
"Wa'alaikumsalam,," jawab salam gus Umar, dan semua yang hadir di sana.
Sejenak Ryan terpaku di tempat nya, hingga suara penuh wibawa milik kyai Abdullah.. mengejutkan Ryan dari kebingungan yang sempat mengusik benak nya.
"Silahkan masuk nak Ryan, bu.." tutur kyai Abdullah mempersilahkan, dan Aida langsung berdiri untuk menyambut tamu nya tersebut.
Bagaimana pun dan seburuk apapun perlakuan mereka di masa lalu, mereka tetap lah tamu yang harus di hormati.
Aida mengulurkan tangan nya untuk menjabat tangan bu Retno, dan mencium punggung tangan wanita tua itu dengan sopan.
Ryan pun mengulurkan tangan nya pada Aida, hendak bersalaman. Namun dengan tegas, Aida menolak dengan menangkup kedua tangan nya di depan dada seraya mengangguk
Ryan yang mengerti bahwa kini mereka bukan lagi mahrom, hanya bisa menunduk lesu.
Aida segera menuntun bu Retno untuk duduk, yang diikuti oleh Ryan yang masih bertanya-tanya dalam hati.
"Ada apa ya? Kenapa kyai Abdullah dan keluarga bisa berada di sini? Dan seperti nya mereka sedang ngobrol serius?"
"Maaf kak, bisa di tunda sebentar nggih?" Pinta Aida, seraya menatap gus Umar.
Gus Umar mengangguk, dan tersenyum penuh pengertian.
"Maaf ibu, mas Ryan. Ada apa ya, mas Ryan dan ibu datang ke tempat Aida?" Tanya Aida, yang tak ingin berlama-lama memendam tanya dalam hati.
"Mmm,,,"
"Tidak ada apa-apa dik, kami hanya ingin bersilaturahim," potong Ryan cepat, sebelum ibu nya menyampaikan maksud kedatangan mereka.
"Oh,,," balas Aida pendek.
"Ryan?!" Protes sang ibu, tapi Ryan menggeleng tanda tak setuju jika ibu nya kekeuh ingin menyampaikan maksud kedatangan mereka berdua sekarang,, di saat ada banyak tamu di tempat Aida.
"Tidak apa-apa kan dik, kalau kami berkunjung?" Tanya Ryan, memastikan. "Kami juga ingin tahu keadaan kesehatan kamu," lanjut nya penuh perhatian.
"Tidak apa-apa mas," balas Aida, "keadaan ku Alhamdulillah sangat baik," lanjut nya jujur.
__ADS_1
Ryan mengangguk-angguk dan tersenyum lebar.
"Karena mas Ryan dan ibu hanya ingin bersilaturahim, Aida rasa.. yang tadi bisa jenengan lanjutkan kembali kak," ucap Aida, yang tak mau menunggu berlama-lama.. ingin mendengar secara langsung, apa yang akan disampaikan gus Umar kepada diri nya.
"Baik dik," gus Umar menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga paru-paru nya, dan kemudian menghembuskan nya perlahan untuk menetralkan degup jantung nya yang mulai tak beraturan.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim,,," gus Umar mengawali perkataan nya dengan membaca basmallah, dan itu terdengar sangat menyejukkan bagi Aida.
Degung jantung Aida pun turut berpacu dengan waktu, seakan tak mau kalah dengan bunyi detik jam di dinding yang terdengar begitu jelas.
Aida pun menghela nafas panjang, untuk menetralkan debaran jantung nya yang seakan berlompatan ingin keluar.. dan turut menyaksikan momen bahagia itu.
"Kedatangan ku kemari, dengan di temani abah, umi serta Laila...bukan hanya untuk diriku pribadi dik. Melainkan juga untuk dirimu, yang insyaallah akan segera menjadi prioritas dalam hidupku setelah agama ku."
"Aku ingin dik Aida bersedia menjadi perhiasan terindahku, menjadi pelangi di hidup ku, dan menjadi embun penyejuk hati." Gus Umar menatap Aida dengan tatapan penuh kasih, di saat yang sama Aida juga tengah menatap nya dengan penuh kekaguman.
"Izinkan aku, dengan segala perasaan yang dititipkan Allah selama ini membuat pengakuan. Sudah sejak sangat lama, aku menyukai mu dik, aku mencintai mu dengan sepenuh hatiku dik Aida..." sejenak gus Umar menghentikan ucapan nya, dan kembali menatap Aida dengan intens.
Ryan terpaku di tempat nya, tanpa dapat dia cegah.. kristal bening terjun bebas dari sudut netra nya dan membasahi wajah Ryan yang kini di penuhi bulu-bulu kasar.
