
"Jangan berlutut seperti ini bu, bangun lah bu," Aida meminta bu Retno untuk bangun, bu Retno pun bangkit dan kembali duduk di tempat nya semula.
"Maaf bu.. untuk saat ini, Aida sedang tak ingin memikirkan apapun. Aida ingin fokus mendoakan anak Aida, dan fokus dengan kesembuhan diri Aida dulu bu. Tolong, ibu jangan bahas apapun lagi tentang hubungan Aida dan mas Ryan ya?" Pinta Aida, menatap bu Retno dengan memohon.
"Tapi nak,,," ucapan bu Retno menggantung di udara karena Aida buru-buru memotong nya.
"Seperti yang telah Aida katakan tadi sewaktu di lobby rumah sakit bu,,, semua nya telah berakhir, tak ada lagi yang tersisa." Tegas Aida, "jika anak Aida masih ada, mungkin Aida akan memikirkan kembali permintaan ibu.. setidaknya demi anak, tapi kini? Tak ada lagi ikatan apapun antara Aida dan mas Ryan," lanjut Aida, seraya menatap dalam ke arah bu Retno.
"Pernikahan yang awalnya tanpa cinta, tapi Aida belajar untuk bisa menerima mas Ryan dalam hidup Aida. Dan pernikahan kami harus berakhir, hanya karena kesalahpahaman dan kecemburuan mas Ryan yang tanpa alasan... sirna sudah semua rasa simpati di hati Aida untuk mas Ryan bu, semua hilang tanpa jejak dan hanya menyisakan goresan luka yang teramat dalam."
"Biarkan Aida sendiri bu, biarkan Aida menyembuhkan luka Aida sendiri..." pungkas Aida, dan kemudian Aida beranjak.
"Maaf, Aida harus kembali ke kamar. Aida butuh istirahat... umi Aida istirahat dulu nggih," pamit Aida pada semua nya, dan juga pada nyai Robi'ah.
Laila yang sedari tadi duduk di sofa singel dan terdiam mendengar kan pembicaraan bu Retno dan juga Aida, segera beranjak untuk membantu sahabat nya itu kembali ke kamar nya.
"Nak, tunggu,,," pinta bu Retno, seraya mendekati Aida yang kini sudah di gandeng oleh Laila.
Aida menoleh, "apa lagi bu?" Tanya Aida.
"Ryan sudah banyak berubah nak, dia sudah mau sholat. Tidak kah nak Aida mau memikirkan nya lagi?" Bu Retno masih saja memaksa.
"Alhamdulillah bu, jika mas Ryan sudah mau sholat.. Aida ikut senang mendengar nya. Kalau begitu, suruh saja mas Ryan setiap habis sholat untuk berdoa... minta agar Allah segera mengirimkan jodoh yang terbaik untuk mas Ryan," balas Aida seraya tersenyum.
Bu Retno mengangguk-angguk, "benar juga saran kamu nak," ucap bu Retno dengan netra berbinar, "dan kalau ternyata jodoh nya itu kamu?" Bu Retno menatap Aida seraya tersenyum.
"Jika Allah menghendaki, tentu Aida tak bisa menolak." Jawab Aida, "namun jika jodoh mas Ryan bukan Aida, InsyaAllah apa yang diminta melalui do'a dengan tulus akan membawa kebaikan untuk keluarga mas Ryan nanti nya," lanjut Aida dengan bijak.
"Mari bu,," pamit Aida kembali yang tak ingin berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan bu Retno, dan menghirup oksigen yang sama dengan orang yang pernah berbuat dzolim kepada diri nya.
@@@@@
__ADS_1
Sementara di rumah sakit, sepeninggal Aida dan semua orang yang ikut mengantarkan jenazah baby Wildan ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.. gus Umar segera kembali ke kamar nya.
Gus Umar mendapati sang istri tengah tertidur dengan sangat lelap, wajah damai ning Zahra menggambarkan seolah wanita itu sedang tidak mengidap penyakit kronis.. terlihat begitu tenang.
Gus Umar duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien, dan memandangi wajah istri nya yang sedang lelap dalam tidur nya itu. Cukup lama gus Umar terdiam di tempat nya, dengan pikiran yang menerawang jauh.. entah apa yang sedang dipikirkan nya.
Ketika pergerakan kecil sang istri yang terbangun, berhasil membuyarkan lamunan gus Umar. "Sudah bangun ning? Apa yang kamu rasakan sekarang? Mau sesuatu?" Dengan penuh perhatian gus Umar bertanya pada istri nya itu.
Ning Zahra tersenyum, dan kemudian menggeleng,, "Zahra ndak ingin apa-apa gus, cukup dengan melihat jenengan ada di sini.. Zahra sudah sangat senang," ucap ning Zahra, yang tak seperti biasa nya. Ning Zahra tak pernah mengungkapkan tentang perasaan nya sebelum nya, dan apapun yang ning Zahra rasakan.. istri gus Umar itu hanya akan tersenyum tanpa kata-kata.
