
Aida buru-buru bangun setelah sang suami terkulai lemas di sisi nya, "mas, Aida mau sholat shubuh dulu.. udah hampir jam lima pagi," pamit Aida, seraya menyingkirkan kaki berat milik sang suami yang menindih kaki nya.
"Hemm,," hanya gumaman yang keluar dari mulut sang suami, dengan mata nya yang telah terpejam.
Aida buru-buru turun dari ranjang besar itu dan berjalan dengan tergesa menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan area milik nya yang semakin terasa ngilu.
Aida mandi dengan secepat kilat, karena Aida tahu bahwa shubuh nya sudah sedikit terlambat. Setelah berganti pakaian, Aida segera mengenakan mukena nya dengan sedikit terburu-buru dan kemudian menunaikan sholat shubuh seorang diri. Sedangkan Ryan, nampak telah terlelap kembali di atas pembaringan nya yang empuk.
"Ya Allah, ampuni aku.. aku bukan nya ingin melalaikan kewajiban ku beribadah kepada Mu, aku hanya tak ingin membuat malaikat Mu melaknat ku karena aku tak memenuhi keinginan suamiku dan membuat nya marah. Sedangkan suami ku kini sedang salah arah dan kumohon kepada Mu ya Rob.. berikanlah hidayah untuk suami ku, agar kami bisa bersama-sama beribadah kepada Mu," setelah memohon ampunan, do'a yang panjang di panjatkan Aida untuk sang suami.
Aida tadi memang akhir nya mengurungkan niat untuk menjalankan sholat malam, karena Aida paham bahwa sholat malam adalah sunnah sedangkan melayani suami adalah kewajiban.. yang jika tidak dipenuhi, maka Malaikat akan melaknat nya, sebagaimana sabda Rasul ;
"Ketika seorang laki-laki mengajak istrinya baik-baik ke ranjang [berhubungan ****], lalu sang istri menolak keras [membangkang], sehingga sang suami marah besar kepadanya, maka malaikat akan melaknat; menjauhkannya dari kasih sayang rahmat Allah sampai subuh." ( HR Bukhari )
Pun Aida berpikir, waktu shubuh masih cukup lama ketika sang suami mengajak nya.. sehingga dia masih bisa menjalankan kedua kewajiban tersebut, yaitu kewajiban melayani suami dan kewajiban menunaikan ibadah sholat shubuh.
Hanya saja, Aida tak menyangka kalau ternyata sang suami tak ada puas-puas nya. Setelah pelepasan nya yang pertama, Ryan meminta nya lagi dan lagi sampai adzan shubuh dari Masjid komplek terdengar,,, Ryan masih menggagahi nya, hingga akhir nya waktu shubuh Aida hampir terlewat.
Tapi setidak nya Aida masih bersyukur, karena diri nya masih bisa menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
@@@@@
Di pemakaman umum, di kampung halaman Aida.. kyai Abdullah dan keluarga nya tengah berziarah ke makam bibi Aini dan paman Dahlan yang makam nya memang bersebelahan.
Kyai Abdullah memimpin membaca surat Yasin dan di lanjut kan dengan tahlil, mereka berempat nampak sangat khusyuk. Sesekali, Laila mengusap air mata nya yang masih saja berjatuhan dengan tissue yang sengaja gadis itu bawa. Sedangkan gus Umar, terlihat lebih tegar.
__ADS_1
Usai membaca tahlil, kyai Abdullah mendo'akan kedua orang yang berarti dalam hidup nya itu agar dilapangkan dan di luaskan kubur nya, serta di ampuni segala dosa-dosa nya... yang diaminkan oleh istri dan kedua putra putri beliau.
Selesai berdo'a, kyai Abdullah dan keluarga nya membersikan makam bibi Aini dan suami nya dengan menggunakan tangan nya. mencabuti rumput yang tumbuh di makam paman Dahlan, dan memunguti dedaunan kering yang berguguran di gundukan makam bibi Aini yang masih baru.
Setelah dirasa cukup bersih, kyai Abdullah kemudian beranjak dan segera berlalu meninggalkan area pemakaman yang diikuti oleh keluarga nya.
Kyai kharismatik itu melangkah menuju kediaman almarhum sahabat nya, yaitu paman Dahlan.
Pintu rumah sederhana itu nampak tertutup rapat, tapi warung makan di samping rumah itu sudah buka. Dan kyai Abdullah langsung menuju warung yang dulu dikelola oleh bibi Aini tersebut.
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam abah dari ambang pintu warung.
"Wa'alaikumsalam,,," balas suara seorang perempuan paruh baya dari dalam dapur, dan sedetik kemudian wanita tersebut keluar dan sedikit terkejut melihat kehadiran kyai Abdullah dan keluarga nya di warung itu.
"Pak kyai, bu nyai," sapa nya dengan sopan, dan langsung mengelap tangan nya yang masih basah dengan daster lusuh yang dipakai nya hingga kering. Setelah nya, wanita paruh baya itu kemudian menyalami nyai Robi'ah dan mencium punggung tangan istri kyai Abdullah itu dengan takdzim.
