
Waktu terus berlalu, Aida menyibukkan diri nya di warung untuk melupakan kesedihan nya kala mengingat sang buah hati yang tak sempat di asuh nya.
Kondisi kesehatan Aida pun cepat membaik, karena Mbak Ning dan bu Dibyo, serta Laila yang setiap minggu rajin berkunjung,, selalu mengingat kan Aida, untuk meminum obat dan vitamin nya.
Belum lagi gus Umar, yang juga rajin mengirimi sang kekasih pujaan hati itu pesan,,, yang mengingat kan, agar Aida mengutamakan kesehatan nya dengan banyak beristirahat dan makan makanan yang bergizi.
Gus Umar tiap minggu juga mengirimi Aida buah-buahan, meski tak diantar nya secara langsung,, tapi melalui sang adik. Karena gus Umar tak ingin bertemu terlebih dahulu, hingga saat nya ijab qabul terucap nanti.
Agar rindu yang dipendam nya semakin menggunung, dan akan membuncah bahagia pada saat nya pertemuan mereka nanti tiba.
Dan Aida menyetujui dan mendukung keinginan gus Umar tersebut, dengan bersedia menahan rindu dan hanya melalui chat saja mereka bertemu.
"Dik, udah tidur belum? Maaf, baru bisa berkirim pesan. Tadi selesai ngajar, diskusi dulu sama kang santri di aula," pesan gus Umar, ketika Aida baru saja merebahkan tubuh nya. Pesan yang sudah di tunggu nya sejak tadi, karena Aida malu untuk memulai berkirim pesan terlebih dahulu.
Aida tersenyum, dan kemudian segera mengetikkan balasan. "Belum kak, tadi masih nunggu chat dari jenengan," balas Aida jujur.
Di dalam kamar nya, gus Umar tersenyum lebar dan mendekap ponsel nya di dada.. seolah Aida lah yang sedang di dekap nya, "jujur, aku pengin video call kamu dik aku kangen pengin lihat wajah kamu?" Gumam gus Umar dalam hati, tapi pemuda kharismatik itu segera menggelengkan kepala nya sendiri.
Kembali gus Umar mengetik di layar ponsel nya, "maaf ya dik, jadi membuat mu menunggu. Ya udah, sekarang tidurlah,, aku akan menemani mu, dengan mengaji. Kamu angkat ya nanti telpon nya, aku mau wudhu dulu," sebelum mendial nomor Aida, gus Umar terlebih dahulu bersuci.
Gus Umar segera mengambil Al-Qur'an dan kemudian duduk dengan nyaman menghadap kiblat, membuka mushaf nya dan mendial nomor Aida. Tepat di saat panggilan nya di angkat, gus Umar mengucap salam dan kemudian membaca ta'awudz... basmallah dan lanjut membaca Al-Qur'an sebagai pengantar tidur sang kekasih hati.
Di kamar nya, Aida tersenyum-senyum sendiri, mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh gus Umar. Bukan nya semakin mengantuk tapi netra indah itu semakin membuka lebar, tak ingin sedetik pun melewatkan suara yang menyejukkan hati nya itu.
Hingga hampir tiga puluh menit gus Umar mengaji, tapi Aida belum merasakan kantuk sama sekali. Dan ketika gus Umar mengakhiri bacaan Al-Qur'an dengan membaca tashdiq, "Shadaqallahul-'adzim,"
__ADS_1
Yang artinya ; "Maha benarlah Allah yang Maha Agung."
Aida terdiam dan tak menjawab ketika gus Umar bertanya, "dik, sudah tidur?"
Gus Umar masih belum mematikan panggilan nya hingga beberapa saat, "semoga mimpi indah dik," lanjut gus Umar, yang sengaja tak dijawab oleh Aida agar gus Umar mengira dirinya telah terlelap.
Aida memegang dada nya, debaran itu semakin nyata. Bahkan hanya dengan mendengar suara nya, dan mendengar sapaan pengantar tidur 'semoga mimpi indah' hati Aida serasa berbunga-bunga.
Senyum indah terus menghiasi bibir tipis itu, hingga Aida terpejam,,, senyum nya masih saja mengembang.
@@@@@
Menjelang peringatan empat puluh hari meninggal nya ning Zahra dan baby Wildan, keluarga gus Umar disibukkan dengan berbagai macam persiapan.
Para santri putri beserta para tetangga terdekat, sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan untuk kendurian nanti malam... sedangkan para santri putra, menyimak salah seorang santri putra yang mengkhatamkan Al-Qur'an tiga puluh juz.