"Kalau begitu, aku akan disini terus untuk mu ning. Istirahat lah kembali, biar kamu cepat pulih. Aku akan menjaga dan menemani mu," ucap gus Umar, dengan penuh kelembutan, seraya menggenggam tangan kurus istri nya itu.
Ning Zahra tersenyum,, dan sejenak kedua nya sama-sama terdiam.
"Jenengan ndak nanya kabar dari rumah gus? Apa putra nya dik Aida sudah di makam kan?" Pertanyaan ning Zahra memecah kesunyian.
Gus Umar menggeleng, dan kemudian melihat jam di pergelangan tangan nya. "Sudah hampir jam empat, mungkin sebentar lagi. Karena perjalanan dari sini ke rumah butuh waktu sekitar satu jam kan?" Balas gus Umar menduga-duga.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, dan di susul seorang suster yang membuka pintu ruang rawat ning Zahra. "Waktu nya mbak Zahra bersih-bersih ya?" Ucap suster tersebut, sambil mendorong troli yang di atas nya terlihat ada baskom berisi air hangat dan handuk kecil.
Gus Umar segera beranjak, mau di bersihkan sama suster atau sama aku ning?" Tawar gus Umar, meski suami ning Zahra itu tahu persis istri nya tak pernah mau jika gus Umar melihat bagian tubuh nya terbuka.
"Sama suster saja gus," balas ning Zahra, tepat sesuai dengan dugaan gus Umar.
"Aku tunggu di luar ya," pamit gus Umar, dan pemuda kharismatik itupun segera berlalu keluar dari ruang perawatan sang istri.
Dengan telaten, suster yang bertugas membantu ning Zahra untuk membersihkan diri.. semua bagian tubuh nya di lap dengan handuk lembut yang sudah di celupkan ke dalam air hangat. Usai di bersihkan, suster membantu ning Zahra mengenakan pakaian ganti yang sudah disiapkan sebelum nya.
"Mau di bantu nyisir rambut nya mbak?" Tanya suster dengan ramah, ketika semua nya sudah selesai
Ning Zahra menggeleng, "biar suami saya saja sus," tolak ning Zahra dengan halus.
__ADS_1
"Baik mbak, kalau begitu saya permisi." Pamit suster tersebut, seraya berlalu meninggalkan ruangan ning Zahra
Sedetik kemudian, gus Umar muncul dari balik pintu dengan senyum nya yang menenangkan. "Mau sholat dulu, ning?"
Ning Zahra mengangguk,
Gus Umar kemudian menyiapkan mukena untuk istri nya, sedangkan ning Zahra bersuci dengan tayamum.. karena kondisi nya memang masih sangat lemah.
Gus Umar menunggu istri nya yang sedang sholat ashar, sambil memainkan ponsel nya.
Usai sholat ning Zahra meminta gus Umar untuk menyisirkan rambut nya, "gus, tolong sisir kan rambut Zahra nggih?" Pinta nya dengan suara yang manja.
Sejenak gus Umar tercenung, baru kali ini gus Umar mendapati sang istri bersikap manja kepada nya. Seperti tadi, ning Zahra yang tiba-tiba berani mengungkapkan perasaan nya.. jika ning Zahra merasa senang, kala gus Umar berada dekat di sisi nya.
Gus Umar segera melakukan apa yang diinginkan sang istri, menyisir rambut ning Zahra yang menipis karena rontok akibat kemoterapi yang dijalani nya beberapa bulan yang lalu.
"Gus, habis ini Zahra mau tidur.. tolong jangan bangunkan Zahra ya?" Pinta ning Zahra.
Gus Umar menghentikan menyisir rambut istri nya, "kenapa ning?" Kening gus Umar mengernyit dalam.
"Siapa tahu, nanti Zahra mimpi bertemu baby Wildan gus. Jika nanti Zahra bertemu baby Wildan, Zahra pengin mengajak nya bermain, jadi Zahra ndak mau di ganggu,," balas ning Zahra dengan senyum nya yang lebar.
Gus Umar termangu, jantung nya tiba-tiba berdebar kencang. Ingin gus Umar mengatakan banyak hal pada istri nya, agar jangan bicara ngelantur.. tapi lidah nya seakan kelu.
"Istirahat lah ning, baca dzikir biar hati mu tenang," titah gus Umar seraya membaringkan tubuh rapuh istri nya, gus Umar berfikir,,, mungkin saat ini istri nya merasa kehilangan bayi, yang digadang-gadang bisa di asuh ning Zahra. Tapi ternyata takdir berkehendak lain, hingga mungkin saja ning Zahra jadi kepikiran dan berbicara ngelantur.
Gus Umar mencium kening istri nya, kebiasaan yang dilakukan gus Umar ketika ning Zahra hendak tidur.
Ketika gus Umar hendak beranjak, ning Zahra menahan tangan gus Umar. "Gus, mengaji lah untuk Zahra, Zahra ingin dengar suara jenengan sebelum Zahra tidur lama," pinta nya dengan senyum yang masih mengembang.
Gus Umar pun menurut, meski dengan hati yang bertanya-tanya?
__ADS_1
bersambung,,,