Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 63 : She Is Some One Special


__ADS_3

Laila baru saja kembali ke ruang perawatan kakak ipar nya, setelah cukup lama mengobrol dengan Aida dan berjanji pada sahabat nya itu untuk mengunjungi nya kembali setelah mengantarkan sarapan untuk sang kakak.


"Assalamu'alaikum,,," ucap salam Laila terdengar riang, sambil memasuki ruang VIP tersebut.


"Wa'alaikumsalam,,," jawab kyai Abdullah dan nyai Robi'ah bersamaan.


"Abah, umi,, kok, pagi-pagi sudah sampai sini? Memang nya, abah sama umi tidak capek? Semalem pulang dari sini kan sudah larut?" Berondong Laila dengan banyak pertanyaan, seraya menatap sang umi. Putri bungsu kyai Abdullah itu kemudian menyalami kedua orang tua nya, dan mencium punggung tangan kedua nya dengan takdzim.


Nyai Robi'ah yang duduk di kursi di samping ranjang pasien, sambil menyuapi ning Zahra hanya tersenyum.


"Umi mu mana bisa tenang ning duduk manis di rumah, kalau belum melihat kakak mu siuman," balas kyai Abdullah mewakili sang istri, seraya mengusap puncak kepala Laila yang sudah duduk di samping nya.


Semalam kyai Abdullah dan sang istri, juga keluarga ning Zahra.. memang ikut menunggu di rumah sakit, saat ning Zahra menjalani operasi. Dan mereka semua pulang ke kediaman masing-masing ketika tim dokter menyatakan, bahwa operasi ning Zahra berhasil meskipun saat itu ning Zahra masih belum sadar akibat pengaruh obat bius.


Ning Zahra pun tersenyum mendengar jawaban abah mertua nya, ada rasa haru menyeruak di hati nya mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua suami nya tersebut.


"Lah,,, nyasar kemana dik, ditungguin dari tadi?" Gus Umar yang baru muncul dari kamar mandi, langsung duduk di sofa di sebelah adik nya.


"Ada deh,,," balas Laila seraya tersenyum simpul, "nih kak, Laila belikan kakak nasi rames sama telor dadar," Laila menyodorkan nasi kotak dan segelas teh hangat, yang baru diambil nya dari kantong plastik kepada kakak nya.


"Abah sama umi sudah dahar?" Tanya Laila.


"Abah dan umi sudah sarapan tadi di rumah ning, kalian makan lah.. semalaman kalian pasti kurang tidur kan? Jangan sampai perut kalian juga kosong, nanti bisa sakit," balas nyai Robi'ah, seraya membereskan sisa sarapan bubur ning Zahra.


Gus Umar dan Laila sarapan dalam diam, begitu pun dengan abah yang diam seraya memperhatikan istri nya yang sedang membantu ning Zahra meminum obat.


"Nak Zahra kalau ngantuk, tidur saja. Harus banyak istirahat, biar cepat pulih. Biar kita bisa berkumpul kembali, bersama para santri," tutur nyai Robi'ah seraya mengusap lembut lengan ning Zahra.

__ADS_1


Ning Zahra yang mata nya memang sudah terasa berat itu mengangguk, dan tak berapa lama.. istri gus Umar itu pun telah terlelap.


Nyai Robi'ah membetulkan letak selimut sang menantu, dan setelah memastikan bahwa ning Zahra sudah benar-benar tidur... nyai Robi'ah kemudian ikut bergabung duduk di sofa, di samping gus Umar.


Gus Umar sudah terlebih dahulu menyelesaikan sarapan nya, membereskan kotak bekas makan dan kemudian membuang nya di tempat sampah.


"Dik, memang nya kamu tadi balik dulu ke kontrakan?" Tanya gus Umar penuh selidik, sebab Laila pergi membeli sarapan lebih dari satu jam.


Laila yang mulut nya masih penuh dengan makanan, menggeleng.


"Terus kemana?" Kejar gus Umar.


"Ehm,, bentar dong kak, Laila kan masih makan?" Protes Laila, dan kemudian meneruskan makan nya kembali.


Gus Umar kemudian berbincang dengan abah dan sang umi, mengenai banyak hal.


