
Setiba nya di kamar Laila, Aida segera mendudukkan diri nya dengan posisi ternyaman sambil bersandar pada headboard. "Makasih ya La, udah bantuin," ucap Aida dengan tulus pada sahabat nya.
"Eh, ngomong apa barusan? Jadi selama ini, kamu anggap aku ini orang lain? Pakai makasih makasih segala??" Protes Laila, seraya cemberut.
Aida tersenyum,,, "bukan gitu La, walaupun kita sahabat, saudara atau sedekat apapun hubungan kita... bukan kah kita harus tetap membiasakan untuk bilang makasih kalau udah di bantu? Bilang maaf, jika bersalah... dan bilang tolong, jika membutuhkan bantuan?" Laila meraih tangan sahabat nya, "itu wujud kecil dari penghargaan kita pada orang-orang yang kita sayang, dan.. karena aku sayang sama kamu ning Laila," ucap Aida seraya mencubit pipi sahabat nya itu.
Laila semakin cemberut, "jangan panggil ning, aku enggak suka kalau kamu panggil aku ning?!" Kembali Laila protes.
"Iya,, iya,, Laila ku sayang,,,"
Dert,, dert,,, dert,,
Suara panggilan masuk dari ponsel milik Laila, mengalihkan perhatian kedua sahabat itu. Laila segera mengambil ponsel nya yang dia simpan di atas nakas, terlihat nama 'kak Umar' di layar ponsel nya.
"Kak Umar telpon, aku angkat dulu,," ucap Laila, sambil menggeser tombol gambar telpon berwarna hijau. Dan kemudian memencet tombol load speaker, begitulah kebiasaan Laila ketika menerima ataupun melakukan panggilan dengan sang kakak ketika di samping nya ada Aida.. benar-benar tak ada rahasia di antara mereka berdua.
"Assalamu'alaikum kak,,," sapa Laila terlebih dahulu, seraya menatap Aida. Sedangkan Aida diam mendengarkan.
"Wa'alaikumsalam dik,," balas suara maskulin di seberang sana, "dik, barusan kakak telpon ke nomor abah tapi tidak di angkat.."
Belum selesai gus Umar berbicara, Laila telah memotong nya. "Abah lagi mimpin tahlil di aula kak, mungkin sebentar lagi selesai. Ada apa kak?" Tanya Laila.
"Oh iya, emmm.. tolong nanti kalau udah selesai tahlil, sampaikan sama abah dan umi kalau mbak Zahra baru saja meninggal," ucap gus Umar dengan suara tercekat..
"Gitu aja ya dik, assalamu'alaikum,,," lanjut gus Umar, yang seperti nya tak kuasa untuk berkata-kata lagi. Dan gus Umar langsung mengakhiri panggilan nya, tanpa menunggu balasan salam dari sang adik.
"Kak, apa abah harus ke,,," Laila melihat layar ponsel nya, "yah,, sudah dimatiin??" Gerutu Laila.
"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun,,,," lirih Aida, yang kemudian diikuti oleh Laila.
Bacaan Istirja' tersebut merupakan penggalan surat Al-Baqarah ayat 156 yang arti nya; "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jugalah kami kembali."
__ADS_1
Dalam kalimat tersebut mengandung pesan bahwa seseorang agar tetap bersabar, ikhlas, dan kuat ketika tertimpa musibah, cobaan atau pun ujian.
"Da, aku keluar bentar ya,, mau menyampaikan kabar ini sama abah dan umi," Laila bergegas keluar dari kamar, sedang kan Laila masih terpekur di tempat nya.
"Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, wa inna ilaa rabbina lamunqalibuun, allahummaktubhu ‘indaka fiil muhsinin, waj’al kitaabahu fii ‘illiyyiin, wakhlufhu fii ahlihi fil ghaabirin, wa laa tahrimnaa ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu." Do'a Aida kemudian, seraya mengangkat kedua tangan nya.
Yang artinya: "Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sesungguhnya kepada tuhan kamilah kami kembali. Ya Allah, tuliskan lah dia di sisi-Mu termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Jadikanlah catatannya di ‘illiyyin, tempat kembalinya orang-orang yang baik. Berikanlah ganti kepada keluarga yang ditinggalkan. Janganlah engkau haramkan bagi kami pahalanya dan janganlah Engkau beri fitnah kepada kami sesudahnya."
