Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab 111 : Aku Senang Jika Kamu Bahagia Dik...


__ADS_3

Laila yang baru datang menjemput Aida, di buat bahagia kala mengetahui bahwasanya sang kakak dan sahabat baik nya akan menikah nanti malam.


"Yang benar mi?" Tanya Laila hampir tak percaya, Laila tak langsung masuk ke kamar nya bersama Aida karena menemui umi nya terlebih dahulu. Mata gadis itu berbinar senang, dan senyum nya langsung mengembang.


"Laila mau ke kamar dulu ya mi, mau menemui Aida," pamit Laila pada sang umi, dan hendak segera beranjak,, tapi panggilan sang umi, menghentikan langkah nya.


"Ning, tunggu," nyai Robi'ah nampak mengambil sesuatu dari dalam paper bag, "berikan ini pada nak Aida," nyai Robi'ah memberikan pakaian yang masih terbungkus plastik kepada Laila.


"Ini apa mi? Apa,, kebaya pengantin?" Tebak Laila, yang melihat pakaian berwarna putih, dengan bordir indah yang menghiasi nya.


Nyai Robi'ah mengangguk, "iya ning, semoga ukuran nya pas, itu ukuran nya sama dengan pakaian yang kalian beli untuk seserahan nak Aida waktu itu," terang nyai Robi'ah.


"Oh, kalau sama berarti pas mi. Karena gamis yang waktu itu di pilihkan kak Umar, sudah di coba sama Aida dan pas banget di badan nya. Bagus lagi mi, kak Umar jago deh milih kan baju untuk calon istri nya," puji Laila, seraya tersenyum mengingat ketika sang kakak memilih kan gamis untuk Aida.


Gus Umar berkali-kali menggeleng kan kepala, kala pegawai toko menyodorkan berbagai macam model gamis. Hingga entah untuk tawaran yang ke berapa, baru lah gus Umar merasa cocok dan akhirnya nya membeli kan nya untuk Aida.


"Ya sudah ning, sana gih tunjukkan sama nak Aida biar segera di coba. Kalau tidak cocok, masih ada waktu untuk menukar nya," titah nyai Robi'ah, dan Laila langsung bergegas menuju ke kamar nya.


Laila tiba di kamar nya, dan mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. "Oh, Aida lagi di kamar mandi," gumam Laila, sambil meletakkan kebaya untuk Aida di atas tempat tidur nya.


Tak berapa lama, pintu kamar mandi dibuka. Dan Aida keluar dengan wajah yang basah, karena baru saja berwudhu.


"Da,,, surprise,,," Seru Laila, seraya menghambur memeluk sahabat nya yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut.


"Ada apa sih La? Ngagetin aja deh,, datang-datang langsung meluk?!" Aida mengernyit kan kening nya, tak mengerti dengan sikap Laila yang nampak sangat bahagia.


Laila melerai pelukan nya, dan menangkup kedua pipi Aida. "Aku punya kabar bahagia, buat kamu Da," ucap Laila, dengan tersenyum lebar.


"Kabar bahagia apa? Gus Zayn mau melamar kamu?" Tebak Aida.


"Hays,,, bukan! Malah gus Zayn?! Orang tua nya aja belum tahu tentang hubungan kami,,, abah dan umi juga,," balas Laila seraya mengerucut kan bibir nya.

__ADS_1


"Ini tuh mengenai kamu dan kak Umar," lanjut Laila, dan kemudian Laila mengambil kebaya yang tadi di berikan oleh sang umi yang dia simpan di atas kasur.


"Aku??" Aida menunjuk diri nya sendiri.


Laila mengangguk, "ini, dicoba dulu," pinta Laila, seraya memberikan kebaya tersebut pada Aida.


"Ini apa La?" Aida menerima pakaian yang masih terbungkus rapi itu, dengan penuh tanya.


"Buka aja dulu,," balas Laila dengan memainkan kedua alis nya.


"Apa sih La? Pakai main rahasi-rahasiaan segala?!" Protes Aida, seraya membuka plastik pembungkus pakaian tersebut.


"Kebaya?" Aida menatap sahabat nya itu dengan penuh rasa curiga, "La, ini.. ini maksudnya apa La?" Desak Aida.


"InsyaAllah,, nanti malam gus Umar akan menikahi nak Aida," tutur nyai Robi'ah, yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Laila yang tidak tertutup rapat itu.


"Me,, menikah mi? Nanti malam?" Tanya Aida, dengan sangat terkejut.


Nyai Robi'ah mengangguk, dan kemudian menangkup kedua sisi lengan Aida. "Nak Aida tidak keberatan kan, jika kalian menyegerakan untuk menikah?" Tanya nyai Robi'ah lembut, dengan menatap dalam netra indah Aida.


