Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 9 : Pupus Karena Perjodohan


__ADS_3

Hari berganti, Aida telah kembali ke pesantren lebih awal untuk memenuhi janji nya pada Laila agar mereka berdua bisa belajar bersama.


Setelah sowan pada nyai Robi'ah, Aida langsung menuju ke kamar nya yang berada di dalam lingkungan pesantren putri,, tepat nya di belakang kediaman kyai Abdullah.


Laila yang mengetahui bahwa Aida ternyata sudah datang tapi tidak langsung ke kamar nya seperti biasa yang Aida lakukan jadi bertanya-tanya, "tumben Aida enggak ke kamar ku dulu, ada apa ya? Apa jangan-jangan Aida sudah tahu kalau kak Umar sudah melamar ustadzah Zahra?" Gumam Laila dalam hati.


Laila kemudian berjalan menuju ke pesantren untuk menemui sahabat nya itu, Laila memasang wajah ramah dan tersenyum manis pada semua santri yang menyapa nya.


"Mau ketemu Aida ya ning?" Tanya salah seorang pengurus yang mengetahui kebiasaan putri kyai nya itu.


Laila mengangguk, "iya mbak, Aida nya sudah datang kan?" Laila nampak berbasa-basi pada gadis yang usia nya beberapa tahun di atas nya itu.


"Nggih ning, belum lama kok," balas pengurus putri tersebut.


Laila kemudian segera meneruskan langkah nya menuju kamar Aida, "Assalamu'alaikum,," ucap salam Laila, dan langsung nyelonong masuk kedalam kamar berukuran tiga kali empat meter yang dihuni oleh empat santri itu.


"Wa'alaikumsalam,," balas Aida dan salah seorang teman sekamar nya, "eh ning Laila, silahkan duduk ning," ucap santri putri tersebut.


"Iya, makasih," balas Laila seraya tersenyum ramah, dan kemudian segera duduk di atas karpet yang warna nya sudah mulai pudar.


"Duduk sini aja La," pinta Aida, seraya menunjuk tempat tidur nya, yang beralaskan matras yang cukup tebal.


"Di sini juga sama aja Da," balas Laila yang tak mau pindah duduk.


"Eh, Mia.. aku ingin bicara berdua sama Aida, boleh enggak?" Pinta Laila, menatap santri putri yang bernama Mia tersebut.


"Oh nggih ning, monggo.. kebetulan saya juga mau antri mandi," balas Mia, yang langsung beranjak dan keluar dari kamar seraya membawa peralatan mandi milik nya.

__ADS_1


Kini di kamar tersebut hanya tinggal Laila dan Aida, dan kedua nya masih sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Aida bingung harus bicara apa, sedangkan Laila juga nampak bingung harus memulai pembicaraan dari mana?


"Oh ya La, maaf ya.. aku tadi enggak nyamperin kamu ke kamar, soal nya tadi aku buru-buru piket bersih-bersih musholla," ucap Aida memulai percakapan.


"Iya Da, enggak apa-apa kok," balas Laila dengan tersenyum, "tapi nanti malam bakda diniyah, kita bisa belajar bareng di kamar ku kan?" Pinta Laila penuh harap.


Aida mengangguk, mengiyakan permintaan sahabat nya.


Terdengar lantunan ayat suci Alqur'an dari masjid di komplek pondok putra, sebagai pertanda bahwa waktu maghrib akan segera tiba.


"Udah mau maghrib, aku balik dulu ya Da," pamit Laila pada sahabat nya.


Aida hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian mengantar kepergian Laila sampai depan kamar nya.


@@@@@


Aida dan Laila segera duduk di tempat paling depan seperti biasa nya, begitulah kebiasaan mereka berdua.. karena mereka meyakini, dengan duduk di depan maka mereka akan lebih bisa berkonsentrasi dalam belajar sehingga apa yang di sampai kan oleh ustadz ataupun ustadzah bisa di serap dengan baik.


Baru beberapa saat kedua nya duduk, terdengar ucap salam yang sangat familiar di telinga mereka berdua. Aida dan Laila saling pandang, saat mereka berdua melihat siapa yang memasuki ruang kelas wustho tersebut.


"Gus Umar ngajar diniyah La?" Tanya Aida penuh selidik.


Laila mengangkat kedua bahu nya, "aku juga belum tahu Da," balas Laila, yang memang belum mengetahui bahwa mulai malam ini gus Umar ikut mengajar di kelas diniyah.


