
"Baiklah dik, tapi jangan lama-lama sholat nya. Mas sudah ngantuk, ingin tidur sambil memelukmu," balas Ryan dengan lembut, laki-laki matang itu tak ingin membuat istri kecil nya kecewa.. yang dapat membuat malam yang diimpikan nya beberapa hari ini, menjadi berantakan.
Aida tersenyum lega, dan dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama, Aida sudah keluar dengan memakai handuk kimono.
Dengan sedikit tergesa, Aida membuka koper milik nya dan kemudian mengambil pakaian untuk ganti. Aida juga mengambil mukena milik nya yang berada di dalam tas selempang yang tadi dia bawa, "mas, apa ada mushola nya di rumah ini?" Tanya Aida dengan melembutkan suara nya, takut membuat sang suami tersinggung.
Ryan yang sedari tadi mengamati pergerakan istri nya, sedikit terkejut. Dan kemudian menggelengkan kepala nya pelan, "sholat saja di kamar ini dik, mas tidak akan mengganggumu," balas Ryan, dan laki-laki matang itu kemudian segera beranjak menuju kamar mandi.
Aida bernafas dengan lega, dengan cepat gadis manis itu berganti pakaian dan kemudian segera mengenakan mukena nya. Menggelar sajadah menghadap kiblat, dan mulai melaksanakan ibadah sholat 'isya dengan khusyuk.
Hening menyapa ruang kamar Ryan yang luas itu, hanya terdengar sayup gemericik air dari shower di dalam kamar mandi yang sedang di pakai oleh Ryan.
"Ceklek,,," terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan tepat di saat yang sama,, Aida telah menyelesaikan sholat nya.
Aida meneruskan dengan bacaan wirid ringkas karena khawatir suami nya akan marah jika diri nya terlalu lama mengabaikan sang suami. Bagi Aida saat ini, yang terpenting dia masih bisa menjalankan kewajiban nya untuk beribadah,,, itu saja sudah cukup.
Adapun keinginan nya yang lain, yaitu untuk bisa beribadah dengan tenang tanpa membuat sang suami merasa terabaikan,,, akan Aida pikirkan nanti, bagaimana cara nya? Aida hanya bisa berharap, kiranya Allah segera membuka hati Ryan agar mereka berdua bisa menjalankan ibadah bersama-sama.
"Sudah selesai dik?" Tanya Ryan, yang sudah berganti pakaian dengan piyama tidur.
Aida yang masih merapikan mukena dan sajadah nya mengangguk, "iya, sudah mas," balas nya, seraya meletakkan peralatan sholat nya tadi di atas nakas.
"Kita makan dulu yuk," ajak Ryan, dan kemudian menggamit lengan sang istri keluar dari kamar, menuju ruang makan.
Di atas meja makan, nampak menu makan malam sudah di siap kan. Seorang ART seusia Ryan, nampak tersenyum manis kepada majikan nya itu. "Selamat datang kembali mas Ryan," sapa nya dengan suara mendayu.
"Hemmm,,," Ryan menanggapi nya dengan dingin, dan kemudian segera mengajak sang istri untuk duduk.
ART itu terlihat hendak mengambilkan makanan untuk sang majikan, tapi Ryan langsung mengibaskan tangan nya. "Mirna, tinggalkan kami berdua," titah Ryan dengan ketus, hingga membuat ART yang bernama Mirna itu melirik tajam kearah Aida dan nampak tidak menyukai kehadiran Aida di rumah majikan nya.
__ADS_1
Sepeninggal Mirna, Aida kemudian melayani sang suami seperti biasa nya. Mengambilkan nasi beserta lauk dan kemudian meletakkan nya dihadapan sang suami.
Baru setelah itu, Aida mengambil makanan untuk diri nya sendiri. Malam ini, Aida hanya mengambil makanan sedikit, ada rasa belum nyaman di hati nya menginjakkan kaki di rumah suami nya yang di sini.
Aida merasa masih belum siap, jika nanti Ryan ingin melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang suami dengan memberinya nafkah batin,, meski Aida paham, bahwa melayani suami adalah kewajiban nya sebagai seorang istri.
"Dik, kok ngambil nasi nya cuma dikit?" Tanya Ryan dengan heran, "mas tambahin ya,,," Ryan hendak menyendokkan nasi untuk istri nya.
"Enggak perlu mas, segini udah cukup," balas Aida.
"Ya sudah, makan lah.. nanti tengah malam kalau kamu lapar, kita bisa makan lagi," ucap Ryan penuh perhatian. Laki-laki itu merasa sudah tidak sabar ingin membawa istri nya ke dalam kamar nya, dan mengunci nya di sana.
