Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 49 : Ryan Menggila


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah taksi yang membawa Aida di terminal induk. Aida segera membayar ongkos taksi sesuai dengan tarif yang tertera pada argo, dan kemudian segera berlalu masuk kedalam terminal.


Ini kali pertama Aida menginjakkan kaki di terminal bis antar kota antar propinsi yang sangat luas ini, hati nya sempat menciut.. tapi mengingat kata-kata Ryan yang menyakitkan, membuat semangat dan keberanian Aida muncul kembali.


Aida melangkah dengan pasti, mengikuti setiap petunjuk di papan nama penunjuk yang ada di sepanjang jalan yang dia lalui. Tujuan nya adalah pulang ke daerah asal nya, ke tanah kelahiran nya.


Sesampai nya di depan loket yang di tuju, terlihat ada beberapa orang yang mengantri. Aida kemudian duduk, karena merasa kaki nya mulai lemas.


Di saat menunggu, terngiang kembali tuduhan Ryan bahwa diri nya telah selingkuh.


Seseorang tiba-tiba duduk di sebelah nya, dan membuat Aida tersadar dari lamunan nya. Aida kembali melihat kearah loket penjualan tiket yang sudah sepi, tapi Aida tak segera beranjak.


Aida kini gamang menentukan tujuan mau kemana? "Jika aku pulang ke kampung, orang-orang pasti saat ini sudah tahu kalau aku dicerai mas Ryan dan di tuduh selingkuh.. dan mereka pasti akan langsung menghakimi tanpa mencari tahu kebenaran nya."


"Mereka akan mencibir, dan menghujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa jadi akan membuat suasana hatiku semakin tidak nyaman. Padahal saat ini yang aku butuhkan adalah ketenangan, kenyamanan,,," Aida bermonolog dalam diam.


"Aku harus kemana? Tidak mungkin aku tetap di kota ini, Ibu kota terlalu keras untuk ku.. apa lagi kondisi ku saat ini tengah hamil, dan aku tidak punya kenalan siapa-siapa?"


Aida bangkit dari duduk nya, dan menuju loket. "Mbak, bis terakhir menuju kota S jam berapa?" Tanya Aida kepada penjual tiket.


"Jam setengah tujuh malam mbak," balas wanita muda itu dengan ramah.


Tanpa berpikir ulang, Aida membeli satu tiket menuju ibu kota propinsi yang tak terlalu jauh dari daerah asal nya.

__ADS_1


Aida bertekad, akan mencari kontrakan di sana.. dan akan menjemput mbak Ning untuk menemani nya selama masa kehamilan nya ini.


Setelah mendapat kan tiket, Aida bergegas menuju musholla yang tak jauh dari loket tersebut karena waktu ashar telah tiba.


"Sebaik nya, aku sekalian membersihkan diri dan berganti pakaian," gumam nya dalam hati, dan kemudian membawa koper nya masuk kedalam kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu, Aida keluar dengan wajah yang lebih segar. Aida mengenakan kaos lengan panjang, serta kulot plisket yang membuat gerak nya tidak terbatas. Hijab simple berbahan kaos yang menutup sampai bagian bawah dada, menjadi pilihan Aida untuk melengkapi penampilan nya agar nyaman dan pasti nya juga aman,,, karena ini di adalah tempat umum, yang riskan akan berbagai kejahatan.


Aida bergegas menunaikan ibadah sholat ashar, dan setelah nya berdo'a dengan panjang dan khusyuk. Tak lagi ada air mata yang menetes, karena Aida yakin.. di setiap kejadian pasti ada hikmah yang menyertainya.


Aida, yang di didik untuk mandiri semenjak kecil meski dia adalah anak semata wayang dan saat itu ayah nya tergolong cukup mampu,,, di tambah berbagai cobaan hidup yang menimpa nya, kepergian sang ayah tatkala dia masih kecil, kepergian sang ibu di saat dia rela mengorbankan masa depan nya, serta pernikahan nya dengan Ryan yang tak berjalan sesuai dengan yang di harapkan, membuat Aida menjadi semakin tangguh.


