Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab 99 : Perasaan Aida Semakin Tak Karuan


__ADS_3

Hari-hari terus berganti, suasana duka masih menyelimuti keluarga kyai Abdullah. Bahkan hingga hari keenam, para pelayat masih terlihat berdatangan.


Dan sore ini, ketika tak ada kang santri yang bisa menemani Aida dan Laila untuk mengantarkan Aida kontrol untuk kali pertama nya di dokter kandungan terdekat.. gus Umar lah yang disuruh sang umi untuk mengantarkan mereka berdua.


Sepenjang perjalanan, semua nya diam,, tak ada yang memulai membuka pembicaraan.


Aida yang selalu melihat ke arah luar melalui jendela kaca mobil, merasa bingung harus memulai pembicaraan dari mana?


Begitupun dengan gus Umar, yang fokus melihat ke arah jalan raya,, kakak Laila itu juga bingung, mau mengobrol dan membahas tentang apa?


Sedangkan Laila, sengaja diam sambil mendengar kan musik melalui headset yang terpasang di telinga nya... untuk memberikan kesempatan pada kakak nya dan juga Aida untuk mengobrol.


Setelah cukup lama berdiam, akhir nya Aida membuka percakapan, "kak, nderek belo sungkowo nggih,," lirik Aida untuk yang pertama kalinya, dia berbicara dan mengucapkan bela sungkawa pada gus Umar setelah hampir seminggu kepergian ning Zahra.


Ya, selama hampir seminggu ini kedua nya sama sekali tak pernah bertemu. Gus Umar yang sibuk dengan tamu-tamu yang datang ke kediaman nya untuk melayat, dan Aida yang sibuk dengan pemulihan kesehatan diri nya di ndalem kyai Abdullah... hingga membuat mereka berdua, tak bisa saling berjumpa.


"Iya dik, makasih." Balas gus Umar, seraya melirik Aida melalui pantulan rear vission mirror.


Dan tepat di saat yang bersamaan, Aida pun tengah menatap gus Umar melalui kaca yang sama. Sesaat kedua nya saling pandang, gus Umar melemparkan senyuman tapi Aida buru-buru mengalihkan pandangan nya.


Aida belum ada keinginan untuk membuka hati nya kembali, trauma itu masih ada... patah hati karena pernah mencintai seseorang dalam diam, dan ternyata laki-laki itu memang sudah di jodoh kan dengan gadis lain.


Dan Aida jadi teringat dengan obrolan nya beberapa hari yang lalu dengan Laila,,,


_____


"Emang nya, kamu sudah ada calon? Pacar atau di jodoh kan gitu?" Tanya Aida penasaran.


Laila menggeleng,, "belum Da, aku enggak mau dekat dan menyimpan perasaan sama cowok. Aku takut terluka, jika ternyata tiba-tiba aku atau cowok itu sudah di jodoh kan dengan orang lain," balas Laila dengan pandangan menerawang.


"Karena enggak mungkin kan, aku menolak keinginan orang tua... begitu pun dengan laki-laki yang sholeh, dia pun takkan mungkin menolak keinginan orang tua nya bukan? Karena jika kita menyakiti hati orang tua dengan menolak keinginan nya, itu sama saja kita durhaka pada orang tua kan?"


_____


"Laila benar, laki-laki sholeh tak akan menolak keinginan orang tua nya. Meski dia harus mengorbankan perasaan nya sendiri," gumam Aida dalam hati, "aku tak pernah membenci keputusan sampean untuk menikahi ning Zahra kak, karena aku tahu itu adalah bentuk kepatuhan sampean pada kakek."


"Tapi mungkin sampean yang akan membenciku, karena aku menikah tanpa memberi tahu keluarga abah... dan tanpa meminta restu beliau berdua," lanjut Aida masih dalam hati.


"Dik, bagaimana perasaan kamu sekarang? Masih sedih dan kehilangan?" Tanya gus Umar pelan dan hati-hati, namun berhasil membuyarkan lamunan Aida.


"Oh,, nggih kak, Alhamdulillah sudah lebih baik. Kehilangan itu pasti, sedih juga masih terasa.. tapi bukan kah kita tak boleh berlarut-larut?" Balas Aida, seraya balik bertanya.


Gus Umar mengangguk-angguk.


"Jenengan juga pasti merasakan apa yang Aida rasakan tho kak? Kehilangan seseorang yang paling berarti dalam hidup kita, pasti lah sangat berat nggih kak?" Tanya Aida.


Gus Umar tak menjawab nya, pemuda kharismatik itu hanya menghela nafas pelan. "Memang sedih dik tapi entahlah... rasa nya tak seberat dan sesedih, ketika aku tahu bahwa kamu telah menikah dengan laki-laki lain saat aku pulang dari tanah suci dik," bisik gus Umar dalam hati.


