
Beberapa bulan telah berlalu, genap setahun sudah gus Umar dan ning Zahra menikah. Dan selama beberapa bulan ini, ning Zahra menjalani pengobatan kemoterapi karena kanker serviks yang diderita istri gus Umar tersebut terdeteksi sudah stadium akhir.
Ning Zahra yang tak pernah mengeluh tentang masalah menstruasi nya, dan sikap nya yang tak mau terbuka bahkan terhadap suami nya sendiri.. membuat penyakit yang menggerogoti tubuh nya dari dalam itu terlambat di ketahui.
Sebenarnya dokter menyarankan agar dilakukan Histerektomi radikal, namun ning Zahra menolak nya.
Histerektomi radikal yaitu, rahim dan jaringan sekitarnya diangkat, termasuk tuba falopi, **** * bagian atas, ovarium, kelenjar getah bening, dan jaringan lemak.
Gus Umar dengan sabar mendampingi istri nya menjalani pengobatan yang dilakukan di rumah sakit besar di ibukota propinsi, pemilihan rumah sakit tersebut bukan tanpa alasan.. tapi karena gus Umar menginginkan ,agar istri nya mendapat kan pengobatan yang terbaik.
Dan agar sang istri tidak kecapekan wara-wiri perjalanan jauh, gus Umar mengontrak sebuah rumah kecil di dekat rumah sakit. Dan Laila yang kuliah nya tak terlalu jauh dari rumah sakit, untuk sementara ikut tinggal di rumah kontrakan tersebut menemani kakak nya mengurus ning Zahra.
Gus Umar pun memutuskan untuk mengambil cuti dari mengajar di yayasan milik keluarganya, demi bisa mengurus sang istri dengan baik.
Pada kanker serviks stadium 4 yang sudah berat dan sulit disembuhkan seperti yang dialami ning Zahra, pemberian kemoterapi bukan bertujuan untuk menyembuhkan, melainkan untuk meringankan gejala (kemoterapi paliatif).
Kemoterapi bekerja di seluruh tubuh. Oleh karena itu, kemoterapi juga dapat menimbulkan efek samping yang memengaruhi sel sehat, seperti kulit, rambut, usus, dan sumsum tulang... dan hal ini lah yang ditakutkan oleh ning Zahra.
Sering Laila menjumpai kakak ipar nya itu menangis, karena rambut nya yang mulai menipis, tubuh nya semakin kurus dan kulit nya menjadi kusam.. hingga membuat ning Zahra menjadi semakin minder jika bertemu dengan suami nya.
"Mbak, mbak Zahra masih tetap cantik kok.. karena kecantikan mbak Zahra itu dari dalam sini," hibur Laila seraya menunjuk dada ning Zahra, tatkala Laila tengah menemani kakak ipar nya tersebut.
"Percaya sama Laila mbak, kak Umar tidak akan pernah berpaling.. meski rambut mbak Zahra habis sekali pun," lanjut Laila seraya menepuk lembut punggung kakak nya, yang masih terisak.
Ning Zahra menggeleng,, "mbak enggak pantas lagi untuk kakak mu dik, mbak malu. Lebih baik, gus Umar mencari pendamping lagi dik," lirih ning Zahra terbata.
__ADS_1
"Ssttt,,, mbak Zahra ini ngomong opo tho?" Cegah Laila, menyudahi ucapan ning Zahra.
Gus Umar yang baru saja masuk kedalam kamar, dan masih bisa mendengar ucapan istri nya.. langsung memeluk ning Zahra, "aku takkan pernah meninggalkan mu sendirian ning, berhenti lah berpikir seperti itu," bisik gus Umar lembut di telinga istri nya.
"Tapi gus, masa depan jenengan,,,"
"Ssttt,,, fokuslah dengan kesembuhan mu ning, aku yakin kita akan bisa menghabiskan sisa usia bersama-sama," pungkas gus Umar mengakhiri percakapan yang mengharu biru itu.
@@@@@
Di belahan kota lain, Aida menjalani kehidupan rumah tangga nya dengan mengalir seperti air. Istri Ryan itu tak pernah lagi mengingatkan sang suami untuk sholat, seperti yang pernah Ryan pinta. Namun di setiap do'a nya, Aida selalu memohon pada yang Maha Kuasa agar dibukakan pintu hati suami nya untuk mau menerima nasehat baik. Dan berharap, Ryan mendapat kan hidayah dan mau mengingat Tuhan nya.
