Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 15 : Menjual Rumah


__ADS_3

Pagi ini, Aida bisa bernafas sedikit lega.. karena sang ibu sudah sadar dari pingsan nya sejak beberapa saat yang lalu. Bu Retno juga masih setia menemani Aida dan ibu nya di rumah sakit, beliau hanya menyuruh sopir nya untuk pulang mengambil kan keperluan untuk diri nya dan juga keperluan Aida dan ibu nya.


Kini mereka tengah menunggu kunjungan dari dokter, sekaligus untuk mengetahui hasil rekam medis bibi Aini.


Tak berapa lama, dokter yang menangani bibi Aini pun tiba, dokter tersebut kemudian melakukan pemeriksaan kepada pasien.


"Ibu dan adik ini, keluarga bu Aini ya?" Dokter tersebut menatap bu Retno dan Aida bergantian,


Aida mengangguk, "ya dok, saya putri nya," balas Aida sopan, "bagaimana kondisi ibu saya dok? Dan ibu saya sakit apa?" Tanya Aida dengan tidak sabar, ingin segera mengetahui penyakit ibu nya.


"Bisa ikut saya ke ruangan sebentar?" Pinta dokter tersebut dengan lembut.


Aida mengangguk, "iya dok," balas nya singkat.


Dokter wanita dan perawat nya kemudian meninggalkan ruangan pasien, yang diikuti oleh Aida yang ditemani bu Retno.


"Silahkan duduk," ucap dokter paruh baya tersebut dengan ramah, setelah mereka sampai di ruangan khusus milik nya.


"Ayo nduk, duduk lah," dengan lembut bu Retno menuntun Aida untuk duduk di depan meja dokter tersebut.


"Menurut pemeriksaan rekam jantung atau elektro kardio gram yang telah kami lakukan, bu Aini menderita penyakit jantung koroner." Jelas dokter wanita tersebut dengan pelan, sesaat setelah Aida dan bu Retno duduk.


"Apa dok? Sa,, saya tidak salah dengar kan?" Tanya Aida dengan terkejut.

__ADS_1


Dokter berkacamata itu menggeleng, "tidak nak, kamu tidak salah dengar," balas dokter tersebut.


"Lantas, apakah ibu saya bisa sembuh dok?" Tanya Aida dengan raut kecemasan di wajah ayu nya.


Dokter yang masih terlihat cantik di usia senja nya itu menggeleng, "penyakit jantung koroner tidak bisa sembuh total, karena dinding arteri dan otot jantung yang sudah rusak akibat penyakit ini tidak dapat kembali lagi seperti semula." Balas nya.


"Dan di kasus nya bu Aini, kami menemukan ada nya penyumbatan di pembuluh darah koroner,,," dokter tersebut menjeda ucapan nya, dan menatap Aida dengan intens.


"Itu maksud nya apa dok? Apakah itu berbahaya bagi ibu saya?" Cecar Aida, gadis itu terlihat panik.


Dokter tersebut menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Beliau merasa tidak tega menjelaskan ini semua pada remaja seperti Aida, tapi apa boleh buat.. dokter tersebut harus tetap mengatakan kebenaran nya. "Kami saran kan untuk di lakukan pemasangan ring, untuk membuka arteri yang menyempit atau tersumbat," ucap dokter tersebut.


"Maaf dok, apakah biaya nya mahal?" Tanya Aida dengan perasaan cemas.


"Untuk masalah biaya, mbak dan ibu bisa langsung menanyakan nya ke bagian administrasi. Tapi nanti jika keluarga menyetujui di lakukan pemasangan ring, akan ada petugas yang mengurus semua nya dan akan meminta tanda tangan kepada keluarga nya sebelum di lakukan tindakan," balas dokter tersebut menjelaskan. "Dan petugas tersebut juga akan menjelaskan secara rinci mengenai biaya yang harus di tanggung keluarga pasien," lanjut nya.


Sepanjang jalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan ibu nya, Aida terus memikirkan darimana dia akan mendapatkan biaya untuk pengobatan sang ibu? Sedangkan tadi malam saja, ketika pertama kali masuk rumah sakit dan agar ibu nya bisa segera di tangani.. dia sudah di pinjami uang oleh bu Retno, dan bu Retno meminta sertifikat rumah sebagai agunan nya.


