Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 38 : Ada Guling diantara Mereka


__ADS_3

Malam hari nya di dalam kamar pengantin, di kediaman kyai Hasanuddin. Gus Umar baru saja masuk ke dalam kamar setelah menunaikan ibadah sholat 'isya berjama'ah di masjid yang berada di dalam komplek pesantren milik ayah mertua nya, dilihat nya ning Zahra sedang tadarus Al-Qur'an dengan duduk bersimpuh di atas sajadah.


Melihat Gus Umar sudah pulang dari masjid, ning Zahra segera mengakhiri tadarus nya dan kemudian segera menyimpan Al-Qur'an di atas nakas. Ning Zahra melepaskan mukena, dan membereskan sajadah. Putri kyai Hasanuddin itu kemudian mendekati sang suami yang sedang duduk di tepi pembaringan.


"Nywun sewu gus, apa jenengan butuh sesuatu? Teh manis atau kopi?" Tawar Ning Zahra, yang memang belum tahu kebiasaan suami nya. Kedua insan yang baru disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci itu, terlihat masih sama-sama kikuk.


"Tidak perlu repot ning, sudah ada air putih." Balas gus Umar.


Ning Zahra mengangguk, "nggih," hanya itu kata yang mampu terucap dari bibir tipis ning Zahra.


Ning Zahra hendak berlalu, tapi gus Umar buru-buru mencegah nya. "Ning, bisa kah kita berbicara sebentar?" Gus Umar menatap ning Zahra sekilas, dan kemudian segera membuang pandangan nya.. dan ning Zahra juga langsung menundukkan kepala.


"Nggih gus, ada apa?" Tanya ning Zahra memberanikan diri, masih sambil menunduk. Ning Zahra memang tipe wanita pemalu, tak banyak bicara dan penurut.


"Duduk lah ning," titah gus Umar seraya menepuk tempat kosong tepat di sebelah nya.


Ning Zahra nampak ragu, istri gus Umar itu masih berdiri di tempat nya.


"Ning,, duduk lah, aku tidak akan berbuat macam-macam," ucap gus Umar seraya tersenyum, pemuda tampan itu dapat menangkap ketakutan pada istri nya.


Ning Zahra menurut dan kemudian duduk dengan segan di samping suami nya, dan mengambil tempat agak berjauhan.


Gus Umar tersenyum,,


"Ning, terlepas dari apakah kita suka atau tidak dengan perjodohan ini.. yang pasti saat ini, kita sudah menikah." Gus Umar memulai pembicaraan nya, tatapan nya lurus ke depan ke dinding kamar. Sedangkan ning Zahra terus menunduk kan kepala nya, seperti tersangka yang sedang diadili.


"Aku tahu ning, kita belum saling mengenal dengan baik. Aku tidak tahu banyak tentang kamu, dan aku yakin.. kamu juga belum tahu banyak tentang diri ku," gus Umar melirik sekilas ke arah istri nya, yang masih saja menunduk.


Gus Umar menghela nafas pelan, dia merasa seperti berbicara dengan patung.. yang sama sekali tak merespon pembicaraan nya.


"Ning, lihat aku," pinta gus Umar seraya menatap. istri nya.


Ning Zahra mengangkat wajah nya, melihat ke arah suami nya sekilas dan kembali menundukkan kepala nya bahkan semakin dalam.. wanita muda itu masih merasa malu duduk berduaan di dalam kamar bersama seorang laki-laki, meski dia sadar bahwa mereka telah menikah.

__ADS_1


"Aku ingin kita saling bicara jujur satu sama lain, karena sebuah hubungan yang di mulai dari kejujuran Insyaallah akan baik ke depan nya." Kembali gus Umar memulai pembicaraan nya, dan kali ini terdengar lebih serius.


"Nggih,," balas ning Zahra yang akhir nya mengeluarkan suara meski sangat singkat.


"Jujur, aku pernah menyukai seseorang sebelum menikahi mu ning," ucap gus Umar dengan sejujur nya, pemuda kharismatik itu tak ingin menutupi apapun dan berharap pernikahan nya mendapat ridho Allah dan langgeng hingga maut memisahkan.


Ning Zahra nampak mengangguk-angguk.


"Boleh kah aku tahu, apakah kamu juga pernah menyukai seseorang sebelum nya?" Tanya gus Umar, yang ingin menyelami sisi lain dari istri nya yang belum diceritakan oleh sang kakek.


