Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 35 : Surat dari Aida


__ADS_3

Setelah semua tenang, kyai Abdullah kemudian berpamitan pada mbak Ning. "Ya, sudah mbak Ning.. kami pamit dulu." Kyai Abdullah langsung beranjak.


"Maaf pak kyai, tunggu sebentar." Mbak Ning bergegas masuk ke dalam, dan satu menit kemudian.. wanita satu anak itu telah kembali dengan paper bag di tangan nya.


Melihat mbak Ning kembali dengan membawa sesuatu, kyai Abdullah kemudian kembali duduk. "Apa itu mbak, apa ada yang ingin mbak Ning sampaikan?" Kyai Abdullah menatap wanita muda, yang menjadi teman bibi Aini selama ini.


"Nggih,, ini kemarin neng Aida menitipkan surat ini untuk ning Laila," mbak Ning menyerahkan amplop yang dia ambil dari dalam paper bag kepada Laila.


Laila menerima amplop tersebut dan menatap kakak nya, "Laila buka ya kak," ucap Laila dan kemudian segera membuka amplop tersebut tanpa menunggu jawaban dari sang kakak.


"Biar Laila baca," Laila membuka lipatan kertas dalam amplop tersebut dengan tidak sabar, dan setelah terbuka.. putri bungsu kyai Abdullah itu segera membaca nya.


"Dear Laila,, sahabat ku, penyemangat ku, penyejuk jiwaku. Saat kamu baca surat ini, kamu pasti sudah tahu semua dengan apa yang terjadi pada ku dan juga ibu. Maaf, jika aku tak menghubungi mu.. karena saat itu pikiranku sedang benar-benar kacau dan lagipula aku tak ingin mengganggu ibadah mu."


Sejenak Laila menghentikan membaca surat tersebut, dan menyeka cristal bening yang mengaburkan pandangan nya.


"Aku mengambil keputusan untuk menikah, setelah aku meminta petunjuk Nya dan aku tak menyesali keputusan ku itu,,,meski akhir nya, nyawa ibu tetap tak bisa tertolong. Jangan khawatir La, aku bahagia karena suami ku sangat baik, begitu juga dengan mertua ku."


Laila menarik nafas dalam,,, dan kemudian menghembus nya perlahan. Laila seolah tahu, bahwa Aida sengaja menuliskan ini hanya untuk menghibur diri nya saja.


"Aku pergi ikut suami tepat di hari kepulangan mu, dan maaf,, jika aku tak berpamitan, karena aku takkan sanggup. Aku akan menjadi lemah di hadapan kalian, dan aku pasti akan menangis."


Laila tersedu dan tak sanggup meneruskan membaca surat dari Aida, gus Umar kemudian mengambil surat tersebut dari tangan adik nya dan mulai melanjutkan membaca surat tersebut.

__ADS_1


"La, maaf jika nanti kita tak dapat lagi berkomunikasi. Sengaja aku buang sim card ku dan aku berikan ponsel ku pada mbak Ning agar di jual untuk nambah modal jualan, karena aku ingin menata hatiku dulu." Gus Umar menatap mbak Ning dengan netra nya yang berembun, meminta penjelasan.


Mbak Ning mengangguk, "nggih gus, itu benar," balas mbak Ning yang ikut berlinang air mata.


Netra nyai Robi'ah yang teduh pun nampak berkaca-kaca.


"Aku akan belajar melupakan kakak mu dan membuka lembar baru bersama suami ku La. Jika aku masih berkomunikasi dengan mu, aku yakin.. kamu pasti akan selalu menyebut nama nya, dan hal itu akan membuat hatiku semakin terpenjara oleh nya." Gus Umar tergugu, sedangkan nyai Robi'ah menatap suami nya.


Kyai Abdullah mengangguk, "mereka sebenar nya saling suka, abah juga belum lama ini mengetahui nya," bisik kyai Abdullah dengan netra nya yang telah berembun.


Nyai Robi'ah menutup mulut nya, dan air mata nya semakin deras mengalir. "Kasihan sekali kisah mereka abah,, umi sebenar nya juga setuju jika mereka berdua bersama," lirih nyai Robi'ah dengan terisak, wanita paruh baya itu memang sangat menyayangi Aida.. beliau menyukai perilaku Aida yang santun dan lemah lembut, selain itu Aida juga anak yang cerdas dan juga kuat hafalan nya.


