
Setibanya di ruko, kedatangan Aida yang diantarkan oleh keluarga kyai Abdullah di sambut oleh mbak Ning yang hari ini sengaja tidak berjualan.. karena semalam Aida langsung mengabarkan pada mbak Ning, rencana keluarga kyai Abdullah yang akan mengkhitbah diri nya.
Mendengar kabar tersebut, tentu saja mbak Ning sangat bahagia.. bahkan wanita muda dengan satu anak itu, bakda shubuh langsung mempersiapkan membuat aneka kue dan hidangan untuk menyambut tamu istimewa adik angkat nya itu.
Mbak Ning juga langsung memberitahu kan pada bu Dibyo kabar bahagia tersebut, sehingga pagi-pagi sekali bu Dibyo datang ke ruko untuk membantu mbak Ning memasak.
Bahkan pak Dibyo juga sengaja pulang lebih awal hari ini, karena hendak ikut menyambut kedatangan keluarga pak kyai,,, yang akan mengkhitbah Aida, untuk gus Umar.
Pak Dibyo dan bu Dibyo langsung mempersilahkan kyai Abdullah dan keluarga nya untuk masuk ke dalam ruko, yang kini sudah di gelar dengan matras empuk. Sedangkan meja dan kursi yang biasa digunakan bagi para pelanggan warung untuk makan, sudah di tata rapi di pinggir dinding.
Mbak Ning dan Aida yang berjalan mengiringi langkah mereka langsung masuk ke dalam, menuju dapur. "Mbak seneng banget neng, akhirnya nya neng Aida akan bisa bersama dengan orang yang neng sayangi," lirih mbak Ning, seraya berjalan menuju dapur.
"Iya mbak, Aida juga enggak nyangka. Akan bisa bersama kak Umar, bahkan dalam waktu yang secepat ini." Balas Aida, "Alhamdulillah,,," lanjut nya dengan penuh rasa syukur.
Mereka berdua kemudian sibuk menyiapkan minuman, untuk tamu spesial nya Aida.
"Nak Aida, kok malah sibuk di dapur? Sana temani tamu nya,," protes bu Dibyo, yang menyusul ke dapur. "Biar ibu sama mbak Ning yang menyiapkan semua," lanjut nya seraya menarik lembut lengan Aida, agar segera keluar.
"Tapi bu," Aida mencoba untuk menolak, karena bagi nya lebih baik berada di dapur agar tak berdekatan dan bertemu pandang dengan gus Umar,,, yang setiap kali netra mereka bertemu, pasti akan membuat jantung Aida selalu berdetak lebih cepat.
"Sudah neng, neng Aida di luar saja temani tamu nya," titah mbak Ning, yang juga setuju dengan bu Dibyo.
Akhirnya dengan malas Aida menuruti titah bu Dibyo dan mbak Ning untuk menemani keluarga kyai Abdullah, namun baru hendak melangkah keluar.. gus Umar datang ke dapur.
"Mau numpang ke kamar mandi dik," ucap gus Umar.
"Oh, nggih kak.. di sana," balas Aida, seraya menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
__ADS_1
"Lagi di pakai Bunga nak, tadi di rumah dia belum mandi," terang bu Dibyo, "pakai kamar mandi di kamar nak Aida saja," lanjut bu Dibyo, sambil memberi isyarat dengan tangan nya.
"Tapi bu, kamar mandi di kamar Aida kan sudah lama ndak di pakai.. pasti kotor," tolak Aida dengan halus, seraya memberi alasan. Karena menurut Aida, tak pantas rasa nya jika ada laki-laki yang bukan mahrom masuk kedalam kamar pribadi nya.. meskipun itu hal yang urgent.
"Setiap hari mbak bersihkan neng, meski neng Aida enggak ada," ucap mbak Ning, yang mementahkan keinginan Aida. Karena pada akhirnya, Aida harus mengijinkan gus Umar untuk numpang ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya yang tak seberapa luas itu.
"Sudah, anterin ke kamar mandi nya nak Aida sana," titah bu Dibyo dengan tidak sabar, karena melihat Aida yang masih saja terdiam.
Sedangkan gus Umar yang sedari tadi menunggu, tersenyum samar.
"Ayo kak," ajak Aida akhirnya nya, yang menuntun gus Umar menuju ke kamar nya.
