Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab.17 : Ini Seperti Dejavu,,,


__ADS_3

Aida terdiam, gadis itu bingung.. berkah atau musibah kah kabar yang barusan dia dengar dari mulut bu Retno dan putra nya.


"Nduk, kami tidak memaksamu untuk menjawab nya sekarang,, pikirkan lah dahulu, kamu punya waktu semalam untuk mengambil keputusan," ucap bu Retno, menyadarkan Aida dari lamunan nya.


"Nggih bu, Aida akan pertimbangkan," balas Aida, dengan suara nya yang tak bersemangat.


Dan malam itu Aida benar-benar tak dapat memejamkan mata nya, Aida yang masih ditemani oleh bu Retno setelah bakda maghrib tadi Ryan pamit pulang.. akhir nya menitip kan ibu nya pada wanita paruh baya itu, setelah dilihat nya bu Retno juga belum memejamkan mata, "bu, minta tolong titip ibu sebentar ya.. Aida mau ke musholla," pinta Aida dengan sopan.


Bu Retno mengangguk, "iya nduk, silahkan," balas bu Retno.


Aida berjalan menuju musholla rumah sakit yang letak nya tidak terlalu jauh dari ruangan sang ibu, dan kebetulan di musholla tersebut sedang tidak ada orang lain karena waktu menunjukkan hampir tengah malam.


Dengan segera Aida mengambil air wudhu, dan kemudian Aida melaksanakan sholat isya' yang belum di kerjakan nya tadi karena Aida pusing memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.


Usai sholat isya', Aida kembali berdiri untuk melakukan sholat istikharoh... Aida ingin minta petunjuk sama Allah, agar diberikan pencerahan dan kemantapan hati dalam mengambil keputusan nanti.


Setelah salam, gadis cantik itu menengadahkan tangan nya ke langit dan dengan khusyuk berdo'a.


Cukup lama Aida berdo'a, dan karena raga nya juga lelah sebab beban berat yang dipikul nya sendiri, Aida kemudian menjatuhkan diri di atas sajadah nya dan tertidur di sana.


Setengah jam berlalu, dan Aida menggeliat.. Aida mulai membuka mata nya dan memindai sekitar, "Ya Allah, rupa nya aku ketiduran di musholla," gumam Aida.


Aida mengingat-ingat mimpi singkat nya barusan, dan gadis itu kemudian menarik nafas sedalam-dalam nya untuk mengambil oksigen yang sangat banyak guna memenuhi rongga paru-paru nya yang terasa sesak seolah kehabisan nafas. Aida menahan nafas sebentar, lalu menghembus nya kuat-kuat.. Aida ingin membuang semua beban berat yang ada di benak nya.

__ADS_1


"Ya, Allah.. mungkin kah ini jawaban dari Mu atas masalah yang saat ini hamba hadapi? Hamba rela ya Allah,, yang terpenting saat ini bagi hamba, ibu bisa segera sembuh dan kami bisa secepat nya kembali ke rumah." Lirih Aida, seolah berbicara pada Yang Maha Kuasa.


"Aku tak boleh memikirkan gus Umar lagi, toh dia juga akan segera menikah? Aku harus fokus dengan kesembuhan ibu, meski aku harus menikah dengan mas Ryan... ya, aku akan terima lamaran nya. Bismillah, semoga ini adalah jalan terbaik untuk kami," Aida bermonolog dalam diam, dan kemudian segera melepas kan mukena nya.


Setelah memakai hijab nya kembali, dan merapikan mukena serta sajadah nya, Aida meninggalkan musholla tersebut dengan langkah yang terasa lebih ringan.


@@@@@


Sementara itu, di tanah suci.. tepat nya di hotel tempat keluarga kyai Abdullah beristirahat. Laila terlihat kusut menatap layar ponsel nya, dan terus mencoba mendial nomor seseorang.


"Da,,, kamu kemana aja sih, dari kemarin dihubungi kok enggak bisa?! Chat dariku kamu baca, tapi satu pun tak kamu balas.. kenapa Da? Apa yang terjadi dengan kamu dan bibi Aini Da??" Laila berbicara dengan layar ponsel nya yang masih menyala.


Sahabat Aida itu merasa tidak tenang, dan khawatir ada hal buruk yang terjadi pada Aida dan ibu nya.