"Jadi pengin tahu enggak nih, Laila tadi kemana?" Bisik Laila, di telinga sang kakak.. namun masih bisa di dengar oleh abah dan umi nya, karena mereka duduk berdekatan.


"Coba tebak, tadi Laila ketemu siapa? She is some one special in our life.." Laila tersenyum, seraya memainkan kedua alis nya.


"Apa,,, lagi?? Pakai tebak-tebakan pula..." gerutu gus Umar seraya geleng-geleng kepala, "kakak nyerah, buruan kasih tahu,,," pinta gus Umar, dengan tidak sabar.


Senyum Laila semakin lebar, "Aida di rawat di sini, semalam jatuh di kontrakan nya dan pendarahan.. tapi Alhamdulillah bayi nya selamat, dia ditunggui sama mbak Ning. Tadi Laila enggak sengaja ketemu mbak Ning pas mau masuk lift, terus Laila mampir dulu ke ruang rawat nya," terang Laila panjang lebar, dan tanpa jeda.


"Aida?? Dia sudah hamil? Alhamdulillah,,," ucap syukur nyai Robi'ah, ikut senang mendengar kehamilan Aida. Kyai Abdullah pun ikut tersenyum bahagia.


Sedang kan gus Umar menunduk dan terdiam, tak bereaksi apa-apa.. entah apa yang ada di benak putra sulung kyai Abdullah itu.

__ADS_1


"Oh ya mi, tadi mbak Ning banyak cerita sama Laila kalau..." sejenak Laila menghentikan ucapan nya, dan melongok kearah tempat tidur pasien.


"Kenapa?" Tanya sang umi penasaran.


Laila kemudian menceritakan semua persis sesuai dengan apa yang dia dengar dari mbak Ning, mengenai apa yang telah dialami Aida.


Nyai Robi'ah nampak berkaca-kaca, sedang kan kyai Abdullah menarik nafas panjang.


Gus Umar, pemuda kharismatik itu semakin menunduk dalam...


"Tapi tadi mbak Ning pesen, jangan sampai Aida tahu kalau kita sudah mendengar tentang kisah nya," pungkas Laila, dan kemudian segera beranjak.


"Laila tadi sudah janji sama Aida, akan menemani nya. Laila mau ke ruang rawat Aida sekarang," pamit Laila.


"Umi ikut," nyai Robi'ah langsung beranjak, yang diikuti oleh suami nya.


"Abah juga mau lihat keadaan Aida," wajah penuh kharisma milik kyai Abdullah kini terlihat mendung, hati nya diliputi rasa penyesalan yang teramat dalam mendengar kisah Aida. Lagi, beliau merasa gagal menjalankan amanah almarhum sahabat nya untuk menjaga putri semata wayang paman Dahlan tersebut.


Sedang kan gus Umar memilih untuk tetap tinggal, dan menjaga sang istri yang masih terlelap. Gus Umar tak ingin ada kesalahpahaman, jika diri nya ikut menjenguk Aida tanpa ning Zahra turut serta.


"Ada yang sangat menginginkan agar bisa diberikan amanah dengan lahir nya anak dalam keluarga nya, tapi Allah mentakdirkan lain. Ternyata di luar sana, ada yang dengan mudah nya diberikan amanah.. namun dengan tega nya menyia-nyiakan amanah tersebut," gus Umar menghembuskan nafas dengan berat.


"Sampean tetap di sini kan gus?" Sang abah memastikan seraya menatap putra nya, sebelum mengikuti langkah istri dan putri nya.


Gus Umar mengangguk, "nggih bah," balas gus Umar singkat.


Hingga punggung abah, umi dan adik nya sudah tak terlihat, gus Umar masih duduk terpaku di tempat nya, "semoga Allah senantiasa menjaga mu,,," lirih gus Umar, seraya mengusap bulir bening yang sudah ingin menyeruak sedari tadi namun masih berhasil di tahan nya.

__ADS_1


Tapi kini, sepeninggal keluarga nya,, gus Umar tak lagi kuasa untuk menahan air mata nya, yang mulai mengalir menganak sungai tersebut. "Yes, she is some one special...." gumam gus Umar dalam hati, mengingat perkataan Laila tadi.


bersambung,,,


__ADS_2