
"Umi, tolong panggilkan ning Zahra kemari," titah kyai Hasanuddin atau gus Din kepada istri nya.
"Baik abi," jawab nyai Rahma, dan umi dari ning Zahra itu segera beranjak dari duduk nya dan masuk ke dalam untuk memanggil sang putri.
Nyai Rahma menemui putri nya yang masih berada di dalam kamar, "ning, apa sampean sudah siap untuk keluar?" Tanya nyai Rahma dengan lembut.
Ning Zahra menatap netra teduh sang umi, "apa harus Zahra mi?" Tanya nya dengan tatapan memelas.
Nyai Rahma mengangguk pelan, "kak Najwa sudah menikah, sedang kan ning Zahwa masih sangat muda.. dia bahkan belum lulus sekolah ning," lirih nyai Rahma, menatap lembut putri nya. Nyai Rahma tahu, putri nya sebenarnya keberatan dengan perjodohan ini karena sudah ada kang santri di pesantren abi nya yang berhasil merebut perhatian ning Zahra.
"Sampean pikir kan lagi ning, tidak perlu dengan membandingkan kedua nya karena perbedaan nya sudah jelas terlihat. Sampean pikir kan saja, bagaimana perasaan eyang," tutur nyai Rahma lembut, tetapi dengan mengintimidasi.
Ning Zahra hanya bisa menarik nafas dalam,, dan sesaat kemudian gadis kalem itu beranjak dari tempat duduk nya, "Zahra sudah siap untuk keluar," ucap nya pelan.
Tak lama kemudian dua wanita berbeda generasi yang sama-sama cantik itu berjalan perlahan menuju ruang tamu, ning Zahra berjalan dengan menundukkan kepala.
Nyai Rahma menuntun putri nya yang terus menunduk itu untuk bergabung bersama nyai sepuh, nyai Robi'ah dan juga Laila.
"Ning, keluarga gus Umar datang kemari untuk meminta mu menjadi istri gus Umar seperti yang pernah eyang katakan beberapa waktu yang lalu.. bagaimana ning?" Tanya kyai Hasyim langsung pada sang cucu, sesaat setelah nyai Rahma dan ning Zahra duduk.
Ning Zahra mendongak sekilas, menatap wajah teduh eyang nya. Dan kemudian mengangguk perlahan, dan gadis pemalu itu segera menundukkan wajah nya kembali.
__ADS_1
"Alhamdulillah,,," ucap syukur kyai Hasyim dan kyai Zarkasi bersamaan, namun tidak dengan gus Umar yang tertunduk lesu.
Kyai Hasanuddin dan sang istri pun terlihat lega, begitupula dengan nyai sepuh dan nyai Robi'ah.
Berbeda dengan kyai Abdullah yang nampak sedikit risau melihat kesedihan putra nya, "gus, apa ada yang ingin sampean ceritakan pada abah?" Bisik kyai Abdullah pada putra nya.
Gus Umar menggeleng lemah, "Umar belum tahu abah, mungkin nanti," balas gus Umar dengan berbisik pula.
Laila pun nampak sangat bersedih, gadis belia itu menatap nanar sang kakak yang masih tertunduk lesu. "Kasihan sekali nasib sampean kak,,, aku enggak mau bernasib sama seperti kakak, aku enggak mau di jodoh-jodohkan seperti ini," tekad Laila dalam hati, yang ingin bisa memperjuangkan hati dan kehidupan nya sendiri nanti nya.
"Lantas, kapan hubungan mereka berdua akan kita resmikan?" Tanya kyai Hasyim, nampak tidak sabar ingin segera besanan dengan sahabat nya nyantri jaman mereka masih muda dulu.
Kyai sepuh menatap sang cucu dan putra nya bergantian, "bagaimana gus Ab?" Tanya kyai sepuh pada kyai Abdullah.
"Bibit, bebet dan bobot kedua nya telah sama-sama kita ketahui gus, dan ta'arruf akan lebih indah jika di lakukan ketika sudah halal bukan?" Sanggah kyai Hasyim yang nampak kekeuh ingin segera menikahkan sang cucu dengan gus Umar, pemuda cerdas yang sudah lama beliau incar untuk dijadikan cucu menantu.
