
Keesokan hari nya, setelah menerima kunci ruko dari bu Tyas dan menanda tangani surat perjanjian kontrak sesuai kesepakatan kemarin serta melunasi pembayaran kontrak ruko selama setahun kepada bu Tyas.. Aida dan mbak Ning, dengan dibantu oleh bu Dibyo mulai berbenah ruko.
Meski sudah lama tak ditempati, tapi ruko tersebut cukup bersih karena dua minggu sekali.. bu Tyas dan suami nya membersihkan ruko tersebut. Sehingga Aida dan yang lain nya tidak memerlukan tenaga ekstra untuk bersih-bersih.
Selesai berbenah, Aida mulai mencatat apa saja kebutuhan yang di perlukan nya. Baik kebutuhan untuk mengisi kamar, seperti alas untuk tidur dan almari pakaian.. juga perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk warung nya, seperti etalase, meja kursi, dan peralatan makan.
Bu Dibyo dengan setia masih menemani, begitupun dengan Bunga yang tadi menyusul dengan diantarkan sang ayah.
"Nak Aida sama mbak Ning kalau mau belanja peralatan sekarang, silahkan,, biar Tio di ruko saja bersama kami," saran bu Dibyo.
Aida mengangguk, dan kemudian melipat lembaran kertas yang berisi catatan barang yang hendak di beli nya.
"Maaf bu, apa tidak merepotkan ibu kalau Tio saya tinggal?" Tanya mbak Ning ragu, sebab selama ini Tio tak pernah jauh dari nya. Hanya sekali mbak Ning meninggalkan Tio dan menitipkan nya pada mbok Nah, yaitu di hari pernikahan Aida di rumah sakit.
"Tidak mbak Ning, lihat lah.. Tio senang kok main sama kak Bunga, ya kan Tio?" Bu Dibyo memandang Tio, yang sedang asyik bercanda dengan putri nya bu Dibyo tersebut.
Tio mengangguk, dan kemudian kembali tertawa riang.
Setelah menyimpan rincian barang kebutuhan yang hendak di beli di dalam saku rok jeans nya, Aida bergegas masuk kedalam kamar untuk mengambil uang dan perhiasan yang masih tersimpan di dalam koper.
Di buka nya kotak perhiasan berbentuk love berwarna merah tersebut, yang merupakan mas kawin dari Ryan untuk nya. "Uang yang tersisa seperti nya tidak cukup untuk membeli semua kebutuhan, sebaik nya aku jual saja perhiasan ini. Dan nanti sisa uang nya aku tabung di bank, untuk persiapan persalinan," gumam Aida, seraya melepaskan cincin kawin yang masih tersemat di jari nya yang lentik dan mengumpulkan nya menjadi satu di dalam kotak perhiasan tersebut.
Aida menyimpan kotak perhiasan tersebut kedalam tas cangklong, dan kemudian keluar dari kamar. "Bu, kalau toko perhiasan yang terdekat di daerah mana nggih?" Tanya Aida, sebelum pamit untuk belanja.
"Oh di depan pasar wage ada nak, mereka berani membeli dengan harga tinggi meskipun perhiasan nya tidak dilengkapi surat." Terang bu Dibyo, "nak Aida juga bisa sekalian belanja perabotan di pasar tersebut, cari saja 'Toko Gerabah Mak Haji'... di sana lengkap, dari panci sampai sendok garpu, kasur dan almari juga ada." Balas bu Dibyo dengan detail.
__ADS_1
"Dari sini naik angkot sekali ke timur, paling sepuluh menit. Dan di samping 'Toko Mas Kemilau' ada toko kaca, di sana seperti nya menjual berbagai macam etalase," lanjut bu Dibyo menjelaskan.
Aida mengangguk, "nggih bu, matursuwun informasi nya."
"Ayo mbak Ning, kita berangkat sekarang.. biar nanti malam kita sudah bisa masak untuk makan malam," ajak Aida, dan kemudian berpamitan pada bu Dibyo dan mencium punggung tangan wanita seusia bu Retno itu dengan takdzim.