Melihat sang kakak menangis, Laila mengambil kembali surat Aida dari tangan gus Umar


Nyai Robi'ah menyandarkan kepala di bahu sang suami, dan masih terdengar sesenggukan


Sedangkan gus Umar, tanpa permisi langsung mengambil paper bag yang masih berada di atas pangkuan mbak Ning dan segera mengambil isi nya.. karena gus Umar yakin, itu adalah kado dari Aida untuk nya.


Gus Umar segera membuka kado yang terbungkus rapi dengan pita cantik yang menghiasi nya, dan ketika kertas pembungkus itu telah terbuka.. "sajadah,,," gus Umar kemudian mendekap sajadah pemberian Aida tersebut dengan erat di dada nya, dengan air mata yang terus mengucur deras, "aku akan mendo'akan mu di setiap sujud ku, cinta sejati ku," lirih gus Umar yang masih dapat di dengar oleh abah dan umi.


Seketika nyai Robi'ah beranjak menghampiri sang putra, dan kemudian memeluk nya dengan erat. Nyai Robi'ah dapat merasakan bagaimana hancur nya perasaan gus Umar saat ini, dan wanita anggun itu membiarkan sang putra menangis dalam pelukan nya.


Kyai Abdullah pun ikut beranjak, dan berdiri di samping putra sulung nya. "Gus,,, jodoh, rizqi dan maut adalah takdir dan merupakan rahasia Allah SWT semata. Manusia hanya bisa berusaha, namun tidak bisa memastikan, tidak bisa menentukan... karena semua itu, tergantung atas kehendak Sang Khaliq."

__ADS_1


"Bertawakkallah kepada Allah SWT, serta menyerahkan kembali semua urusan itu kepada Nya. Allah SWT maha tau apa yang terbaik untuk hambanya, karena Allah SWT sudah berjanji tidak akan menguji dan tidak akan membebani hamba diluar batas kemampuan hamba tersebut." Nasehat kyai Abdullah seraya menepuk lembut punggung sang putra, mencoba ikut menenangkan putra nya.. meski hati beliau sendiri saat ini, merasakan kepedihan yang sama.


Laila yang sudah mulai tenang pun ikut mendekat, dan kemudian memeluk sang umi dan nyai Robi'ah menyambut pelukan putri nya dengan satu tangan nya.


Cukup lama nyai Robi'ah memeluk kedua buah hati nya, "sudah, jangan terlalu larut dalam kesedihan karena Allah tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Belajar lah untuk ikhlas, Insyaallah... Allah sudah menyiapkan kejutan yang indah untuk kalian berdua, meski kalian tak bisa bersama. Ayo kita pulang," ajak nyai Robi'ah pada Laila dan gus Umar.


"Bentar umi, masih ada yang belum Laila baca," Laila beranjak dan mengambil kembali kertas yang tadi diletakkan nya dengan asal di tempat tadi dia duduk, dan Laila kemudian melanjutkan membaca surat tersebut dengan posisi berdiri.


"Laila sayang,, tolong isi surat ku ini jangan sampai kakak mu tahu ya, aku enggak mau membuat nya bersedih dan tentu aku akan sangat malu jika suatu saat nanti kami bertemu. Begitu pula dengan abah dan umi, jangan sampai beliau berdua tahu perasaan ku pada putra nya yang tampan.. aku takkan punya muka di hadapan beliau jika sampai beliau mengetahui nya, janji ya La,,"


Gus Umar sedikit menyunggingkan senyum, tatkala Aida memuji nya tampan.


Laila mengerucutkan bibir nya, "maaf Da, mereka sudah terlanjur tahu." Gumam Laila seraya menatap abah dan umi nya bergantian, gadis cantik itu merasa bersalah pada sahabat nya karena terlanjur membaca surat dari Aida di hadapan keluarga nya.


Nyai Robi'ah tersenyum,, "kami akan pura-pura tidak tahu, jika nanti bertemu nak Aida," tutur nyai Robi'ah, menenangkan putri nya. Kyai Abdullah pun mengangguk, menyetujui ucapan sang istri.


bersambung,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Maaf yah,, ngabisin stok bawang dulu šŸ˜…šŸ˜…šŸ¤­


Setelah habis, baru yang uwu.. uwu.. šŸ¤—šŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2