Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 69 : Aida,, Kamu Dimana?


__ADS_3

"Oh ya dik, tadi nanya keadaan ku ya? Keadaan ku seperti yang kamu lihat dik," balas ning Zahra, "dan seperti nya saat ini, kita sedang sama-sama di uji. Tuh, kamu juga lagi menjadi pasien di sini kan?" Lanjut ning Zahra seraya menunjuk jarum infus di tangan kiri Aida, mencoba bercanda dan menjalin kedekatan dengan target calon madu nya itu.


Aida terkekeh pelan, "iya, mbak Zahra benar. Moga kita sama-sama kuat, dan bisa lulus ujian ini dengan nilai sempurna ya mbak," harap Aida, yang diamini oleh ning Zahra.


Cukup lama ning Zahra dan Aida terlibat obrolan, dan Ning Zahra lah yang terdengar mendominasi obrolan tersebut.


"Dengan kecerewetan nya itu, dia benar-benar seperti bukan ning Zahra," gumam gus Umar, saat mencuri dengar obrolan mereka berdua.


Ning Zahra menceritakan banyak hal tentang riwayat penyakit yang di derita nya, yang sudah berbulan-bulan lama nya itu.. hingga operasi pengangkatan rahim yang harus dia lakukan, semata karena ning Zahra ingin mencari simpati dari Aida.


Dan benar saja, Aida yang belum tahu tentang sakit nya ning Zahra dibuat terkejut dan sekaligus terharu,,, Aida sampai tak bisa berkata-kata, dan hanya netra nya saja yang terlihat berkabut. Aida buru-buru menyusut bulir bening di sudut mata nya, sebelum bulir bening tersebut terjun bebas dan jatuh membasahi pipi nya.


Ning Zahra tersenyum, tatkala mendapati wajah Aida yang terlihat mendung dan bersimpati setelah mendengar cerita nya.


Dan kini ning Zahra berusaha untuk menguras informasi tentang rumah tangga Aida, dari mulut wanita muda itu sendiri. Hal ini, untuk memuluskan rencana ning Zahra mendekati Aida.


Namun Aida tak banyak bicara, calon ibu muda itu hanya mengatakan yang seperlunya saja. Bahwa dia telah menikah, tapi harus pisah sama mantan suami nya karena perbedaan cara pandang mengenai kewajiban sebagai seorang yang memiliki keyakinan.


Aida memang enggan membuka kisah perjalanan rumah tangga nya bersama Ryan, dan sudah menganggap nya sebagai bagian dari masa lalu yang harus dilupakan.. dan tak perlu lagi di cerita-ceritakan.


Laila sedari tadi hanya diam, dan menyimak obrolan kedua nya dari tempat duduk nya di sofa,, sambil sesekali melirik sang kakak yang duduk di samping nya.


Sedangkan gus Umar, pemuda kharismatik itu masih pura-pura sibuk berselancar dengan ponsel nya. Padahal yang sebenar nya yang di lakukan nya adalah, gus Umar tengah sibuk menenangkan hati dan debaran di jantung nya karena kehadiran Aida di ruang yang sama dengan diri nya.

__ADS_1


"Berada di ruangan yang satu oksigen dengan gadis kecil itu benar-benar membuatku kesulitan bernafas, karena dia telah merampas semua oksigen yang ada di sekitar ku.. dan aku tak mampu untuk merebut nya," lirih gus Umar, bergumam.


Hingga ketika ning Zahra memanggil sang suami, bermaksud melibatkan gus Umar dalam percakapan nya dengan Aida.. gus Umar tak mendengar panggilan istri nya itu.


"Kak, di panggil mbak Zahra tuh," Laila menepuk lengan kakak nya.


"Eh, apa dik?" Tanya gus Umar yang nampak terkejut, seraya menoleh kearah sang adik.


"Kakak di panggil mbak Zahra," ulang Laila, sambil menunjuk kakak ipar nya yang tengah menatap gus Umar seraya tersenyum.


"Oh, iya ning,,, ada apa?" Gus Umar kemudian beranjak untuk mendekati ranjang sang istri dengan perasaan gugup, karena ada Aida di sana.


