
"Bu Dibyo,,," sapa gus Umar, seraya mengedarkan pandangan nya mencari sesosok yang senantiasa mampu mengalihkan seluruh perhatian nya.
"Ada apa gus?" Tanya bu Dibyo, tatkala mendapati gus Umar seperti sedang mencari-cari seseorang.
"Nyuwun sewu bu, apa dik Aida di bawa ke rumah sakit ini? Bagaimana keadaan nya? Apa dik Aida sudah mau melahirkan?" Cecar gus Umar yang menuangkan segala kegelisahan nya sedari tadi, begitu mendapat kabar bahwa Aida di bawa ke rumah sakit.
"Iya gus, bidan yang biasa memeriksa kehamilan nak Aida sedang tidak berada di tempat. Jadi terpaksa, ibu bawa nak Aida kemari," balas bu Dibyo, "dan Alhamdulillah ketemu jenengan di sini gus, jadi ibu ndak sendiri. Gus Umar mau ya, menemani ibu? Sampai bapak datang nanti siang?" Pinta bu Dibyo.
Tanpa ragu, gus Umar mengangguk, " nggih bu," balas gus Umar.
"Monggo gus, kita ke ruangan nak Aida. Tadi waktu pertama datang sudah bukaan empat, terus ibu tinggal sebentar untuk membeli minuman ini," terang bu Dibyo, seraya menunjuk kantong kresek yang di bawa nya.
Gus Umar mengangguk mengerti, "Ibu dari tadi sendirian?" Tanya gus Umar, yang masih terus berjalan mengiringi langkah bu Dibyo.
"Tadi kemari diantar sama mas Bari, tetangga sebelah ruko nak Aida.. pakai mobil mas Bari, tapi mas Bari nya langsung pulang," jelas bu Dibyo.
"Lha gus Umar tahu kalau nak Aida di bawa ke rumah sakit dari mana?" Lanjut bu Dibyo bertanya.
"Oh, itu tadi Laila bu.. niat nya mau telponan sama dik Aida, tapi yang ngangkat telpon ternyata mbak Ning." Balas gus Umar apa ada nya.
Bu Dibyo mengangguk-angguk.
Kini mereka telah tiba di depan ruang perawatan Aida, "monggo silahkan masuk gus," ajak bu Dibyo hendak membuka pintu, namun gus Umar mematung tepat di samping pintu. Hati nya tiba-tiba ragu, antara masuk atau tidak.
Bu Dibyo yang mengetahui kekhawatiran gus Umar pun tersenyum, "sebentar saya lihat ke dalam, aman apa tidak?" Gumam bu Dibyo seraya membuka pintu ruang perawatan tersebut, dan kemudian melongok kan kepala nya ke dalam untuk melihat keadaan Aida.
Bu Dibyo tersenyum, "masuk saja gus, ning Aida nya lagi jalan-jalan di dalam. Biar si jabang bayi nya cepat lahir," terang bu Dibyo seraya tersenyum, sambil membuka kan pintu lebar-lebar.
Gus Umar mengangguk, "iya bu, terimakasih," gus Umar pun melangkah masuk mengiringi langkah bu Dibyo, seraya mengucap salam. "Assalamu'alaikum,,,"
"Wa'alaikumsalam,,," balas Aida yang langsung menghentikan aktifitas nya, kala mendengar suara yang tak asing lagi bagi nya itu.
"Eh, kak Umar. Sama Laila kak?" Aida mengarahkan pandangan nya ke luar ruangan, berharap ada Laila di sana agar suasana tidak menjadi canggung.
__ADS_1
"Tidak dik, Laila malah lagi ke ruko.. pengin nungguin kabar dari ibu tentang kamu dik, karena mbak Ning enggak tahu nomor nya ibu," balas gus Umar seraya melirik bu Dibyo.
Aida mengernyitkan kening.
"Tadi di depan, tidak sengaja ibu ketemu sama gus Umar,, jadi ibu ajak kemari untuk menemani. Nak Aida ndak keberatan kan?" Tanya bu Dibyo memastikan.
"Nggih bu," balas Aida singkat, meski yang sebenarnya Aida merasa kurang nyaman atas keberadaan gus Umar di saat kondisi seperti ini.
"Dan nak Laila ke ruko, karena tadi waktu nak Laila telpon nak Aida yang ngangkat mbak Ning dan mbak Ning mengatakan kalau nak Aida di bawa ke rumah sakit," lanjut bu Dibyo menjelaskan.
Aida mengangguk-angguk, "silahkan duduk kak," dengan sedikit terpaksa, Aida mempersilahkan gus Umar untuk duduk di salah satu kursi plastik yang tersedia di ruangan itu.
"Iya dik, makasih," balas gus Umar seraya tersenyum, dan kemudian segera duduk dengan nyaman di sana.
Sedangkan Aida memilih menuju ranjang pasien, hendak beristirahat sejenak.
Baru beberapa langkah, kembali perut Aida terasa sakit. Dan calon ibu muda itu serta merta menghentikan langkah nya dan memegangi perut nya yang terasa nyeri, panas, pegal.. semua bercampur menjadi satu.
Gus Umar hanya mematung di tempat nya, tak tahu apa yang harus di lakukan. Ingin rasa nya, gus Umar berlari mendekat dan merengkuh tubuh itu masuk kedalam dekapan nya.. memberikan sedikit sentuhan di perut Aida agar calon ibu muda itu tak lagi merasakan sakit, namun hal itu tak mungkin di lakukan nya bukan?