Sedangkan Aida merasa terharu, hati nya bergetar.. dan netra indah nya mulai berkaca-kaca. "Aku pun sudah sangat lama menyukai mu kak, aku pun sangat mencintai mu," bisik Aida dalam hati.
"Meski kemarin kita sempat tak bersama, tapi aku selalu menjagamu dan menyebut nama mu di setiap do'a ku dik." Gus Umar mengatakan nya dengan sungguh-sungguh, dan itu membuat punggung Aida berguncang karena menahan tangisan haru.
Mbak Ning dengan penuh kelembutan mengusap-usap punggung adik angkat nya itu.
"Dan hari ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku pada mu dik... Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jadilah pendamping hidupku dik, menikah lah dengan ku..." ucap gus Umar dengan suara bergetar, dibarengi dengan air mata yang turun membasahi wajah tampan nan kharismatik itu.
Sejenak, ruangan itu menjadi hening.. hanya sesekali terdengar isakan kecil dari mulut Aida.
Kini kedua nya saling pandang, dengan netra yang sama-sama telah basah oleh air mata kebahagiaan.
Sedangkan Ryan, masih menangis dalam diam.. menyesali semua yang telah terjadi.
Bu Retno pun masih membisu, nampak shock menyaksikan semua yang terjadi di hadapan nya.
__ADS_1
Yang lain juga ikut terharu, mendengar pengakuan jujur gus Umar.. dan isakan kecil Aida.
Nyai Robi'ah bahkan ikut tersedu, begitu pula dengan kyai Abdullah yang nampak berkaca-kaca.
Kyai kharismatik itu merengkuh pundak sang istri, dan memeluk nya erat. "Semoga Allah meridhoi niat baik putra kita umi," bisik kyai Abdullah, yang diaminkan oleh nyai Robi'ah dan juga Laila yang duduk di samping sang umi dan masih bisa mendengar bisikan abah nya.
"Aamiin,,"
Sedangkan gus Umar masih menatap Aida, menanti jawab wanita yang nama nya tersimpan dan terjaga rapi di kedalaman hati nya itu.
Dan sedetik kemudian, Aida mengangguk pasti. "Bismillahirrahmanirrahim,,," suara Aida terdengar bergetar menahan isak, "iya kak, Aida mau mendampingi kak Umar, Aida mau menikah dengan kak Umar," lanjut Aida dengan lancar dan dengan tersenyum lebar.
"Alhamdulillaahirobbil'aalamiin,,," ucap syukur gus Umar, seraya mengusap wajah dengan kedua tangan nya. Yang lain pun melakukan hal yang sama, kecuali Ryan dan bu Retno.
Ryan menutup wajah nya, dan semakin dalam menangis. Sedangkan bu Retno, nampak tersenyum masam.
Mbak Ning bahkan langsung memeluk Aida yang duduk di samping nya, begitu pula dengan bu Dibyo.. "ibu senang mendengar nya nak, semoga setelah ini.. hanya ada kebahagiaan dalam hidup nak Aida," do'a bu Dibyo dengan tulus.
"Aamiin.. terimakasih bu," balas Aida yang semakin mengeratkan pelukan nya pada wanita paruh baya, yang sudah menganggap diri nya seperti anak sendiri itu.
Gus Umar tak henti menyunggingkan senyum kebahagiaan, dan memeluk pundak sang adik yang duduk tepat di samping nya. "Makasih atas dukungan nya selama ini, adikku," lirih gus Umar.
"Tapi ini enggak gratis lho kak,,," balas Laila, seraya tersenyum penuh arti.
Gus Umar mengernyit kan kening nya, "maksudnya?"
"Kak Umar harus segera memberi Laila keponakan yang banyak dan lucu-lucu," balas Laila dengan memainkan kedua alis nya.
Gus Umar geleng-geleng kepala seraya tersenyum, dan menoyor kening sang adik dengan pelan.
Nyai Robi'ah dan kyai Abdullah tersenyum, begitu pula dengan pak Dibyo dan bu Dibyo.
Mbak Ning pun tersenyum tapi malu-malu mendengar permintaan Laila tersebut.
"Turuti aja kak, sepulang dari sini ajak Laila ke Pet Shop dan belikan anak kucing yang banyak yang untuk nya," ucap Aida, sembari mengusap sisa air mata di wajah nya dengan tissue dan terkekeh kecil.
__ADS_1
Dan candaan Aida, disambut tawa oleh semua yang hadir di sana,,, termasuk Ryan, yang sudah mulai bisa menerima keputusan Aida.