
Begitu sampai di ruang rawat Aida, setelah mengucap salam.. Laila yang masuk terlebih dahulu, langsung berseru. "Tarra... "
Laila yang sedang tadarus Al-Qur'an langsung menoleh, dan calon ibu muda itu langsung mengembangkan senyum nya dengan lebar saat melihat kehadiran nyai Robi'ah beserta kyai Abdullah.
Laila kemudian mengakhiri tadarus nya dan melatakkan Al-Qur'an kecil pemberian nyai Robi'ah yang selalu dibawa nya kemana-mana itu di atas nakas, sebelum kemudian menyalami ibu dari gus Umar itu dan memeluk nya erat.
Meski rasa haru menyeruak dan menyelimuti hati nya, hingga ingin rasa nya membuat Aida menangis dan menumpahkan segala keluh kesah nya selama ini di pangkuan wanita yang sudah seperti ibu nya sendiri itu.. namun sekuat tenaga Aida menahan air mata nya.
Aida tetap menampakkan sikap tegar dan menyunggingkan senyuman menyambut abah dan umi nya Laila tersebut, karena dia tak ingin orang lain tahu kepahitan apa yang sudah di alami nya selama ini.
Lagi pula, Aida sudah memutuskan untuk belajar melupakan semua nya... dan menatap masa depan bersama sang buah hati yang masih bersembunyi di rahim, serta melupakan bayang-bayang Ryan.
"Abah, umi,,, sehat?" Tanya Aida seraya tersenyum lebar, tatkala nyai Robi'ah sudah duduk di tepi ranjang.
"Alhamdulillah,, seperti yang nak Aida lihat," balas kyai Abdullah mewakili, yang duduk di kursi plastik di samping meja kecil. Sedangkan nyai Robi'ah mengangguk, dan mengusap pipi Aida.
"Kata Laila, kamu habis jatuh? Kok bisa?" Nyai Robi'ah membuka percakapan secara intens, berharap Aida mau terbuka tentang segala hal kepada nya.
"Nggih mi, Aida kurang hati-hati,," Aida masih mencoba untuk tetap tersenyum, "kepleset,, lampu dapur mati dan Aida tidak tahu kalau lantai nya basah," lanjut nya.
"Sudah isi ya,,, berapa bulan?" Nyai Robi'ah tersenyum tulus, dan mengusap-usap perut buncit Aida.
"Jalan lima bulan umi," balas Aida.
"Apa yang kamu rasakan nak? Apa masih nyeri?" Tanya nyai Robi'ah dengan lembut.
"Sedikit umi, tapi hasil pemeriksaan semua nya bagus dan dokter bilang.. besok Aida sudah boleh pulang," terang Aida, agar nyai Robi'ah tak mengkhawatirkan keadaan diri nya.
__ADS_1
Laila yang tadi nya duduk di samping sang ayah, kemudian berdiri di samping sang umi yang masih mengusap-usap perut Aida.
"Mi, bujuk Aida agar mau pulang ke rumah kita..." rajuk Laila pada umi nya.
"Aku dengar, kenapa enggak kamu sendiri yang bujuk? Dasar anak manja.." Aida mencibir dan kemudian terkekeh pelan.
"Tuh kan mi,, dia lagi sakit aja masih bisa loh ngeledekin Laila," Laila pura-pura kesal.
"Kalau nak Aida nya mau, umi akan sangat senang dan bersyukur.. tapi kalau ndak mau, kita yo ndak boleh memaksa nya tho ning," tutur sang umi dengan bijak, seraya menatap putri nya dan Aida bergantian.
"Tuh, dengerin apa kata umi. Gak boleh maksa!" Lagi, Aida mencibir.
"Kalau gitu, aku tiap hari mau main ke ruko kamu," ucap Laila.
"Eh,, enak aja, ruko ku bukan tempat bermain kali?!" Tolak Aida, "enggak boleh tiap hari, itu mengganggu privasi orang nama nya."
"Dasar,, pelit!" Sungut Laila.
"Sini,, sini,, peluk," Aida merentangkan tangan nya, dan dengan senang hati.. Laila menghambur memeluk sahabat nya itu, dan mereka pun terkekeh bersama.
