
Setelah bercengkrama hingga larut malam, keluarga besar almarhumah ning Zahra pun berpamitan. Begitu pula dengan sanak saudara kyai Abdullah dan istri, satu persatu mereka mulai meninggalkan kediaman kyai Abdullah.
Kyai sepuh dan istri juga pamit pulang, dan diantarkan oleh kang santri.
Kini tinggal pak Dibyo beserta istri, Ryan dan juga mbak Ning.
"Gus, sana.. ajak nak Aida beristirahat," titah nyai Robi'ah, ketika melihat Aida sudah terlihat kelelahan dan mengantuk.
"Nggih mi," balas gus Umar dengan tersenyum lega.
"Ayo dik," ajak gus Umar, hendak menggandeng Aida.
"Sebentar kak, Aida mau bicara sama ibu," pinta Aida, dan segera mendekati bu Dibyo.
"Ibu jadi menginap di sini kan?" Tanya Aida
"Maaf nak, ibu harus pulang malam ini juga. Besok, bapak ada rapat pagi-pagi sekali," balas bu Dibyo.
"Mbak juga ikut pulang sekarang neng," ucap mbak Ning yang duduk di sebelah bu Dibyo, dan membuat Aida terkejut.
"Lho mbak, kata nya mau nginep?" Protes Aida, karena memang rencana awal mbak Ning dan bu Dibyo mau menginap.
"Maaf neng, Tio mau nya ikut pulang bareng mbak Bunga nya sekarang," balas mbak Ning, merasa tak enak hati.
"Bareng sama Bunga apa sama ayah Ryan?" Bisik Aida, menggoda kakak angkat nya. Membuat mbak Ning tersipu malu.
"Segera ajak gus Umar main ke sana ya neng? Mbak pasti akan kangen banget sama neng Aida," ucap mbak Ning, untuk menyembunyikan perasaan nya yang kini berbunga-bunga.
"InsyaAllah mbak, Aida juga pasti akan sangat merindukan mbak Ning dan juga Tio," balas Aida.
"Sini pamitan sekarang, Neng Aida kan harus segera istirahat,,, udah di tungguin tuh sama gus Umar." Mbak Ning merengkuh tubuh Aida, dan memeluk nya dengan erat.
"Gantian ibu nak," suara bu Dibyo, melerai pelukan kedua wanita muda itu. Dan Aida kemudian berpelukan dengan bu Dibyo, wanita paruh baya yang sudah banyak menolong Aida.
"Aida pasti akan sangat merindukan ibu," lirih Aida, sambil mengeratkan pelukan nya.
"Ibu juga pasti akan merindukan kamu nak," balas bu Dibyo.
"Sudah bu, lepaskan nak Aida. Suami nya sudah menunggu lho,,," seloroh pak Dibyo, yang memergoki gus Umar menatap istri nya dengan tak berkedip.
Kyai Abdullah terkekeh, begitupun dengan nyai Robi'ah yang tersenyum lebar. Ryan dan mbak Ning pun ikut tersenyum, sedangkan gus Umar menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Maklum pak Dibyo, pengantin baru. Pasti pengin buru-buru berduaan," tutur kyai Abdullah, yang membuat Aida tersipu.
"Leres yai," timpal bu Dibyo dengan tersenyum lebar.
"Monggo gus, kalau nak Aida nya mau di bawa," lanjut bu Dibyo, yang membuat gus Umar tersenyum malu-malu.
Dan semua orang tersenyum bahagia.. melihat pasangan pengantin baru tersebut, yang sama-sama salah tingkah.
"Udah kak, buruan.. ntar ada yang nahan Aida lagi lho," ucap Laila, dan gus Umar pun kemudian segera beranjak.
"Maaf semua, kami istirahat dulu," pamit gus Umar pada semua orang yang masih berada di ruang tamu, dan gus Umar kemudian segera mengajak istri yang baru dinikahi nya itu meninggalkan kediaman orang tua nya untuk pulang ke rumah nya sendiri.
Gus Umar menggandeng tangan halus sang istri dan berjalan perlahan mengimbangi langkah kecil istri nya itu.
Gus Umar membuka pintu dan mempersilahkan Aida untuk masuk, "selamat datang di rumah kita, istri ku," ucap gus Umar dengan lembut tepat di telinga Aida, yang membuat jantung Aida berdebar-debar tak karuan.
Gus Umar segera menutup kembali pintu rumah nya, dan langsung mengajak sang istri masuk kedalam kamar.