@@@@@
Di kota yang sama, di sebuah rumah kontrakan kecil dekat rumah sakit terbesar di kota tersebut.. gus Umar sedang merayu sang istri, agar bersedia dilakukan histerektomi radikal agar penyebaran kanker di rahim ning Zahra tidak semakin meluas.
Namun seperti nya, usaha gus Umar mengalami kesulitan. ning Zahra bergeming, bahkan istri gus Umar itu merasa tersinggung dengan permintaan sang suami.
"Kenapa gus? Kenapa jenengan yang ngotot dan menginginkan, agar kandungan Zahra di angkat? Apa karena jenengan sudah tidak sayang lagi sama Zahra? Karena sekarang tubuh Zahra kurus kering dan wajah Zahra juga menjadi jelek?" Isak ning Zahra terdengar sangat memilukan.
"Tidak ning, bukan begitu maksudku?" Gus Umar menghembus nafas nya dengan berat, "justru karena aku sayang sama kamu ning, aku ingin penyakit itu hilang dari tubuh mu dan kita bisa terus melanjutkan hidup bersama-sama ning," lanjut gus Umar, seraya merengkuh tubuh ringkih ning Zahra dan membawa nya kedalam pelukan.
Ning Zahra masih terisak di dalam dekapan nyaman sang suami, hingga beberapa saat lama nya. Dan gus Umar sengaja membiarkan, seraya terus berpikir bagaimana cara untuk membujuk sang istri. Karena semakin cepat histerektomi di lakukan, kemungkinan ning Zahra untuk dapat bertahan hidup lebih besar.
Kedua orang tua ning Zahra juga sudah mencoba membujuk putri nya itu, namun ning Zahra tetap tak ingin rahim nya di buang dari tubuh nya.
"Kalau rahim Zahra di angkat, itu arti nya kita tidak akan bisa memiliki keturunan kan gus? Zahra tidak mau..." tangis ning Zahra kembali pecah, "Zahra masih berharap bisa sembuh, dan kita bisa memiliki keturunan," rintih ning Zahra dengan suara isak nya yang tertahan.
Gus Umar mengusap lembut punggung rapuh sang istri dan berbisik, "tapi kamu dengar sendiri kan ning penjelasan dari dokter?"
Gus Umar menarik nafas dalam-dalam, dan menghembus nya perlahan.
__ADS_1
'Kalau kamu masih ingin sembuh dan masih mau mendampingi ku berjuang mensyiarkan agama Islam dan membesarkan pesantren abah, satu-satu nya cara adalah dengan Histerektomi itu ning," gus Umar mencoba menyentil sisi sensitif ning Zahra, karena gus Umar tahu persis.. keinginan istri nya yang sangat kuat untuk mengamalkan ilmu nya, dan mensyiarkan agama Allah.
Ning Zahra mendongak, dan menatap netra tajam sang suami dengan intens. "Apa hanya itu, satu-satu nya cara agar Zahra bisa sembuh dan segera kembali ke pesantren gus?" Tanya ning Zahra, yang masih terlihat enggan jika rahim nya di angkat.
Gus Umar mengangguk, ingin sekali gus Umar menjelaskan secara detai seperti yang dikatakan dokter,, bahwa operasi nya nanti bukan hanya pengangkatan rahim saja, namun harus pula mengangkat semua organ reproduksi. Mulai dari tuba falopi, serviks, rahim, ovarium, kelenjar getah bening, dan juga jaringan lemak. Karena kanker yang tumbuh di rahim sang istri, telah menjalar ke bagian organ-organ reproduksi.
Namun lidah gus Umar terasa kelu, dan suami ning Zahra itu tak mampu menjelaskan nya secara rinci.
"Beri Zahra waktu, Zahra akan pikirkan," lirih ning Zahra, yang membuat gus Umar merasa sedikit lega.
bersambung....
š¹š¹š¹š¹š¹
Alhamdulillah,, hari pertama crazy up lancar š
Semoga bisa memenuhi target, up 3x sehari sampai seminggu ke depan š¤²š¤²
Tapi aku butuh imun booster mak...ššš¤
Jangan lupa, Kembang gula & Kopi nya yah...
Biar aku nya tambah cemungut š¤š¤
Makasih untuk yang udah kasih vote, like dan komen šš
__ADS_1
Love you all,, sehat2 semua šš