
Sementara di belahan bumi yang lain, gus Umar terbangun di tengah malam dengan dada yang terasa nyeri. Mimpi nya tempo hari, tentang bibi Aini yang bersanding mesra dengan paman Dahlan kembali hadir
Bibi Aini nampak tersenyum hangat kepada nya, dan kemudian berbicara dengan lembut pada gus Umar. "Gus, tolong jaga Aida untuk kami." Dan sedetik kemudian, bayangan bibi Aini dan paman Dahlan menghilang dari hadapan gus Umar.
Kejadian itu begitu cepat, dan hanya menyisakan rasa nyeri di dada pemuda tampan tersebut. Gus Umar menarik nafas dalam-dalam, mengisi penuh rongga paru-paru nya dengan oksigen dan kemudian menghembus nya dengan kasar.
Keringat dingin membasahi pakaian gus Umar, dan putra kyai Abdullah itu kemudian menyeka keringat dingin yang masih membasahi kening nya dengan telapak tangan. "Ya Allah, kenapa mimpi itu hadir kembali?" Gumam gus Umar, seraya beranjak dari pembaringan.
Gus Umar berjalan perlahan menuju kamar mandi, membersihkan diri sebentar dengan air hangat dan kemudian berwudlu.
Gus Umar kemudian segera keluar dari kamar mandi dan mengambil baju koko yang bersih dari dalam almari pakaian, setelah nya pemuda tampan itu berjalan keluar dari kamar nya untuk menuju Masjid yang tak jauh dari hotel tempat keluarga nya menginap.
Tepat di saat gus Umar membuka pintu kamar nya, kyai Abdullah juga nampak keluar dari kamar. "Gus, mau ke masjid?" Tanya kyai Abdullah seraya menghampiri sang putra.
"Nggih abah, Umar mau sholat malam di masjid," balas gus Umar dengan sopan. "Emmm,, abah, apa kita bisa bicara sebentar?" Pinta gus Umar, menatap abah nya dengan memohon.
"Ada apa?" Kyai Abdullah nampak mengernyit kan dahi nya. "Ayo lah, kita duduk di lobi saja," kyai Abdullah segera berjalan menuju lift untuk turun ke lobi hotel, yang diikuti oleh sang putra.
Sesampai nya di lobi hotel, kyai Abdullah mengajak putra nya untuk duduk di salah satu sofa. "Ada hal penting apa gus?" Tanya kyai Abdullah, sesaat setelah kedua nya duduk.
Gus Umar mendesah kasar, mencoba membuang beban berat yang menghimpit dada nya semenjak bangun tidur tadi. "Abah, beberapa hari yang lalu Umar bermimpi.. melihat bibi Aini bersanding dengan paman Dahlan," sejenak gus Umar menghentikan cerita nya, dan menatap abah nya.
Kyai Abdullah nampak manggut-manggut.
"Dan tadi, Umar kembali memimpikan bibi Aini.. persis seperti kemarin bah, bibi Aini juga bersanding dengan paman Dahlan. Tapi beda nya, di mimpi Umar yang tadi, bibi menitipkan pesan pada Umar agar Umar menjaga dik Aida." Lanjut gus Umar dengan masih menatap netra teduh sang abah.
__ADS_1
Kyai Abdullah menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan. "Kita mimpi yang sama gus,,,," lirih abah dengan menatap langit-langit ruangan lobi hotel.
"Mereka berdua juga mendatangi abah, dan paman mu, Dahlan... dia berbicara pada abah, agar menyampaikan kepada mu untuk menjaga putri nya," kyai Abdullah menatap putra nya.
"Abah,,, apa arti mimpi itu bah?" Tanya gus Umar.
Kyai Abdullah menggeleng,,, "semoga ini tidak terjadi gus, semoga ini hanya bunga tidur. Abah takut gus,,, abah khawatir dengan Aida," netra teduh kyai paruh baya itu berkaca-kaca.
"Ini seperti firasat, bahwa Aini... Aini telah berpulang dan menyusul suami nya," tutur kyai Abdullah sangat lirih, yang hampir tak terdengar oleh pendengaran gus Umar.
"Abah, jika itu benar... bagaimana dengan dik Aida saat ini abah? Siapa yang menemani nya?" Gus Umar terlihat semakin kalut.
Kini kedua laki-laki berbeda usia itu sama-sama terdiam,,, berulangkali kyai Abdullah menyeka air mata nya, begitu pun dengan gus Umar.
"Abah, apakah masih bisa jika..." gus Umar nampak ragu untuk meneruskan kata-kata nya.
