Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 86 : Mumpung Zahra Masih Sempat...


__ADS_3

"Istri saya kenapa dok?" Tanya gus Umar, setelah sampai di ruang perawatan ning Zahra.


"Tadi sewaktu anda menitipkan istri anda, beberapa menit kemudian saya masuk kedalam untuk mengecek keadaan pasien mas. Dan saya mendapati mbak Zahra sedang muntah-muntah dan setelah itu kondisi nya drop," balas suster jaga, mewakili dokter yang sedang memeriksa keadaan ning Zahra.


"Ya, tadi sebelum turun.. gus Umar sempat menitipkan ning Zahra pada suster jaga.


Gus Umar terlihat sangat khawatir, tatapan nya terus tertuju pada dokter yang sedang memeriksa istri nya.


"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya gus Umar, begitu dokter selesai memeriksa keadaan istri nya.


Dokter tersebut menggeleng lemah, "kita harus memindahkan istri Anda ke ruang ICU mas, kondisi nya sangat kritis," terang dokter tersebut dengan wajah yang nampak khawatir.


"Lakukan saja yang terbaik untuk istri saya dok, tolong,,," pinta gus Umar dengan memohon.


Dokter tersebut menepuk bahu gus Umar dengan penuh rasa empati, dan kemudian memberikan kode kepada para suster untuk segera membawa pasien ke ruang ICU.


Ruang ICU atau ntensive care unit, adalah ruangan khusus yang disediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat. Ruangan ini dilengkapi dengan peralatan medis khusus yang digunakan untuk menunjang proses pengobatan dan pemulihan pasien.


Gus Umar mengikuti langkah cepat para suster, yang mendorong brankar pasien menuju ruang ICU.


"Maaf, anda tidak diijinkan untuk ikut masuk mas," ucap salah seorang suster yang menghalangi langkah gus Umar, tatkala suami ning Zahra itu ingin ikut masuk dan memastikan keadaan sang istri.


"Anda hanya boleh mengunjungi nya di waktu-waktu yang telah di tentukan, dan selanjutnya.. anda bisa, memantau keadaan istri anda dari jendela kaca di sebelah sana," terang suster tersebut, sambil menunjuk ke sisi ruangan tersebut.


Gus Umar mengangguk lemah, "baik sus, makasih," balas nya, seraya melangkah dengan gontai menuju bangku ruang tunggu dan kemudian mendudukkan diri di sana dengan perasaan yang campur aduk tak karuan.


Terlintas kembali, bagaimana tadi gus Umar melihat Aida yang tiba-tiba pingsan dan mengalami pendarahan.. dan wajah pucat itu di bopong oleh laki-laki dewasa yang merupakan mantan suami Aida, dan sampai saat ini gus Umar belum mengetahui bagaimana kondisi Aida dan bayi nya.


Dan sekarang, istri yang tadi ditinggalkan dalam keadaan tidur lelap.. tiba-tiba drop dan harus di rawat secara intensif di ruangan khusus, yang tak seorang pun boleh menemani ning Zahra.


Gus Umar menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembus nya perlahan, "aku harus kasih kabar sama abah dan umi, juga abi dan umi." Gumam gus Umar pada diri nya sendiri.


Pemuda kharismatik dengan wajah lelah itu kemudian melakukan panggilan kepada abah nya,


tut,, tut,,

__ADS_1


Tepat pada dering ke dua, panggilan gus Umar di angkat oleh kyai Abdullah. "Assalamu'alaikum gus, ada apa?" Tanya sang abah dari seberang sana.


"Wa'alaikumsalam abah,, Umar mau mengabarkan keadaan ning Zahra bah," lirih gus Umar, yang sebenarnya tak tega menambah beban kedua orang tua nya.


"Iya gus, ning Zahra kenapa?" Tanya kyai Abdullah yang terdengar tidak sabar menanti penjelasan putra nya.


"Ning Zahra drop, dan saat ini di rawat di ICU," gus Umar mendesah pelan, "abah enggak perlu kemari sekarang, toh percuma.. karena ning Zahra belum bisa dikunjungi, abah dan umi fokus saja dulu pada dik Aida," lanjut gus Umar buru-buru, agar abah nya tetap menunggui Aida saja.


"Sampean yakin gus? Tidak apa-apa sendirian di sana?" Tanya kyai Abdullah memastikan.


"Nggih abah, palingan nanti saat waktu dhuhur tiba.. harus ada yang gantian menunggu di sini, agar jika ning Zahra membutuhkan sesuatu ada keluarga yang jaga," balas gus Umar.


"Baik gus, nanti kalau abah sudah tahu kondisi Aida dan bayi nya.. kami akan segera menyusul ke sana. Sudah dulu ya gus, seperti nya operasi nya sudah selesai. Assalamu'alaikum,,," tanpa menunggu jawaban gus Umar, kyai Abdullah memutus panggilan gus Umar secara sepihak.


