
Di kediaman gus Umar, Laila yang baru saja pulang dari ibukota provinsi karena libur semester, di minta gus Umar untuk berbicara pada ning Zahra seputar kekhawatiran gus Umar mengenai menstruasi istri nya yang tidak teratur itu.
"Dik, kakak minta tolong ya.. bujuk mbak mu agar mau periksa ke dokter kandungan," pinta gus Umar ketika Laila baru saja masuk, yang diikuti oleh gus Umar.
"Kenapa enggak kak Umar sendiri sih?" Tanya Laila sambil mendudukkan diri di meja makan, dan kemudian membuka tudung saji yang ternyata kosong belum ada isi nya.
"Kamu lapar dik? Mbak mu belum masak, tadi pagi goreng nasi dan sudah habis," Tanya gus Umar sambil menginfokan, dan mengabaikan pertanyaan Laila.
Laila menggeleng,
"Ayo, kita ngobrol di ruang keluarga saja," gus Umar melangkah menuju ruang keluarga, dan Laila mengekor di belakang nya dengan diam.
Sudah berkali-kali gus Umar meminta pada ning Zahra agar mau diajak untuk menjalani pemeriksaan ke dokter kandungan, tapi istri nya itu selalu mengatakan kalau diri nya baik-baik saja. Padahal hampir setiap bulan ning Zahra selalu mengalami istihadhoh dan setiap kali menstruasi pasti merasakan sakit perut, tapi istri gus Umar itu bersikukuh bahwa hal yang demikian itu sudah lumrah terjadi pada wanita.
Di tambah, sikap ning Zahra yang pemalu dan cenderung tertutup.. membuat gus Umar tak bisa mengorek keluhan-keluhan lain yang dirasakan sang istri, hingga kakak Laila itu juga tak bisa jika ingin berkonsultasi secara online dengan dokter di aplikasi kesehatan agar bisa mengetahui lebih dini jika ada indikasi penyakit tertentu pada diri sang istri.
"Sekarang, mbak Zahra nya dimana?" Tanya Laila menyelidik, sesaat setelah diri nya mendudukkan diri di sofa.
"Masih tidur, tadi waktu kakak mau berangkat ke sekolah kayak sakit perut gitu tapi seperti biasan, di tahan dan seolah-olah baik-baik saja... padahal wajah nya sampai pucat," balas gus Umar dengan raut wajah yang nampak khawatir, "tadi nya, kakak mau minta tolong umi untuk bicara.. tapi kakak khawatir nanti umi malah jadi ikut kepikiran," lanjut gus Umar seraya melirik pintu kamar nya yang masih tertutup rapat.
"Oke, nanti Laila bujuk mbak Zahra agar mau check up," ucap Laila, yang tiba-tiba wajah nya menjadi mendung.
"Kamu kenapa dik?" Tanya gus Umar mengernyit.
"Laila kangen sama Aida kak, tapi sampai saat ini Laila belum berhasil mendapatkan nomor dia,," rajuk Laila, "tadi sebelum pulang kesini, Laila ke rumah almarhum bibi Aini terlebih dahulu dan berharap mbak Ning sudah dapat info nomor Aida, tapi ya gitu deh.. sampai saat ini Aida belum mau kasih nomor nya," Laila mendesah pelan.
__ADS_1
"Jangan pernah bosan do'akan Aida, semoga dia sehat dan bahagia di sana," balas gus Umar dengan bijak seraya mengusap puncak kepala sang adik, meski di sudut hati nya yang terdalam pemuda tampan itu turut merasakan apa yang Laila rasakan bahkan lebih.. tapi gus Umar tahu bahwa ada hati yang saat ini harus dia jaga, yaitu ning Zahra.
Ya, Laila akhir nya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri di ibukota provinsi seorang diri, tanpa ada Aida yang menemani seperti janji mereka berdua kala itu. Awal nya Laila memang merasa kesulitan kerena sudah terbiasa tergantung pada Aida, namun lambat laun Laila mulai terbiasa hidup mandiri.
Meski setiap pulang ke rumah sebulan sekali Laila tak pernah absen berkunjung ke kediaman bibi Aini untuk menemui mbak Ning dan menanyakan kabar Aida, tapi hingga detik ini Laila tidak mendapat kan informasi apapun kecuali mbak Ning mengatakan bahwa Aida baik-baik saja. Karena seperti itu lah yang Aida kabar kan tentang diri nya kepada mbak Ning melalui pak Karyo, dan selama tujuh bulan ini pula Aida dan suami nya sama sekali belum pernah pulang ke kampung halaman nya dan Aida juga tak memperbolehkan pak Karyo memberikan nomor telpon rumah nya kepada siapa pun termasuk Laila.
