Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 27 : Menjadi Istri yang Seutuhnya


__ADS_3

Sore hari nya di kediaman Aida, Aida dan Ryan tengah bersiap untuk berangkat ke ibukota.. karena proyek Ryan yang di sana akan segera di mulai.


Meski berat rasa nya meninggalkan rumah masa kecil nya, apa lagi di saat tanah makam sang ibu masih basah.. tapi sebagai seorang istri, Aida harus mengikuti kemauan sang suami seperti yang diajarkan ustadz ngaji nya di pesantren.


"Dik, apa kamu sudah siap?" Tanya Ryan mendekati istri nya yang masih terdiam di depan cermin.


Aida menoleh, "iya mas, Aida sudah siap," balas Aida seraya membetulkan jarum pentul di kepala nya.


"Ayo berangkat, kita harus buru-buru.. mas takut kalau jalanan macet, kita bisa terlambat sampai ke bandara," Ryan segera membawa kan koper milik Aida di tangan kanan nya, dan tangan kekar Ryan yang satu nya menggandeng sang istri keluar dari kamar.


"Kalian berangkat sekarang?" Tanya bu Retno yang sudah menunggu di teras rumah Aida bersama ayah nya Ryan. Di sana ada juga mbak Ning dan anak nya yang masih kecil, wajah mbak Ning terlihat sangat sedih.


"Iya bu, kami harus segera berangkat," balas Ryan seraya menyerahkan koper milik Aida kepada sopir pribadi bu Retno, dan sopir tersebut kemudian memasukkan koper milik istri anak majikan nya ke dalam bagasi mobil.


Ryan dan Aida kemudian berpamitan pada bu Retno dan pak Bandi, "jaga istri mu baik-baik Ryan," pesan bu Retno pada putra nya, bu Retno berharap putra nya tidak mengalami kegagalan lagi dalam berumah tangga.


Ryan mengangguk, "pasti bu," balas nya singkat.


Bu Retno memeluk Aida dengan erat, "ibu percaya, kamu bisa menjadi istri yang baik untuk anak ibu," lirih bu Retno seraya menatap dalam netra indah milik Aida, sesaat setelah wanita setengah baya itu melerai pelukan nya.


"Insyaallah bu," balas Aida dengan perasaan yang sulit diungkapkan, jujur Aida masih merasa berat menerima kenyataan bahwa kini diri nya telah menjadi seorang istri dari laki-laki yang sama sekali tak dia kenali karakter nya seperti apa. Tapi Aida bertekad untuk mulai belajar menerima kehadiran Ryan di dalam hidup nya, meski mungkin cinta di hati nya sudah terpenjara oleh sosok lain.


Aida kemudian mendekati mbak Ning, dan langsung memeluk wanita muda yang usia nya tak terpaut jauh dari nya itu. Wanita yang selama ini menjadi teman setia bagi sang ibu, wanita yang sudah dianggap nya seperti kakak sendiri. "Mbak, Aida nitip makam ibu dan ayah ya?" Pinta Aida setelah melepas kan pelukan nya.


Mbak Ning hanya bisa mengangguk, dan air mata wanita muda beranak satu itu terus mengucur deras... mewakili perasaan nya saat ini.

__ADS_1


Aida menyeka air mata mbak Ning dengan penuh sayang, "udah, mbak Ning jangan nangis lagi.. nanti Aida jadi ikutan sedih," ucap Aida seraya tersenyum, mencoba menyembunyikan kesedihan di hati nya.


"Mbak, besok jangan lupa.. ponsel yang sudah Aida kasih ke mbak Ning, bawa ke counter. Mbak Ning jual aja, dan uang nya untuk tambah modal warung," pesan Aida seraya menatap mbak Ning.


Ya, semenjak ponsel Aida kehabisan daya.. Aida sama sekali belum mengisi daya baterai nya kembali, apa lagi setelah itu bertubi-tubi kejadian yang tak dia harapkan datang menyapa nya. Mulai dari pernikahan nya yang mendadak, di susul dengan kepergian sang ibu yang tiba-tiba, hingga Aida melupakan ponsel tersebut.


