Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab 66 : Karena Perasaan Wanita Harus di Jaga


__ADS_3

Sepeninggal kyai Abdullah dan nyai Robi'ah, sejenak gus Umar termenung dibalik pintu ruang perawatan sang istri sebelum memutuskan untuk kembali masuk kedalam.


Setelah beberapa saat nampak pemuda kharismatik itu berdiri mematung seraya menyandarkan punggung nya di pintu kamar perawatan ning Zahra yang tertutup rapat, gus Umar menghela nafas panjang dan kemudian segera membuka pintu dan kembali kedalam untuk menemani sang istri.


Gus Umar mendekati sang istri dan duduk di kursi di samping ranjang pasien, "mau makan sesuatu ning?" Tanya gus Umar dengan lembut.


Ning Zahra menggeleng, "mboten gus," balas nya singkat.


"Lagi mikirin apa, hem?" Tanya gus Umar seraya menatap istri nya dengan intens, dan melihat ada kegelisahan di mata ning Zahra.


"Cerita umi tadi tentang sahabat nya Laila, Aida,," Ning Zahra menatap gus Umar, "apa jenengan mengenal nya? Tadi umi bilang, dia putri sahabat nya abah?" Tanya ning Zahra.


Gus Umar mengangguk, "dulu waktu kecil, paman Dahlan sering mengajak nya berkunjung ke rumah." Balas gus Umar apa ada nya.


Ning Zahra mengangguk, "pantesan, kayak deket banget sama Laila. Tapi Zahra sendiri kurang paham sama santri anak sekolah, kami jarang bertemu.. bertemu cuma kalau pas dia lagi ngaji sorogan, itu pun sekilas karena banyak yang antri," terang ning Zahra.


"Dia seperti nya spesial ya di mata umi?" Ning Zahra menerawang ke langit-langit kamar nya, apakah dia cemburu pada Aida? Entah lah?


Gus Umar tersenyum, "abah dan umi sudah menganggap nya seperti putri nya sendiri, seperti Laila. Karena dulu, almarhum bibi Aini juga sangat menyayangi Laila. Mereka seperti anak kembar,," terang gus Umar, mencoba menepis kecemburuan yang terlihat dari raut wajah istri nya yang tak beralasan.

__ADS_1


Memang benar, Aida pernah menjadi sosok yang begitu istimewa di keluarga nya,, bahkan bagi diri nya, tapi itu semua masa lalu. Ada pun jika saat ini Aida kembali muncul dalam kehidupan gus Umar, gus Umar menganggap Aida tak lebih dari sekedar adik karena gus Umar tak mau menciderai rumah tangga nya dengan menghadirkan sosok lain selain ning Zahra.


Pun jika abah dan umi, terutama Laila.. begitu peduli sama Aida, itu juga karena mereka sudah menganggap Aida sebagai bagian dari keluarga nya. Tak lebih, dan tak ada yang perlu di cemburui. Karena posisi ning Zahra tetap sama di keluarga kyai Abdullah, yaitu sebagai menantu yang sangat disayangi abah dan umi, serta kakak yang sangat dihormati Laila.


Ning Zahra tersenyum dan menatap suami nya penuh arti, "gus, menurut cerita umi tadi kan.. Aida sudah pisah sama suami nya, dan saat ini dia sedang mengandung. Bagaimana kalau..." ning Zahra menjeda ucapan nya, dan senyum nya semakin lebar.


Gus Umar mengernyitkan kening nya, mencoba menebak kemana arah pembicaraan sang istri. "Tidak, jangan sampai itu terjadi. Aku takkan sanggup, aku tak sanggup menyakiti hatimu ning.. tidak! Please,, jangan lanjut kan. Jangan katakan apa pun lagi tentang dia,,," bisik gus Umar dalam hati.


"Gus, bagaimana kalau jenengan nikahi Aida."


"Deg,," jantung gus Umar serasa berhenti berdetak, untuk sepersekian detik gus Umar berhenti bernafas. "Benar dugaan ku, istri ku meminta hal yang tak bisa ku penuhi. Menikah lagi dengan wanita lain saja aku tak sanggup, apa lagi dengan Aida?? Oh ning,, tidak tahu kah kamu betapa istimewa nya dia? Aku takut akan mengabaikan mu jika aku bersama nya ning? Dan itu jelas salah!" Rutuk gus Umar dalam hati, menyesali permintaan konyol istri nya.


