Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 74 : Artikel Penting


__ADS_3

Sepulang nya Laila dan gus Umar serta ning Zahra, Aida langsung masuk ke dalam kamar nya. Aida merebahkan tubuh nya di tempat tidur sederhana, kepala nya benar-benar terasa pusing mendengar pembicaraan ning Zahra yang panjang dan seolah tanpa jeda.


"Mbak Zahra benar-benar berbeda sekarang," gumam Aida, "tapi seperti ada yang janggal sih? Kira-kira apa ya?" Aida mencoba mengingat-ingat sepanjang percakapan mereka berdua.


"Oh iya,,, tatapan mata nya. Tatapan mata mbak Zahra kadang terlihat kosong, dan nada bicara nya yang penuh emosi seperti bukan mbak Zahra yang aku kenal dulu. Ustadzah Zahra yang lembut," lanjut Aida sambil beranjak, dan kemudian mengambil ponsel pemberian nyai Robi'ah kemarin saat menjemput nya di rumah sakit.


Ya, nyai Robi'ah membelikan Aida ponsel baru saat hendak mengantar diri nya pulang ke ruko. Sebenar nya Aida sudah menolak, tapi umi nya Laila itu bersikeras dan memaksa nya. "Kalau umi kangen, kan umi bisa telpon nak Aida sewaktu-waktu," begitu tutur nyai Robi'ah, hingga akhir nya Aida pun menerima nya meski dengan rasa sungkan.


Aida mulai mengetik di mesin pencarian, ingin membuktikan apakah kecurigaan nya itu berdasar atau hanya kecurigaan yang tanpa alasan. "Perubahan mental yang mungkin saja terjadi pasca operasi."


Dan Aida menemukan sebuah artikel yang membenarkan kecurigaan nya terhadap perubahan sikap ning Zahra yang tak biasa, yaitu kemungkinan terjadinya delirium pasca operasi.


"Pada dasarnya terdapat banyak kondisi yang bisa menyebabkan otak mengalami gangguan sehingga memicu terjadinya delirium. Salah satu faktornya adalah operasi atau prosedur medis lainnya yang melibatkan pembiusan." Begitu bunyi salah satu artikel yang Aida baca.


"Delirium adalah gangguan mental serius yang bisa membuat pengidapnya mengalami kebingungan parah. Bahkan, bisa menyebabkan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar. 


"Gangguan mental yang satu ini disebabkan oleh perubahan yang begitu cepat dalam fungsi otak yang terjadi bersama dengan penyakit mental dan fisik. Gejala yang ditunjukkan seseorang dengan delirium biasanya tidak khas, sebab pengidap delirium bisa menunjukkan gejala perubahan kondisi mental dalam beberapa jam hingga beberapa hari."


"Gangguan emosional, seperti gelisah, takut atau paranoid, depresi, mudah tersinggung, apatis, perubahan mood mendadak, dan perubahan kepribadian." Dan masih panjang bunyi artikel tersebut...


"Fix, mungkin ini yang saat ini dialami mbak Zahra. Aku harus mengirimkan artikel ini pada Laila, agar disampaikan pada kakak nya. Dan agar mbak Zahra bisa mendapatkan penanganan yang tepat," gumam Aida, dan kemudian mengirimkan artikel yang barusan di baca nya itu kepada Laila.


Aida juga menuliskan kalimat, "baca dulu artikel nya dan pahami isi nya, menurut ku mbak Zahra mengalami gejala delirium ini.. maka nya mbak Zahra seperti orang lain, semoga segera mendapatkan penanganan yang tepat." Dan Aida kemudian mengirimkan nya ke nomor pondel Laila.

__ADS_1


Setelah mengirimkan artikel tersebut, Aida menyimpan kembali ponsel nya di atas meja kecil dan kemudian kembali membaringkan tubuh lelah nya.. tanpa melihat, apakah chat nya sudah dibaca atau belum sama si penerima?


Aida memejamkan mata seraya mulut nya komat kamit membaca dzikir, untuk menenangkan hati nya yang sempat terusik oleh berbagai peristiwa yang beberapa hari ini menyapa diri nya.


Mulai dari pendarahan yang dia alami, pertemuan nya dengan gus Umar dan percakapan ning Zahra, serta kabar bahwa ternyata Ryan tengah mencari-cari keberadaan diri nya.