"Aida kan besok sudah diperbolehkan pulang, nanti kalau Zahra juga sudah boleh pulang,,, kita main ya, ke tempat Aida?" Pinta ning Zahra dengan memohon.


Saat ini saja, debaran jantung nya semakin berpacu cepat. Dan gus Umar harus berusaha sekuat hati, agar bisa tetap terlihat tenang.


Tapi tak dinyana, Aida justru mengangguk,, memberi ijin pada ning Zahra dan juga diri nya untuk berkunjung. "Oh, my God.. help me please," bisik gus Umar dengan perasaan galau.


"Alhamdulillah,, jadi boleh ya dik, nanti mbak akan sering main ke tempat mu." Ucap ning Zahra, dengan mata berbinar. Terlihat jelas kelegaan dan kebahagiaan di hati nya, "satu langkah berhasil aku lalui, langkah berikut nya adalah meyakinkan Aida agar mau menjadi maduku," gumam ning Zahra dengan seulas senyum yang terbit di bibir nya.


Gus Umar mendesah pelan, seraya menoleh kearah Laila dan menatap nya dengan memohon.


Laila yang paham arti tatapan kakak nya segera beranjak, "Da, kita balik dulu yuk. Udah siang, saat nya kamu harus istirahat," Laila mendekati Aida.

__ADS_1


Aida mengangguk setuju, "mbak Zahra, Aida pamit dulu ya.. moga mbak Zahra cepet sehat dan bisa segera kembali mengajar di pesantren," do'a tulus Aida, sambil menyalami ning Zahra.


"Aamiin,, makasih ya dik, udah mengunjungi mbak. Dik Aida juga jaga kesehatan dan banyak istirahat.. moga senantiasa sehat, dimudahkan dan dilancarkan semua nya," balas ning Zahra, mendo'akan Aida.


"Aamiin,,," Gus Umar ikut mengaminkan dengan sangat pelan.


Laila segera mendorong kursi roda, dan membawa Aida meninggalkan ruang rawat kakak ipar nya.. yang diikuti tatapan sendu gus Umar, sedangkan ning Zahra menatap kepergian Aida dengan tatapan penuh harapan.


@@@@@


Di kediaman Ryan, semenjak mengetahui kebenaran tentang diri nya yang ternyata sehat-sehat saja.. putra bu Retno itu menjadi kalang kabut, dan mengerahkan semua orang kepercayaan nya untuk mencari keberadaan Aida.


Ryan menyebarkan foto Aida kepada semua orang nya, untuk memudahkan pencarian. Namun hingga hari ini, Ryan belum mendapatkan kabar apapun.. dan itu benar-benar membuat nya marah besar.


"Kalian kerja begitu saja tidak becus!" Maki nya pada seseorang si seberang telpon sana.


"Cari lagi! Di tempat lain di seputar kampung halaman ku! Aku yakin, dia tak jauh-jauh dari sana!" Titah Ryan dengan suara nya yang meninggi, dan langsung menutup panggilan nya tanpa menghiraukan orang yang di berada di seberang telepon.


Bu Retno yang memutuskan untuk tetap tinggal sementara dan menemani Ryan, mengusap punggung kokoh sang putra dengan penuh kasih. "Hadapi dengan kepala dingin, dan jernih kan pikiran mu.. agar bisa fokus mencari nya," nasehat bu Retno pada putra bungsu nya.


Ryan menarik nafas dalam-dalam, dan kemudian menghembus nya dengan kasar. "Ryan pusing bu,,, semua tempat sudah di sisir, termasuk di ibukota! Karena ibu bilang, mbak Ning dulu nya berasal dari sana? Tapi hasil nya zonk bu,,, zonk!" Seru Ryan yang nampak gusar, air mata terlihat menggenang di pelupuk mata nya.


Laki-laki matang itu kemudian beranjak, menuju jendela ruang kerja nya. Menatap keluar jendela, dimana langit tengah memuntahkan air hujan dengan sangat deras.. sederas air mata nya yang kini terus mengalir, "Aida.... kamu dimana??" Lirih Ryan, terdengar sangat frustasi.

__ADS_1


__ADS_2