"Menurut nyai Siti, nak Aida kemarin sudah suci dari nifas. Bagaimana kalau nanti malam, bakda kendurian.. kalian melangsungkan pernikahan?" Kyai sepuh menatap cucu kesayangan nya.
Gus Umar nampak terkejut dan kemudian menatap abah nya, "bagaimana menurut abah?" Tanya gus Umar.
"Pak, apa ndak sebaik nya.. bapak bicarakan dulu dengan abah Hasyim? Takut nya, nanti beliau kecewa kalau tidak diberitahu terlebih dahulu," kyai Abdullah menatap kyai sepuh, beliau nampak khawatir jika keluarga besan nya itu merasa tidak dihargai.
Kyai sepuh mengangguk-angguk, "beberapa waktu lalu, aku sudah bertemu dengan gus Hasyim. Awal nya, dia sangat terkejut ketika bapak mengatakan kalau gus Umar sudah memiliki calon istri. Dan gus Hasyim memang nampak tidak suka," sejenak kyai sepuh menghentikan ucapan nya, tatapan nya menerawang jauh.
"Tapi setelah aku jelaskan semua, tentang kisah gus Umar dan putri nya almarhum Dahlan itu.. gus Hasyim akhirnya nya bisa menerima nya." Wajah kyai sepuh terlihat lega.
__ADS_1
Kyai Abdullah pun merasa lega, begitu pula dengan gus Umar.
"Tapi,,," kyai sepuh menatap putra dan cucu nya bergantian, "gus Hasyim meminta, agar pernikahan gus Umar dan nak Aida jangan terlalu cepat. Kalau pun harus sesegera mungkin, gus Hasyim memohon agar tidak di publikasi kan terlebih dahulu. Dan bapak menyanggupi nya gus," kyai sepuh menatap putra nya.
"Dan kakek pikir, tak mengapa kalian menikah secepatnya tapi secara agama dahulu gus," lanjut kyai sepuh menatap sang cucu.
"Gus Hasyim juga tak keberatan ikut menjadi saksi untuk pernikahan kalian nanti malam, karena nanti malam seluruh keluarga besar ning Zahra juga akan hadir ke sini untuk memperingati empat puluh hari meninggal nya ning Zahra," terang kyai sepuh.
Gus Umar mengangguk, hati nya sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Padahal tadi gus Umar sempat bingung, bagaimana nanti kalau ketemu Aida? Padahal dia sedang berpuasa untuk tidak bertemu dulu dengan wanita pujaan hati nya itu, hingga saat pernikahan mereka nanti tiba... yang bahkan, kapan pelaksanaan pernikahan itu belum sempat mereka bahas.
Tapi kini, gus Umar mendapatkan kejutan istimewa.. karena pernikahan nya tiba-tiba akan dilaksanakan nanti malam,,, hingga gus Umar tak perlu lagi mencari cara, untuk menghindari pertemuan nya dengan Aida.
"Gus, kalau begitu.. persiapkan diri sampean. Kalau mahar untuk nak Aida belum ada, masih ada waktu untuk mencari dan menyiapkan nya. Mumpung masih pagi, sampean ajak saja ning Laila untuk mencari apa yang diperlukan," titah kyai Abdullah, seraya menatap sang putra.
"Dik Laila sedang menjemput dik Aida dan mbak Ning serta bu Dibyo abah, dia diantarkan kang santri tadi," balas gus Umar.
"Kalau gitu, ajak saja umi."
Dan tepat di saat yang sama, nyai Robi'ah muncul dari arah dapur.
"Di ajak kemana bah?" Tanya nyai Robi'ah, yang langsung mendekat.
Kyai Abdullah kemudian mengatakan rencana mereka untuk menikah kan gus Umar dan Aida malam nanti, "Alhamdulillah,,," ucap syukur nyai Robi'ah, yang terlihat sangat bahagia.
"Ayo gus, umi antar sampean cari keperluan untuk mahar nya. Sekalian kita cari kebaya untuk nak Aida, dia kan pasti belum mempersiapkan? Wong acara nya dadakan gini? Sampean tahu ukuran baju nya nak Aida kan gus?" Nyai Robi'ah nampak sangat antusias.
__ADS_1
Gus Umar mengangguk dan tersenyum lebar, "Alhamdulillah,, jika berjodoh, takkan kemana." Batin gus Umar.
bersambung,,,