Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 61 : Mbak Ning...


__ADS_3

Ryan, yang baru bangun dari tidur nya ketika matahari telah bersinar dengan terang,,, mencoba mengingat pertemuan nya dengan teman nya tadi malam.


Sepanjang pertemuan dengan teman laki-laki nya itu, Ryan sama sekali tidak dapat menangkap apa yang di bicarakan oleh teman sesama kontraktor nya itu. Karena benak Ryan telah dipenuhi oleh kenyataan menyakitkan, bahwa ternyata selama ini Angel membohongi diri nya.


Dan penyesalan terbesar Ryan adalah, karena dia tak pernah menggubris saran Aida untuk memeriksakan kembali kesuburan nya pada dokter ahli yang lain. Karena di dalam otak Ryan telah terdoktrin, bahwa diri nya tak bisa memiliki keturunan.


Hingga saat mengetahui kenyataan, bahwa Aida hamil.. di tambah netra nya menangkap sosok pak RW yang baru keluar dari kediaman nya, rasa cemburu nya yang berlebih telah membutakan bukan hanya mata tapi juga hati nurani nya,,, hingga dia tega mengusir Aida, tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenaran nya.


Namun penyesalan Ryan seperti nya sia-sia belaka, sebab sang ibu yang di awal-awal masih mencari-cari kemungkinan keberadaan Aida.. dan sangat berharap putra nya melakukan tes DNA seperti yang pernah ditawarkan Aida di hari itu untuk membuktikan kebenaran nya, kini bu Retno pun telah pasrah karena hampir empat bulan mencari tetapi nihil.


"Kamu kenapa sih, dari tadi di ajak berhitung malah bengong saja?!" Gerutu laki-laki yang seumuran dengan Ryan, dengan raut wajah kesal.


Ryan menarik nafas dalam-dalam, dan menghembus nya dengan kasar. Menggerus batang rokok nya yang masih separo kedalam asbak, dan kemudian menyesap kopi nya perlahan.


"Ini proyek besar Ryan,, mencapai ratusan Milyar! Dan kita pasti untung banyak jika main di proyek ini, fokus bro.. come on??" Laki-laki tersebut terus menyemangati.


Ryan memijit pelipis nya yang terasa berdenyut, "sorry Han, aku lagi gak bisa mikir.. aku pulang dulu, lain waktu kita bahas lagi." Pamit Ryan, dan segera bergegas meninggalkan Farhan yang masih terbengong-bengong dengan sikap Ryan yang tak seperti biasa nya.


Sesampai nya di rumah, lampu ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan semua nya masih menyala.. rupa nya kedua orang tua nya masih menanti kepulangan Ryan.


"Bapak, ibu,, kok belum sare. Tadi kan Ryan sudah pesen sama ibu, bapak dan ibu istirahat saja.. ndak usah nunggu Ryan," lanjut Ryan, seraya mendudukkan diri nya di sofa empuk, persis di sebelah sang ibu.


"Ibu mu mana bisa tidur nyenyak, kalau kamu belum pulang Ryan.. ibu mu khawatir, kamu mabuk lagi dan melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri mu sendiri nanti nya," balas ayah Ryan, mewakili sang istri.


Ryan mengangguk mengerti, "maaf kan Ryan bu, Ryan sering membuat ibu khawatir," ucap Ryan dengan tulus, seraya memeluk pundak sang ibu.

__ADS_1


Ryan memang sangat dekat dengan ibu nya, dia juga tipe anak mama yang selalu nurut apa perkataan sang ibu.


Bu Retno menepuk-nepuk pelan paha sang putra, "itu karena ibu sayang sama kamu Ryan, ibu ingin melihat mu bahagia sebelum kami meninggal," lirih bu Retno, dengan netra yang telah berembun.


Seketika dada Ryan kembali terasa sesak, teringat dengan jelas obrolan Angel dengan pacar bandot tua nya tadi. Tangan kiri Ryan mengepal sempurna, dia sangat menyesal karena tadi belum sempat memberikan pelajaran pada Angel.


"Bu,,," panggil Ryan, seraya menatap netra sang ibu yang sudah mulai keruh. "Tadi Ryan lihat Angel,,," lirih nya.


Bu Retno mengernyit,


Ryan kemudian menceritakan semua yang telah dia dengar dari mulut mantan istri nya itu, secara detail.