Kyai sepuh pun mengangguk kan kepala, tanda setuju dengan ucapan kyai Hasyim, sahabat nya. "Benar gus Ab, tidak baik menunda-nunda niat yang tergolong ibadah. Bapak yakin, seiring berjalan nya waktu.. perasaan suka itu akan tumbuh di hati mereka berdua, karena dua-dua nya memiliki nilai plus masing-masing yang bisa membuat lawan jenis nya dengan mudah jatuh hati jika sudah melihat nya," timpal kyai sepuh, seraya tersenyum.
"Bukan kah begitu, gus Umar?" Kyai sepuh menatap sang cucu dengan tatapan teduh nya, seakan memohon agar gus Umar menyetujui untuk mempercepat pernikahan nya dengan ning Zahra.
Gus Umar menanggapi nya hanya dengan tersenyum samar, hati nya saat ini benar-benar gundah. Gus Umar tak ingin melukai perasaan orang-orang yang sangat dia hormati dan sayangi, tapi gus Umar juga merasa sangat bersalah pada Aida.. karena perhatian gus Umar selama ini, nyata nya secara tidak langsung telah melukai hati sahabat dari adik nya itu, meski gus Umar sendiri juga terluka hati nya.
__ADS_1
"Maaf abah yai," kyai Abdullah menatap kyai Hasyim, sahabat ayah nya. "Bagaimana jika untuk membicarakan pernikahan mereka berdua, kita laksanakan lain kali saja. Karena sepuluh hari lagi, begitu ning Laila selesai ujian sekolah.. kami sekeluarga akan berangkat menjalankan ibadah umroh, dan mungkin kita bisa membahas nya lagi setelah kami pulang dari tanah suci?" Pinta kyai Abdullah dengan sangat, masih mencoba mengulur waktu untuk sang putra.
Kyai Hasyim dan kyai Zarkasi saling pandang, dua kyai sepuh yang masih kolot itu nampak tidak setuju dengan usul kyai Abdullah.
"Gus Ab, serahkan semua nya pada bapak. Kalian beribadah lah dengan khusyuk di sana, dan jangan kalian risau kan urusan yang di sini. Insyaallah kami masih sanggup untuk mengurus hal-hal seperti ini," balas kyai sepuh yang mengisyaratkan bahwa pernikahan gus Umar dan ning Zahra tetap akan di laksanakan secepat nya, meski tanpa campur tangan kyai Abdullah dan kyai Hasanuddin.
Kyai Abdullah dan istri nya hanya bisa menarik nafas dalam, mau tidak mau beliau berdua harus mengikuti dawuh kyai sepuh. Karena seperti itulah kebiasaan di keluarga nya, lagipula titah kyai sepuh tidak bertentangan dengan agama dan demi kebaikan gus Umar pula.
Begitu pun dengan kyai Hasanuddin dan nyai Rahma, yang juga nampak pasrah dengan keputusan abah nya yaitu kyai Hasyim.
Sedang kan ning Zahra masih tetap menundukkan wajah nya, gadis itu tak bereaksi apa-apa atas keputusan dari sang kakek untuk diri nya. Sejak kecil ning Zahra dididik untuk selalu patuh pada orang tua nya, termasuk pada kyai Hasyim yang merupakan eyang nya dari pihak kyai Hasanuddin.
Untuk sesaat hening menyapa ruang tamu keluarga kyai Hasanuddin.
"Begini saja kang yai, kita bahas ini lain kali saja sambil ngopi," suara berat kyai Hasyim memecah keheningan.
Kyai sepuh mengangguk-angguk, menyetujui ide sahabat nya.
Dan karena malam telah semakin larut, keluarga kyai Abdullah kemudian mohon undur diri. Kyai sepuh segera berpamitan pada sahabat nya, "kita bisa bicara kan ini lagi secepat nya, aku yang akan gantian berkunjung ke kediaman kang yai," bisik kyai Hasyim seraya memeluk kyai sepuh.
"Baik yi, aku tunggu," balas kyai sepuh juga dengan berbisik, seraya melerai pelukan sahabat nya.
__ADS_1
Kedua kyai yang sudah sama-sama berumur saling pandang dan seolah tengah menyusun rencana, senyum kebahagiaan terbit di wajah kedua nya yang telah berkeriput.
bersambung,,,