Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 22 : Main Bola Bareng


__ADS_3

Sementara itu, di hotel tempat keluarga kyai Abdullah menginap,, Laila yang sedang berada di kamar kakak nya nampak tengah bersedih, pasal nya sampai detik ini dia tidak bisa menghubungi sahabat nya.


"Kak, Laila takut sesuatu terjadi pada mereka,,," rengek Laila, dengan bulir bening yang telah jatuh membasahi kedua pipi nya.


"Sstt,,, jangan berpikiran yang buruk-buruk, lebih baik do'akan saja agar bibi Aini dan Aida baik-baik saja," balas gus Umar yang berusaha menghibur sang adik, padahal diri nya sendiri saat ini pun tengah di landa kegelisahan.


"Dik, kamu balik ke kamar mu sana gih,, kakak butuh istirahat, karena semalaman kakak cuma tidur sebentar di Masjid," pinta gus Umar mengusir adik nya dengan halus.


Laila mengangguk, dan kemudian segera beranjak pergi meninggalkan kamar sang kakak.


Setelah kepergian Laila, gus Umar menjatuhkan tubuh lelah nya di atas pembaringan. Ingatan nya kembali melayang pada mimpi nya semalam, setelah gus Umar melaksanakan sholat istikharoh di Masjid dan kemudian diri nya tertidur sebentar di atas sajadah nya dengan posisi sujud.


Dalam mimpi nya, gus Umar melihat calon pengantin nya adalah ning Zahra... namun tak berapa lama berselang, ning Zahra menghilang dan kemudian datanglah Aida yang menggantikan ning Zahra duduk di pelaminan.


Di mimpi yang lain, gus Umar melihat bibi Aini juga bersanding dengan paman Dahlan, ayah nya Aida. Wajah bibi Aini terlihat berseri-seri, "apa arti mimpiku semalam ya Allah,," gumam gus Umar, seraya mengusap wajah nya dengan kasar.


Gus Umar mengambil ponsel milik nya yang tergeletak di atas nakas, dan kemudian mencoba mendial nomor Aida yang sudah Laila simpan di ponsel nya. Gus Umar berharap, kali ini ada jawaban dari pemilik nomor tersebut. Tetapi lagi-lagi, nomor Aida sedang tidak aktif.


"Ada apa dengan kamu dik? Kenapa hingga berhari-hari kamu tidak mengaktifkan ponsel mu? Apakah kamu baik-baik saja di sana?" Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala gus Umar, pemuda tampan itu sangat mengkhawatirkan keadaan Aida dan juga ibu nya.


"Bagaimana jika benar apa yang di katakan abah, kalau kemungkinan bibi Aini atau Aida sudah menerima undangan pernikahan ku dengan ning Zahra? Ah,,, Aida pasti sangat sedih. Apa karena itu, Aida tidak mau mengaktifkan ponsel nya? Apa Aida benar-benar kecewa pada ku?" Membayangkan wajah kecewa Aida yang membaca undangan pernikahan nya, netra gus Umar jadi berkaca-kaca.


"Maaf kan aku dik, maaf... aku telah membuat mu kecewa. Aku laki-laki yang tidak bisa tegas dan memperjuangkan cinta kita, maafkan aku... maaf.." lirih gus Umar, yang menyesali ketidakberdayaan nya.


@@@@@


Jelang pagi hari di kediaman Ryan, Aida yang baru membuka mata nya di buat terkejut karena ada tangan kekar yang melingkar di atas perut nya. "Masyaallah,, aku lupa kalau udah nikah," gumam Aida, seraya mengusap kasar wajah nya.

__ADS_1


Aida menatap suami nya yang masih terlelap, senyuman terbit di sudut bibir nya, "syukurlah, mas Ryan tidak memaksaku untuk melayani nya semalam. Tapi tetap saja aku sulit memejamkan mata, karena tangan nya terus memelukku seperti ini.. aku jadi merasa tidak bebas bergerak," dengan perlahan, Aida menyingkirkan tangan sang suami.


Dengan hati-hati, Aida bangkit dari ranjang besar tempat nya semalam tidur dengan Ryan, "udah hampir jam lima, aku harus segera mengambil air wudlu," Aida bergegas melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan kilat dan kemudian bersuci.


Tak lebih dari lima menit, Aida sudah keluar dengan mengenakan handuk kimono.


"Dik, kamu sudah mandi?" Tanya Ryan, yang terbangun karena mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Aida mengangguk, "mas, ayo kita sholat shubuh berjama'ah.. waktu shubuh udah hampir habis," ajak Aida pada suami nya, yang malah menarik selimut nya kembali hingga menutupi separuh tubuh nya.


