
Gus Umar yang di tanya, namun jantung Aida yang berdebar kencang. " Kenapa aku yang enggak rela... enggak, perasaan ini enggak benar. Kak Umar bukan siapa-siapa nya aku, di antara kami enggak ada jalinan apa-apa," gumam Aida dalam hati.
"Eyang,, benar apa yang dikatakan cucu-cucu eyang, sebaik nya kita tidak membahas hal ini dulu," tutur nyai Rahma yang memberanikan diri, menyanggah ayah mertua nya.
"Betul yi, lain kali saja kita bahas soal ini. Biarkan cucu sampean, ning Zahwa menyelesaikan kuliahnya dahulu," imbuh kyai sepuh, yang akhirnya dapat membaca keberatan cucu nya.
"Aku bertanya pada gus Umar, kenapa kalian yang keberatan? Aku ingin dengar sendiri, bagaimana keputusan gus Umar?!" Protes kyai Hasyim.
"Maaf eyang, bukan nya Umar tak menghargai keinginan eyang.. tapi maaf, ning zahwa adalah adik kandung ning Zahra." Sejenak gus Umar menghentikan ucapan nya, untuk menetralisir perasaan nya yang merasa tak enak hati pada eyang dari almarhumah ning Zahra jika menolak secara terang-terangan dan menjelaskan alasan nya.
Gus Umar berpikir keras bagaimana mencari cara, menolak tapi dengan tidak menyakiti perasaan kyai Hasyim yang merupakan eyang almarhumah ning Zahra.. orang yang paling di tua kan dan dihormati di keluarga besar ning Zahra tersebut.
"Jika Umar menikahi ning Zahwa, Umar khawatir tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang ning Zahra eyang.. dan bukan kah, itu tak adil untuk ning Zahwa?" Tolak gus Umar dengan halus, seraya melihat ke arah ning Zahwa untuk mengharap kerja sama nya.
Ning Zahwa mengangguk, "benar eyang, Zahwa ndak mau kalau jadi bayang-bayang nya mbak Zahra,,," rajuk ning Zahwa, yang juga keberatan atas perjodohan diri nya dan gus Umar.
Semua orang seperti nya bersatu, menentang usulan kyai Hasyim. Hanya kyai Hasanuddin yang sedari tadi diam, tak berani menyanggah sang ayah yang memang terkenal otoriter. Ayah nya lah yang memutuskan secara sepihak, jodoh untuk semua cucu nya.. tak terkecuali ning Najwa dan ning Zahra, hingga yai Hasanuddin berpesan pada putri bungsu nya agar tidak menjalin hubungan serius dengan laki-laki di luar sana daripada nanti nya terluka.
Sementara di dalam kamar Laila, Aida tersenyum lega.. "akhirnya, jenengan berani juga untuk bersikap tegas. Dan aku salut dengan alasan yang jenengan buat kak, alasan yang tidak menyakiti siapa pun," lirih Aida, yang kini hati nya telah yakin.. bahwa sikap gus Umar tadi sore benar-benar tulus karena pemuda kharismatik itu masih menyimpan perasaan terhadap nya.
Ditambah lagi dengan kelakuan sahabat nya, yang seolah memberi lampu hijau untuk kedekatan mereka berdua... membuat Aida semakin mantap untuk mengambil sebuah keputusan, keputusan penting untuk melanjutkan hidup nya yang sempat berliku, mendaki dan akhirnya terjun bebas ke dasar jurang yang teramat dalam.
"Semoga ini adalah penderitaan ku yang terakhir ya Robb,, ijinkan aku untuk bahagia, bahagia menjalani hidup sesuai dengan pilihan hati nurani ku. Bimbing aku jika ternyata keputusan ku nanti salah, dan arahkan lah langkah ku pada kebahagiaan yang hakiki, aamiin,,," do'a Aida dalam hati.
Sementara di ruang keluarga, pembicaraan alot masih berlangsung. Nyai Robi'ah juga seperti nya baru saja menyampaikan pendapat nya, begitu pula dengan suami ning Najwa yang pendiam.
"Baiklah jika itu keputusan kalian, tapi eyang masih tetap berharap... semoga setelah ning Zahwa lulus kuliah nanti, kalian masih bisa berjodoh," pungkas kyai Hasyim yang terpaksa mengalah.
__ADS_1
"Yi, meskipun ning Zahra telah berpulang.. kita masih tetap lah besan, kita masih tetap sahabat baik dan kita masih tetap keluarga. Kita tak perlu risau, akan berjodoh dengan siapa mereka nanti nya?" Tutur kyai Zarkasyi seraya memeluk pundak sahabat lama nya itu, yang di setujui oleh semua keluarga dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Sesaat kemudian, rombongan keluarga besar almarhumah ning Zahra yang dipimpin oleh kyai Hasyim.. mohon undur diri, karena malam telah semakin larut.
Kyai sepuh dan sang istri, beserta keluarga kyai Abdullah.. mengantarkan rombongan keluarga besan nya itu, sampai halaman depan.
