Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 42 : Herbal Penambah Kesuburan


__ADS_3

Gus Umar dan Aida menjalani hari-hari dengan pasangan masing-masing dengan baik-baik saja, meski kedua nya tak tahu apakah sudah tumbuh cinta di hati untuk pasangan nya tersebut.


Mereka berdua ikhlas menerima takdir dari Yang Maha Kuasa, dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.


Aida, meski sampai saat ini suami nya belum mau melaksanakan ibadah sholat namun Aida tak pernah berputus asa dan setiap ada kesempatan berbicara dari hati ke hati.. Aida pasti akan mengingatkan sang suami tentang kewajiban tersebut.


"Mas, nanti siang jam setengah dua ikut ngaji yah,,, kan mas Ryan lagi santai?" Pinta Aida, saat mereka tengah menikmati makan siang bersama. Ya, Aida akhir nya mengundang ustadzah ke rumah sesuai saran sang suami.


"Kalau hari ini kamu ngaji nya libur dulu gimana dik? Temani mas tidur siang, sudah lama enggak pernah tidur siang," bukan nya membalas pertanyaan sang istri, Ryan justru meminta istri nya untuk libur mengaji.


"Biar mas telpon pak RW, agar bilang sama istri nya kalau siang ini kamu libur," tanpa meminta persetujuan sang istri, Ryan segera mendial nomor pak RW,, suami dari ustadzah Zulaikhah, untuk membatalkan agenda ngaji hari ini.


Aida hanya bisa mengucap istighfar dalam hati, menarik nafas dalam-dalam dan menghembus nya perlahan.


Ryan memang suami yang bertanggung jawab, dan sangat menyayangi Aida, namun di saat-saat tertentu laki-laki matang itu sering memaksakan kehendak nya pada sang istri,, seperti kali ini, yang karena hanya ingin tidur siang sampai harus membatalkan jadwal Aida untuk setoran hafalan nya sama ustadzah Zulaikhah.


Mereka berdua kemudian melanjut kan makan dalam diam, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berdenting beradu dengan piring.


Aida segera membereskan piring kotor pun dalam diam, hanya tangan nya yang bekerja sedangkan mulut nya terkunci rapat.


Ryan yang menyadari bahwa sang istri tak suka dengan keputusan nya, hanya tersenyum dan tak menganggap marah nya Aida sebagai hal yang serius... karena Ryan sudah memahami karakter Aida yang penurut dan selalu mengalah.


Tanpa merasa bersalah, dan seolah tak terjadi apa-apa, Ryan melingkarkan tangan nya di perut sang istri yang sedang membereskan sisa makan siang mereka berdua. "Yuk, temani mas tidur," pinta Ryan dengan sangat lembut.


"Baru selesai makan mas, enggak baik kalau langsung tidur," tolak Aida dengan halus.


"Iya, mas tahu. Kita bisa ngobrol dulu di kamar," Ryan segera menuntun sang istri masuk kedalam kamar utama, dan Aida hanya bisa menurut.

__ADS_1


Ryan mendudukkan sang istri di tepi pembaringan, "kita ngobrol nya disini ya, kalau dah ngantuk bisa langsung tidur," ucap Ryan sambil ikut duduk di samping sang istri.


"Kamu mau kita ngbrolin apa hemm..?" Tanya Ryan dengan sedikit merayu, karena suami Aida itu tahu bahwa saat ini sang istri masih merajuk.


Aida masih diam, dan tak menjawab pertanyaan suami nya.


Untuk beberapa saat, hening menyapa ruang kamar tersebut.


Dan Aida tiba-tiba teringat sesuatu, ketika mereka masih berada di rumah sakit.. "mas, bolehkah Aida tanya sesuatu?" Suara lembut Aida mengurai keheningan.


Ryan mengangguk, "iya, apa itu dik?" Ryan menatap istri nya dengan intens.


"Tapi sebelum nya, Aida minta maaf.. Aida tidak punya maksud apa-apa, Aida hanya ingin tahu kebenaran nya seperti apa?" Ucap Aida dengan cepat.


Ryan mengernyitkan kening nya, laki-laki matang itu dapat menangkap bahwa apa yang dibicarakan sang istri pastilah hal yang serius.