"Maaf mbok Nah, mbak Ning nya ada?" Tanya Laila yang ikut menyalami wanita paruh baya yang bernama mbok Nah tersebut.
"Nggih ning Laila, mbak Ning ada kok di dalam.. tadi sedang mandiin Tio, bentar nggih mbok Nah panggilkan," balas mbok Nah seraya bergegas kembali ke dapur yang menghubungkan warung tersebut dengan ruang makan kediaman bibi Aini.
Tak berapa lama, mbak Ning membuka pintu rumah bibi Aini dan kemudian menghampiri kyai Abdullah dan keluarga nya yang masih menunggu di teras warung.
"Monggo pak kyai, umi.. pinarak di sana saja," pinta mbak Ning, setelah menyalami nyai Robi'ah.
Kyai Abdullah mengangguk, dan kemudian mengikuti langkah mbak Ning menuju kediaman bibi Aini.
__ADS_1
"Silahkan duduk pak kyai, umi,,, monggo gus Umar, silahkan duduk. Ayo ning Laila, duduk di sini sebelah mbak," ajak mbak Ning, pada Laila.
Dan mereka semua pun duduk, di kursi busa yang warna nya masih cukup bagus di ruang tamu kediaman bibi Aini yang tidak terlalu luas.
"Nyuwun sewu pak kyai, ada apa nggih.. kok nyari saya?" Tanya mbak Ning, sedikit khawatir. Wanita itu bisa menebak, pasti keluarga kyai Abdullah ingin menanyakan perihal Aida pada nya.
"Ya, mbak Ning. Mbak Ning pasti tahu kan dimana Aida sekarang?" Tanya kyai Abdullah langsung pada inti nya.
"Nggih, saya tahu pak kyai,, kalau neng Aida dibawa suami nya ke ibukota, karena mas Ryan ada pekerjaan di sana. Tapi untuk alamat nya, maaf pak kyai,, saya ndak dikasih tahu je sama neng Aida," balas mbak Ning cepat dan lengkap, karena tak mau di cecar banyak pertanyaan oleh kyai Abdullah.
"Oh, jadi suami nya bernama Ryan? Apa mbak Ning tahu rumah orang tua Ryan?" Tanya kyai Abdullah, yang hanya mendengar sekilas cerita dari Laila bahwa Aida menikah dengan putra bu Retno yang kabar nya seorang rentenir.
"Nggih pak kyai, saya tahu rumah nya bu Retno.. ndak jauh kok dari sini. Tapi maaf, kemarin sore bu Retno dan suami nya berangkat keluar kota karena anak nya melahirkan. Dan saya dengar kabar dari pembantu nya, kata nya bu Retno akan lama di sana," balas mbak Ning secara lengkap, sebagaimana yang dia tahu.
Kyai Abdullah mendesah pelan,, sementara ini, pupus harapan nya untuk bisa mengetahui keberadaan Aida secara pasti.
"Mbak, mbak Ning past tahu kan,, kenapa Aida tiba-tiba memutuskan untuk menikah secepat ini?" Tanya nyai Robi'ah, mencoba mencari jawab dari mbak Ning mengenai keputusan Aida yang mendadak dan dirasa nya ada yang janggal.
Mbak Ning terdiam dan menunduk, menatap netra teduh nyai Robi'ah yang terlihat begitu mengkhawatirkan Aida membuat mbak Ning tak sanggup jika berkata bohong.. tapi jika mengingat pesan Aida kepada nya, agar tidak mengatakan apa-apa membuat nya bungkam.
"Mbak Ning,,," panggil nyai Robi'ah dengan lembut seraya menatap mbak Ning dengan tatapan hangat, mendapatkan perhatian seperti itu mbak Ning merasa dilindungi.
"Nggih umi,, neng Aida menikah karena ingin menyelamatkan bu Aini." Mbak Ning kemudian menceritakan semua yang dia ketahui, mulai dari penyakit bibi Aini yang membutuhkan biaya mencapai ratusan juta.. hingga kesediaan putra bu Retno untuk membantu pengobatan nya tapi dengan syarat.
Dan mendengar cerita dari mbak Ning yang memilukan tersebut, Laila kembali menangis begitu pula dengan nyai Robi'ah. Gus Umar yang tengah menunduk pun, punggung nya nampak bergetar hebat.. pemuda tampan itu tak malu lagi menangis di hadapan keluarga nya, meski adapula mbak Ning di sana.
__ADS_1
Hanya kyai Abdullah yang mencoba untuk tetap tegar, "sudah, sudah,, keputusan nak Aida sudah yang terbaik, Aida anak yang berbakti yang merelakan masa muda nya demi menolong ibu nya. Insyaallah,, Allah ridho dengan keputusan nya, Allah ridho dengan pernikahan nya, dan semoga nak Aida bahagia bersama suami nya." Tutur kyai Abdullah, menghentikan tangis istri dan anak-anak nya.
bersambung,,,