Menjagamu Dengan Do'A

Menjagamu Dengan Do'A
Bab. 58 : Mosok Bisa Marahan?


__ADS_3

Di kediaman bu Retno, wanita tua yang baru saja sampai ke rumah nya itu sedang menginterogasi pak Karyo. Setelah diberitahu oleh sopir pribadi nya, bahwa malam itu Aida sempat datang ke rumah nya dan kemudian mengajak mbak Ning pergi bersama nya.


"Benar, pak Karyo ndak tahu kemana Aida membawa mbak Ning?" Tanya bu Retno penuh selidik.


"Nggih bu, saya benar-benar ndak tahu. Dan malam itu, saya juga ndak dengar suara apa-apa," balas pak Karyo, dengan sejujur nya.


"Terus, kalau mbak Ning tidak ada.. kenapa mbok Nah masih tetap buka warung? Itu arti nya, sebelum mbak Ning pergi,,, pasti ada pembicaraan kan, antara mbok Nah dan mbak Ning?" Cecar bu Retno.


Pak Karyo menggeleng, "sama sekali ndak ada obrolan apa-apa bu, simboke anak-anak masih jualan di warung karena kebaikan nak Aida..." sejenak pak Karyo menghentikan ucapan nya.


"Maksud pak Karyo?"


"Pagi hari seperti biasa, saya membuka warung untuk bantu bersih-bersih. Dan di meja warung, saya menemukan ada amplop putih tebal.. yang ditujukan kepada saya, kemudian saya membuka amplop tersebut yang ternyata isi nya adalah uang untuk belanja harian warung dan surat dari nak Aida."


"Nak Aida mempercayakan warung nya pada kami lengkap dengan modal untuk belanja bahan-bahan makanan," terang pak Karyo dengan detail.


"Pak Karyo tidak bohong?!" Bu Retno nampak tidak percaya.


"Saya berani bersumpah bu, untuk apa saya berbohong?" Balas pak Karyo sungguh-sungguh.


"Bisa,saya lihat surat nya?" Pinta bu Retno, dengan setengah memaksa.


Pak Karyo mengangguk, "boleh bu, masih saya simpan di rumah. Sebentar nggih, saya ambilkan," pak Karyo bergegas keluar dari kediaman bu Retno, untuk mengambil surat dari Aida untuk nya.

__ADS_1


Tak berapa lama, pak Karyo telah kembali dan kemudian menyerahkan surat tersebut kepada bu Retno.


Bu Retno segera membuka surat tersebut dan kemudian membaca nya, setelah beberapa saat terdengar hembusan nafas bu Retno yang terasa berat. "Dimana kamu Da?" Gumam nya sangat lirih, hingga tak bisa di dengar oleh pak Karyo yang masih berdiri tak jauh dari bu Retno.


"Nyuwun sewu bu? Jika boleh saya bertanya, sebenar nya...."


Ucapan pak Karyo menggantung di udara, karena buru-buru bu Retno mengembalikan surat dari Aida tersebut kepada pak Karyo seraya membentak. "Ini bukan urusan pak Karyo!"


Pak Karyo menunduk, sebagai orang kecil.. memang tak semestinya dia turut campur urusan orang kaya. Terlebih, urusan keluarga bu Retno yang terkenal paling kaya di kampung tersebut.


Tapi ini ada kaitan nya dengan Aida, gadis kecil yang sangat menyenangkan.. yang rumah nya bersebelahan persis dengan rumah nya, yang orang tua nya telah banyak membantu keluarga nya, dan pak Karyo merasa turut bertanggung jawab pada kehidupan Aida setelah kepergian ibu nya.


Apalagi, meski saat ini pak Karyo hanya bisa menebak-nebak bahwa Aida sedang ada masalah dengan suami nya.. namun Aida masih sempat memikirkan nasib keluarga nya. Aida masih memberi pak Karyo modal untuk meneruskan usaha warung, meski saat ini mungkin Aida sendiri tengah dalam kesulitan.


Pak Karyo menarik nafas panjang dan menghembus nya dengan kasar, dan mengulangi nya berkali-kali.. hingga sesak di dada nya terasa sedikit berkurang. "Dimanapun nak Aida berada, mudahkanlah segala urusan nya ya Allah,, sebagaimana dia dan orang tua nya senantiasa memudahkan urusan orang lain, aamiin," do'a tulus pak Karyo dalam hati.


