Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 113 : Istri Dari Laki-laki yang Aku Cinta


__ADS_3

Tepat bakda maghrib, santri putri dan ibu-ibu tetangga kanan kiri kyai Abdullah membaca yasin dan tahlilan bersama di aula.. untuk memperingati empat puluh hari meninggal nya ning Zahra dan juga baby Wildan.


Aida, mbak Ning dan bu Dibyo juga berada di sana, bersama keluarga ning Zahra yang juga sudah hadir sejak sore tadi. Yasin dan tahlil dipimpin langsung oleh nyai Robi'ah dan nyai Rahma, umi nya ning Zahra.


Usai tahlil, mbak Ning ikut membantu para santri membagikan berkat dan hampers untuk ibu-ibu yang selama ini ikut mendo'akan almarhumah ning Zahra dan almarhum baby Wildan. Hampers yang berisi sajadah dan mukena, yang telah disiapkan oleh keluarga gus Umar dan keluarga almarhumah ning Zahra sebagai bentuk ucapan terimakasih.


Setelah sebagian santri putri kembali ke pondokan, dan ibu-ibu kembali ke rumah masing-masing.. santri putri yang masih tinggal segera membersihkan aula, karena tepat bakda isya nanti, gantian santri putra dan bapak-bapak yang akan tahlilan di sana.


Adzan isya pun berkumandang dari masjid di kompleks pesantren tersebut, dan kyai sepuh mengajak sahabat beserta keluarga nya untuk segera sholat berjamaah di masjid.


Sedangkan di kamar Aida, Laila segera mengajak sahabat nya itu untuk sholat berjamaah di kamar,,, karena setelah ini Aida akan segera di rias oleh perias pengantin, yang di panggil langsung oleh nyai Robi'ah.


"Ayo Da, buruan wudhu," titah Laila dengan tidak sabar.


"Iya, bentar.. gak sabaran banget sih?!" Gerutu Aida, seraya masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu.


Usai Aida berwudhu, Laila nampak nya telah menyiapkan tempat untuk mereka berdua sholat.. karena Aida melihat sudah ada dua sajadah tergelar di sudut ruangan, dan Laila juga sudah mengenakan mukena nya.


"Buruan, kamu yang jadi imam nya," lagi, Laila nampak sudah sangat tidak sabar.


"Iya,, iya,, bawel ah," balas Aida sambil mencubit dagu lancip Laila.


Mereka berdua pun kemudian sholat isya berjamaah, dengan Aida sebagai imam nya.


Tok.. tok.. tok..


Terdengar pintu kamar Laila di ketuk, tepat di saat Aida sudah menyelesaikan bacaan wirid dan do'a nya.


Laila bergegas membukakan pintu, dan mendapati mbak Ning membawakan baki berisi nasi lengkap dengan lauk pauk.


"Ning, sudah selesai sholat?" Tanya mbak Ning, yang melihat Laila mengenakan mukena.


"Udah kok mbak, baru aja selesai," balas Laila, "itu untuk Aida mbak?" Tebak Laila.


Mbak Ning mengangguk, "iya ning, tadi umi nyai yang menyiapkan nya." Balas mbak Ning


"Bawa masuk aja mbak," pinta Laila seraya membukakan pintu dengan lebar, dan mbak Ning pun ikut masuk mengekor langkah Laila.


"Neng Aida makan dulu aja sebelum di rias," ucap mbak Ning, sambil menyimpan makanan di atas nakas.


"Sebenarnya Aida belum lapar sih mbak," balas Aida jujur, karena memang benar ada nya.. diri nya tak merasakan lapar sama sekali, meski terakhir kali perut nya diisi makanan tadi sebelum dhuhur.


Perasaan bahagia serta hati yang berbunga-bunga, membuat perut nya terasa kenyang meski tak ada makanan yang masuk.

__ADS_1


"Tapi neng Aida harus tetap makan," mbak Ning menatap adik angkat nya itu, "makan ya neng, meski dikit," pinta nya dengan lembut.


Aida mengangguk pasrah, mengiyakan permintaan mbak Ning sambil merapikan mukena dan sajadah.


Mbak Ning pun merasa lega dan tersenyum lebar, "mbak keluar dulu ya, mau bantu-bantu di dapur," wanita muda dengan satu anak itupun segera keluar dari kamar Laila.


"Harus di makan Da, kalau perlu di habiskan semua. Biar nanti punya energi untuk lembur..." bisik Laila, ketika Aida mulai menyendok makanan nya.


Aida hanya melirik sekilas pada sahabat yang suka jahil itu, namun sangat menyayangi diri nya. Dan meneruskan niat nya untuk makan, tanpa ingin membalas perkataan Laila. Karena kini, pikiran nya disibukkan dengan bagaimana nanti dia harus bersikap pada gus Umar.