Tanpa Aida sadari, air mata kembali menetes membasahi pipi nya. Dan ketika sudah sampai di depan pintu ruang rawat sang ibu, Aida tak langsung masuk karena dia tak mau sang ibu melihat air mata nya.


"Nduk, duduk lah dulu di sini," ucap bu Retno lembut, seraya menuntun Aida untuk duduk di bangku panjang di depan kamar perawatan ibu nya. Dan Aida hanya bisa menurut.


Kedua wanita berbeda generasi itu kemudian duduk, dan untuk beberapa saat kedua nya saling membisu. Hingga suara langkah kaki seseorang semakin mendekat dan mengalihkan perhatian kedua nya.

__ADS_1


"Niki bu, pakaian yang jenengan minta. Dan ini punya neng Aida, tadi mbak Ning yang menyiapkan," sopir bu Retno memberikan dua tas kepada pemilik nya masing-masing. "Oh ya neng, ini ponsel neng Aida yang ketinggalan," lanjut nya seraya memberikan ponsel tersebut kepada Aida.


Aida menerima ponsel nya, "makasih pak," ucap nya tulus, dan kemudian segera membuka ponsel milik nya tersebut.


Dilihat nya ada banyak sekali panggilan masuk dari sahabat nya, Laila... dan Laila juga mengirimkan banyak pesan kepada nya, Aida menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan, "maaf La, aku enggak sempat kasih kabar sama kamu. Lagipula aku juga enggak mau mengganggu perjalanan kamu, dengan memberi kabar tentang sakit ibu," gumam Aida dalam hati.


Aida kemudian membuka aplikasi perpesanan di ponsel nya, dan membaca pesan dari Laila satu persatu ;


"Da, aku tadi ke rumah kamu sama kakak.. tapi kamu sudah pergi ke rumah sakit, dan mbak Ning juga enggak tahu kamu membawa bibi ke rumah sakit mana?"


"Da, kalau ponsel kamu sudah di tangan.. segera kabari ya? Tadi sebelum kami berangkat, sebelum shubuh kakak bela-belain ke rumah kamu lagi,,, tapi tetap enggak ada kabar tentang kamu dan bibi."


"Da, kami dah mau terbang.. nanti setelah landing aku akan hubungi kamu lagi, semoga kamu sudah baca semua pesan-pesan ku. Oh ya, kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan kasih tahu aku ya? Maaf, aku enggak bisa bersamamu saat kamu butuh..."


"Oh ya Da... kamu tahu enggak? Kakak dari semalam murung terus karena memikirkan kamu, bahkan sampai sekarang kakak masih diam terus."


Aida tersenyum membaca pesan Laila yang terakhir, pesan yang dikirimkan setengah jam yang lalu sebelum Laila menonaktifkan ponsel nya.


"Nduk, bagaimana dengan tindakan yang akan di ambil dokter untuk ibu mu? Kamu setuju kan?" Pertanyaan bu Retno mengembalikan kesadaran Aida, bahwa saat ini dia tengah dalam masalah besar.. masalah keuangan.


Aida teringat pesan Laila barusan, tapi tak mungkin bagi nya meminta tolong pada keluarga kyai Abdullah yang pasti akan dengan senang hati membantu dan tanpa pamrih seperti hal nya bu Retno.. karena saat ini, kyai Abdullah dan keluarga nya tengah pergi ke tanah suci dan hingga beberapa jam ke depan mereka tak akan dapat di hubungi. Sedangkan keputusan untuk penanganan sang ibu, sangat lah urgen dan harus segera di putus kan sekarang.


Aida menoleh pada bu Retno, "bu, kalau rumah saya di jual di hargai berapa?" Tanya Aida ingin tahu apakah penjualan rumah nya bisa menutupi biaya untuk pemasangan ring dan pengobatan sang ibu, sedangkan menurut informasi yang dia dapat dari searching di internet.. biaya nya mencapai ratusan juta rupiah. Hanya itu yang ada di benak Aida saat ini, yaitu menjual rumah nya.

__ADS_1


"Kisaran seratus lima puluh juta nduk," balas bu Retno seraya tersenyum samar, wanita paruh baya itu seperti menyimpan rencana di benak nya kepada Aida.


bersambung,,,


__ADS_2