Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 109 : Aku Sayang Kamu


__ADS_3

Ryan dan ibu nya pun kemudian berpamitan, dan sebagai tuan rumah yang baik.. Aida dengan di temani mbak Ning, mengantarkan tamu nya hingga ke halaman ruko.


"Dik, kalau mas silaturrahim kesini masih boleh kan dik?" Pinta Ryan dengan penuh harap.


"Mas tidak akan menggangu mu dik, mas hanya ingin menjalin persaudaraan dengan kamu. Anggap, kita ini kakak adik," lanjut Ryan, yang tak ingin Aida salah sangka dengan niat baik nya.


Aida mengangguk, "silahkan mas, tapi jangan malam nggih." Pesan Aida memberi syarat, jika Ryan ingin berkunjung ke tempat nya.


Ryan mengangguk dengan tersenyum lebar, "makasih dik, kalau begitu mas permisi dulu. Assalamu'alaikum,,," pamit Ryan, seraya bergegas menuju mobil. Sedangkan bu Retno, sudah menanti nya di dalam mobil sejak keluar tadi.


"Wa'alaikumsalam," balas Aida dan mbak Ning bersamaan, mengiringi langkah Ryan yang menuju mobil nya.


Setelah mobil Ryan meninggalkan pelataran ruko, Aida dan mbak Ning segera kembali masuk ke dalam.


"Nak, tamu nya di ajak makan dulu," titah bu Dibyo, begitu melihat Aida dan mbak Ning masuk.


"Iya bu," balas Aida singkat, dan kemudian langsung masuk kedalam menuju dapur untuk menyiapkan makan siang yang diikuti oleh mbak Ning.


Mereka berdua kemudian membawa makanan yang telah di masak oleh mbak Ning dan bu Dibyo, dan menyiapkan nya di ruangan dimana keluarga kyai Abdullah masih duduk menunggu.


Laila pun kemudian beranjak, dan membantu menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


"Mari silahkan pak yai, bu nyai,, ala kadarnya nggih, karena mbak Ning dadakan tadi memberitahu saya," ucap bu Dibyo, yang mempersilahkan tamu Aida untuk menikmati hidangan makan siang.


"Ini sudah lebih dari cukup bu, semua ada kok ini," balas nyai Robi'ah, sambil mengambilkan nasi untuk sang suami.


"Abah sama ikan gurame saja mi," pinta kyai Abdullah, ketika sang istri hendak mengambilkan lauk.


Setelah melayani sang suami, nyai Robi'ah mengambil makanan untuk diri nya sendiri. "Gus, ada rendang juga ini lho,," tunjuk nyai Robi'ah pada piring lebar yang berisi rendang daging sapi.


Gus Umar hanya tersenyum, tapi tak juga mengisi piring di depan nya.


"Kakak manja ah, pasti nunggu di ambilkan," ucap Laila seraya cemberut, yang mengerti kebiasaan kakak nya.

__ADS_1


Laila kemudian mengambilkan nasi beserta lauk kesukaan sang kakak, "tapi ini yang terakhir ya kak, besok-besok minta sama Aida untuk meladeni kakak," gerutu Laila, seraya menyodorkan piring yang kini telah penuh terisi makanan.


Gus Umar lagi-lagi hanya tersenyum, seraya melirik Aida.. dan tepat di saat yang sama, Aida juga tengah mencuri pandang ke arah nya.


Netra kedua nya kembali bertemu, dan getaran itu kembali hadir di hati masing-masing. Wajah Aida memerah, dan Aida buru-buru membuang pandangan nya kearah lain.


"Ehmmm,, emang nya, cuma dengan pandang-pandangan bisa kenyang ya kak?" Tanya Laila, yang tak butuh jawaban.


Yang lain tersenyum dan geleng-geleng kepala, "maklumi saja ning, kakak mu kan lagi jatuh cinta," tutur kyai Abdullah, yang membuat wajah Aida merona merah karena sangat malu,,, ketahuan abah dan umi nya gus Umar, kalau mereka saling berpandangan tadi.


Sedang kan gus Umar menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, seraya tersenyum kecut. "Abah bisa saja," lirih gus Umar.


Gus Umar kemudian segera mengalihkan perhatian nya ke dalam piring, mulai menyendok makanan dan menyuap kan nya kedalam mulut.