"La, cepat kamu bujuk kak Umar untuk menikahi mantan kekasih nya dulu. Pokok nya, aku dukung rencana kamu," bisik ning Zahwa, sambil berjalan keluar dari kediaman kyai Abdullah.
"Iya dik, mbak juga dukung seratus persen," timpal ning Najwa, yang sengaja memisahkan diri dari rombongan keluarga dengan berjalan paling akhir bersama Laila dan ning Zahwa.
"Iya, aku juga lagi usahain ini." Balas Laila seraya tersenyum bahagia, karena mendapatkan dukungan dari kakak dan adik kandung nya ning Zahra.
"Ya udah ya La, kabar-kabar sama kami. Aku tunggu berita baik nya," pamit ning Zahwa seraya cium pipi kanan dan pipi kiri Laila dan memeluk nya sekilas.
Ning Najwa pun melakukan hal yang sama, "mbak tunggu kabar baik nya, kalau ada apa-apa cepet hubungi mbak.. barangkali saja, mbak bisa bantu," pesan ning Najwa, dan kemudian segera berlalu menuju mobil sang suami yang telah menanti.
Dan keluarga kyai Abdullah, masih berada di halaman hingga dua kendaraan yang membawa rombongan keluarga almarhumah meninggalkan area pesantren.
"Gus Ab, bisa bapak bicara sebentar," pinta kyai sepuh, yang ternyata masih menunggu di ruang tamu bersama istri nya ketika kyai Abdullah dan keluarga baru saja masuk.
"Nggih pak, ada apa?" Tanya kyai Abdullah, yang langsung duduk dan diikuti oleh sang istri.
Sementara gus Umar dan sang adik, terus saja masuk ke dalam menuju ruang keluarga.
"Tentang putra mu, gus Umar. Ning Zahwa pasti nya berbeda sama ning Zahra, tapi kenapa gus Umar beralasan seperti itu?" Kening kyai sepuh nampak mengernyit dalam, hingga menambah jelas gurat-gurat wajah tua nya.
Kyai Abdullah tersenyum, "maaf bapak, sebenarnya gus Umar sudah memiliki perasaan yang sangat lama kepada putri nya almarhum Dahlan," tutur kyai Abdullah, seraya menatap netra abu-abu ayah nya.
__ADS_1
"Dahlan? Sahabat baik kamu itu? Sejak kapan?" Cecar kyai Zarkasyi.
Kyai Abdullah menatap istri nya, "kurang tahu sejak kapan nya bapak, tapi seperti nya.. semenjak awal-awal gus Umar belajar di Madinah," balas nyai Robi'ah mengingat-ingat gerak gerik Aida, juga putra nya ketika pulang ke tanah air.
"Mereka pandai menyembunyikan perasaan bapak, hingga kami pun baru mengetahui nya ketika kami sedang umroh sebelum gus Umar menikah," lanjut nyai Robi'ah menjelaskan.
Kyai sepuh mengangguk-angguk.
"Ya, kalaupun saat itu gus Umar mengatakan yang sejujurnya.. aku pun tidak dapat membantu, karena sudah kalah dengan janji yang pernah kami buat dulu," tutur kyai sepuh, sambil menerawang jauh.
"Tapi kini, aku tidak mau lagi salah dalam melangkah. Sejak ning Zahra di vonis kanker dan rahim nya harus di angkat.. sebenarnya, aku sudah ingin menyuruh gus Umar untuk menikah lagi. Tapi kesan nya, itu sangat jahat jika di lakukan bukan?" Kyai sepuh menghela nafas berat.
"Gus Umar laki-laki yang tabah dan hebat, dia sanggup melalui semua ini dengan begitu sabar. Bapak belum pernah mendengar, gus Umar berkata kasar pada istri nya dan bapak juga tidak pernah melihat almarhumah ning Zahra menangis karena suami nya." Kyai sepuh tersenyum, mengingat kebaikan cucu nya.
"Sekarang, bapak dukung apapun keputusan gus Umar. Karena gus Umar butuh pendamping hidup yang bisa menemani nya dalam mengemban tanggung jawab nya yang besar di yayasan pendidikan dan di pesantren." Pungkas kyai Zarkasyi, seraya mengangguk-angguk.
"Maaf bapak, berarti.. bapak tidak masalah kan, jika status putri nya almarhum kang Dahlan itu janda?" Tanya nyai Robi'ah dengan hati-hati, karena Kyai sepuh tak pernah tahu menahu tentang kisah Aida.
"Maksudmu? Dia janda di ceraikan, begitu kah?" Tanya kyai sepuh, dengan mengernyit dalam.
bersambung,,,
š¹š¹š¹š¹š¹
Hai yi,, sini aku bisikin.
Status janda itu bukan aib, karena sejati nya enggak ada yang mau menyandang status itu.
__ADS_1
Sampai disini paham kan yi...?! šš
Moga kebun bunga mawar yang aku pesan untuk Aida, segera datang di awal bulan kemerdekaan... ššš¤²š¤²