Mirna yang mencuri dengar pembicaraan majikan dan istri muda nya itu terlihat geram, "manis sekali sih mas Ryan sama gadis ingusan itu, apa istimewa nya dia coba?! Masih cantikan juga aku, mana body nya juga enggak sebahenol aku?! Tapi kenapa mas Ryan seolah tak pernah melihat keberadaan ku??"
"Padahal berbagai cara telah kulakukan untuk merayu nya ketika dia tidur di rumah ini, bahkan aku bela-belain masak makan malam hanya pakai lingerie untuk menarik perhatian nya?! Tapi, mas Ryan malah menertawakan aku!" Mirna bermonolog dalam diam, netra nya terus menatap tajam kearah meja makan.
Aida menyelesaikan makan nya dengan cepat, dan segera meneguk air putih hangat yang telah disediakan oleh Mirna.
Dan Ryan pun segera menghabiskan makanan nya, ketika dilihat nya sang istri telah selesai makan.
"Dik, yuk kita istirahat," usai meneguk minuman nya, Ryan segera beranjak dan mengajak sang istri untuk ke kamar.
"Mas Ryan duluan aja ya, Aida mau beresin bekas makan kita," tolak Aida dengan halus, sengaja mencari kesibukan untuk mengulur waktu.
"Udah, biar dibereskan sama Mirna. Ini tugas dia dik, dan mas sudah membayar nya," Ryan segera menyeret pelan lengan sang istri dan membawa nya masuk ke dalam kamar nya yang luas, dan laki-laki matang itu langsung mengunci pintu kamar nya dari dalam karena tak ingin kesenangan nya di ganggu.
@@@@@
Sementara itu, gus Umar dan Laila telah sampai di kediaman bibi Aini. Waktu menunjuk kan tepat pukul sembilan malam, teras rumah bibi Aini terlihat sepi dan sedikit gelap.. hanya diterangi oleh lampu bohlam lima watt.
__ADS_1
Perlahan gus Umar mengetuk pintu rumah sederhana tersebut, gus Umar mengulang nya hingga beberapa kali namun belum juga ada yang menyahut dan membuka kan pintu untuk gus Umar dan adik nya.
"Gimana kak? Kayak nya enggak ada orang nya deh,,," ucap Laila yang nampak tidak sabar, ingin segera mengetahui keadaan sahabat nya.
"Entahlah dik, enggak ada yang nyahut," balas gus Umar sambil berjalan mondar-mandir di teras rumah bibi Aini.
Kedua kakak beradik itu saling diam, dan hanya bisa menunggu barangkali orang yang berada di dalam rumah menyadari keberadaan mereka di luar dan kemudian membuka kan pintu nya.
"Mas, mbak,, kalian cari siapa?" Tanya seorang laki-laki paruh baya, yang muncul dari rumah sebelah.
"Eh, pak Karyo.." sapa Laila yang sudah bisa melihat dengan jelas laki-laki tersebut.
"Oh, ning Laila tho? Bapak pikir siapa tadi?" Balas pak Karyo yang memang sudah beberapa kali bertemu dengan Laila, kala Laila sedang bermain ke rumah Aida.
Gus Umar kemudian menyalami pak Karyo, "saya Umar pak, apa pak Karyo masih ingat saya?"
"Oalah, ya Allah... gus Umar tho? Sudah dewasa ya sekarang, mana ganteng lagi. Wah, istri nya pasti senang," pak Karyo yang pangling dengan gus Umar, karena memang sudah bertahun-tahun gus Umar tidak pernah bermain lagi ke rumah bibi Aini itu memuji nya.
"Ah, pak Karyo bisa aja," balas gus Umar seraya tersenyum ramah.
"Kalian kesini mau nyari nak Aida?" Tanya pak Karyo yang tiba-tiba wajah nya terlihat sendu.
"Iya pak, Aida nya ada kan? Bibi Aini, juga ada kan pak? Sudah dua minggu ini kami tidak bisa menghubungi Aida, bagaimana kabar bibi Aini pak? Karena sebelum kami berangkat umroh, bibi sedang sakit?" Cecar Laila dengan banyak pertanyaan.
Mendengar pertanyaan dari Laila, pak Karyo menjadi sedih.. kaki nya tiba-tiba terasa lemas, "duduk lah nak, seperti nya kalian melewatkan kejadian besar," lirih pak Karyo seraya duduk di bangku kayu, yang berada di teras rumah bibi Aini.
Dan mendengar pak Karyo menyebutkan kejadian besar meski di ucap kan dengan lirih, namun kalimat tersebut mampu menghujam begitu dalam ke relung hati gus Umar. Perasaan pemuda tampan itu menjadi tak enak, dan jantung nya berdebar kencang,,, tak sabar rasa nya menanti penjelasan dari pak Karyo.
bersambung,,,
__ADS_1