Dan pagi ini, Aida yang beberapa hari ini sering mengalami pusing dan mual di pagi hari.. serta mendapati mentruasi nya yang sudah terlambat dua minggu, memberanikan diri untuk mengunjungi bidan di komplek dia tinggal tanpa ijin pada Ryan yang sudah berangkat bekerja.
Aida berjalan dengan santai, menuju rumah bidan yang menurut informasi dari ustadzah Zulaikhah.. rumah bidan tersebut tak jauh dari kediaman Ryan.
"Pagi mbak, ada yang bisa saya bantu?" Balas dan tanya perempuan tersebut dengan ramah.
"Iya, saya mau ketemu sama bu bidan Cristina,, apakah anda orang nya?" Tanya Aida dengan sopan.
Bidan Cristina itu mengangguk, "benar mbak, saya orang yang mbak cari," balas bu bidan seraya tersenyum.
"Oh Alhamdulillah, perkenalkan saya Aida. Sebenar nya saya mau periksa, tapi seperti nya bu bidan buru-buru.. kalau begitu, saya akan kemari lagi nanti sore," terang Aida.
"Oh, iya,,, sekarang saja tidak apa-apa mbak, saya masih ada waktu kok. Mari silahkan," dan bidan Cristina menuntun Aida untuk masuk ke dalam rumah nya.
__ADS_1
"Silahkan tunggu di sana sebentar ya mbak," bidan Cristina menunjuk sebuah ruangan khusus untuk praktek, yang berada di samping ruang tamu.
"Iya bu," Aida segera menuju ruang praktek tersebut., dan baru saja Aida duduk.. bidan Cristina menyusul masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada keluhan apa mbak?" Tanya bidan Cristina, sesaat setelah mendudukkan diri di kursi kebesaran nya.
Aida kemudian menceritakan apa yang dialami nya,, dari pusing kepala, mual di pagi hari, hingga jadwal menstruasi nya yang terlambat.
Sementara bidan Cristina memeriksa tekanan darah Aida, denyut nadi nya, dan mencatat apa saja yang dikatakan sang pasien.
Bidan Cristina tersenyum, "seperti nya dugaan mbak Aida benar.. tapi biar lebih jelas, kita tes urin saja ya mbak," pinta bu bidan, seraya menyerahkan alat tes urin kepada Aida.
"Silahkan, kamar mandi nya di sebelah sana," tunjuk bidan Cristina, mengarahkan jari telunjuk nya ke kamar mandi yang berada di sudut ruangan.
Aida dengan cepat segera menuju kamar mandi, istri Ryan itu nampak tidak sabar ingin segera mengetahui hasil nya. Dan tak butuh waktu lama, Aida keluar dari kamar mandi dengan bibir yang menyunggingkan senyum kebahagiaan.
Aida segera menunjukkan test pack dengan dua garis merah itu kepada bu bidan, "Alhamdulillah bu, hasil nya positif," ucap Aida dengan antusias.
"Selamat ya mbak," bu bidan menjabat tangan dingin Aida, istri Ryan itu terlihat senang sekaligus gugup menjadi satu.
Setelah menerima vitamin dan penambah darah dari bidan Cristina, dan membayar biaya nya.. Aida bergegas pulang dengan perasaan yang nano-nano, gembira, gugup, bingung.. sekaligus menjadi satu.
Diantara rasa bahagia yang Aida rasakan, terselip sedikit kekhawatiran.. "apakah mas Ryan bisa menerima kehamilan ku? Sedangkan selama ini, mas Ryan telah di vonis oleh dokter, bahwa dia tak bisa memiliki keturunan? Dan setiap kali aku ajak untuk memeriksakan kesuburan nya kembali, mas Ryan selalu menolak?"
"Ah, tidak,, tidak,, aku tak boleh berpikir negatif, toh selama ini mas Ryan juga mendukung usahaku agar kami bisa memiliki keturunan,," gumam Aida, mencoba menepis pikiran buruk yang sempat singgah di benaknya.
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, Aida segera memasak menu makan siang spesial untuk sang suami. Aida bermaksud menyampaikan kehamilan nya, sebelum acara makan siang nanti... dan Aida juga bermaksud mengadakan syukuran kecil-kecilan dalam rangka menyambut kehadiran calon buah hati, yang akan dirayakan berdua dengan sang suami.
bersambung,,,