"Nak Aida tidak ikut makan sekalian?" Tanya nyai Robi'ah, yang melihat Aida hanya diam dan menunduk.


"Nanti saja umi," balas Aida, malu-malu.


"La,, apaan sih?!" Protes Aida yang wajah nya semakin memerah.


"Makan sekalian nak Aida, ibu ambilkan ya?" Titah bu Dibyo, dengan penuh perhatian mengambilkan makanan untuk Aida.


Aida hanya mengangguk patuh, dan mereka pun kemudian melanjutkan makan dengan khusyuk. Hanya sesekali terdengar obrolan antara pak Dibyo dan kyai Abdullah, atau antara bu Dibyo dan nyai Robi'ah yang membicarakan tentang resep masakan.


Usai makan siang, keluarga kyai Abdullah pun mohon undur diri. Mereka semua kemudian mengantarkan keluarga gus Umar tersebut sampai ke halaman.


"Dik bisa bicara sebentar," pinta gus Umar, yang menghentikan langkah nya dan kemudian menepi ke dinding ketika hendak keluar dari ruko.


Aida pun akhirnya menghentikan langkah nya dan ikut menepi, serta memberi jalan pada yang lain untuk keluar terlebih dahulu.


"Nggih, ada apa kak?" Tanya Aida.


"Boleh pinjam ponsel nya sebentar?" Pinta gus Umar, seraya menatap dalam netra Aida. Tatapan yang sanggup membuat Aida berdebar-debar tak karuan.

__ADS_1


"Iya, boleh kak," balas Aida grogi, dan segera mengambil ponsel nya dari saku gamis yang dia kenakan.


"Ini kak," Aida menyodorkan ponsel nya tanpa banyak bertanya.


Gus Umar menerima ponsel Aida dengan senyum nya yang menawan, "makasih dik," ucap nya dengan lembut.


Aida hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata. Berada pada jarak sedekat itu dengan gus Umar, membuat jantung nya berlompatan hingga Aida kehilangan fokus nya dan tak mampu menyusun kata untuk di ucapkan.


Gus Umar terlihat mengetikkan beberapa angka pada layar ponsel Aida, dan kemudian melakukan panggilan.


Tut,, tut,,


Terdengar dering ponsel yang bergetar dari saku kemeja pemuda kharismatik tersebut, gus Umar segera mengambil ponsel nya dan mematikan panggilan.


Gus Umar kemudian menyimpan nomor nya pada ponsel Aida, "nomor ku udah aku save di sini dik," ucap gus Umar seraya mengembalikan ponsel Aida, "dan nomor kamu juga akan aku save," lanjut nya sambil menyimpan nomor pemanggil yang barusan masuk.


Lagi, Aida hanya mampu mengangguk.


Gus Umar masih nampak sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel nya, dan kemudian mengirimkan pesan yang baru di ketik nya itu ke nomor 'bidadari ku'... dan gus Umar pun tersenyum membaca pesan yang dia ketik untuk Aida.


"Barusan aku coba kirim pesan dik," ucap gus Umar, dan di saat yang sama.. ada notifikasi masuk ke ponsel Aida.


Aida buru-buru membuka pesan dari nomor yang tersimpan dengan nama 'imam ku', wajah cantik itu sempat mengernyit tapi sesaat kemudian senyum Aida pun mengembang membaca pesan yang masuk ke ponsel nya. "Setelah aku pulang, kamu harus istirahat dik. Jangan lupa minum obat mu dulu, biar cepat pulih. Jaga selalu kesehatan ya,,, aku sayang kamu."


"Iya kak, Aida pasti akan istirahat dan jaga kesehatan. Kak Umar enggak perlu khawatir, makasih atas perhatian nya. Aida juga sayang sama kak Umar,,," dan send... Aida membalas pesan tersebut, dengan senyum nya yang makin merekah.


Gus Umar segera membaca pesan balasan dari bidadari nya itu, dan senyum pemuda itu semakin lebar.


Baru saja gus Umar hendak mengetik balasan lagi untuk Aida, Laila yang kembali masuk mengagetkan mereka berdua. "Orang nya ada di depan mata, kenapa juga mesti chatingan?" Tanya Laila yang tak mengerti, seraya geleng-geleng kepala.


"


bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2