Lelah psikis, yang dibarengi dengan lemah nya tubuh yang belum benar-benar fit pasca terjatuh dan mengalami pendarahan.. membuat Aida segera terlelap.


@@@@@


Di dalam mobil, Laila yang duduk di belakang seorang diri langsung membuka ponsel nya tatkala terdengar bunyi khusus dari notifikasi pesan masuk di ponsel nya. "Baru juga di tinggal, udah kangen aja kamu Da," lirih Laila, yang mengira chat dari Aida adalah obrolan iseng seperti bias nya. Laila segera membuka pesan dari Aida tersebut.


Dan wajah Laila langsung berubah serius tatkala membaca artikel yang dikirimkan olah sahabat nya itu.


Berkali-kali Laila mengangguk, seolah mengerti dan memahami isi artikel tersebut. Hingga gerakan anggukan kepala Laila memancing tanya dari gus Umar yang sedang menyetir mobil.


Sejenak, Laila menghentikan membaca nya dan menatap kakak nya melalui pantulan kaca spion yang sama. Dan kemudian melirik ning Zahra yang sedang asyik menatap keluar jendela kaca mobil.


Laila kemudian mendekat kearah kakak nya dan berbisik, "Aida ngirim artikel penting, kayak nya ini yang terjadi sama mbak Zahra. Nanti sampai rumah kita harus bahas ini kak."


Gus Umar sempat mengernyitkan kening, namun sedetik kemudian mengangguk tanda setuju.


Perjalanan dari ibukota propinsi menuju kota kecil tempat dimana mereka pulang, dirasakan oleh Laila sangat lah lama.. karena Laila sudah tidak sabar ingin menyampaikan dan membahas isi artikel dari Aida tersebut kepada kakak nya.

__ADS_1


Begitu pula dengan gus Umar, meski diri nya sudah menambahkan kecepatan laju kendaraan... namun perjalanan nya kali ini dirasa begitu panjang, dan tak kunjung sampai tujuan.


Gus Umar dibuat penasaran dengan isi artikel yang disampaikan sang adik, "artikel penting? Apa yang sebenar nya terjadi pada istriku? Kenapa justru Aida yang menyadari nya terlebih dahulu?" Pertanyaan demi pertanyaan, berputar-putar di kepala gus Umar.


Sedangkan ning Zahra, kini telah terlelap.. mungkin karena pengaruh obat yang tadi diminum usai makan siang di tempat nya Aida, atau mungkin saja karena kelelahan sebab ning Zahra terlalu banyak mengeluarkan energi untuk berbicara.


Namun, meskipun ning Zahra telah tertidur.. baik Laila maupun gus Umar, tak ingin membahas tentang isi artikel tersebut di dekat ning Zahra. Mereka berdua khawatir, jika ning Zahra akan salah paham.


Setelah perjalanan panjang selama satu jam itu, akhirnya mobil yang dikendarai gus Umar berbelok menuju gerbang pondok pesantren yang saat ini di ampu oleh sang abah.


Setelah berhenti tepat di halaman kediaman nys, gus Umar segera turun dan kemudian berlari kecil memutari mobil untuk membantu istri nya turun.


Gus Umar menuntun istri nya memasuki rumah mereka berdua yang pintu nya telah terbuka lebar, dan nampak nyai Robi'ah sedang berdiri di ambang pintu untuk menyambut kepulangan menantu kesayangan nya.


"Assalamu'alaikum umi,," ucap salam ketiga nya, dan kemudian menyalami nyai Robi'ah dengan takdzim.


"Wa'alaikumsalam,,," balas nyai Robi'ah dengan tersenyum hangat, dan kemudian merengkuh tubuh ringkih ning Zahra dan menuntun nya untuk masuk kedalam.


"Umi, nitip ning Zahra sebentar nggih. Umar ada perlu sebentar di luar," pamit gus Umar dengan sopan.


"Ning, aku keluar sebentar," gus Umar menatap sang istri, yang di balas dengan anggukan kepala oleh ning Zahra. Dan gus Umar pun segera berlalu.


"Umi, Laila juga mau ke kamar dulu ya. Gerah, mau ganti baju," pamit Laila buru-buru, dan segera berlalu menyusul langkah panjang sang kakak.

__ADS_1


Menyisakan ning Zahra dan nyai Robi'ah, yang menatap kepergian kedua anak nya yang seperti telah di rencanakan dengan menyimpan tanya dalam hati.


bersambung,,,


__ADS_2