Usai membereskan mukena dan menyimpan nya di dalam tas cangklong, Aida melihat sekeliling. "Bis nya masih lama, dan di halaman musholla ada beberapa orang yang tiduran. Enggak apa-apa kali ya, kalau aku ikut merebahkan diri sebentar.. seperti nya, di sini lebih aman dari pada aku harus menunggu di depan loket tadi. Sekalian nunggu waktu maghrib," Bisik Aida dalam hati, dan kemudian segera keluar menuju teras sambil menenteng koper yang tak seberapa berat.


Cukup lama Aida mencoba untuk tidur dan melupakan sejenak kejadian yang baru saja di alami, bahkan jika mungkin.. saat bangun nanti, Aida masih berharap semua nya hanyalah mimpi.


Hampir setengah jam berlalu, tapi Aida tak dapat tidur. Bahkan perut nya kini terasa perih.. "ya Allah, ternyata aku melewatkan makan siang, aku bahkan belum minum dari sehabis masak tadi. Maaf kan ibu nak, ibu telah melupakan hak mu untuk mendapat kan asupan," Aida mengelus perut nya yang masih sangat rata, dan berbicara pada calon buah hati nya.


Aida bangkit, merapikan pakaian nya dan kemudian segera mencari warung makan. Dia tak boleh mengabaikan janin nya, dia tak boleh egois,, meski saat ini Aida tak berselera untuk makan, tapi janin dalam perut nya butuh asupan gizi yang cukup.


Aida masuk kedalam warung yang paling sepi, dan memesan soto ayam seperti yang ada di daftar menu makanan. Aida juga mengambil air mineral yang ada di atas etalase warung tersebut, dan kemudian segera meminum nya.


Setengah jam berlalu, meski Aida telah menyelesaikan makan nya semenjak tadi.. tapi Aida memutuskan untuk menunggu waktu maghrib tiba di warung tersebut, seraya ngobrol dengan ibu pemilik warung yang cukup ramah.

__ADS_1


Ketika adzan maghrib berkumandang di layar televisi yang ada di warung tersebut, Aida bergegas pamit setelah sebelum nya membayar makanan dan minuman nya.


Aida kembali ke musholla untuk menunaikan ibadah sholat maghrib, dan sepuluh menit kemudian Aida nampak berjalan keluar dari musholla dan berjalan menuju jalur keberangkatan bis yang akan dia tumpangi.


@@@@@


Sementara itu, di kediaman Ryan.. rumah yang biasa nya bersih dan rapi karena sentuhan tangan Aida yang senang menata rumah tersebut, kini menjadi berantakan.


Vas bunga tercerai berai, gucci pecah dan berserak dimana-mana.. belum lagi kamar utama, yang kondisi nya sudah seperti kapal pecah.


Sepeninggal Aida dari rumah nya tadi, Ryan menggila. Menendang apa saja yang ada di depan nya, dan membanting semua yang tertangkap oleh indera penglihatan nya.


Bu Retno dibuat kewalahan, tak bisa menenangkan sang putra yang sedang patah hati untuk yang kedua kali nya. "Sakit bu,, rasa nya di sini sakiiit sekali!" Teriak Ryan, tatkala bu Retno mencoba menenangkan nya.


"Saat Angel pergi, kamu tak seperti ini nak. Sabar lah,, masih banyak wanita lain di luar sana yang mau menerima kamu?" Hibur sang ibu, tapi justru semakin membuat Ryan meradang.


"Aku tidak merasa kehilangan saat Angel pergi bu, karena memang dia tak pernah punya waktu untuk ku.. dan itu sebab nya, aku biasa saja ketika tahu Angel minggat dari rumah bersama laki-laki lain!"


"Tapi Aida beda bu.. dia selalu ada untuk ku, dia memanjakan aku bu! Dan mengetahui kalau ternyata dia selingkuh, hatiku sangat sakit bu.. sakit!!" Seru Ryan dengan air mata yang mulai berlinang, namun suara nya masih menyimpan kemarahan.


Bu Retno mengusap lembut punggung kokoh sang putra, "Ryan, apa kamu menyesal telah mengusir Aida?" Tanya bu Retno hati-hati.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2