@@@@@


Sementara di ibukota propinsi, tepat nya di rumah Ryan. Laki-laki matang, mantan suami Aida itu tengah melamun di ruang kerja nya yang berantakan.


Ya, semenjak pulang dari ibukota kemarin.. Ryan sering kedapatan melamun. Ryan juga nampak malas untuk langsung terjun ke lapangan meninjau pekerjaan anak buah nya, dan lebih memilih menyerahkan semua urusan pada orang kepercayaan nya.


Dan waktu Ryan, hanya di lewati dengan melamun dan melamun. Semangat hidup nya seakan menguap entah kemana? Namun, tatkala hati nurani nya menyesali perbuatan nya yang telah menjatuhkan talak pada Aida dan mengusir nya dari rumah seperti binatang.. buru-buru Ryan menepis dan kemudian membenarkan ego nya yang tinggi.

__ADS_1


"Ck,, ngapain aku masih mikirin perempuan munafik itu! Lagak nya saja, sok polos,, sok suci! Tapi nyata nya, malah lebih parah dari pela*cur murahan!" Umpat Ryan, tatkala bayangan Aida singgah di benak nya.


"Sholat dan ngaji nya hanya dijadikan tameng ternyata, untuk menutupi kebejatan moral nya." Ryan tersenyum sinis, "masih lebih baik aku yang tidak beribadah, tapi aku masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!" Geram Ryan, yang terlihat marah.. tapi entah ditujukan kepada siapa.


"Sudah jelas-jelas gue mandul dan enggak bisa memiliki keturunan, tapi dengan bodoh nya wanita itu mengakui bahwa anak haram yang dikandung nya adalah anakku! Mana ada coba, orang mandul punya anak?!"


"Hufff,,," Ryan membuang kasar nafas nya, menggerus batang rokok terakhir yang dihisap nya kedalam asbak porselin dan kemudian segera bangkit dari tempat duduk nya yang sudah sedari berjam-jam yang lalu dia tempati.


"Lebih baik aku pergi ke klub, dan bersenang-senang di sana. Aku laki-laki bebas sekarang, aku bebas menggauli banyak wanita karena mereka enggak bakalan hamil. Hahaha,,," tawa Ryan membahana, memenuhi ruang kerja nya yang diliputi asap rokok yang tebal tersebut.


Ryan menyambar kontak yang tersimpan di atas meja TV, dan bergegas keluar menuju halaman. Bi Minah, pembantu setia Ryan itu di buat terbengong-bengong melihat langkah tergesa majikan nya.


"Mas Ryan, sampean mau kemana tho,, kok buru-buru banget? Ini sudah mau maghrib lho mas, dan langit nya juga gelap.. seperti nya mau hujan deras," kejar bi Minah masih dengan membawa sapu nya, dan berusaha menghentikan langkah sang majikan.


Ryan menghentikan langkah nya, "Ryan mau cari angin bi, bi Minah tidak perlu khawatir. Ryan akan segera pulang, kalau sudah dapat angin nya," balas Ryan asal, tapi tetap sopan dengan menoleh kearah pembantu tua yang setia pada keluarga nya itu seraya tersenyum tipis.


"Tapi mas, langit nya..."


"Ryan pergi ya bi," pamit Ryan, memotong perkataan bi Minah dan kemudian Ryan segera masuk kedalam mobil nya. Tak berapa lama, mobil Ryan telah meninggalkan halaman rumah nya yang cukup luas.. meninggalkan bi Minah yang terlihat cemas.


"Sebenar nya, ada apa dengan mas Ryan? Sejak pulang dari rumah nya di ibukota, sikap nya jadi aneh.. sering melamun, dan merokok nya gak berhenti seperti kereta api."


"Lantas di mana mbak Aida? Kenapa tidak ikut pulang? Apa mereka berantem? Tapi, karena apa? Wong mbak Aida orang nya lembut gitu, mosok bisa marahan?" Bi Minah bermonolog dengan diri nya sendiri.

__ADS_1


"Duarrr,," terdengar petir menyambar di udara, dan menyadarkan bi Minah dari lamunan nya.


bersambung,,,,


__ADS_2