Bu Retno menutup mulut karena saking terkejut nya, "apa?! Jadi kamu,, kamu bisa memiliki anak Ryan?" Bu Retno langsung memeluk sang putra.


Sementara ayah Ryan juga terlihat tersenyum bahagia, mengetahui bahwa sang putra ternyata tidak mandul.


Ryan menggelengkan kepala, "enggak perlu melibatkan polisi ma, Ryan yang telah salah mengusir Aida ma,, dan Aida pergi bukan karena kabur," tolak Ryan tak setuju.


"Tapi Ryan akan minta bantuan temen-teman, untuk mencari keberadaan Aida dan calon anak kami," pungkas Ryan, dan kemudian segera berlalu menuju kamar nya.


Bu Retno dan sang suami pun segera menuju kamar mereka, untuk beristirahat.


Sesampainya di dalam kamar, Ryan yang lelah jiwa dan raga nya.. langsung terkulai di tempat tidur, tanpa sempat berganti baju.


@@@@@

__ADS_1


Di ruko milik Aida,,,


Mbak Ning yang baru saja menitipkan Tio pada bu Dibyo yang baru saja pulang dari rumah sakit, kini tengah bersiap menata bekal makanan untuk Aida dan untuk diri nya sendiri.


Tak lupa, mbak Ning membawakan tambahan pakaian ganti dan pembalut untuk Aida. Dan setelah semua nya beres, mbak Ning bergegas keluar dari ruko untuk menuju rumah sakit di jantung kota.


Rumah sakit terbesar, yang direkomendasikan bu bidan yang memiliki peralatan medis serba canggih Dan m dokter spesialis yang handal.


Mbak Ning sempat membalas sapaan dan pertanyaan para tetangga yang kebetulan sedang ramai berbelanja di toko nya mbak Ambar, sebelum ojek di pangkalan yang tak jauh dari komplek ruko yang baru saja di panggil nya dengan melambaikan tangan datang menghampiri.


"Mari ibu-ibu, saya permisi dulu nggih," pamit mbak Ning dengan sopan, dan kemudian segera naik ke motor ojek setelah sebelum nya menyerahkan barang bawaan nya untuk di simpan di bagian depan. Mbak Ning memutuskan untuk naik ojek, karena biar lebih cepat sampai rumah sakit.


"Salam buat Aida ya Ning, semoga lekas sehat," mbak Ning masih bisa mendengar teriakan beberapa ibu yang berbelanja sayuran, diantara deru motor ojek yang telah di starter oleh pemilik nya.


Mbak Ning hanya mengangguk dan melempar senyum, sebelum akhir nya ojek motor yang membawa mbak Ning melesat menuju rumah sakit.


Hanya butuh waktu dua puluh menitan, ojek yang membawa mbak Ning tiba di pelataran rumah sakit. Setelah membayar ongkos ojek dan mengambil barang nya dari tangan kang ojek, mbak Ning berjalan sedikit lebih cepat masuk kedalam rumah sakit.


Lantai tiga adalah tujuan nya kini, ruang khusus ibu dan anak kelas satu dengan nomor kamar sebelas. Mbak Ning terlihat gugup menanti pintu lift terbuka, karena seumur-umur ini adalah kali pertama dia akan memasuki kotak besi tersebut.


Entah apa isi di dalam sana, mbak Ning pun sama sekali tidak memiliki gambaran. Apalagi mbak Ning tidak bisa membaca, dia hanya tahu angka.. dan sedari pagi tadi, bu Dibyo yang langsung menuju ke ruko nya memberikan arah petunjuk sesuai yang bisa dia pahami.


"Nanti begitu sampai loby rumah sakit, mbak Ning cari saja kayak pintu kamar berwarna silver di pojok kanan. Terus mbak Ning pencet angka tiga, kalau pintu sudah kebuka mbak Ning langsung masuk saja kedalam lift,,," terngiang kembali petunjuk dari bu Dibyo yang dia hafalkan agar tidak tersesat, dan netra nya hanya fokus memandangi lampu yang berbentuk angka berwarna merah di atas pintu yang berganti-ganti angka.


Dan suara seorang gadis yang menyapa nya, membuyarkan konsentrasi ibu nya Tio tersebut. "Mbak Ning,,,,"

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2