Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 108 : Sumber Kebahagiaanku Adalah Kamu


__ADS_3

Gus Umar dengan di bantu sang adik kemudian mengambil seserahan yang akan diberikan kepada Aida, yang masih tersimpan di dalam mobil.


Melihat kakak beradik itu sibuk menurunkan barang-barang yang ternyata tak hanya yang tadi pagi di beli oleh gus Umar, tapi ada juga parcel buah dan aneka kue kering yang di packing dengan rapi dan di hias indah,,, yang sengaja disiapkan oleh nyai Robi'ah tadi pagi sewaktu putra-putri nya pergi berbelanja, mbak Ning pun ikut membantu menurunkan dan membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam.


Aida yang tak tahu menahu persiapan gus Umar dan keluarga nya itu di buat terkejut, kala gus Umar memberikan kotak perhiasan cantik berwarna merah berbentuk hati kepada diri nya. "Ini untuk mu dik, maaf hanya barang yang sangat sederhana. Semoga dik Aida suka," lirih gus Umar, seraya menatap dalam netra indah Aida.


Aida menerima nya dengan tangan gemeteran, dan langsung menyimpan di atas pangkuan nya. "Makasih kak, Aida pasti suka apapun pemberian kak Umar," balas Aida dengan senyum nya yang lembut, senyum yang membuat hati gus Umar seperti memiliki sayap dan terhembus oleh angin hingga terbang tinggi ke atas awan.


Gus Umar kemudian kembali duduk di tempat nya, sedangkan Laila dan mbak Ning masih merapikan barang-barang seserahan tersebut di sudut ruangan.


"Umi, banyak banget bawaan nya? Kapan umi menyiapkan semua? Kok Aida ndak tahu nggih?" Tanya Aida yang penasaran, kapan nyai Robi'ah menyiapkan semuanya.


"Kalau buah dan kue, tadi pagi umi nyuruh mbak-mbak santri untuk belanja dan menghias nya. Tapi kalau barang pribadi milik kamu, gus Umar sendiri dengan di temani ning Laila tadi pagi yang ke pasar untuk belanja," balas nyai Robi'ah dengan jujur.


Aida menatap gus Umar, yang juga tengah menatap nya. Dan Aida melemparkan kembali senyum manis nya, "makasih kak," ucap nya, hanya dengan gerakan mulut dan tanpa mengeluarkan suara.


Gus Umar mengangguk dan membalas senyum Aida dengan tatapan penuh cinta. "Apapun itu dik, demi kamu.. aku pasti akan melakukan nya," batin gus Umar, yang merasa bahagia melihat Aida bahagia.


"Di buka aja nak, kalau misal ukuran cincin nya tidak pas.. bisa di tukar," titah nyai Robi'ah.


Aida pun membuka kotak perhiasan berbentuk hati tersebut, dan netra Aida berkaca-kaca melihat kilau berlian yang terdapat pada cincin, liontin, geleng serta anting pada satu set perhiasan yang ada di dalam kotak.


"Kak, ini indah sekali,,," lirih Aida seraya kembali menatap gus Umar, dan gus Umar tersenyum bahagia mendengar sang pujaan hati menyukai pilihan nya.


Nyai Robi'ah mendekat, mengambil cincin tersebut dan kemudian menyematkan nya di jari manis Aida yang memang sudah lama tak memakai cincin. Karena semua perhiasan pemberian dari Ryan, telah dijual nya untuk menyewa ruko sekaligus untuk modal membuka usaha warung makan.

__ADS_1


"Pas ya,,, wah, pinter sampean gus," puji nyai Robi'ah pada putra nya.


Senyum gus Umar semakin lebar, "Alhamdulillah,," lirih nya berucap syukur.


"Alhamdulillah,,," ucap yang lain bersamaan, ikut bahagia dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Aida dan gus Umar.


Pak Dibyo dan bu Dibyo nampak turut berbahagia, terlebih mbak Ning.. wanita muda itu bahkan sering menitikkan air mata kebahagiaan melihat senyum merekah di wajah adik angkat nya.