Dan keheningan kembali tercipta, hingga mobil yang dikendarai gus Umar berbelok ke arah klinik bersalin yang menjadi langganan ning Zahra kala itu.

__ADS_1


"Aku tunggu di sini saja ya dik," ucap gus Umar seraya menatap adik nya, tatkala membantu mengambil kan kursi roda untuk Aida dari bagasi.


Aida memang sudah bisa berjalan dengan normal, luka nya juga sudah tak lagi basah.. tapi Laila tetap tak mengijinkan sahabat nya itu berjalan, jika jauh. Maka nya tadi Laila kekeuh, menyuruh Aida untuk membawa kursi roda nya.


"Iya kak," balas Laila yang paham, pasti Aida juga akan sungkan kalau gus Umar ikut masuk kedalam sana.


Setelah menunggu cukup lama, kedua wanita yang dicintai oleh gus Umar.. tentu nya dengan porsi yang berbeda itu, terlihat keluar dari klinik bersalin tersebut.


Gus Umar buru-buru menghampiri kedua nya, dan kemudian mengambil alih kursi roda dari tangan sang adik. Dan dengan pelan, gus Umar mendorong kursi roda Aida menuju parkiran.


"Kak, Laila mau beli minum dulu ya.. haus nih?" Pamit Laila beralasan, padahal adik gus Umar itu sengaja ingin memberikan waktu berdua untuk gus Umar dan Aida.


"La, nanti aja di rumah lah,," protes Aida yang keberatan, ditinggalkan hanya berdua dengan gus Umar.


Tetapi Laila mengabaikan nya, dan terus ngeloyor pergi menuju warung penjual minuman yang tempat nya paling jauh.


Sedangkan gus Umar hanya tersenyum, menyaksikan tingkah sang adik yang penuh pengertian.


"Ehmmm,," gus Umar berdeham, untuk menetralkan suasana hati nya. "Mau menunggu di dalam, atau di bawah pohon sini saja dik?" Tanya gus Umar.


"Di sini saja deh kak, di dalam pengap," balas Aida beralasan, karena yang sesungguhnya,,, Aida hanya ingin menghindari terjadi nya fitnah, jika mereka hanya berdua-duaan di dalam mobil.


Sepanjang menunggu Laila di bawah pohon rindang dimana mobil Gus Umar terparkir, ingin rasa nya gus Umar mengatakan banyak hal. "Tapi,,, pantaskah? Di saat tanah kubur istri ku belum kering, dan aku sudah berfikir untuk menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita?" Gumam gus Umar dalam hati.


"Tapi jika menunggu lebih lama lagi, aku takut.. semua nya akan kembali seperti dulu, aku harus kehilangan orang yang sangat aku cintai," lanjut nya masih dalam hati.


Kini gus Umar tengah sibuk menata hati nya, "mungkin tak masalah, toh baru akan memulai dan membuat rencana. Kan laki-laki tak ada iddah nya? Sedangkan dik Aida,, masa iddah nya bahkan sudah habis ketika dik Aida masih mengandung putra nya bukan?" Gus Umar bermonolog dalam diam.


"Pada bengong aja sedari tadi dilihatin dari kejauhan, ngobrol kek.." sungut Laila, yang merasa usaha nya untuk mendekatkan kakak serta sahabat nya sia-sia.


"Harus ada yang memulai, jangan saling menunggu?! Di gondol gendruwo, baru pada nyesel?!" Lanjut Laila seraya membuka pintu mobil, dan duduk manis di sana.. tak hendak membantu Aida.


Gus Umar terkekeh seraya geleng-geleng kepala, mendengar penuturan sang adik.


"La, kok aku di tinggalin?!" Prostes Aida, seraya cemberut.


"Minta bantuan sama kak Umar, dia kan laki-laki.. tenaga nya tenaga kuli, sayang kalau enggak dimanfaatkan," jawab Laila seraya terkekeh.


Gus Umar semakin tergelak mendengar jawaban sang adik, dan tanpa menunggu respon Aida,,,, gus Umar kemudian membuka pintu di sisi yang lain dan mendorong kursi roda Aida, untuk di dekatkan pada pintu tersebut.


Gus Umar memegangi kursi roda nya, dan kemudian membantu Aida untuk naik ke atas mobil. Ketika tangan gus Umar reflek memegangi lengan nya karena Aida kesulitan untuk naik, wajah Aida menjadi merona merah.


Sedangkan Laila pura-pura tak melihat, ketika sahabat nya itu kesulitan untuk naik ke atas mobil. Hingga membuat Aida protes ketika sudah berhasil duduk di samping nya. "Kebangetan tau gak sih, kamu jadi sahabat! Enggak mau bantuin aku, yang...." Aida nampak masih ingin melanjutkan protes nya, tapi dia urungkan tatkala gus Umar sudah membuka pintu di samping kemudi dan kemudian duduk di belakang kemudi dengan nyaman.


