat kali lima meter itu di saat-saat jam makan,, seperti pagi dan siang hari.
Selama hampir empat bulan ini, Bu Dibyo setiap hari masih rajin mengunjungi ruko yang di kontrak Aida tersebut,,, selain untuk menemani Tio agar mbak Ning tak kerepotan, juga demi untuk menjaga agar Aida dan mbak Ning terhindar dari fitnah.
Bu Dibyo juga dengan senang hati akan ikut membantu melayani pembeli, atau membantu membersihkan meja yang habis di gunakan pengunjung warung.. jika warung sangat ramai, dan Aida serta mbak Ning kerepotan melayani para pembeli. Tapi jika untuk mencuci peralatan bekas makan pembeli, mbak Ning melarang nya.
Istri pak Dibyo itu juga tak bosan mengingatkan pada Aida agar tidak terlalu capek, mengingat ini adalah kehamilan pertama dan usia Aida yang masih sangat muda. "Nak Aida, usahakan kalau siang untuk istirahat sebentar.. nak Aida harus tidur siang, agar nak Aida tetap bugar dan bayi nya juga sehat," nasehat nya ketika melihat Aida hendak mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur, dan bu Dibyo juga hendak pulang dahulu karena suami nya sebentar lagi pulang dari kantor.
"Nggih bu, tiap habis sholat Aida juga pasti menyempatkan untuk istirahat kok," balas Aida, "Bu, tolong ini di bawa untuk lauk bapak," Aida memberikan kotak bekal makan berukuran besar dengan tiga sekat, yang berisi lauk lauk berupa sayur, daging dan perkedel.
"Nak, jangan seperti ini terus.. Ibu ndak suka," protes bu Dibyo,yang setiap kali pulang selalu dibawain sayur dan lauk pauk oleh Aida. "Ibu sudah ada lauk di rumah, karena setiap pagi sebelum ke sini ibu sekalian masak untuk makan siang. Ibu ikhlas kok bantuin kalian, dan Ibu tidak mengharapkan ini sama sekali," tolak nya dengan halus.
"Bu, maaf.. ibu jangan menganggap ini adalah imbalan karena ibu sudah menemani kami di sini, sama sekali bukan bu? Tapi ini wujud kecil dari bakti seorang anak kepada orang tua nya, karena Aida sudah menganggap bapak dan ibu sebagai orang tua Aida sendiri. Dan Aida ingin, apa yang Aida makan.. bapak dan ibu juga turut menikmati nya, jadi mohon diterima ya bu," Aida menatap netra teduh milik bu Dibyo, dengan tatapan penuh ketulusan.
Bu Dibyo mengangguk dan tersenyum lebar, jelas terlihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata nya. "Terimakasih banyak ya nak, ibu sangat menyayangi mu," ucap bu Dibyo seraya meraih tangan Aida, dan mengusap-usap punggung tangan Aida dengan lembut.
"Nanti malam kami ke sini lagi, kamu mau ibu buatkan apa?" Selalu itu yang di tawar kan bu Dibyo, jika beliau hendak berkunjung di malam hari bersama pak Dibyo dan juga putri bungsu nya.
Kalaupun Aida menolak, bu Dibyo selalu berinisiatif untuk membuatkan makanan atau camilan untuk Aida.. karena bu Dibyo paham betul, orang hamil biasa nya suka lapar dan makan nya banyak. Dan hampir tiap malam, pak Dibyo dan keluarga nya itu menyempatkan waktu untuk mengunjungi ruko Aida.
__ADS_1
"Ndak perlu bu, ibu sama bapak dan juga Bunga main ke sini saja.. Aida sudah sangat senang, hidup Aida terasa lengkap rasa nya bu. Ada bapak, ada ibu, punya kakak, punya adik Bunga dan punya keponakan Tio." Balas Aida dengan senyum nya yang merekah, "sungguh luar biasa nikmat yang Allah berikan pada Aida," ucap nya penuh rasa syukur.