"Mas, masih ngantuk dik. Kamu saja yang sholat, mas juga sudah lupa cara sholat," balas Ryan tanpa dosa, dengan mata yang telah kembali terpejam.


Aida menggeleng-gelengkan kepala nya dan mendesah pelan, "astaghfirullaahal'adzim.. lupa cara nya sholat? Sudah berapa lama memang nya mas Ryan enggak sholat?" Aida bertanya pada diri nya sendiri.


"Sebaik nya aku segera sholat, kapan-kapan saja kalau ada waktu tepat, aku bicarakan hal ini dengan mas Ryan," lirih Aida seraya berganti pakaian, dan kemudian Aida menggelar sajadah nya di sudut kamar.


Aida menjalankan ibadah sholat shubuh dua rakaat dengan khusyuk, setelah mengucap salam.. Aida membaca wirid dan di lanjut kan dengan berdo'a. Jika biasa nya, Aida hanya berdo'a untuk kedua orang tua dan untuk diri nya sendiri. Kali ini Aida juga mendo'akan sang suami agar diberikan hidayah oleh Allah, sehingga suami nya kembali mau melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Astaghfirullaahal'adzim,, tidak, aku tidak boleh mengingat nya lagi. Memang aku akui, gus Umar adalah calon imam yang ideal. Pandai ilmu agama dan rajin beribadah. Tapi, siapapun yang menjadi suami ku kini, aku harus menerima nya dengan ikhlas.. semoga Allah membimbingku untuk bisa menunjukkan kepada mas Ryan, jalan kebenaran," lirih Aida.


Aida segera melepas mukena dan melipat nya, membereskan sajadah dan kemudian menyimpan nya kembali di tempat semula.


Aida menatap sejenak suami matang nya, menarik nafas dalam dan menghembus nya perlahan. "Sebaik nya aku ke dapur saja, bantu bibi masak," Aida segera mengenakan hijab dan bergegas meninggalkan kamar nya.


"Bi, masak apa?" Tanya Aida, setelah diri nya sampai di dapur dan melihat bibi tengah meracik bumbu.


"Eh, mbak.."

__ADS_1


"Aida bi, panggil saja Aida," Aida memperkenalkan diri nya.


"Nggih mbak Aida, saya bibi Minah," balas bibi ART tersebut, "ini mbak, bibi lagi bikin bumbu ayam kuah kuning kesukaan mas Ryan," lanjut bibi Minah, sambil meneruskan mengulek bumbu.


"Emang mas Ryan suka nya masakan apa saja bi?" Tanya Aida, yang ingin tahu banyak tentang suami nya.


Mendengar nyonya rumah yang baru begitu peduli pada momongan sekaligus majikan nya itu, bi Minah dengan senang hati memberitahukan semua tentang Ryan. Tentang makanan kesukaan, tentang kebiasaan nya dan hal-hal yang tidak di sukai Ryan.


Aida mendengar kan sambil membantu bi Minah mengupas bawang merah, sesekali Aida nampak mengernyit dan kemudian mengangguk-angguk.


"Wah, mas Ryan beruntung sekali ya punya istri muda, cantik dan pengertian seperti mbak Aida. Bibi do'akan, semoga pernikahan mbak Aida dan mas Ryan bahagia terus dan langgeng," ucap bibi Minah usai mengatakan semua nya tentang Ryan.


"Aamiin,,"


"Mbak Aida ini beda sama istri pertama mas Ryan yang minggat, orang nya sombong dan anti sama pekerjaan rumah," keluh bi Minah, "di mata dia, apa yang bibi kerjakan selalu salah," lanjut nya sambil geleng-geleng kepala.


Aida tersenyum,, "sudah bi, enggak baik membicarakan perihal orang lain. Oh ya bi, tadi bibi bilang mas Ryan suka nasi goreng ya?" Aida mengalihkan pembicaraan.


"Iya mbak."


"Saya akan membuatkan nasi goreng untuk mas Ryan, masak ayam kuah kuning nya bisa nanti saja untuk makan siang. Silahkan bibi kalau mau mengerjakan yang lain," ucap Aida.


"Beneran mbak Aida mau masak sendiri? Nanti kalau mas Ryan marah sama bibi gimana mbak? Ini kan tugas bibi?" Bi Minah merasa tak enak hati.


"Saya enggak akan marah bi, saya seneng malah kalau dimasakin sama istri yang cantik," ucap Ryan, yang entah sejak kapan sudah berada di dapur.


"Dah, sana.. bibi kerjakan yang lain. Saya mau menemani istri saya masak," lanjut Ryan, seraya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Siapa tahu habis masak bareng, istri ku mau di ajak main bola bareng," gumam Ryan dalam hati.


bersambung,,,


__ADS_2