Karena kyai sepuh hanya menceritakan tentang sifat-sifat baik ning Zahra, tentang keluarga nya serta pendidikan putri kedua kyai Hasanuddin.. itu saja.


Ning Zahra terlihat mengangguk pelan, "nggih gus, maaf,,," lirih ning Zahra yang merasa bersalah, dan entah kata maaf nya ditujukan kepada siapa?


"Dia adalah..."


"Tak perlu kamu ceritakan pada ku, siapa dia ning..." potong gus Umar cepat, "simpan saja kenangan itu untuk mu sendiri, seperti hal nya aku akan menyimpan kisah ku. Kamu sudah bersedia jujur, itu saja sudah cukup bagiku," lanjut gus Umar dengan tersenyum tipis.


"Ning, sekarang ini kita sudah menikah. Mari kita sama-sama belajar, untuk membuka lembaran baru." Sejenak gus Umar menghentikan ucapan nya, dan menatap ning Zahra yang juga tengah melirik nya.


Ning Zahra hanya mengangguk.


Sejenak hening menyapa, gus Umar seakan telah kehabisan kata-kata.. sedangkan istri nya sedari tadi hanya bicara seperlunya saja.


"Tidurlah ning, kamu pasti lelah," titah gus Umar, mengurai keheningan.


Gus Umar segera beranjak,


"Gus, emm.. nyuwun sewu.. e,,," ning Zahra nampak ragu untuk mengutarakan maksud nya.


"Ada apa ning?" Gus Umar mengernyitkan dahi, dan kemudian kembali duduk.


Tapi ning Zahra malah membisu, tangan nya nampak *******-***** sprei seperti orang yang ketakutan.

__ADS_1


Gus Umar tersenyum melihat nya, "aku tidak akan menuntut hak ku, sampai kamu sendiri yang merelakan nya untuk ku ning,,," lirih gus Umar yang mengerti kekhawatiran ning Zahra, "dan jika saat itu tiba, beri aku kode agar kamu tidak merasa aku abaikan," lanjut gus Umar.


"Kita jalani saja hubungan ini, seperti air yang mengalir.. anggap aku teman mu ning, agar kamu merasa nyaman," pungkas gus Umar, mengakhiri percakapan nya.


Suami ning Zahra itu kemudian kembali beranjak, melepaskan baju koko yang tadi dipakai nya untuk sholat dan menggantung di capstok di belakang pintu.


Gus Umar segera kembali ke pembaringan di sisi yang lain, karena ning Zahra masih duduk terdiam di tempat nya.


Gus Umar mengganti lampu utama dengan lampu tidur yang saklar nya berada di atas sisi ranjang dan pemuda kharismatik itu kemudian segera merebahkan diri di atas spring bed yang empuk di kamar ning Zahra.


"Istirahat lah ning," pinta gus Umar seraya memejamkan mata nya.


Dengan perasaan canggung, ning Zahra kemudian membaringkan tubuh nya di tepi pembaringan dengan masih mengenakan hijab. Dia meletakkan bantal guling di tengah-tengah, diantara diri nya dan gus Umar.


Gus Umar yang bisa merasakan pergerakan ning Zahra tersenyum dalam hati, dan kemudian kembali dengan do'a-do'a nya. Dan tak berapa lama, gus Umar telah terlelap dengan posisi telentang dan bersidekap.


Sedangkan ning Zahra masih nampak gelisah, dengan posisi telentang dia merasa tidak nyaman. Jika tidur dengan posisi miring dan menghadap suami nya, dia khawatir gus Umar akan menganggap diri nya sudah siap.. dan jika miring dengan memunggungi gus Umar, hal itu dirasa nya tidak sopan.


Akhir nya, ning Zahra memilih posisi miring menghadap kearah suami nya. Toh, sudah ada guling diantara mereka berdua,, pikir ning Zahra.


bersambung,,,


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan ada guling diantara kita ya mam.. šŸ˜…šŸ˜…


Eh,, dusta ding 🤭


Yuk, jangan lupa tekan tombol favorit


Like, komen dan vote nya... aku tunggu šŸ¤—šŸ˜˜


Eh,, stok bawang ku masih banyak ya...

__ADS_1


Aku simpan buat nanti šŸ˜‰šŸ˜‰


__ADS_2