"Aamiin,, jangan lelah untuk terus berdo'a memohon agar di berikan kebahagiaan hidup di dunia dan juga di akhirat kelak, dan perbanyak lah rasa syukur.. karen Insyaallah nikmat Allah akan bertambah-tambah berkali-kali lipat jika kita pandai bersyukur," pungkas bu Dibyo, dan kemudian segera menggandeng Bunga untuk di ajak pulang.
Tafsir Ringkas Kemenag RI :
Dan ingatlah pula ketika Tuhanmu memaklumkan suatu maklumat yang dikukuhkan, โSesungguhnya Aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku kepadamu, niscaya Aku akan menambah kepadamu nikmat lebih banyak lagi, tetapi sebaliknya, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat.โ (Qs.Ibrahim ; 7)
@@@@@
Malam hari nya, tepat bakda Isya'.. bu Dibyo, pak Dibyo dan Bunga, mengunjungi ruko Aida yang terlihat sudah tertutup rapat. Mbak Ning setiap menjelang maghrib memang selalu memastikan, bahwa pintu depan sudah di tutup dan di kunci dari dalam.
Karena mbak Ning tidak mau, ibadah sholat maghrib nya dan juga tadarus mereka berdua terganggu, oleh kehadiran orang yang mungkin iseng masuk diam-diam ke ruko tatkala mereka tengah khusyuk beribadah.
Dengan perlahan, bu Dibyo mengetuk pintu yang terbuat dari kayu tersebut.
Tok,, tok,, tok,,
Dan karena para penghuni nya sudah hafal dengan jam kunjungan keluarga pak Dibyo, hanya dengan tiga kali ketukan perlahan.. Aida sudah membuka kan pintu untuk keluarga orang baik yang telah banyak membantu nya tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam semua nya, begitu pintu dibuka dengan lebar oleh Aida.. dan suara Bunga lah yang paling mendominasi.
"Wa'alaikumsalam,," balas Aida seraya tersenyum, dan kemudian menyalami pak Dibyo dan bu Dibyo dan mencium punggung tangan kedua nya dengan takdzim seperti biasa nya.
"Tumben, nak Aida yang membuka kan pintu? Mbak Ning nya kemana?" Tanya bu Dibyo.
"Mbak Ning lagi menemani Tio bobok, tadi sore habis mandi tiba-tiba badan nya panas." Balas Aida, seraya berjalan masuk kedalam menuntun pak Dibyo dan bu Dibyo, mengekor langkah Bunga yang sudah terlebih dahulu masuk bahkan sebelum Aida sempat menjawab salam.
Tanpa menunggu dipersilahkan, pak Dibyo dan bu Dibyo langsung duduk di ruangan sempit yang memanjang diantara kamar Aida dan kamar mbak Ning. Keluarga pak Dibyo memang sudah sangat terbiasa berada di ruko tersebut, tak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Benar-benar sudah menjadi satu keluarga.
"Sudah di bawa berobat?" Tanya pak Dibyo, menatap Aida.
"Belum pak, tapi tadi sudah langsung di kasih penurun panas kok.. dan Alhamdulillah, bakda maghrib tadi panas nya mulai turun," balas Aida.
Pak Dibyo mengangguk-angguk.
"Bunga,, tolong ambilkan piring nak, untuk naruh risoles yang tadi kita buat sama-sama. Bunga nanti minta kak Aida untuk menilai risoles nya ya?" Pinta bu Dibyo pada Bunga, seraya tersenyum. Karena mbak Ning yang biasa nya sigap melayani mereka, kini tengah menemani putra nya untuk tidur.
"Eh, biar Aida saja bu.. lampu dapur barusan mati, jadi agak gelap. Aida mau sekalian buatkan minuman untuk kita semua," Aida kemudian beranjak menuju dapur, untuk membuatkan kopi kesukaan pak Dibyo dan wedang jahe kesenangan bu Dibyo. Sekaligus untuk mengambil piring, karena bu Dibyo membawakan risoles.
__ADS_1
Baru beberapa saat Aida berada di dapur, "bugh..." seperti terdengar suara benda jatuh, yang diikuti rintihan Aida yang tertahan, "aduh,,,,"
bersambung,,,