"Maaf ya dik, sudah merepotkan," ucap gus Umar dengan tulus.
"Enggak apa-apa kak, enggak merepotkan kok," balas Aida seraya tersenyum, "tapi menegangkan," lanjut nya dalam hati.
Entahlah,,, setiap berdekatan dengan kakak dari sahabat nya itu, Aida selalu saja menjadi tegang, gugup, salah tingkah.. belum lagi jantung nya yang tiba-tiba melompat-lompat tak bisa dia kendalikan, sungguh perasaan yang tak bisa dia mengerti.
Hanya dengan membayangkan wajah orang yang dicintai saja, bisa membuat hari berdebar tak karuan... apalagi melihat dan bertemu langsung dengan orang nya, bahkan dengan jarak yang sedekat ini? "Ya Allah,, kuatkan jantung hamba," bisik Aida dalam hati.
"Kak, kamar mandi nya itu nggih." Setibanya di ambang pintu kamar nya, Aida menunjuk kearah dalam. "Aida tinggal keluar dulu," lanjut Aida, tanpa mau menemani gus Umar untuk masuk kedalam kamar nya.
"Iya dik, makasih sudah diijinkan memakai kamar mandi nya," gus Umar tersenyum hangat, dan kemudian segera masuk kedalam.
Senyum di bibir gus Umar terus mengembang, berdekatan dengan Aida membuat hati pemuda itu bahagia tiada tara.
Aida pun segera berlalu keluar untuk melanjutkan tujuan awal nya, menemani keluarga kyai Abdullah.
__ADS_1
Baru beberapa saat Aida duduk, bu Dibyo dan mbak Ning datang sambil membawa minuman dan aneka kue.
"Monggo, silahkan bu nyai, pak yai," bu Dibyo mempersilahkan tamu nya, untuk mencicipi hidangan yang sudah beliau dan mbak Ning persiapkan sejak pagi tadi.
"Iya bu Dibyo, terimakasih... repot-repot segala lho, membuat kudapan sebanyak ini," ucap nyai Robi'ah sambil mengambil sepotong kue yang masih hangat.
Bu Dibyo dan mbak Ning pun ikut duduk di sana, ikut menemani Aida yang terlihat gelisah.
Tiba-tiba saja, perasaan Aida menjadi tidak enak. Dan wanita yang sudah menjanda di usianya yang masih belia itu, tak tahu kenapa?
"Nah, karena yang mau jadi topik pembicaraan sudah ngumpul di sini.. sebaiknya, kita langsung saja pada pokok bahasan nya," tutur kyai Abdullah, begitu gus Umar telah kembali duduk bersama mereka.
Dan semua perhatian, kini tertuju pada kyai kharismatik tersebut.
"Jadi begini pak Dibyo, ibu dan mbak Ning." Kyai Abdullah memulai pembicaraan serius nya, "karena kedua orang tua nak Aida sudah tidak ada, dan selama ini bapak, ibu dan juga mbak Ning lah yang mendampingi nak Aida dan sudah seperti saudara sendiri.. maka, niat baik kami dari rumah sengaja akan kami sampaikan di hadapan bapak dan ibu Dibyo serta mbak Ning sebagai keluarga nak Aida," lanjut kyai Abdullah.
Pak Dibyo beserta sang istri dan juga mbak Ning merasa terharu, mendapatkan kehormatan seperti itu dari gus Umar dan keluarga nya. Mbak Ning bahkan memeluk adik angkat nya itu, dengan netra berkaca-kaca. Begitupun dengan bu Dibyo, yang mengelus lengan Aida dengan penuh kasih.
"Silahkan gus, sampean sampaikan sendiri niat baik sampean," titah kyai Abdullah pada putra nya.
Gus Umar mengangguk, "nggih abah."
"Ehmm,," gus Umar berdeham, untuk mengurai kegugupan nya. Meski ini bukan yang pertama, tapi pemuda kharismatik yang sudah terbiasa berbicara di depan umum itu tetap saja merasa grogi. Karena di hadapan nya, seorang wanita yang istimewa kini tengah menatap nya dengan intens.
"Jadi, kedatangan kami..."
"Assalamu'alaikum,,,"
__ADS_1
Baru saja gus Umar hendak memulai mengutarakan niat baik nya, datang dua orang dengan mengucap salam.
bersambung,,,