Ceklek,,
Begitu pintu kamar di buka, Aida tertegun di ambang pintu. Pandangan nya terpaku pada ranjang pengantin yang indah, dengan bertabur bunga mawar berwarna-warni.
"Ini kamar kita, apa kamu menyukai nya sayang?" Tanya gus Umar dengan panggilan mesra, membuat darah Aida berdesir.
"Ayo masuk," bagai melayang di udara, Aida mulai melangkah masuk kedalam kamar.
Klek,, klek,,
Terdengar pintu kamar di kunci, dan Aida reflek menoleh ke belakang. Di saat yang sama, gus Umar pun tengah menatap nya.
Dug,, dug,, dug,, jantung Aida semakin berdebar kencang, berada di kamar tertutup dan hanya berdua dengan gus Umar membuat Aida semakin gugup dan salah tingkah.
Aida menggigit bibir bawah nya untuk menekan perasaan grogi, dan gus Umar tersenyum manis.. "aku suka dengan sikap nya," gumam gus Umar dalam hati.
"Mau langsung ganti pakaian sayang?" Belum hilang rasa grogi Aida, kini gus Umar malah memeluk pinggang nya dan mengajak Aida untuk duduk.
Aida hanya bisa menurut ketika suami nya itu mendudukkan nya di tepi ranjang yang bertabur bunga mawar indah.
"Tunggu sebentar ya, biar aku ambilkan baju ganti untuk mu." Gus Umar hendak beranjak, tapi Aida mencegah dan reflek menarik tangan gus Umar.
"Jangan kak, biar Aida saja," tolak Aida, karena merasa ini adalah tugas nya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Biar aku saja sayang, enggak masalah kok. Biarkan malam ini, aku memanjakan mu." Ucap gus Umar seraya menangkup kedua bahu Aida dengan tangan nya yang kekar. "Ini adalah hal yang aku impikan sejak dulu," lanjut nya, seraya menatap dalam manik indah milik sang istri.
Aida merasa tersanjung mendengar ucapan suami nya barusan, dan tatapan gus Umar yang dalam membuat Aida benar-benar merasa terhipnotis.
Gus Umar semakin mendekatkan wajah nya, dan hangat nya hembusan nafas gus Umar membuat jantung Aida seolah hendak melompat dari tempat nya.
"Sayang,,,?" Gus Umar menatap Aida dengan tatapan penuh damba.
Tanpa sadar, Aida mengangguk seolah mengerti keinginan sang suami.
Dengan perlahan, gus Umar mulai menyatukan wajah nya dan menyesapi rasa manis milik sang istri. Aida yang awal nya grogi, lambat laun menikmati sentuhan suami nya hingga kedua nya larut dalam hangat nya cinta yang berbalut rindu.
Meskipun ini bukan yang pertama bagi keduanya, namun cinta tulus dan penantian yang panjang tanpa kepastian sebelum nya.. membuat kelegaan yang luar biasa di dada masing-masing, dan semakin membuat kedua nya merasa haus dan menuntut lebih.
Setelah cukup lama menyentuh kan bibir, gus Umar sedikit menjauhkan wajah nya,,, nafas kedua nya memburu dengan dada yang bergemuruh.
"Maaf sayang, harus nya kita sholat dulu," lirih gus Umar dengan tersenyum malu, rasa cinta yang terpendam sekian lama.. membuat gus Umar, sejenak tak mampu menguasai diri.
Aida pun tersipu, dan wajah putih nya merona merah.. karena ikut larut dalam perasaan yang mendalam bersama sang suami barusan.
"Nggih kak," balas nya tak kalah lirih.
Untuk sesaat, netra keduanya saling bertemu.. dan kedua nya kemudian sama-sama tertawa bahagia, dengan penuh kelegaan.
The End... dan... no bonchap šš
\=\=\=\=\=\=
Loh,, kok tau2 end thor?
Iya, karena gus Umar dan Aida akan muncul kembali di kisah nya bang Zaki š
Nantikan yah, InsyaAllah rilis bulan depan šš
Yang lain gimana thor? Mbak Ning sama Ryan, jadi nikah enggak?
Ryan sudah dewasa dan sudah dua kali menikah, so... biarkan sekarang si Ryan berjuang sendiri šš
Tak bosan, aku ucapkan makasih banyak untuk readers tersayang... baik yang terlihat dengan memberikan like, komen, hadiah dan vote nya.
Maupun kalian, readers yang tak terlihat... love you all šš
__ADS_1
Akhir kata, mohon maaf jika selama berinteraksi dengan kalian ada kata yang kurang berkenan di hati šš
Salam hangat š¤š¤