
Gus Umar dan sang adik langsung menuju ke ruang keluarga, dan mendapati sang abah juga tengah berada di sana sedang duduk sambil membaca sebuah kitab kuning.
"Assalamu'alaikum abah," sapa kedua nya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warohmatullah,," balas kyai Abdullah seraya mengalihkan perhatian nya kepada putra dan putri nya yang baru saja datang.
"Kalian sudah sampai?" Tanya sang abah, seraya menerima uluran tangan Laila yang mencium punggung tangan nya dengan takdzim. Bergantian dengan gus Umar, yang juga melakukan hal yang sama.
"Nggih abah, barusan," balas gus Umar mewakili.
"Ning Zahra mana?" Tanya kyai Abdullah seraya mengedarkan pandangan keluar ruangan, dan sedetik kemudian kembali fokus pada gus Umar dan Laila yang telah duduk di sofa.
"Tadi kami langsung ke rumah bah, dan sekarang ning Zahra ditemani sama umi," balas gus Umar, kembali menjawab pertanyaan sang abah.
Kyai Abdullah mengangguk-angguk, "kondisi nya bagaimana? Apa sudah benar-benar membaik, sehingga kalian membawa nya pulang?" Selidik sang abah.
Gus Umar mengangguk, "Alhamdulillah bah, perkembangan nya sangat cepat. Dokter saja juga heran melihat nya," jawab gus Umar jujur, seperti yang di dengar nya dari dokter usai memeriksa ning Zahra sehari pasca operasi.. tepat nya, pasca pertemuan ning Zahra dengan Aida.
"Tunggu, tunggu,, apa membaik nya kesehatan ning Zahra ada kaitan nya dengan pertemuan ning Zahra dengan Aida ya?" Bisik gus Umar dalam hati, mengingat kembali reaksi ning Zahra pasca mendengar cerita dari umi tentang Aida dan kemudian pertemuan mereka berdua.
"Alhamdulillahirobbil'aalamiin,," ucap syukur kyai Abdullah, mendengar kabar yang dinantikan nya itu. Beliau dan sang istri yang selalu mendo'akan kesembuhan untuk menantu nya, dan kebaikan rumah tangga untuk gus Umar dan ning Zahra tentu merasa sangat lega.. mengetahui sang menantu sudah bisa pulang dan kembali berkumpul bersama keluarga di lingkungan pesantren.
"Apa artikel yang Laila maksud ada hubungan nya dengan kekhawatiran ku? Bahwa ning Zahra mengalami trauma akibat rahim nya di angkat?" Lanjut gus Umar bergumam.
"Ada apa gus? Seperti ada yang sampean pikirkan?" Tebak kyai Abdullah, begitu mendapati wajah keruh sang putra.
"Emm, nggih abah," gus Umar menggumam, dan kemudian menjawab singkat seraya melirik sang adik.
"Katakanlah gus, barangkali abah bisa bantu," pinta kyai Abdullah.
Gus Umar kemudian menceritakan tentang perubahan sikap sang istri, serta permintaan ning Zahra agar gus Umar menikahi Aida.
__ADS_1
Kyai Abdullah mengernyitkan kening nya dengan dalam, hingga guratan itu terlihat semakin banyak.
"Nyuwun sewu abah, Ning Zahra memang sejak awal bersikukuh tidak mau di operasi,,, dan seperti nya saat ning Zahra mengalami ketakutan yang luar biasa terkait operasi pengangkatan rahim nya tersebut." Terang gus Umar, dan kemudian melirik sang adik.
"Dik, kamu tadi dapat kiriman artikel apa dari dik Aida?" Tanya gus Umar.
"Ini kak, artikel tentang perubahan sikap yang mungkin saja bisa terjadi pasca operasi," balas Laila seraya membaca judul link artikel yang dikirimkan oleh Aida.
"Apa itu?" Tanya kyai Abdullah seraya menatap putri nya.
Laila kemudian menyodorkan ponsel nya pada sang kakak, agar gus Umar membaca nya sendiri.
"Jelasin aja dik, kamu udah baca kan?" Titah gus Umar.
Laila mengangguk, dan kemudian menerangkan mengenai isi artikel tersebut secara gamblang. "Kalau Laila lihat di diri mbak Zahra setelah operasi itu, apa yang ada dalam artikel ini benar kak, bah," Laila menatap kakak dan abah nya bergantian.