"Nak, nak Aida tidak keberatan kan? Maaf, jika kami memutuskan secara sepihak,, tapi sebelum mengkhitbah dulu, kami sudah menyampaikan nya secara tersirat bukan?" Nyai Robi'ah masih menunggu jawaban Aida, dan tersenyum penuh kehangatan pada sahabat putri nya itu.


Aida hanya mampu mengangguk.


"Alhamdulillah,,," ucap syukur nyai Robi'ah, yang paham arti anggukan Aida. Umi nya gus Umar itu langsung memeluk Aida, dengan penuh rasa bahagia. "Terimakasih kasih nak, semoga pernikahan kalian nanti diberkahi oleh Allah, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah,,," do'a nyai Robi'ah dengan tulus.


"Aamiin,,," Aida dan Laila mengaminkan do'a nyai Robi'ah tersebut.


"Coba di pakai nak, kalau kamu kurang suka dengan model nya atau ukuran nya kurang pas.. masih bisa di tukar kok," nyai Robi'ah mengambil kebaya dari tangan Aida dan membantu membuka kancing nya.


Dengan dibantu nyai Robi'ah, Aida kemudian memakai kebaya tersebut.

__ADS_1


"Bagus banget Da, ukuran nya pas di badan kamu," puji Laila, menatap kagum pada sahabat nya itu.


"Iya, kamu benar ning. Cocok di pakai nak Aida," timpal nyai Robi'ah, sambil mengamati Aida dari berbagai sisi.


"Bagaimana nak, apa nak Aida suka dengan model nya? Apa mau di tukar dengan model lain?" Tanya nyai Robi'ah.


Aida menggeleng, "tidak perlu mi, ini saja. Bagus kok mi, dan Aida suka." Balas Aida dengan jujur, seraya tersenyum lebar. Sungguh, saat ini hati Aida berbunga-bunga. Dia sama sekali tak menyangka, akan mendapatkan kejutan membahagiakan seperti ini dengan begitu cepat.


"Alhamdulillah kalau nak Aida suka, itu tadi yang memilih kan gus Umar," terang nyai Robi'ah, "kalau begitu, persiapkan diri nak Aida. Umi keluar dulu ya,," pamit nyai Robi'ah.


"Nggih mi," balas Aida, mengiringi langkah nyai Robi'ah yang keluar meninggalkan kamar putri nya.


Setelah kepergian nyai Robi'ah, Aida menatao diri nya melalui pantulan cermin lebar di meja rias milik Laila.


"Benar kah ini? Aku tidak sedang bermimpi kan? Menikah dengan kak Umar?" Aida menepuk-nepuk pipi nya sendiri, untuk meyakinkan bahwa semua nya bukan hanya sekedar mimpi.


"Ini nyata, Aida sayang,,," bisik Laila, yang tahu-tahu sudah memeluk diri nya.


Aida membalas pelukan Laila, dan semakin mengeratkan pelukan nya tersebut dengan terisak.


"Hey,, kenapa malah nangis?" Tanya Laila, seraya melerai pelukan nya dan menatap Aida yang masih meneteskan air mata.


"Ini,, ini air mata bahagia La," balas Aida dengan terbata, "ini benar-benar kejutan untuk ku La," lanjut nya masih dengan terisak.


Laila mengajak sahabat nya itu untuk duduk di tepi ranjang, dan dengan penuh perhatian Laila menepuk-nepuk punggung Aida. "Aku turut bahagia, jika kamu bahagia Da," lirih Laila.


Aida mengangguk, "aku tahu La, kamu bukan hanya sahabat, tapi juga saudara bagiku."


"Kamu tahu La, di pernikahan ku yang pertama.. aku juga terkejut, karena pernikahan nya juga sangat mendadak seperti saat ini. Saat itu aku bingung, aku takut, aku sedih.. karena aku sama sekali belum mengenal calon suami ku, dan aku memutuskan nya seorang diri tanpa ada orang-orang terdekat yang mendampingi ku," Kenang Aida, dengan tersenyum getir.


"Dan di pernikahan ku kali ini, jujur... aku juga sangat terkejut, dan sempat bingung tadi. Tapi, aku bahagia La,,, karena aku menikah dengan orang yang selama ini aku sayangi, aku cintai. Dan aku, aku di kelilingi oleh kalian semua,, orang-orang yang mendukung dan menyayangiku, aku sungguh sangat bahagia La," ucap Aida dengan senyum nya yang mengembang.

__ADS_1


"Alhamdulillah,,, aku senang jika kamu bahagia dik, aku juga sangat menyayangi mu dik, aku juga sangat mencintai mu," ucap gus Umar sambil tersenyum, yang mendengar kan percakapan Aida dan Laila melalui panggilan telepon yang sengaja dilakukan oleh Laila secara diam-diam.


bersambung,,,


__ADS_2