Karena sibuk memikirkan bagaimana nanti, Aida sampai tidak fokus dengan makanan nya. Makanan di dalam iring hanya di acak-acak, dan sedikit saja yang masuk kedalam mulut nya.


"Kalau makan tuh jangan sambil bengong.. entar makanan nya bisa di embat sama setan yang doyan makan?!" Suara Laila yang tepat di telinga nya, membuyarkan lamunan Aida.


"Eh,, siapa yang bengong? Enggak bengong kok, ini cuma lagi di campur aja nasi sama lauk nya,, biar ada seni nya," kilah Aida asal, untuk menyembunyikan apa yang sedang dia pikir kan.


Tapi bukan Laila nama nya jika tak terus menggoda sahabat nya itu, "lagi mikirin nanti kan?" Laila memainkan kedua alis nya.


Aida menarik nafas dalam, dan membuang nya kasar.. untuk mengusir resah di hati nya, "anak ini, tahu aja apa yang aku pikir kan," bisik Aida dalam hati.


Aida pun buru-buru menghabiskan makanan nya, karena tak ingin Laila terus-terusan menggoda diri nya.


"Aku panggil kan mbak nya ya," ucap Laila, yang melihat makanan di piring Aida sudah hampir habis.


Laila pun bergegas keluar, untuk memanggil perias yang sudah datang sejak tadi.


Ya, karena grogi,,, sejak sore tadi, Aida terus-terusan ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Sudah siap mbak?" Tanya perias yang masih muda itu, "langsung kita mulai saja ya mbak, waktu kita enggak banyak soal nya,,, paling lama satu jam," terang mbak perias sambil menyusun alat-alat make up nya, di atas meja rias milik Laila.


"Laila tinggal dulu ya Da," pamit Laila yang ingin menemui keluarga almarhumah Ning Zahra


Aida hanya membalas nya dengan anggukan, untuk membalas mbak perias dan Laila sekaligus.


"Tipis-tipis aja ya mbak," pinta Aida, ketika perias mulai mengaplikasikan pembersih wajah.


"Iya mbak, tadi bu nyai sudah request model riasan nya," balas perias tersebut sambil tangan nya terus terampil menyapukan kapas di wajah Aida, "ini kulit mbak nya udah putih, bersih.. di rias tipis juga hasil nya pasti udah bagus," lanjut nya, seraya mulai mengaplikasikan alas bedak.


Mereka berdua terus mengobrol, hingga tanpa terasa perias itu telah selesai memake over wajah Aida menjadi lebih cantik.


"Dasar nya udah cantik, jadi makin cantik deh embak nya," puji perias itu, setelah melihat hasil riasan nya sendiri di wajah Aida.


"Da, sumpah,, kamu manglingi," seru Laila yang baru saja masuk bersama ning Najwa, kakak kandung almarhumah ning Zahra.

__ADS_1


"Oh,, ini calon pengantin nya?" Tanya ning Najwa, seraya mengulurkan tangan menyalami Aida.


"Aku Najwa, kakak nya almarhumah," ucap nya memperkenalkan diri.


"Oh, nggih ning,, saya Aida," balas Aida formal.


"Panggil mbak aja, kayak Laila. Dan enggak perlu formal gitu, kita kan saudara?" Ucap ning Najwa dengan tersenyum tulus.


"Eh, iya mbak," balas Aida yang ikut tersenyum.


"Iya, ning Laila benar. Pengantin nya cantik, cocok sama gus Umar," timpal ning Najwa, memuji Aida dengan tulus.


"Ah,, mbak Najwa bisa aja." Balas Aida dengan pipi yang semakin merona.


"Nyuwun sewu ning," ucap mbak Ning yang muncul dari balik pintu, yang tak tertutup rapat itu. "Kalau sudah selesai, neng Aida disuruh segera keluar. Karena semua keluarga sudah bersiap," lanjut mbak Ning.


Deg,,, jantung Aida langsung berdebar kencang, "Ya Allah, benarkah sebentar lagi aku akan menjadi istri kak Umar? Istri dari laki-laki yang aku cinta?"


bersambung,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Hai semua,,,


Kalian inget enggak kisah nya daddy Rey waktu mau menikahi mommy Billa?


Nunggu waktu sore nya tuh lama... banget.


Nah, ini juga sama.


Nunggu malam nya juga lama.... banget šŸ˜„šŸ˜„


Karena waktu di dunia halu dan dunia nyata itu jelas beda ya šŸ˜ŠšŸ™šŸ™


Yuk ah, vote, like, dan hadiah yang banyak..


Karena cerita menuju ending.


Untuk spesial give away, hanya untuk pendukung yang punya julukan fans ya.. kayak gini šŸ‘‡



Karena popularitas dikiiiit banget šŸ˜”

__ADS_1


Kayak nya, readers enggak suka ya sama cerita yang banyak bawang nya??


Entah gimana dengan nasib cerita SERUNI,,, lanjut gak ya???


__ADS_2