"Mbak Zahra bicara nya kayak yang muter-muter dan susah untuk di mengerti, udah gitu jadi kayak ngeyelen,, seperti bukan mbak Zahra bah, iya kan kak?" Laila menegaskan pada sang kakak.
Kyai Abdullah mengangguk-angguk, seperti nya sudah bisa memahami apa yang terjadi pada menantu nya.
"Menurut Umar, ning Zahra takut saya menikah lagi untuk mendapatkan keturunan dan kemudian meninggalkan nya. Dan karena itu, ning Zahra sengaja menjodoh-jodohkan Umar dengan dik Aida, karena ning Zahra tahu betul bahwa dik Aida enggak akan mungkin tega menyakiti nya. Ya, inti nya menurut Umar,, meskipun Umar menikah lagi, tapi posisi ning Zahra tetap aman di samping Umar," lanjut gus Umar, seraya menatap abah nya.
"Memang nya sampean mau menikah lagi gus?" Tanya kyai Abdullah seraya menatap gus Umar dengan intens.
Dengan cepat gus Umar menggeleng, "Umar hanya sanggup memiliki satu istri bah," balas gus Umar dengan tegas.
Kyai Abdullah mengangguk-angguk,, "memang tak semua laki-laki mampu bersikap adil, dan tak semua wanita bisa ikhlas dan ridho berbagi suami." Gumam kyai kharismatik tersebut, "besok, bawa ning Zahra ke rumah sakit di kabupaten.. dan konsultasikan keadaan nya dengan dokter," titah kyai Abdullah seraya menatap putra nya.
"Nggih bah," balas gus Umar, dan kemudian pamit untuk pulang karena khawatir ning Zahra mencari nya.
@@@@@
__ADS_1
Di ibukota propinsi, Ryan dengan dibantu sang ibu mendatangi seorang ustad di komplek perumahan elit dimana dia tinggal dan mengemukakan keinginan nya untuk belajar sholat.
"Alhamdulillah,,," sambut sang ustadz dengan gembira, mendengar keinginan Ryan.
"Tapi mohon maaf sebelum nya pak Ryan, jika boleh saya tahu.. niat pak Ryan ingin belajar sholat itu apa?" Tanya ustadz muda tersebut, seraya tersenyum santun menatap Ryan.
Sejenak Ryan terdiam, seakan enggan untuk menceritakan tujuan nya.. yang pasti nya akan berakhir dengan menceritakan tentang perpisahan nya dengan Aida.
"Jujur karena saya ingin bisa bertemu dengan istri saya kembali mas ustadz," jawab Ryan dengan tertunduk.
Ustadz muda itu mengernyit, "maaf, memang istri nya kemana?"
Hening, tak ada seorang pun yang bersuara hingga beberapa saat lama nya.
"Anu mas ustadz,,, " ucapan bu Retno yang memecah keheningan, menggantung di udara.
"Maaf ibu, maaf pak Ryan, tidak perlu di jawab pertanyaan saya yang barusan... jika pak Ryan tidak berkenan." Tutur ustadz tersebut memotong perkataan bu Retno.
"Kenapa saya ingin tahu tujuan atau niat pak Ryan ingin belajar sholat? Karena jika ternyata tujuan atau niat pak Ryan keliru.. maka saya bisa mengingat kan," lanjut sang ustadz.
Ryan terlihat mengangguk,
"Pak Ryan, untuk memulai belajar atau mau melakukan aktifitas apapun... terlebih dahulu, mari kita harus meluruskan niat. Jika niat nya baik, Insyaallah hasil nya juga akan baik." Ustadz muda tersebut menatap Ryan dengan tatapan teduh.
"Luruskan niat pak Ryan, bahwa pak Ryan ingin belajar sholat itu hanya karena Allah.. jangan karena orang lain, atau hal apa pun itu. Karena jika kita melakukan sesuatu dan diniatkan hanya kepada Allah, Insyaallah kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Nya." *)
Kembali, Ryan terlihat mengangguk-angguk, mendengar kan dengan khusyuk setiap penuturan sang ustadz.
bersambung,,,
*) Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ; "Bahwa setiap perbuatan (hanya sah) dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan imbalan sesuai dengan niatnyaβ. (HR Bukhari Muslim). Wallahua'lam...
__ADS_1