"Dik, kayak nya mbak mu udah bangun." Ucap gus Umar saat mendengar suara gemericik dari dalam kamar nya, "kakak balik ke sekolah lagi ya, pokok nya bujuk mbak mu agar mau di ajak ke dokter." Gus Umar melihat jam di pergelangan tangan nya seraya beranjak , dan kemudian segera keluar untuk kembali ke sekolah karena jam istirahat kedua telah usai.
Laila kemudian mengetuk pintu kamar kakak nya, dan pada ketukan ketiga pintu kamar dibuka dari dalam.
"Assalamu'alaikum mbak Zahra," Laila memberikan salam dan mencium punggung tangan kakak ipar nya dengan takdzim.
"Wa'alaikumsalam dik," balas ning Zahra seraya memeluk Laila, "sampai rumah jam berapa tadi?" Tanya ning Zahra seraya melerai pelukan nya.
"Belum lama kok mbak, langsung kesini. Kata kak Umar, mbak Zahra sakit? Balas dan tanya Laila.
"Berlebihan kak Umar itu dik, mbak ndak apa-apa kok. Sakit perut bulanan biasa dik," balas ning Zahra berusaha menutupi rasa sakit yang melilit di perut nya, hingga wajah ayu itu terlihat pucat.
"Tapi wajah mbak Zahra pucat mbak,,, kita ke dokter ya? Laila ikut temani deh,,, nanti kita cari dokter perempuan, gimana mbak? Mau ya?" Bujuk Laila.
Ning Zahra menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. "Ndak perlu dik, biasa nya kalau sakit banget mbak cukup minum jamu dan Insyaallah langsung sembuh," ning Zahra kekeuh pada pendirian nya, yang tak mau periksa ke dokter.
Laila kemudian menjelaskan alasan kenapa kakak ipar nya itu harus periksa ke dokter spesialis, karena agar bisa terdeteksi lebih dini jika ada sesuatu yang tak beres dengan kesehatan ning Zahra. Dan lagipula, jika sesuatu hal buruk yang tak di ingin kan terjadi, agar gus Umar dan juga keluarga nya tidak di salah kan oleh keluarga ning Zahra karena dianggap abai pada ning Zahra.
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Laila, ning Zahra nampak mengangguk-angguk. "Baiklah dik, tapi nanti beneran kamu temani ya... dan kamu yang ikut masuk ke ruang pemeriksaan," pinta ning Zahra dengan memohon.
__ADS_1
Laila mengernyit, "kenapa enggak sama kak Umar saja sih mbak? Kan lebih enak konsul nya kalau sama suami?" Laila menatap intens pada kakak ipar nya.
Ning Zahra menunduk, "mbak malu dik," lirih nya hampir tak terdengar.
"Kenapa sama suami sendiri harus malu?"
Ning Zahra masih tetap menunduk
Laila mendesah pelan, dan kemudian menepuk punggung tangan kakak nya. "Laila akan temani mbak Zahra."
Dan pada sore hari nya, gus Umar membawa istri nya ke klinik bersalin dimana ada praktek dokter kandungan wanita yang terkenal di daerah nya tersebut dengan di temani oleh sang adik.
Setelah mengantri cukup lama di ruang tunggu, kini giliran ning Zahra untuk masuk ke ruang praktek dokter tersebut. Laila terus menggandeng tangan kakak nya yang gemetaran itu, dan menuntun nya untuk duduk di kursi pasien.
"Selamat sore mbak,," sapa bu dokter dengan ramah, dan kemudian menanyakan keluhan pasien nya.
Dengan malu-malu, ning Zahra mencoba menjelaskan secara detail apa yang menjadi keluhan nya selama ini.
"Apakah rasa sakit yang mbak Zahra rasakan setiap menstruasi itu sudah lama?" Bu dokter menatap ning Zahra dengan tatapan lembut.
"Sudah sejak SMA dok, kalau untuk istihadhoh.. jelang lulus SMA," balas ning Zahra dengan perasaan khawatir.
Bu dokter mengernyit kan dahi cukup dalam, "baik mbak, untuk lebih jelas nya mbak Zahra harus menjalani serangkaian pemeriksaan ya."
Dan bu dokter kemudian menjelaskan rangkaian pemeriksaan yang harus dijalani ning Zahra yang meliputi : Tes darah, Kultur ****** untuk mencari apakah ada infeksi, Ultrasonografi panggul untuk memeriksa fibroid uterus, polip, atau kista ovarium, dan Biopsi endometrium, untuk mendiagnosis endometriosis, ketidakseimbangan hormon, atau adanya sel kanker.
__ADS_1
Dengan dipandu seorang perawat, ning Zahra melakukan serangkaian pemeriksaan di klinik bersalin milik dokter tersebut yang memang sangat lengkap.
bersambung,,,