Laila yang sudah duduk kembali di samping sang kakak, terus saja menggoda kakak nya dengan berbisik.. entah apa yang dibisikkan, karena gus Umar tak henti tersenyum dan sesekali tertawa tanpa suara dengan menutup mulut nya dengan telapak tangan.


Hening, sejenak menyapa ruangan itu.


Aida masih nampak tak henti mengangumi cincin indah yang kini tersemat di jari manis nya, memang tak sebesar dan semahal cincin pemberian Ryan.. tapi esensi yang terkandung di dalam nya, jelas lebih mahal dan lebih bermakna. Penuh cinta, ketulusan serta penantian yang panjang.


Sedangkan Ryan yang masih berada di sana, hanya dapat menyaksikan semua itu dengan tersenyum kecut. Penyesalan nya semakin dalam, namun dia sadar dan bisa menerima kenyataan.. bahwa Aida memang layak mendapatkan laki-laki yang lebih dari diri nya.


"Maaf pak kyai, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan pada dik Aida," ucap Ryan, mengurai keheningan.


"Ya, monggo mas Ryan. Apa perlu, kami keluar dulu?" Kyai Abdullah menatap mantan suami Aida itu.


Ryan menggeleng, "tidak perlu pak kyai, tidak ada yang rahasia kok." Balas Ryan dengan sopan.


Kyai Abdullah mengangguk-angguk.


"Dik Aida, gus Umar,, saya ucapkan selamat, semoga pernikahan kalian nanti berjalan sesuai rencana," ucap Ryan dengan tulus, seraya menatap Aida dan gus Umar bergantian.

__ADS_1


Aida mengangguk, sedangkan gus Umar tersenyum, "terimakasih mas Ryan," balas gus Umar.


"Dik, kedatangan mas kemari untuk membicarakan tentang perceraian kita. Mas sudah ke Pengadilan Agama, dan surat cerai nya baru akan turun dua minggu lagi," terang Ryan dengan tatapan sendu.


Kembali Aida hanya mengangguk.


"Mas akan memberikan sejumlah uang sebagai ganti nafkah iddah selama sembilan bulan kemarin yang telah terlewat, berapa yang kamu minta dik?" Tanya Ryan dengan netra berkabut, ada nada penyesalan yang teramat sangat dari ucapan nya. Penyesalan karena harus berpisah dengan orang yang masih sangat dicintai nya.


"Ndak perlu mas, dengan tidak mempersulit proses perceraian kita saja,,, Aida sudah sangat berterima kasih." Balas Aida, "Aida juga mengucapkan terimakasih, karena dulu mas Ryan sangat royal sama Aida.. hingga Aida memiliki tabungan yang cukup banyak, dan bisa untuk bertahan hidup." lanjut nya menjelaskan.


Ryan terdiam sejenak, tapi kemudian dia mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas pinggang nya. "Tapi ini hak kamu dik, terimalah nafkah iddah dan nafkah mut’ah yang tak seberapa ini," Ryan menyodorkan amplop coklat yang tebal itu ke hadapan Aida.


Nafkah iddah adalah nafkah yang wajib diberikan kepada istri yang ditalak dan nafkah ini berlangsung selama 3-12 bulan tergantung kondisi haid istri yang dicerai.


Dan karena saat di jatuhi talak Aida tengah mengandung, maka masa iddah nya telah selesai ketika dia melahirkan. I


Sedangkan Nafkah mut'ah, merupakan pemberian dari mantan suami kepada istrinya yang dijatuhi talak, yang dapat berupa uang ataupun benda lainnya sebagai pelipur lara. _Sumber. KBBI_


Aida menggeleng,,,


"Terimalah nak, karena itu adalah hak seorang istri yang diceraikan oleh suami," tutur kyai Abdullah.


Dan Aida kemudian mengangguk, "baik mas, Aida terima ini... terimakasih," ucap Aida lirih, "semoga mas Ryan segera menemukan pendamping hidup yang bisa membahagiakan mas Ryan, dunia akhirat," do'a Aida dengan tulus.


Ryan hanya tersenyum tipis, "aku enggak yakin dik, karena sumber kebahagiaan ku adalah kamu," bisik Ryan dalam hati.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2