Doa ini termaktub dalam kitab Adzkar Imam Nawawi. Doa ini sebagai bentuk doa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya sekaligus mengingatkan kita tentang kematian yang hanya Allah yang tahu. Doa ini juga menyiratkan tentang harapan dan perlindungan kepada keluarga yang ditinggalkan. *)
Sementara di ruang keluarga, Laila yang berjalan tergesa menghampiri sang umi membuat nyai Robi'ah bertanya-tanya, "ada apa ning? Aida baik-baik saja kan?" Tanya nyai Robi'ah, yang justru mengkhawatirkan kondisi Aida karena sebelum masuk kamar tadi bu Retno sempat mengatakan hal-hal yang mungkin akan membuat Aida kembali bersedih.
Laila menggeleng, "ini bukan tentang Aida umi, Aida baik-baik saja," jawab Laila, dan kemudian mendudukkan diri di samping sang umi.. agar dia bisa dengan menyampaikan dengan tenang kabar dari kakak nya tadi.
"Ini tentang mbak Zahra mi," lirih Laila, "barusan kak Umar telpon Laila,,, mbak Zahra baru saja meninggal umi," lanjut Laila, seraya menatap wajah teduh sang umi.
"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun,,," ucap nyai Robi'ah yang dibarengi oleh semua yang mendengar, masih ada bu Dibyo, bu Retno, mbak Ning dan juga mbok Nah di ruang keluarga tersebut.
"Zahra lihat ke sana ya mi, siapa tahu sudah selesai tapi abah masih ngobrol sama bapak-bapak," Laila segera beranjak dan keluar untuk menuju aula.
Tepat di halaman, Laila melihat abah nya sedang berjalan kearah nya bersama pak Karyo, pak Dibyo, Ryan serta ayah nya, dan dua orang kang santri.
"Ada apa ning?" Tanya kyai Abdullah, yang menyadari bahwa putri nya menanti kedatangan nya dengan wajah bersedih.
"Mbak Zahra bah,,," sejenak Laila menghentikan ucapan nya, "barusan kak Umar telpon Laila, kalau mbak Zahra baru saja meninggal," ucap Laila dengan suara tercekat, bagaimanapun ning Zahra selama dua tahun ini sudah menjadi bagian dari keluarga nya.. dan tentu saja kepergian ning Zahra tetap menyisakan kesedihan di hati keluarga kyai Abdullah, termasuk Laila.
"Innalillahi wainnailaihi raaji'uun,," ucap kyai Abdullah, yang diikuti oleh semua orang yang berada di belakang kyai Abdullah.
"Apa kakak mu bilang, abah harus ke sana ning?" Tanya kyai Abdullah.
"Kak Umar tidak mengatakan apa-apa abah, dan tadi waktu Laila mau bertanya.. ponsel kak Umar keburu dimatikan," balas Laila.
__ADS_1
"Abah akan telpon kakak kamu," kyai Abdullah hendak masuk kedalam, untuk mengambil ponsel nya yang tersimpan di dalam kamar.
"Pakai ponsel Laila saja bah," cegah Laila, dan Laila langsung mendial nomor sang kakak.
Tut.. tut.m..
Tepat pada panggilan kedua, panggilan Laila di angkat,, dan Laila langsung menyerahkan ponsel nya pada sang abah.
"Wa'laikumsalam gus,," kyai Abdullah terdengar menjawab salam dari suara di seberang sana, "ini abah gus," kyai Abdullah menjelaskan.
"Gus, apa abua perlu ke rumah sakit?" Tanya kyai Abdullah.
Nampak kyai Abdullah mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali mengangguk-angguk.
"Baiklah gus, abah akan urus semua nya yang di sini." Balas kyai Abdullah.
"Wa'laikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,," pungkas kyai Abdullah, dan kemudian menyerahkan ponsel nya pada putri nya.
"Kang, tolong persiapkan pemakaman ning Zahra malam ini juga," titah kyai Abdullah pada dua orang santri nya.
bersambung,,,
🙏🙏🙏🙏🙏
Menuliskan cerita tentang kematian, membuat kepala ku kemarin tiba-tiba pusing dan badan jadi meriang..
Bahwa semua makhluk yang bernyawa, pasti akan mati 😥
Tapi jika boleh meminta,,, semoga Allah panjangkan usia kita,,,,
Diberikan umur yang manfaat dan barokah, dunia hingga akhirat kelak, aamiin 🤲🤲
__ADS_1
*) Sumber, compasTV