"Ini kan lagi bantuin kamu, Aida sayang,,," balas Laila seraya tersenyum.


"Bantuin apa? Dari tadi diem gitu kok?!" Aida masih protes tapi dengan berbisik.


"Bantu nyatuin kamu sama kakak aku dong...?" Ucap Laila sengaja sedikit mengeraskan suara nya, agar kakak nya bisa mendengar karena mesin mobil telah di hidupkan.

__ADS_1


Sontak Aida mencubit lengan sahabat nya itu, "jangan ngelantur kalau bicara, tanah kubur ning Zahra aja masih basah??" Kembali Aida protes.


"Berarti, kalau udah kering.. bisa di lanjut dong??" Goda Laila, masih dengan suara yang keras.


"Berisik kamu ah, jadi males ngomong sama kamu," Aida cemberut dan memilih menatap ke luar kaca jendela di samping nya. Sungguh, hati Aida merasa tak enak.. ketika membicarakan sebuah hubungan dengan seseorang, dimana mantan istri nya belum lama meninggal dunia.


Sedangkan gus Umar yang mengamati kedua wanita yang duduk di jok belakang dari pantulan rear vission mirror, hanya senyum-senyum sendiri.


Kuda besi yang dikendarai gus Umar terus melaju, membelah jalanan beraspal untuk kembali menunju pesantren.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, sampailah mereka di halaman kediaman kyai Abdullah.


Tak ada perbincangan berarti selama perjalanan tadi, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri. Gus Umar yang mencoba meyakinkan keinginan nya, Aida yang gamang dengan perasaan nya yang tiba-tiba muncul kembali dan Laila yang mencoba mencari-cari ide untuk menyatukan sahabat nya dengan sang kakak.


Setelah mobil berhenti, gus Umar segera turun dan kemudian membukakan pintu mobil untuk Aida, sedangkan Laila seperti tadi.. yang begitu turun, langsung melenggang masuk kedalam rumah sambil tersenyum penuh kemenangan tanpa menunggu sahabat nya.


"La, tungguin,,,?!" Pinta Aida, tapi Laila tetap berlalu.


Aida mengerucutkan bibir nya, "awas aja nanti di kamar," ancam Aida dalam hati.


"Biar aku yang bantuin dik," tawar gus Umar.


"Enggak perlu kak, Aida bisa sendiri kok. Makasih," tolak Aida dengan halus.


Gus Umar pun mundur, untuk menghormati keputusan Aida.. namun tetap berjaga, dan menjaga jarak dengan wanita yang nama nya tersimpan rapi di hati nya itu.


Tepat di saat yang sama kyai Abdullah bersama nyai Robi'ah yang hendak ke masjid karena kumandang adzan maghrib telah terdengar, keluar dari ndalem. "Kalian sudah pulang? Ning Laila mana? Kok ndak bantuin nak Aida?" Tanya nyai Robi'ah sambil mendekati Aida yang seperti nya kesulitan hendak turun, sedangkan gus Umar hanya berdiri saja memandangi Aida dengan penuh kekhawatiran.


"Dik Laila buru-buru, mau buang air kecil katanya mi," jawab gus Umar, yang tak ingin misi adik nya diketahui sang umi.


"Lantas, kenapa kak Umar diam saja? Kenapa ndak di bantuin, nak Aida nya?" Protes nyai Robi'ah, sambil membantu Aida untuk turun.


"Aida bisa sendiri kok umi," bela Aida, yang enggak mau gus Umar yang di salahkan... padahal diri nya lah yang memang menolak bantuan gus Umar tadi.


Mendengar protes umi nya, gus Umar tersenyum menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Kyai Abdullah yang melihat sikap putra nya, mendekat.. "gus, bakda maghrib, abah tunggu di perpustakaan," kyai Abdullah menepuk pundak putra nya, dan kemudian segera berlalu menuju masjid, ketika sang istri telah berhasil membantu Aida duduk di kursi roda nya.


"Bawa nak Aida masuk gus, umi mau ke masjid," titah nyai Robi'ah, yang langsung mengiringi langkah sang suami menuju masjid.


Gus Umar dengan senang hati mengangguk, sedangkan perasaan Aida semakin tak karuan.


bersambung,,,


🌹🌹🌹🌹🌹


Kayak nya, yang mengharu-biru udah habis ya 😊😊


Tinggal yang uwu-uwu... 🄰🄰

__ADS_1


Tapi enggak tahu juga, kalau tiba-tiba ada yang ngasih kiriman bawang merah šŸ˜„šŸ˜„


Tentu harus dimanfaatin dengan baik dung?? 🤭


__ADS_2