"Jika pernikahan Umar dan ning Zahra di batalkan? Maaf abah,,," lirih gus Umar seraya menundukkan kepala nya dalam-dalam.
Kyai Abdullah menatap sang putra yang tengah menunduk itu dengan tatapan sendu, beliau bisa memahami dan mengerti bagaimana perasaan putra nya saat ini.
"Gus, bagaimana dengan hasil sholat istikharoh sampean?" Tanya kyai Abdullah.
Gus Umar mendongak, menatap sang abah. Dan gus Umar kemudian menceritakan mimpi nya kepada kyai Abdullah, dimana dalam mimpi tersebut.. yang duduk di pelaminan dan menjadi pengantin wanita nya adalah ning Zahra, namun beberapa saat kemudian pengantin wanita nya berganti menjadi Aida.
Kyai Abdullah nampak mengangguk-angguk, "jalani saja apa yang ada di hadapan sampean saat ini gus, yakin dan bertawakkal lah pada Allah." Kyai Abdullah menasehati putra nya.
__ADS_1
"Pergilah ke masjid gus, abah akan menjemput umi dan ning Laila," kyai Abdullah segera bangkit dan berjalan perlahan menuju lift, untuk kembali ke atas dimana kamar nya berada.
Sedangkan gus Umar masih terdiam di tempat nya, "ya Allah,, jika memang ning Zahra adalah jodoh hamba, beri hamba keikhlasan hati agar bisa menerima semua nya ini. Dan ijinkan hamba, untuk tetap menjaga dik Aida seperti amanah bibi Aini.. meskipun hanya melalui do'a," gumam gus Umar dalam hati, dan pemuda kharismatik itu kemudian segera berlalu meninggalkan lobi hotel untuk pergi ke masjid.
@@@@@
Di kediaman almarhum bibi Aini, para tetangga masih banyak yang melayat. Bu Retno dan suami nya lah yang sibuk menemani tamu-tamu tersebut, karena bibi Aini tak memiliki sanak saudara. Sedangkan saudara dari pihak suami nya, sudah lama memutuskan tali silaturrahim dan tak tahu lagi kabar berita nya.
Aida masih menenangkan diri di kamar nya dengan ditemani oleh sang suami, "dik, makan dulu ya.. tadi mbak Ning aku suruh buatin sup ayam untuk mu, ayo buka mulut nya," pinta Ryan dengan penuh kesabaran.
Laki-laki matang itu benar-benar menunjukkan perhatian nya pada Aida, meski Ryan belum tahu apakah itu karena cinta atau kah yang lain? Tapi yang jelas tujuan awal Ryan menikahi Aida karena Ryan butuh seorang pendamping yang bisa menerima diri nya dengan segala kekurangan nya, dan Aida dirasa adalah gadis yang tepat yang akan setia mendampingi nya.
Aida menggeleng lemah, "Aida enggak bisa makan mas," lirih Aida yang masih duduk di ranjang nya dengan bersandar pada head board. Meski air mata nya telah kering, namun masih nampak jelas kesedihan yang mendalam di netra nya yang indah.
"Dik, mas mohon.. makan lah, walau hanya sedikit. Kalau kamu enggak makan, nanti kamu bisa sakit. Dan ibu enggak akan suka melihat putri nya yang cantik terbaring sakit, ibu pasti akan merasa sangat bersalah pada mu dik. Kamu enggak mau kan, melihat ibu sedih di tempat nya yang baru?" Bujuk Ryan, seperti membujuk anak kecil.
Aida menatap suami nya, dan air mata nya kembali jatuh.. namun sedetik kemudian Aida mengangguk.
Ryan tersenyum bahagia, dan mengusap puncak kepala istri kecil nya itu dengan tulus.
Ryan mulai menyuapi Aida, sedikit demi sedikit. Laki-laki matang itu terlihat sangat telaten, dan Aida menerima suapan demi suapan dari tangan kekar sang suami.. hingga akhir nya makanan di dalam piring itu, tandas tak tersisa.
"Good girl,," puji Ryan, seraya mencubit mesra pipi mulus sang istri.
Dan Aida hanya menanggapi nya dengan tersenyum tipis, entahlah.. Aida belum bisa merasakan getaran di hati nya untuk Ryan. "Mas, kamu begitu baik dan perhatian pada ku. Tapi maaf, sampai detik ini,, aku masih belum bisa mencintai mu," bisik Aida dalam hati.
__ADS_1
bersambung,,,