"Kenapa gus? Bukan kah itu bagus, karena kalian sudah saling mengenal? Abah, umi, Laila,, mereka juga pasti setuju gus? Aida juga anak nya baik, pandai mengaji? Kami bisa sama-sama membantu umi di pesantren gus?" Ning Zahra menatap dalam netra suami nya, yang kemudian buru-buru menghindari tatapan nya.


"Anak yang di kandung nya juga butuh sosok ayah gus, dan kita bisa menjadi keluarga yang lengkap.. keluarga yang utuh. Apa jenengan ndak kasihan tho gus, dia hamil dan harus mencari nafkah sendiri? Setidak nya, niatkan untuk membantu sesama,,," Ning Zahra terus memaksa.


Kembali gus Umar menggeleng, "sudah berapa kali aku mengatakan nya ning, aku tidak mau menikah lagi.. memilikimu itu sudah cukup bagi ku ning, cukup. Tolong, jangan bahas apa-apa lagi tentang poligami dan segala macam nya ning. Aku tidak bisa ning, aku tidak sanggup melakukan nya," tegas gus Umar dengan suara nya yang pelan namun penuh penekanan.


Ning Zahra menghembus nafas nya dengan berat, dan wajah pucat nan tirus itu terlihat kecewa.

__ADS_1


Sejenak suasana di ruang rawat VIP itu menjadi hening,


"Gus, kalau Zahra yang meminta sama Aida langsung bagaimana? Kita ke ruangan Aida sekarang?" Tanya ning Zahra, memecah keheningan. "Kalau Aida menolak, Zahra akan berhenti berharap.. tapi kalau Aida mau, Zahra tak kan berhenti memohon pada jenengan?" Pinta ning Zahra, yang membuat kepala gus Umar semakin berdenyut.


Gus Umar memijat pelipis nya, dan menatap sang istri dengan sedikit kesal. "Kenapa sekarang kamu jadi kepala batu sih ning?" Gerutu gus Umar dalam hati.


"Kamu mau bilang apa sama Aida ning? Bukan kah tadi umi mengatakan, kalau umi tahu Aida pisah sama suami nya dari orang lain? Dan Aida seperti enggan menceritakan masalah nya pada umi ataupun Laila?" Gus Umar menatap dalam netra cekung sang istri.


"Lantas, kalau tiba-tiba kamu mendatangi nya dan meminta Aida untuk menikah dengan ku.. bukan kah itu hal yang konyol? Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaan nya? Bisa saja kan, Aida jadi merasa tidak nyaman?" Gus Umar mendesah pelan.


Hening, kembali menyapa ruang rawat ning Zahra. Hanya terdengar detak jam di dinding yang terus berjalan maju, dan memutari angka dalam lingkaran kaca tersebut.


"Baik lah, kita tetap ke sana dan Zahra tidak akan mengatakan apa-apa dulu. Zahra akan mencoba membangun komunikasi dulu dengan Aida, dan jika nanti kedekatan emosional kami sudah terjalin.. Zahra akan membicarakan nya dari hati ke hati," kekeuh ning Zahra, yang menginginkan Aida menjadi madu nya.


Gus Umar merasakan kepala nya semakin pening, dan seolah mau meledak. Sebagai laki-laki normal, tentu dia tidak menolak ide gila istri nya untuk menikah lagi. Apa lagi istri nya memang tak bisa memberi nya keturunan, namun sebagai suami yang bertanggung jawab.. sungguh, gus Umar tak sanggup berpoligami. Gus Umar tak sanggup, jika sampai menyakiti hati wanita lemah lagi baik seperti ning Zahra.


Gus Umar merasa, tak sesempurna para sahabat nabi ataupun para kyai yang bisa berlaku adil dan memiliki lebih dari seorang istri. Gus Umar merasa, bahwa diri nya hanya lah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. Hatinya pasti akan condong mengasihi salah satu nya, dan itu sama sekali tidak adil untuk yang lain nya.


Kerena perasaan wanita harus di jaga...

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2