"Wa'alaikumsalam warohmah wabarokah,," lirih gus Umar, dan kemudian menyimpan kembali ponsel nya di dalam saku.


Gus Umar terpekur seorang diri di bangku panjang ruang tunggu, seraya memanjatkan do'a untuk sang istri dan juga untuk Aida dan bayi nya.


"Keluarga dari pasien Zahra,,," panggil suster jaga, yang mengejutkan gus Umar dari kekhusyukan do'a nya.


"Mbak Zahra ingin berbicara pada suami nya," jelas suster tersebut.


"Iya, saya suami nya," balas gus Umar.


"Baik, kalau begitu ikuti saya," suster tersebut segera masuk kedalam ruang ICU yang diikuti oleh gus Umar.


"Silahkan cuci tangan dan pakai ini," sebelum masuk ke bilik-bilik pasien, gus Umar dianjurkan untuk memakai jubah berwarna hijau yang steril, memakai masker serta di haruskan untuk mencuci tangan.


"Kalau bawa ponsel, bisa titipkan pada kami dulu mas," pinta suster tersebut.


Gus Umar pun menyerahkan ponsel nya kepada suster jaga, "saya sudah bisa masuk sus?" Tanya gus Umar.


Suster tersebut mengangguk, "silahkan, istri anda di sebelah sana," suster tersebut menunjuk salah satu bilik, dimana ning Zahra sedang dirawat.


"Makasih sus," gus Umar segera melangkah menuju bilik sang istri.

__ADS_1


Begitu memasuki bilik ning Zahra, hati gus Umar mencelos... menyaksikan begitu banyak alat medis yang menempel pada tubuh sang istri.


Gus Umar duduk dengan perlahan di kursi yang telah tersedia di samping ranjang pasien, dan pandangan nya tertuju pada peralatan monitoring yang berada di samping ranjang pasien.


Layar tersebut memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darah,,, termasuk saturasi oksigen pasien.


Pandangan gus Umar beralih ke tubuh sang istri, yang di pasangi alat ventilator yaitu alat bantu pernafasan yang dimasukkan melalui lubang hidung nya.


Jarum infus, juga masih menancap di pergelangan tangan kiri ning Zahra, yang berguna untuk memenuhi kebutuhan cairan, nutrisi, dan obat selama pasien tersebut dirawat... karena pasien tidak bisa mengkonsumsi makanan seperti biasa.


Selain itu, terpasang pula selang makanan yang dimasukkan langsung ke pembuluh darah,,, agar nutrisi pasien bisa tetap terjaga.


Kateter juga dipasang di tubuh ning Zahra untuk membantu pasien buang air. Sehingga, pasien tidak perlu bangun atau berjalan menuju kamar mandi.


Berkali-kali gus Umar menyebut asma Allah, memohon ampunan dan memohon kebaikan untuk istri nya. Tanpa disadari, bulir bening menetes dari sudut netra nya dan membasahi punggung tangan ning Zahra.. hingga membuat ning Zahra yang tadi nya terpejam, kini membuka mata nya.


"Gus,,," ning Zahra membuka mulut nya, namun suara nya tak terdengar. Kalah dengan suara bising mesin monitor, yang memantau detak jantung nya sendiri.


Gus Umar menggenggam tangan kurus sang istri, dan mendekatkan telinga nya agar bisa mendengar apa yang di ucapkan sang istri.


"Ada apa ning?" Bisik gus Umar bertanya.


"Zahra pengin ketemu sama dik Aida, Zahra pengin meminta dik Aida untuk menjaga jenengan gus... dan Zahra juga mau minta, agar diijinkan untuk merawat anak nya jika sudah lahir." Lirih ning Zahra dengan terbata.


Gus Umar terdiam mendengar permintaan sang istri.


"Sekarang gus, tolong panggilkan dik Aida.. suruh dia ke rumah sakit." Pinta ning Zahra, seraya menatap suaminya dengan penuh permohonan.


"Mumpung Zahra masih sempat ngomong gus..." lanjut nya dengan netra yang mulai berembun.


Gus Umar tak kuasa menahan sesak di dada nya mendengar perkataan sang istri yang bagai isyarat itu, tapi pemuda itu mencoba sekuat hati agar tidak menangis. Gus Umar menciumi punggung tangan sang istri, untuk saling menguatkan diri.


"Jangan bicara seperti itu ning, yakinlah kamu pasti sembuh.. kamu akan punya banyak kesempatan untuk bertemu dik Aida dan kalian bisa bermain bersama anak nya," hibur gus Umar.


Ning Zahra menggeleng pelan, "Zahra takut gus,, Zahra takut tidak sempat mengatakan nya."

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2