Sementara di kamar yang lain, gus Umar juga tengah dilanda kegelisahan yang hebat. Tiba-tiba saja dia merasa tubuh nya lemas, dan jantung nya berdebar-debar. Ingatan nya terus tertuju pada Aida, gadis cantik yang selalu dia sebut nama nya di setiap do'a yang dia langit kan. "Ada apa dengan mu dik? Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya gus Umar, yang ditujukan entah kepada siapa.


Gus Umar rupa nya tidak tahu sama sekali, bahwa hari pernikahan nya ternyata telah ditentukan oleh sang kakek beserta sahabat nya. Bahkan undangan pernikahan nya dengan ning Zahra, juga telah disebar kepada sanak saudara, kerabat dan para sahabat.


Dengan langkah pasti, gus Umar berjalan menuju kamar sang abah. Gus Umar mengetuk pintu kamar yang ditempati abah dan umi nya itu dengan pelan, tok,, tok,, tok,,


Terdengar suara pintu dibuka dari dalam, ceklek... "gus, ada apa?" Tanya nyai Robi'ah, begitu melihat putra nya sudah berdiri di depan pintu kamar nya.


"Maaf umi, apakah abah ada?" Tanya gus Umar seraya mengedarkan pandangan nya ke dalam kamar abah dan umi nya dari ambang pintu.

__ADS_1


"Ada apa gus?" Tanya abah dari dalam kamar, yang mendengar sang putra menyebut nya.


"Umi, boleh kah Umar bicara berdua saja dengan abah?" Pinta gus Umar dengan tatapan memohon pada sang umi.


Nyai Robi'ah mengernyit, dan sedetik kemudian mengangguk. "Umi akan menunggu di kamar ning Laila," ucap nyai Robi'ah dan kemudian segera berlalu meninggalkan kamar nya.


"Masuk lah gus," titah sang abah, yang penasaran dengan tujuan gus Umar.


Gus Umar pun masuk ke dalam kamar tempat orang tua nya menginap, dan kemudian duduk di sofa minimalis yang terdapat di sudut ruangan.


"Ada apa gus? Seperti nya sangat penting?" Tanya kyai Abdullah, setelah beliau juga duduk di sofa tersebut.


Gus Umar mendesah pelan, "maaf abah, ini mengenai perjodohan Umar dan ning Zahra," balas gus Umar pelan.


Kyai Abdullah mengerutkan kening nya, "ada apa? Berterus terang lah pada abah?" Pinta kyai Abdullah seraya Menatap putra nya.


"Sekali lagi Umar minta maaf abah, jika apa yang Umar sampai kan nanti tidak berkenan di hati abah... " sejenak gus Umar menghentikan ucapan nya, pemuda tampan itu menghembus nafas nya kasar. "Sebenar nya, Umar sudah menyukai seseorang,,, dan dia adalah Aida," lanjut gus Umar seraya menunduk, dia tak berani menatap abah nya.. karena khawatir, laki-laki sepuh yang sangat dihormati nya itu menjadi kecewa.


Kyai Abdullah nampak sangat terkejut, dan kyai dengan netra teduh nya itu menatap putra nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Berkali-kali kyai Abdullah menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan,, seakan ada beban berat yang di sembunyikan nya selama ini.


"Kenapa kisah ini harus terulang pada putra ku ya Allah,,, kenapa? Dulu aku tidak dapat memperjuangkan Aini, hingga aku meminta Dahlan, sahabat ku untuk menjaga nya.. tapi Dahlan menyerah dan kalah pada penyakit nya, dan dia meninggalkan Aini dan putri nya yang masih kecil."


"Aku akan sangat senang, jika putra ku bisa menjaga putri nya Aini... tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Sedangkan tanggal pernikahan mereka berdua sudah ditentukan oleh para sesepuh, dan undangan pernikahan mereka berdua bahkan sudah di sebar?" Kyai Abdullah bermonolog dalam diam, tatapan nya berubah menjadi sendu menatap putra nya.

__ADS_1


Kyai Abdullah dapat merasakan apa yang dirasakan putra nya saat ini, karena hal itu pernah dirasakan nya dua puluh lima tahun yang lalu,,, "ini seperti dejavu,," gumam kyai Abdullah dalam hati.


bersambung,,,


__ADS_2