Sedangkan gus Umar yang langsung duduk di depan santri putra, juga tidak mengetahui bahwa sang adik dan sahabat nya ada di kelas wustho tersebut,,, karena pandangan gus Umar tertutup satir, yang memisahkan tempat duduk antara santri putra dan santri putri.


Gus Umar mulai membuka pembelajaran nya dengan bacaan ummul kitab, dan kemudian pemuda kharismatik itu mulai menerangkan materi pelajaran yang beliau ampu yaitu ilmu tafsir,,, sesuai dengan jurusan yang beliau ambil di perguruan tinggi di Madinah.

__ADS_1


Gus Umar menyampaikan materi dengan cara yang santai dan sesekali diselingi dengan humor-humor ringan, hingga semua santri tidak ada yang mengantuk seperti jika diajar oleh ustadz yang lain. Dan apa yang gus Umar sampaikan, bisa begitu mengena di hati mereka semua nya dan bisa meresap kedalam pikiran.


Tanpa terasa, hampir dua jam gus Umar mengajar dan para santri masih terlihat betah duduk dengan nyaman dan menyimak, mendengar kan serta mencatat apa yang gus Umar sampaikan.


Gus Umar kemudian menutup pembelajaran ilmu tafsir dengan bacaan Hamdalah, dan diakhiri dengan salam.


Gus Umar kemudian berdiri, dan para santri putra dengan tertib keluar dari kelas setelah menyalami gus Umar dan mencium punggung tangan putra kyai Abdullah itu dengan takdzim.


Setelah semua santri putra meninggalkan kelas, kini giliran santri putri yang meninggalkan ruang kelas wustho tersebut. Para santri putri itu berjalan dengan menundukkan kepala dan saat melintas di hadapan gus Umar, mereka membungkuk hormat.


Satu persatu semua nya keluar, hingga tersisa Aida dan Laila,,. mereka berdua pun kemudian keluar. Saat melintas di hadapan gus Umar, Aida menundukkan kepala nya dan membungkukkan badan nya sehingga gus Umar tak mengetahui bahwa yang melintas barusan adalah Aida.


Sedangkan di belakang Aida, Laila berjalan dengan santai hendak keluar dari ruang kelas tersebut. Laila tersenyum menatap kakak nya, yang terlihat kaget saat menyadari keberadaan nya. "Dik, kamu di kelas ini?" Tanya gus Umar, menatap sang adik.


"Iya kak, Aida juga kok.. tuh yang baru aja keluar," balas Laila seraya menunjuk kearah Aida yang baru saja keluar.


"Benarkah?" Tanya gus Umar dengan antusias.


Laila mengangguk, "mau Laila panggil kan kak?" Tawar Laila, yang yakin bahwa Aida pasti masih menunggu nya di luar kelas sebab mereka berdua sudah membuat janji akan belajar bersama.


Gus Umar nampak bingung, dan mendesah kasar. Sesaat kemudian gus Umar nampak menggeleng-gelengkan kepala nya, "kakak masih bingung dik, kalau pun kakak jujur mengatakan tentang perasaan kakak pada Aida.. rasa nya akan percuma juga, jika kakak tidak mampu untuk memperjuangkan perasaan kakak pada nya," ucap gus Umar dengan lemah, pemuda tampan dan kharismatik itu nampak tidak bersemangat.


Kembali Laila mengangguk, dan gadis cantik itu pun juga merasa bingung sebab tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu kakak dan sahabat nya agar dapat bersatu.


Sementara itu Aida yang sudah berada di luar ruangan, ternyata mendengar obrolan kakak beradik itu. Aida hanya dapat menarik nafas panjang,,,, dan merenungi kisah cinta nya yang belum pernah bersatu namun harus pupus karena perjodohan.


"Terimakasih gus, karena sampean juga ternyata benar-benar menyukaiku. Maaf kan aku yang sempat berburuk sangka... tapi kita harus menerima kenyataan ini gus, dan jangan pernah melawan kehendak orang tua. Aku enggak mau, sampean menjadi anak durhaka hanya karena cinta yang belum tentu ini baik untuk kita berdua. Karena apa yang menurut kita baik, belum tentu itu baik pula bagi kita menurut Allah." Aida bermonolog dalam diam, segera dia susut air mata nya agar Laila tidak mengetahui bahwa dia tengah menangis.

__ADS_1


bersambung,,,


__ADS_2