Gus Umar hanya bisa berdo'a di dalam hati, semoga wanita di hadapan nya ini kuat dan di berikan kemudahan serta kelancaran dalam persalinan nanti. Ibu dan anak, dua-dua nya sehat tak kurang suatu apa.
Dengan telaten, bu Dibyo menyeka keringat dingin yang membasahi kening Aida. Dan kemudian mengambil kan air mineral, yang tadi di beli nya di luar. "Minum dulu nak," titah bu Dibyo.
Aida mengangguk, dan mengambil air kemasan dari tangan bu Dibyo,, kemudian meminum nya hingga habis separo. "Makasih bu," ucap Aida, seraya menyodorkan kembali botol air minum yang masih tersisa kepada bu Dibyo.
"Gimana mbak, kita lihat lagi ya.. sudah nambah apa belum bukaan nya?" Seorang dokter wanita, yang diikuti seorang perawat masuk kedalam ruang perawatan Aida seraya tersenyum kepada gus Umar.
"Oh, sudah ada mas nya tho? Wah, pasti tambah semangat nih calon ibu,,, sama-sama sudah tidak sabar pasti ingin melihat buah hati nya lahir ke dunia," lanjut bu dokter, yang menyangka gus Umar adalah suami Aida.
Gus Umar tertegun mendengar perkataan dokter tersebut, dan sebelum bu dokter meminta nya untuk bertindak lebih jauh.. gus Umar buru-buru mengklarifikasi, "saya kakak nya dok," jelas gus Umar, seraya berdiri.
"Oh, maaf,, saya pikir suami nya mbak Aida. Habis nya serasi, yang laki-laki nya tampan dan mbak Aida nya juga cantik. Pasti keturunan nya juga akan tampan dan cantik, seperti bibit nya.. bibit unggul." Balas dokter tersebut seraya terkekeh pelan, dan masih bertahan dengan asumsi nya jika saja mereka berdua adalah pasangan suami istri.
__ADS_1
Gus Umar tersenyum kecut, sedangkan Aida merasa tak enak hati terhadap gus Umar.
"Maaf dik, kakak permisi keluar sebentar ya," pamit gus Umar, dan kemudian segera keluar dari ruang perawatan Aida.
Sesampainya di luar kamar gus Umar buru-buru mengetikkan sesuatu dan dikirim ke nomor Laila. Setelah itu gus Umar mendial nomor sang abah, dan tepat pada deringan pertama.. panggilan nya di angkat.
"Assalamu'alaikum gus, ada apa?" Tanya kyai Abdullah, dari seberang sana.
"Abah, abah dan umi bisa keluar sebentar.. ke lantai satu kelas satu," pinta gus Umar, gus Umar kemudian menceritakan tentang Aida yang mau melahirkan dan minta tolong sama abah dan umi nya untuk menemani bu Dibyo ikut menunggui Aida.
"Baik gus, abah dan umi akan segera ke sana." Dan kyai Abdullah langsung menutup panggilan nya.
Setelah menyimpan kembali ponsel nya di dalam saku celana, gus Umar termenung seorang diri di depan ruang perawatan Aida,, terbayang kembali wajah kesakitan milik Aida, yang membuat kulit putih itu menjadi semakin pucat. "Pasti sakit sekali ya dik," gumam gus Umar dalam hati.
"Gus, nak Aida dikamar mana?" Tanya sang umi yang membuyarkan lamunan nya, wajah sang umi nampak sangat khawatir. "Apa benar nak Aida sudah akan melahirkan?" Nyai Robi'ah memastikan.
Gus Umar mengangguk, "Iya mi, kamar nya yang ini," balas gus Umar seraya menunjuk pintu di sebelah nya, "sedang ada dokter yang memeriksa nya," lanjut gus Umar, ketika nyai Robi'ah hendak membuka pintu tersebut.
Nyai Robi'ah mengangguk mengerti,
"Abah, umi, Umar pamit kembali ke ruangan ning Zahra nggih.. Umar khawatir, dik Aida akan merasa tidak nyaman jika ada Umar di sini." Ucap gus Umar.
"Iya gus, kamu benar. Kembali lah, do'akan saja semoga semua nya berjalan dengan lancar," tutur nyai Robi'ah seraya mengusap punggung kokoh sang putra, ibu dua anak itu seolah memahami perasaan putra nya.
"Umi terus berdo'a, suatu saat nanti.. semoga sampean akan bisa merasakan, menunggui istri yang akan melahirkan," lanjut nyai Robi'ah, dengan netra yang telah berembun.
"Assalamu'alaikum,, abah, umi," gus Umar tak ingin larut dalam keharuan yang sejenak tercipta, dan dengan tergesa gus Umar meninggalkan abah dan umi nya di depan ruang perawatan Aida.
"Kamu memang bukan istri ku dik, tapi melihat mu kesakitan.. entah mengapa, ingin rasa nya aku menggantikan nya dik. Menggantikan posisi mu, agar kamu tak perlu merasakan sakit seperti tadi."
"Aku sungguh tak sanggup melihat nya dik, apalagi.. saat ini aku tak berhak untuk menyentuh mu, dan itu malah membuat hati ku semakin tersiksa karena tak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan rasa sakit mu," gus Umar bermonolog dalam diam, seraya menelusuri selasar rumah sakit untuk kembali ke ruang perawatan sang istri.
bersambung,,,
__ADS_1