Ryan mendesah kasar, dan sedetik kemudian mengangguk. "Apa kamu menyesal menikah dengan mas?" Tanya Ryan dengan netra nya yang telah merah, entah karena menahan tangis atau karena marah..


Dengan cepat Aida menggeleng, "Aida tidak pernah menyesal dengan keputusan yang telah Aida ambil, maaf.. jika pertanyaan Aida barusan membuat mas Ryan merasa tidak nyaman." Balas Aida merasa bersalah.


"Jujur, Aida hanya ingin tahu, emm... jika boleh tahu diagnosa nya, kenapa bisa dokter menyatakan seperti itu? Apakah mas Ryan juga sudah mencoba untuk mengecek pada dokter atau rumah sakit lain?" Aida menatap sang suami dengan berharap-harap cemas.


Sebagai seorang istri, pastilah Aida juga ingin bisa memiliki keturunan... apalagi pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke enam. Dan karena itulah Aida ingin tahu secara pasti, kenapa sang suami dinyatakan infertilitas atau tidak subur. Karena siapa tahu, masih ada jalan bagi mereka berdua untuk bisa memiliki keturunan.


Ryan bergeming, suami Aida itu nampak tidak suka sang istri mengungkit masalah itu. Tetapi sebagai orang dewasa, Ryan juga menyadari bahwa sang istri juga berhak untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri nya.. karena mereka bukan lagi orang lain, tapi sudah menjadi pasangan suami istri.


Aida masih menunggu dengan cemas, raut wajah nya yang ayu terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


Ryan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembus nya perlahan. "Mas periksa di dua dokter spesialis yang berbeda, atas rekomendasi mantan istri mas. Dan dua-dua nya menunjukkan hasil yang sama," lirih Ryan dengan raut wajah yang nampak kecewa.


"Maaf mas, apakah mas Ryan sudah pernah mencoba ke rumah sakit lain yang lebih canggih peralatan nya? Siapa tahu masih bisa di obati?" Aida masih berharap.


Ryan menggeleng lemah, "dua dokter yang kami kunjungi mengatakan,,," Ryan sejenak menghentikan ucapan nya, memejamkan mata beberapa saat dan kemudian melanjutkan ucapan nya. "Mereka angkat tangan." Ryan kemudian menunduk.


Aida memberanikan diri mengusap punggung sang suami, Ryan menoleh kearah nya. "Kenapa kamu tanyakan hal itu dik?" Tanya Ryan.


"Aida hanya ingin tahu saja mas, siapa tahu.. masih ada jalan bagi kita untuk bisa memiliki keturunan," balas Aida dengan pelan, dan menatap netra sang suami dengan tatapan hangat. Aida tak mau membuat suami nya merasa tidak nyaman, dengan apa yang dia katakan.


Ryan menggeleng,, "hasil nya sudah final dik, dokter tak bisa membatu," balas Ryan dengan tak bersemangat.


Aida menepuk lembut punggung tangan sang suami, "bagaimana kalau kita mencoba pengobatan alternatif?"


Ryan menggeleng cepat, dan tersenyum sinis. "Mas tidak percaya dengan hal-hal seperti itu dik," ketus Ryan.


"Mas, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah berkehendak. Kita harus tetap berusaha dan tentu dengan disertai do'a," ucap Aida mencoba memberikan semangat.


Lagi-lagi Ryan mendesah kasar,, "kalau kamu mau berdo'a dan minta sama Tuhan mu, silahkan saja.. mas sudah tidak percaya," balas Ryan dengan wajah yang nampak kesal.


Tapi Aida justru tersenyum, "benarkah? Benarkah Aida boleh berusaha dan berdo'a, agar kita bisa diberikan keturunan?" Tanya Aida dengan senyum nya yang merekah, "kalau begitu, mas Ryan jangan nolak kalau setiap hari Aida akan memberi mas ramuan herbal," lanjut Aida penuh rencana.


"Ya, terserah kamu dik. Tapi kamu jangan banyak berharap, karena mas yakin hasil nya akan nihil," balas Ryan dengan yakin.


Aida menggeleng, "jangan mengatakan sesuatu dengan penuh keyakinan dan mendahului kehendak Nya mas, karena Allah lah Sang Maha Penentu atas segalanya," pungkas Aida mengakhiri obrolan dan istri Ryan itu mulai menyusun rencana, untuk memberi sang suami minuman herbal penambah kesuburan.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2