"Dan satu lagi mbak, kalau Laila mencari Aida.. tolong mbak Ning jangan bilang apa-apa sama dia mengenai pernikahan Aida dengan mas Ryan, Aida enggak mau Laila jadi sedih kalau mendengar cerita dari mbak Ning.. ya mbak, please..." Lirih Aida dengan penuh permohonan.


Lagi-lagi mbak Ning hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan gadis cantik putri dari ibu Aini yang sudah dianggap nya seperti ibu nya sendiri. "Neng, jaga diri neng Aida. Kalau neng Aida butuh apa-apa, jangan segan untuk menghubungi mbak lewat pak Karyo." Mbak Ning mencium pipi Aida dengan penuh kasih.


"Iya mbak," balas Aida singkat.


Pak Karyo adalah tetangga sebelah rumah Aida, istri nya pak Karyo juga sering bantu-bantu bu Aini di warung jika ada pesanan banyak dari pelanggan.


Anak kecil itu tersenyum, "da,, da,, bulek.." ucap nya seraya melambaikan tangan, tatkala Aida dan Ryan sudah berjalan menuju mobil.


Mbak Ning segera masuk ke dalam rumah, dan tak ingin melihat kepergian Aida.. karena itu hanya akan membuat air mata nya kembali tumpah.


Kendaraan yang membawa Aida dan sang suami, segera bergerak di jalanan beraspal menuju bandara. Sepanjang perjalanan, pandangan Aida terus tertuju keluar jendela. Dan ketika kendaraan itu melintas tepat di pintu gerbang pesantren tempat nya menimba ilmu agama, kembali Aida meneteskan air mata nya.


Bayangan Laila dan kenangan indah bersama putri kyai Abdullah itu melintas jelas di ingatan Aida, mereka berdua selalu pergi kemanapun bersama-sama. Dan mereka berdua juga mengukir mimpi yang sama, dan berjanji akan melanjutkan kuliah di universitas yang sama pula.


"Maaf kan aku La, aku enggak punya keberanian untuk membuka ponsel ku dan pamit sama kamu," gumam Aida dalam hati.


"Dik, kalau kamu ngantuk berbaring lah di sini," ucap Ryan seraya menepuk lembut pundak Aida, hingga membuat lamunan Aida buyar seketika. Ryan menepuk paha nya, dan mengisyaratkan agar Aida menjadi kan paha nya sebagai bantal.

__ADS_1


Aida menggeleng pelan, "Aida enggak ngantuk kok mas," tolak Aida dengan halus.


"Kalau begitu bersandar lah di bahu mas, biar mas bisa memeluk mu," pinta Ryan, seraya memeluk pinggang sang istri.


Aida pun menurut, karena dia sedang gak ingin berdebat sekarang.


Ryan menciumi puncak kepala istri kecil nya itu dengan penuh kasih, "dik,," panggil Ryan lembut.


Aida mendongak, menatap suami nya.


Dan di saat yang sama, Ryan melabuhkan ciuman di bibir sang istri.


Awal nya Aida sangat terkejut dan berusaha melepaskan diri, namun Ryan tak ingin melepaskan nya. Tangan kanan Ryan menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman nya, hingga akhir nya Aida hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan sang suami yang selama seminggu ini telah bersabar menanti.


Merasa tak ada lagi penolakan dari istri nya, Ryan semakin memperdalam ciuman nya. Ciuman yang awal nya lembut, semakin lama semakin panas. Laki-laki matang itu seolah menemukan oase di padang yang tandus,, jika tak ingat tempat, ingin dia menumpahkan semua kerinduan yang dipendam nya selama ini.


Namun Ryan masih bisa berpikir waras, dia hanya ingin meneguk sedikit embun untuk mengobati dahaga nya. Ryan segera melepaskan ciuman nya, laki-laki itu enggak mau terlalu larut karena dia khawatir akan ada yang terbangun di saat yang tidak tepat.


Ryan mengusap bibir Aida dengan ibu jari nya, dan Aida mengalihkan pandangan nya karena malu.


Aida memang belum bisa merasakan ada cinta di hati nya untuk Ryan, namun menerima perlakuan demikian dari seorang laki-laki tetap saja membuat jantung nya berdebar.


"Aku berharap, nanti malam kamu sudah siap menjadi istri ku yang seutuh nya dik," gumam Ryan dalam hati, seraya mengatur nafas nya yang masih memburu karena ciuman panas nya tadi.


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2