Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 26 : Jadi,, Kakak Pasrah Aja, Gitu?!


__ADS_3

Ryan dengan sangat sabar menemani hari-hari Aida, laki-laki matang itu terus memberi kan dukungan nya pada istri kecil nya yang cantik itu. Hingga Aida perlahan mulai bisa menerima kenyataan, bahwa ibu nya memang telah berpulang menyusul sang ayah.. dan kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa.


Setiap pagi, Aida pasti mengunjungi makam ibu nya yang masih basah. Dan Ryan dengan siaga, selalu menemani istri nya.. meski Ryan tak pernah ikut mengaji dan membaca tahlil di makam mertua nya tersebut, karena Ryan benar-benar tak bisa mengaji. Ryan ikut pergi ke makam, hanya semata-mata untuk menemani sang istri.


Seperti pagi ini, tepat setelah tujuh hari kepergian sang ibu.. Aida kembali mengunjungi makam ibu nya. Aida berdo'a dengan khusyuk di makam kedua orang tua nya yang bersebelahan, Aida memintakan ampunan atas segala dosa kedua orang tua nya dan berdo'a agar Allah memberi kan tempat terindah bagi kedua orang tua nya di syurga.


Usai berdo'a Aida berpamitan pada orang tua nya, karena besok dia harus ikut suami nya ke ibukota. Dan itu arti nya, dalam waktu yang cukup lama.. Aida tak kan bisa berziarah ke makam kedua orang tua nya tersebut.


"Ayah,, ibu,, maaf, jika Aida tak bisa mengunjungi kalian dalam waktu dekat. Bukan nya Aida tidak sayang sama ayah dan ibu, tapi sebagai seorang istri.. Aida harus mengikuti kemauan suami bukan?" Lirih Aida, seraya menyeka air mata nya yang kembali tumpah.


Aida kembali menangis, dia teringat bagaimana dia berjuang mengorbankan perasaan nya, mengorbankan masa muda nya.. demi kesembuhan sang ibu, tapi takdir seolah kejam dan tak berpihak pada nya. Aida tak ingin menyesali nya, seperti pesan sang ibu kala itu.. agar diri nya jangan pernah menoleh ke belakang dan menyesali keputusan yang telah dia ambil, namun jika mengingat hal itu dada Aida terasa sangat sesak.


Aida masih terlalu muda untuk menjalani semua ini seorang diri, sedangkan keluarga tempat biasa nya dia bersandar.. sedang tak bisa membersamai nya, karena keluarga kyai Abdullah saat ini masih berada di tanah suci.


Punggung Aida nampak berguncang karena menahan isak, dan Ryan yang menyaksikan hal tersebut dengan sigap merengkuh tubuh ramping sang istri dan memeluk nya dengan penuh kasih. Dan Aida pun akhir nya menangis dalam pelukan hangat sang suami.


Cukup lama Aida menumpahkan air mata nya, dan Ryan sengaja membiarkan istri nya yang masih labil itu untuk mengeluarkan segala beban di hati.


"Dik, apa kita bisa pulang sekarang?" Tanya Ryan dengan lembut sesaat setelah Aida tenang, tangan kekar Ryan mengusap punggung rapuh sang istri.


Aida nampak mengangguk dalam dekapan sang suami, dan sedetik kemudian Aida mendongak menatap suami nya. "Mas, apa kita bisa sering pulang ke sini?" Tanya Aida dengan suara sengau karena kebanyakan menangis.


Ryan menatap istri nya dengan tatapan dalam, "akan mas usahakan dik, tapi mas enggak bisa janji. Proyek yang mas dapatkan tahun ini cukup banyak, jadi mas akan sangat sibuk. Tapi begitu ada waktu senggang, mas akan mengajak mu pulang." Balas Ryan dengan hati-hati, khawatir akan membuat sang istri kecewa.

__ADS_1


Aida mendesah pelan, dalam hati Aida pasrah sekarang.


"Ayo dik, kita pulang. Kita harus segera bersiap, mas sudah pesan tiket pesawat dan jadwal penerbangan nya nanti sore." Ajak Ryan, seraya menggandeng lengan sang istri untuk meninggalkan area pemakaman umum.


"Mas, bukan nya kita akan berangkat besok?" Tanya Aida yang menahan langkah nya.