Nyai Robi'ah tersenyum, melihat kedekatan kedua anak perempuan nya. Ya, bagi nyai Robi'ah.. Aida bukan hanya sekedar sahabat putri nya.
Sedangkan di tempat duduk nya, kyai Abdullah yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik Aida sedari tadi.. menghembus nafas nya dengan berat, "kenapa kamu harus berpura-pura, seolah semua nya baik-baik saja di hadapan kami nak? Kenapa kamu tak mau terbuka? Apakah ini ada kaitan nya dengan gus Umar?" Kyai Abdullah bermonolog dalam diam.
Hingga ucapan salam dari mbak Ning, yang baru saja dari luar untuk membeli rujak buah pesanan Aida.. membuyarkan lamunan kyai Abdullah.
"Eh, ada pak yai dan umi nyai tho?" Mbak Ning kemudian menyalami nyai Robi'ah dan mencium punggung tangan wanita bermata teduh itu dengan takdzim. Dan kemudian mengangguk sopan pada kyai Abdullah, yang di balas senyuman hangat oleh kyai kharismatik tersebut.
__ADS_1
"Mbak Ning beli apaan? Rujak ya?" Tanya Laila antusias, begitu mencium aroma khas bumbu rujak buah.
"Ya ning, neng Aida kata nya pengin makan yang seger-seger." Balas mbak Ning, seraya mengambil satu kotak mika yang berisi irisan buah lengkap dengan bumbu nya yang menggoda.
"Emang boleh, makan yang asem dan pedes sama dokter? Buat aku aja deh,, palingan dia belum di bolehin makan sembarangan," Laila hendak mengambil kotak mika tersebut dari tangan mbak Ning, namun buru-buru tangan nya di tepis oleh Aida.
"Boleh kok, tadi aku sudah tanya dulu sama dokter nya. Asal enggak terlalu pedes dan enggak terlalu banyak.. karena semua yang serba terlalu itu, jadi nya keterlaluan," balas Aida asal dengan satu tarikan nafas saja, sehingga terdengar sangat cepat.
Aida cepat-cepat mengambil rujak dari tangan mbak Ning, sebelum keduluan sama Laila.
"Iya,, keterlaluan seperti kamu, pelit?!" Sungut Laila, tapi sambil mendekati Aida.
Dan mereka berdua kemudian menikmati rujak buah tersebut berdua, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Nyai Robi'ah sangat bahagia melihat pemandangan yang menyejukkan mata nya itu, begitupun dengan kyai Abdullah yang mengulum senyum.
"Ini masih ada dua lagi kok ning," mbak Ning menyodorkan satu kotak mika yang masih utuh kepada Laila, tapi Laila menolak nya.
"Enak makan kayak gini mbak, rebutan,,," ucap Laila dengan mulut nya yang penuh.
"Itu buat mbak Ning saja, sama umi... mau rujak mi?" Aida menatap nyai Robi'ah, yang masih betah duduk di tepi bed pasien, sambil memijat pelan kaki Aida... yang membuat Aida merasa terharu.
Nyai Robi'ah menggeleng, "umi gigi nya sudah ndak kuat makan yang asam-asam," balas nyai Robi'ah sambil meringis, membayangkan rasa asam dari buah kedondong yang dilihat nya masuk kedalam mulut Aida.
"Kamu udah Da,, udah makan banyak, kamu kan lagi pemulihan. Ini biar aku yang habiskan," Laila mengangkat rujak buah dalam kotak mika yang masih tersisa separo itu, dan membawa nya menjauh dari Aida seraya terkekeh.
"Eh,, kok di bawa kabur?!" Aida terlihat kecewa, tapi akhir nya merelakan rujak buah itu untuk sahabat nya... karena Aida juga paham bahwa diri nya belum di perbolehkan mengkonsumsi makanan sembarangan.
__ADS_1
"Kapan-kapan aku ganti, kalau perlu sekalian aku bawakan gerobak nya..." balas Laila dengan tanpa rasa bersalah, dan melanjutkan makan rujak buah tersebut dengan sangat lahap.
bersambung,,,