Ryan menggeleng, "besok, mas harus sudah mulai meninjau lokasi proyek," balas Ryan pelan, dan laki-laki matang itu meneruskan langkah nya kembali.


Aida hanya menurut, dan berjalan dengan sedikit keteteran mengikuti langkah sang suami yang panjang dan lebar.


@@@@@


Di hotel tempat keluarga kyai Abdullah menginap, tepat nya di kota Madinah.. nampak Laila sudah selesai berkemas, gadis itu kemudian menuju ke kamar kakak nya.


"Kebiasaan kamu dik, masuk kamar enggak pakai ketuk pintu dulu," protes gus Umar pada sang adik, "kakak udah selesai, kamu ke kamar umi sana.. barangkali umi butuh bantuan," usir gus Umar seraya mengacak puncak kepala Laila.


"Kakak,, jilbab Laila jadi berantakan nih,," gerutu Laila dengan bibir mengerucut. Laila kemudian menuju kaca, dan membetulkan kembali jilbab nya yang dirusak oleh gus Umar.


Gus Umar terkekeh pelan, pemuda tampan itu sangat senang menjahili sang adik yang selalu manja dengan nya itu.. namun dibalik kejahilan nya, gus Umar adalah seorang kakak yang sangat penyayang.


"Oh ya dik, kakak beli jilbab buat kamu." Gus Umar kemudian mengambil dua jilbab yang masih terbungkus plastik dengan rapi, dan memberi kan nya pada sang adik yang sudah selesai membetulkan jilbab nya.


Laila menerima nya dengan wajah yang kembali ceria, "makasih kak,," Laila tanpa malu-malu langsung memeluk kakak nya, dan itu sudah menjadi kebiasaan nya semenjak masih kanak-kanak.

__ADS_1


"Iya adik ku yang manja,," balas gus Umar seraya melerai pelukan sang adik, dan kemudian mencubit pipi Laila dengan gemas. Di mata gus Umar, Laila tetap lah adik kecil nya yang imut. Meski usia Laila dengan Aida sebaya, namun bagi gus Umar Laila masih tetap kanak-kanak.. berbeda dengan Aida, yang di mata gus Umar telah menjelma menjadi gadis remaja yang cantik.


"Kak, ini kok dua?" Tanya Laila yang baru menyadari bahwa jilbab nya ternyata ada dua, ketika Laila sudah duduk di tepi ranjang dan bermaksud untuk membuka hadiah dari sang kakak.


Gus Umar mengangguk, "yang satu, kakak nitip buat Aida ya.. kamu saja yang kasih ke Aida," balas gus Umar, dengan raut wajah yang tiba-tiba menjadi sedih.


Laila dapat menangkap perubahan wajah sang kakak, meski gus Umar langsung membuang pandangan nya tadi.. yang tak ingin kesedihan nya diketahui oleh sang adik. "Kak, apa kakak sudah bicara sama abah?" Tanya Laila hati-hati.


Gus Umar mengangguk,


"Abah bilang apa kak?" Tanya Laila antusias.


Gus Umar menggeleng pelan, "jalani saja apa yang ada di depan mata," balas gus Umar lirih, menirukan nasehat abah nya beberapa hari yang lalu.


"Jadi, kakak pasrah aja.. gitu?!" Protes Laila yang merasa tidak terima, karena sang kakak tak mau memperjuangkan sahabat nya.


Kembali gus Umar menggeleng, "bukan begitu dik, kakak sudah berdo'a dan kakak juga berusaha bicara sama abah.. tapi apapun yang terjadi nanti sepulang nya kita ke tanah air, kakak harus ikhlas menerima semua nya bukan?" Gus Umar menatap sang adik dengan tatapan sendu.


Laila mengangguk, "ya, kakak benar.." lirih Laila, yang hampir tak terdengar oleh gus Umar yang berdiri di hadapan sang adik.


"Maaf dik, kakak enggak bisa menceritakan mimpi kakak kepada mu. Juga tentang undangan pernikahan kakak dan ning Zahra yang sudah di sebar," gumam gus Umar dalam hati, "karena kakak tahu, kamu pasti akan sangat bersedih jika mendengar hal itu," lanjut gus Umar masih dalam hati nya.


bersambung,,

__ADS_1


i


__ADS_2